Haii, ayuk dukung saya.
Disini saya akan menceritakan kisah cinta pertama Ayra Syifania dengan seorang cowok.
Pertemuannya dengan seseorang yang bernama Arsen.
Saat melihat wajah cantik dan lugu Ayra, membuat nya tertantang untuk mendekati gadis itu.
Tapi apakah usahanya berhasil?
Bagaimana cerita cinta mereka dimulai.
Kita coba baca yuk... 😚😚
Cerita ini hanya cerita fiktiv jika ada kesamaan tempat dan nama tokoh, itu faktor ketidaksengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Aɪɴᴜʀ Rᴏʜᴍᴀɴ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
"Permisi, mbak. Saya mau ketemu kakak saya, Salma." tanya Jojo pada Resepsionis. Belum sempat Resepsionis itu menjawab, Salma sudah berjalan keluar dari ruangannya.
"Jojo!" panggil Salma sembari mendekati Jojo.
"Kakak udah selesai meetingnya?" tanya Jojo.
"Udah, yuk kita berangkat sekarang." ajak salma.
Mereka pun berjalan menuju parkiran, menaiki mobil dan pergi ke mall.
Sesampai di Mall, mereka langsung masuk ke salah satu toko yang menjual pernak-pernik hiasan dan boneka. Jojo membeli satu set boneka monyet yang terdiri dari Bapak monyet, Ibu monyet dan 2 anak monyet. Sedangkan Salma membeli tas slempang kecil sebagai kado untuk Ayra. Setelah selesai membeli kado, mereka masuk ke sebuah butik. Mereka pun mencoba banyak gaun dan akhirnya membeli 2 pasang gaun dengan warna senada.
Keluar dari butik, kini mereka berada di sebuah cafe yang tidak jauh dari mall. Saat mereka hendak memesan makanan, Salma melihat Andra sedang duduk berdua bersama seorang wanita cantik di kursi yang lumayan jauh darinya. Namun Jojo tidak melihatnya karena posisi duduk Jojo membelakangi Andra.
"Kemarin minta balikan, sekarang bersama wanita lain. Dasar laki-laki pendusta." batin Salma kesal.
"Kenapa rasanya sesakit ini?!" Batin Salma sambil memegangi dadanya.
"Kakak kenapa? Kakak sakit?" tanya Jojo cemas.
"Eh... Engga kok." jawab Salma.
"Oh ya, kak. Nanti aku kenalin sama orang yang aku suka, ya. Hehehe... " ucap Jojo.
"Jadi cowok yang kamu suka itu Kakaknya Ayra?" tanya Salma.
"Iya. Hehehe... " jawab Jojo cengengesan.
"Memangnya dia suka sama kamu?" tanya Salma sambil memotong steak.
"Nggak tahu. Hehehe... " jawab Jojo.
"Dia sih nggak tahu kalau Jojo suka sama dia. Tapi Jojo akan berusaha bikin dia suka sama Jojo." ucap Jojo semangat.
"Kalau dianya nggak mau sama kamu gimana?" tanya Salma.
"Ya harus mau." jawab Jojo.
"Kalau tetep nggak mau?" tanya Salma.
"Jojo paksa biar mau. Hehehe... " jawab Jojo.
"Ya jangan dong. Cinta itu nggak bisa di paksa." ucap Salma.
"Iya... Iya... Jojo tahu." ucap Jojo.
"Terus kenapa Kakak masih menjomblo sampai sekarang? Apa Kakak belum bisa melupakan mantan Kakak itu?" tanya Jojo sambil memasukkan steak ke mulutnya.
"Uhukk.. Uhuukk." Salma tersedak.
"Eh.. Ya ampun. Pelan - pelan dong kak, makannya. Ini minum." ucap Jojo sambil memberikan minuman pada Salma. Salma pun minum dengan buru-buru.
"Sudah habiskan makananmu. Ini sudah hampir malam. Kita harus pulang." perintah Salma.
"Iya kak." ucap Jojo patuh.
