"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_2
Waktu menunjukkan pukul dua siang. Rumah yang sejak pagi riuh oleh tamu undangan kini kembali lengang. Satu per satu orang telah berpamitan, menyisakan hanya keluarga inti keluargaku, keluarga Narendra, dan kami berdua yang kini menyandang status suami istri.
Mamah mengajak kami masuk ke ruang makan. Meja panjang telah tertata rapi, hidangan khas rumahan tersaji hangat seolah menandai awal kehidupan baru yang entah kenapa terasa asing bagiku.
“Sayang,” ujar Mamah lembut namun sarat makna,
“mulai sekarang kamu harus membiasakan diri, ya. Ambilkan makanan untuk suamimu dulu, baru setelah itu untuk dirimu sendiri.” Tegur mamah dengan suara lembut namun tegas. seolah yang ia ajarkan adalah norma dasar yang wajib aku terapkan sebagai seorang istri. Aku hanya diam, dan mengangguk kecil.
“Farah,” suara ibu mertua ku lebih lembut dan santai, namun tetap berwibawa
“biarkan mereka menjalani rumah tangga dengan cara mereka sendiri. Narendra bukan penganut sekte ortodoks yang menjadikan istri sebagai pelayan. Iya kan Ren?” matanya langsung tajam begitu menatap sang putra
“Iya, Mah,” jawab Narendra cepat. Tangannya mengusap lembut punggung tangan mamahnya, gestur yang tampak hangat, menunjukkan bahwa tangki cinta dari kedua orang tuanya sudah penuh hingga tumpah ruah.
“Tan—eh, maksud Naren, Mamah Farah tenang saja. Hal-hal kecil seperti itu tidak akan jadi masalah buat Naren,” tambahnya dengan senyum tipis.
“Anak kamu memang MasyaAllah, Fani,” ujar Mamahku tulus dan penuh rasa bangga
“Mantuku malah lebih MasyaAllah,” balas Mama Fani sambil mengelus pucuk kepalaku penuh kasih. senyumnya tak pudar sejak di meja akad tadi
Aku hanya menunduk, menatap makanan di hadapanku yang tiba-tiba terasa hambar. Pikiranku melayang jauh—tentang hidup yang baru saja diputuskan tanpa pernah benar-benar kuterima, tentang masa depan yang terasa seperti lorong gelap tanpa pintu keluar.
“Mah, Mas… Naren mau minta izin.” Suara Narendra memecah keheningan.
“Apa, Ren?” tanya Mas Raka.
“Hari ini Naren akan langsung membawa Rayna pindah ke apartemen Mas.”
Aku mendongak. Mataku membelalak, dadaku serasa diremas. Terlalu cepat—atau justru terlalu tepat untuk seseorang sepertinya?
“Apa tidak terlalu cepat?” Mas Raka tampak jelas menahan kekhawatiran.
“Nak,” suara Mamahku lembut namun tegas, “bukankah kamu sendiri yang menyerahkan tanggung jawab Rayna sepenuhnya kepada Narendra saat prosesi ijab kabul tadi?”
Kalimat itu menutup semua kemungkinan penolakanku. Melihat wajah-wajah bahagia di sekelilingku, aku sadar, tidak ada ruang untuk ku berkata tidak.
“Iya, kalian rukun-rukun ya. masalah sekecil apapun harus langsung di komunikasikan” akhirnya Mas Raka juga mengiyakan. nasehat nya barusan jelas bukan tanpa alasan. komunikasi adalah hal yang paling pertama harus aku dan Naren lakukan, mengingat kita belum pernah bertemu dan berkenalan langsung sebelumnya
Baiklah. Mari kita bermain. Mungkin Narendra lupa, bahwa perempuan yang baru dinikahi ini adalah bagian dari keluarga Rusdiantoro.
Keluargaku dikenal dengan kecerdikan dan keunggulan di dunia bisnis. Rusdiantoro Group berdiri sejajar dengan Tunggal Jaya Group milik ayah Narendra. Papah yang membentuk karakter itu dan sifat itu mengalir dalam darahku, sama seperti pada Mas Raka.
“Mas titip Rayna ya, Ren,” ujar Mas Raka sambil menepuk pundak Narendra.
“Mas titip mahkota keluarga Rusdiantoro.” bisa ku lihat mata kakak ku yang memerah menahan tangis. dialah sumber segalaku semenjak aku menyandang status yatim.
“InsyaAllah, Mas,” jawab Narendra mantap seolah kebahagiaan ku benar-benar akan ia jamin.
segera aku tau, bahwa laki-laki yang sekarang menyandang status sebagai suami ku ini adalah pemain handal. wajahnya terlihat teduh bak pohon beringin. hingga orang-orang tak sadar, bahwa terkadang pohon beringin yang rindang dan sejuk, adalah tempat favorit bangsa lelembut yang penuh tipu daya
Di garasi, dua mobil asing berjajar rapi. Mama Fani memelukku erat.
