Dirga Harun purnomo Adalah seorang pengusaha muda yang memiliki beberapa buah perusahaan besar. Dalam hidup dia memiliki segalanya.harta melimpah, wajah yang tampan serta istri baru yang sangat cantik dan terkenal.
saat bulan madu ke Hawai pesawat pribadinya terjebak badai hingga mengalami kecelakaan.
Untung saja semuanya selamat karena pilot yang cekatan.
Sayangnya Dirga mengalami kebutaan Akibat matanya terkena serpihan kayu yang berasal dari ledakan pesawat.
Hidup dan perkawinannya hancur, karena istrinya meninggalkan dirinya yang cacat.
Mampukah Dirga bangkit dari keterpurukannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lara hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab empat Belas menghindar
Pagi menjelang matahari menerobos melalui kisi-kisi jendela.
Bening mengintip pelan saat hendak keluar kamar.
Dia tak ingin bertemu Dirga dan Adam dulu. Terutama Adam, Malu sekali padanya, terpergok berciuman dengan Dirga. Karena malu dan panik bening sampai lupa tak memakai penutup kepala saat melarikan diri ke kamar Dirga. Adam pasti sudah melihat mahkotanya. Semua gara-gara Dirga, mau ditaruh dimana mukanya??
" Masya Allah,ceroboh sekali..tapi Dirga adalah suamiku wajar jika kami berciuman bukan!?" Batin Bening melangkah keluar Sambil berjingkat.
" Anda sedang apa Nona?" tiba - tiba Adam datang dari arah belakang.Bening terlonjak kaget.
Adam menahan senyum. sadar jika wajah bening tiba-tiba memerah.
" A-A-AKU Mau ketaman..." Sahutnya cepat dan asal. lalu berlari meninggalkan Adam yang terkekeh.
Dirga berbaring dan tersenyum
Hatinya bahagia sekali.
Semalaman dia tak bisa tidur memikirkan ciuman itu.
Meski ada sedikit perasaan bersalah.
Dia mencium bening bukan karena mencintainya tapi hanya terbawa suasana, apalagi Dirga sudah lama tak menyentuh perempuan keberadaan Bening yang halal baginya membuat dia lepas kendali.
Ada rasa bersalah sudah mencuri ciuman pertama gadis itu, Dirga tentu tahu jika Bening baru pertama berciuman, Gadis itu sangat canggung dan kaku.
"Benar- benar Amatir" ucap Dirga tertawa terkekeh.
Tok!
tok!
tok!
Dirga bangun dengan bersemangat karena mengira bening yang datang menoleh ke arah pintu dan tersenyum lebar.
" Tuan muda saya mengantarkan sarapan.." ternyata yang datang salah satu pelayan wanita dirumahnya.
" Bening mana?" tanyanya kecewa
" No..nona pergi berbelanja"
kening Dirga berkerut Merasa aneh
" Untuk apa bening berbelanja, bukankah Biasanya Adam yang berbelanja."
" Saya tidak tahu tuan.. Apakah tuan ingin saya menyuapi anda. meletakan baki diatas meja.
" tidak! letakan saja makanan itu, aku bisa sendiri" ucap Dirga malas
" tapi..tuan.."
" keluarlah! jangan lupa tutup pintu dan panggil Adam kemari"
" Baik tuan..."
pelayan muda itu kecewa dia berbalik dan menutup pintu kamar Dirga pelan.
padahal tadinya berharap bisa menyuapi majikannya, kapan lagi
bisa berduaan dengan pria tampan itu.
Adam segera datang setelah tahu Dirga membutuhkannya
" kenapa Bening yang pergi belanja?" Tanya Dirga
"Nona bening yang meminta, katanya ingin memilih bahan bergizi untuk memasak makanan anda tuan"
Senyum Dirga semakin lebar, senang Bening memperhatikannya
"Begitukah, kalau begitu biarkan dia yang berbelanja"
"oh ya Adam, aku ingin berlatih berjalan dengan tongkat dan Carikan seseorang yang bisa mengajarkan membaca huruf braille padaku"
Adam gembira mendengar keinginan Dirga, berarti semangat hidup Dirga telah kembali.
" Aku akan kembali bekerja di perusahaan, menjalani hidup normal meski aku buta"
" Syukurlah tuan lega sekali mendengarnya. anda ingin sarapan? apa perlu saya menyuapi anda" Meraih piring dan menyiapkan makanan untuk dirga
" Tidak Aku ingin mencoba makan sendiri."
Mengulurkan tangan meminta piring dari Adam.
Dengan penuh perjuangan Dirga makan ,Adam memperhatikan dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya
Dirga begitu banyak berubah belakangan ini.
Dia senang berjalan ditaman, mulai suka tertawa dan tak suka lagi memerintah dengan suara kasar dan makian.
juga mulai jarang membanting barang-barang barang jika marah.