Sementara disisi lain Arsen sedang berada di rumah sakit untuk bertemu dokter Alfin. Dokter yang menangani penyakit Arsen, dan juga sahabat dari Ayah Arsen.
"Apa kamu tidak berniat melakukan kemo?" tanya Dokter Alfin.
"Ngga, Dok." jawab Arsen cuek.
"Haiishh.. Saya sudah merekomendasikan pada Ayahmu rumah sakit Fuda di China. Kenapa kamu belum mau ke sana?" tanya Dokter Alfin.
"Nggak apa-apa." jawab Arsen cuek.
"Hidupmu lebih penting sekarang. Urusan cinta nanti saja." ucap Dokter Alfin
"Kenapa Dokter jadi sok tahu?" tanya Arsen.
"Hey... Saya juga pernah muda, nak." jawab Dokter Alfin.
"Apa kamu tidak berniat menjadikan dia Isterimu? Apa kamu tidak ingin memiliki Anak-anak yang lucu? Menikmati hari tua bersama orang yang kamu cintai?" rayu Dokter Alfin.
"Apakah aku masih bisa merasakan masa-masa itu?" tanya Arsen.
"Hey, hidup mati seseorang ada di tangan Tuhan. Bukan ditanganku atau pun penyakitmu. Selagi kamu mau berusaha untuk sembuh, insya Allah harapan itu masih ada." ucap Dokter Alfin.
"Ayolah, nak. Pikirkan baik-baik. Pikirkan perasaan orang-orang yang menyayangimu. Jangan menyerah pada penyakitmu. Kamu harus semangat untuk sembuh." ucap Dokter Alfin menyemangati.
"Lalu siapa wanita yang beruntung itu?" tanya Dokter Alfin seraya mencandai Arsen.
"Iisshh Dokter ini ngomong apa sih?! Sudahlah aku pergi saja." ucap Arsen seraya bangun darii tempat duduknya.
"Baiklah. Pikirkan baik-baik ucapanku tadi, dan jangan lupa tebus obatmu di apotek!" seru Dokter Alfin.
"Ya ya ya.” ucap Arsen sembari berjalan keluar dari ruangan Dokter Alfin.
"Aaaiishh.. Susah sekali membujuk anak itu." ucap Dokter Alfin sambil menggeleng-geleng kepala.
Saat Arsen sedang berjalan di koridor dia menabrak seorang gadis yang berjalan menunduk sambil memainkan ponselnya.
"Hati-hati dong, mba." ucap Arsen.
"Eh.. maaf maaf." ucap Ayra yang masih menunduk mengambil ponselnya yang jatuh.
Saat Ayra berdiri dan memandang Arsen, mereka pun kaget.
"ELOOO??" ucap Arsen dan Ayra serentak.
"Kenapa gue selalu sial kalau ketemu sama lo?!" ucap Arsen.
"Yang ada gue yang selalu sial ketemu sama lo!" seru Ayra.
"Ngapain lo disini?" tanya Ayra.
"Lo sendiri ngapain disini?" Arsen balik tanya.
"Gue mau jemput bang Agra. Lo ngapain disini?” ucap Ayra.
"Beli Cilok." jawab Arsen sembarang.
"Sinting." ucap Ayra.
"Apa lo bilang?" tanya Arsen sewot.
"DASAR KADAL MESIR SINTING!" seru Ayra mengejek.
Saat Arsen hendak menjitak kepala Ayra, tiba-tiba datang seorang Suster cantik menghampiri mereka.
"Hay Arsen.” sapa Suster cantik itu yang bernama Nina.
"Eh Suster Nina." ucap Arsen.
"Bagaimana kabarmu? Apakah baik?" tanya Suster Nina sambil tersenyum manis.
"Alhamdulillah. Baik, sus." jawab Arsen.
"Syukurlah. Apa gadis cantik ini pacarmu?" tanya Suster Nina.
"BUKAN..!!" seru Arsen dan Ayra serentak.
"Wahh sepertinya kalian berjodoh." ucap Suster Nina sambil terkekeh.
"NGGAK AKAN!!" seru Arsen dan Ayra serentak.