“Sayang, Mamah pamit dulu. Kamu baik-baik sama Naren. Kalau dia nakal, bilang saja ke Mamah.”
“Iya, Mah,” jawabku lirih.
“Ren,” lanjutnya sambil memeluk putranya, “langsung pulang ya. Jangan mampir-mampir. Rayna kelihatan capek.”
“Iya, Mah.”
Saat kami masuk mobil, seorang pria sudah duduk di kursi pengemudi. Mobil langsung melaju.
“Selamat ya Pak, Bu, atas pernikahannya. Saya Ardi, asisten pribadi Pak Naren,” ujarnya ramah.
“Terima kasih,” balasku tulus
“Bisa bicara juga ternyata kamu,” ejek Narendra datar.
Aku memilih diam. Bukan karena tak mampu membalas—aku hanya tak ingin membuka aib di depan orang lain.
“Berhenti,” perintahnya tiba-tiba.
“Ada yang tertinggal, Pak?” tanya Ardi bingung.
“Turunkan aku di sini. Antar dia ke apartemen.”
“Apa Bapak tidak ikut pulang?” Ardi menatapku sebentar, iba. “Bagaimana dengan Bu Rayna?”
“Tidak apa-apa,” kataku tenang tanpa menoleh. “Biarkan Mas Naren menyelesaikan urusannya.”
Mobil Tesla Model Y berhenti tak jauh dari kami. Narendra turun tanpa menoleh lagi.
“Kita langsung ke apartemen ya, Bu,” ujar Ardi.
Dua puluh menit kemudian, aku tiba di sebuah kompleks apartemen elit. Lift membawa kami ke lantai paling atas—penthouse.
“Silakan masuk, Bu Rayna. Selamat beristirahat,” ujar Ardi sebelum pergi.
Penthouse itu sangat luas. Dua kamar tidur, dapur modern, mini bar, ruang tamu, ruang TV, teras, hingga kolam renang pribadi.
“Boleh juga seleranya,” gumamku.
Aku mencoba masuk ke salah satu kamar. Fingerprint. Gagal. Kamar satunya pun sama.
“Nyonya rumah macam apa aku ini,” kekehku pahit. “Masuk kamar sendiri saja tidak bisa.” umpatku meruntuki kesialan diriku ini. akhirnya aku memutuskan untuk ngemper di tepi kolam renang hingga tenggorokan ku merasa kering
Aku membuka kulkas, berharap menemukan minuman dingin.
“Ehhem.”
“Astagfirullahaladzim!”
Refleks aku menutup pintu kulkas hingga jariku terjepit.
“Lancang dan ceroboh,” cibirnya.
Sejak kapan dia ada di sini?
“Kamu tidak terlihat seperti orang gila?” tanyanya santai, seolah tak terjadi apa-apa.
“Memangnya kamu berekspektasi aku bagaimana? berambut gimbal dan pakai kalung tali jemuran begitu?” balasku sinis.
“Bagus,” katanya mendekat. “Berarti kamu akan mudah mengerti apa yang akan aku katakan.” cicitnya sambil berjalan ke meja makan
“Jawab dulu pertanyaanku. Apa kamu sebegitu kebelet menikah sampai mau dinikahkan dengan pria yang bahkan belum pernah kamu temui?” tanyanya dengan tatapan hina
Aku menatapnya tajam. “Kenapa kamu tidak bertanya pada dirimu sendiri? Bukankah kamu juga belum pernah bertemu denganku? Kenapa kamu mau menikah denganku?” balasku
“Karena aku pikir tidak ada wanita waras yang mau menikah dengan pria yang bahkan tidak ia cintai.”
“sama, aku juga berfikir begitu.” sahutku dingin. Wajahnya memerah.
“Jangan bertindak seolah kamu korbannya!” lanjut ku
“Pernikahan ini tidak akan terjadi kalau kamu tidak mengucapkan ijab kabul. Kamu punya kendali penuh.”
Aku melangkah mendekat. “Kamu bisa salah tiga kali. Bisa pura-pura pingsan. Bisa Pura-pura kesurupan. Tapi kamu tidak. Kamu mengucapkannya dalam satu tarikan napas.” Ia terdiam.
“Aku hanya ingin menikahi satu wanita,” katanya akhirnya. “Wanita yang sudah kupilih tiga tahun lalu. Aku menikah denganmu demi orang tuaku. Jika tidak, mereka mengancam akan menua di panti jompo.”
Aku menatapnya lama—dan untuk pertama kalinya aku mengerti. kami berdua sama-sama terjebak, hanya memilih penjara yang berbeda.
plisss dong kk author tambah 1 lagi