"Haha... Kalian lucu sekali." ucap Suster Nina sambil tertawa.
"Sudahlah. Aku pulang dulu, sus. Assalamualaikum." ucap Arsen seraya pergi meninggalkan Ayra dan Suster Nina.
"Waalaikumsalam." ucap Suster Nina masih terkekeh.
"Gadis cantik, apa kamu ingin menemui seseorang?" tanya Suster Nina.
"Iya, sus. Saya mau ketemu bang Agra.” Jawab Ayra.
"Oh, Agra. Mari saya antar ke ruangannya." ucap Suster Nina.
"Makasih, Sus." ucap Ayra sembari mengikuti langkah Suster Nina.
"Suster kenal Arsen?" tanya Ayra.
"Kenal. Dia sudah seperti Adik saya sendiri." jawab Suster Nina sambil tersenyum.
"Apa kamu tidak menyukainya?" tanya Suster Nina.
"Nggak." jawab Ayra.
"Kenapa? Bukannya dia sangat Tampan?" tanya Suster Nina tersenyum.
"Dia seperti es batu, dingin dan menyebalkan." jawab Ayra sambil memajukan bibirnya.
"Haha... Sebenarnya dia laki-laki yang sangat baik kok." ucap Suster Nina.
"Sudah sampai. Ini ruangannya. Masuklah. Saya pergi dulu." ucap Suster Nina tersenyum.
"Terima kasih, sus." ucap Ayra tersenyum.
Lalu Ayra mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Agra. Melihat Adiknya sudah datang, Agra pun segera bergegas membereskan pekerjaannya dan mereka berdua pun pulang.
Sesampai mereka di rumah, tampak Andra sedang membantu Mama Ria menyiapkan makan malam di meja. Ayra dan Agra langsung berlari ke meja makan.
"Waaahhh... Siapa nih yang masak? Enak banget kayaknya?” tanya Ayra sambil membuka mulutnya.
"Abang ganteng dongg." jawab Andra bangga.
"Udah ganteng, jago masak, CEO pula, kok ya masih jombl?” ejek Agra.
"Moon map, mas. Kalau mau ngehina bisa ngaca dulu?!" ucap Andra.
"Haha... Sudah sudah. Anak-anak mama semua Ganteng-ganteng dan cantik. Mungkin belum ketemu jodohnya aja." ucap Mama Ria.
"Heeemm.... bener tuh kata mama. Emmb." ucap Ayra sambil memakan Ayam goreng.
"Ehh kok udah makan duluan?" tanya Andra.
"Iyaa nih. Tungguin papa dong." ucap Agra.
"Papa bilang, adek disuruh makan dulu." ucap Ayra.
"Kapan bilangnya? kan Papa masih di ruang kerja.” tanya Andra.
"Telepati. Hehehe...." jawab Ayra nyengir.
Tak selang berapa lama Papa Roland datang. Mereka pun makan malam bersama sambil bercanda. Setelah makan malam, Ayra, Agra dan Andra menonton tv di ruang tengah sambil memakan keripik singkong dan kuaci.
Akhirnya mereka bertiga ketiduran di depan tv dengan posisi mereka duduk dilantai dan bersandar pada sofa. Ayra duduk di tengah kakinya direntangkan dan kepalanya mendongak berbantalkan sofa sambil membuka mulutnya. Lalu kepala Agra bersandar dibahu kanan Ayra sambil memeluk lengan kanan Ayra. Sedangkan Andra memeluk boneka Babi warna pink milik Ayra sambil kepalanya bersandar dibahu kiri Ayra.
Mama Ria dan Papa Roland yang melihat kelakuan 3 anaknya itu pun tersenyum.
Mereka sangat bahagia melihat anak-anaknya Akur dan saling menyayangi.
Lalu Mama Ria mengambil selimut untuk menyelimuti mereka. Dia tidak tega membangunkan anakanak nya yang tidur dengan pulasnya.
Mama Ria mematikan lampu dan mereka berdua pun masuk ke kamarnya sembari melakukan itu itu.
📽To be continue🎞
hai bang!