"Selesai sarapan antarkan aku ke taman aku ingin jalan-jalan, seharusnya Bening yang menemaniku, dia malah pergi" ucap Dirga sedikit kesal
" Baik tuan, saya akan menemani Anda"
Bening kembali dari pasar badannya kepanasan dan berkeringat, meski lelah tapi demi menghindari bertemu Dirga dan Adam, lebih baik.
Masih malu hati bila harus melihat keduanya.
Bening mendengar suara tawa dari arah taman belakang.
Dia mengintip sekilas.melalui jendela yang tembus ke taman belakang, dilihatnya Dirga sedang berlatih berjalan dengan tongkat, sedangkan Adam melihat dari kejauhan sesekali mereka tertawa saat Dirga jatuh atau terasandung.
hati Bening menjadi hangat melihat semangat Dirga
" Non, kenapa tidak ke taman, Tuan Dirga sejak pagi mencari anda"
" Eh..aku..aku lelah sekali ingin istirahat di kamar.."
Bening cepat-cepat pergi menghindar
Selesai berlatih dengan tongkat, dirga merasa kepanasan dia ingin berenang ,sudah lama ia tak bermain Air rasanya rindu sekali, dia yang dasarnya sangat suka olah raga air, keadaan buta telah menghalangi hobby nya.
" Bening belum kembali Adam?" tanya Dirga disela berenang.
" Kata pelayan lain, Nona sudah kembali tapi sedang istirahat dikamar.."
" Ada apa dengannya, apa dia menghingdariku? Apa dia marah karena aku menciumnya semalam?" tanya Dirga pelan lebih pada diri sendiri.
Adam diam saja.
Jam makan siang telah tiba, Dirga berharap Bening yang mengantar makan siang untuknya, sayangnya harapannya tak menjadi kenyataan
" saya bukan bening tuan.." sahut pelayan.
" Bening mana?"
"selesai memasak untuk anda dia langsung masuk kamar, tak enak badan katanya."
Wajah Dirga berubah.
" Bening sakit!??"
" Saya tidak tahu tuan.."
" Siapkan makananku, aku bisa makan sendiri" titah Dirga.
Jika Bening yang menyiapkan pasti gadis itu akan menjelaskan makanan apa saja yang ada di piringnya tanpa perlu bertanya.
Dirga makan dengan cepat, dia mencemaskan Bening. Ada sesuatu yang kurang saat tak mendengar suara gadis itu didekatnya.
"Apakah Aku rindu padanya" batin Dirga
Dirga menuruni tangga menuju kamar Bening.
Dirga berjalan sambil menghitung langkah, dia harus terbiasa dengan jarak dan ukuran dirumah ini, dia akan menghafal letak benda jarak dan langkahnya dari setiap ruang dan sudut, agar memudahkannya berjalan tanpa perlu dituntun lagi.
" Tuan mau kemana?
Dirga bertemu seorang pelayan di kamar belakang.
pelayan itu merasa heran melihat keberadaan Dirga Disana, Selama ini Dirga tak pernah sekalipun datang kerumah belakang dimana kamar para pelayan berada
" Aku mau ke kamar istriku, tunjukan padaku letaknya."
" Baik tuan muda, ikuti saya"
pelayan muda itu membawa Dirga ke sebuah kamar.
Tok- tok-tok-!!
mengetuk kamar bening.
Tak ada sahutan dari dalam.
Dirga menjadi gelisah.
" Coba buka pintunya.." titahnya
" tapi tuan..rasanya tak sopan, bila saya.."
"biar aku saja.." kata Dirga tiba-tiba
Dirga memutar kenop pintu dan pintu langsung terbuka karena Bening tak menguncinya.
Dia sedang tertidur lelap.
Dirga melangkah masuk dan meminta pelayan yang mengantarnya tadi pergi.
pelayan itu pergi tak lupa menutup kembali pintu kamar bening.
Dirga masuk dan duduk diranjang bening.
Tercium aroma khas Bening wangi lembut, khas bunga mawar.
Kamar Bening sangat sempit dengan ranjang ukuran kecil untuk satu orang.
Dirga meraba dan menemukan tubuh bening yang tidur menghadap tembok
Dirga tersenyum dia membelai kepala bening sayang..
" Ternyata kau benar lelah, tidurmu nyenyak sekali sampai tak sadar ada orang yang masuk."
Dirga meraba ada ruang kosong di tempat tidur bening.
Dia pun meletakan tongkatnya memutuskan ikut tidur di sisi bening.
Terdengar derit pelan saat ia merebahkan badan.
Dirga tidur seraya memeluk pinggang bening yang tidur membelakanginya.
Bening mengeratkan pelukannya, entah kenapa hari ini tidurnya terasa sangat nyaman dan nyenyak, bahkan bermimpi dirinya berpelukan dengan Dirga.
Bantal gulinngnya juga terasa hangat dan nyaman sehingga enggan sekali untuk membuka mata.
Bening menelusup kan kepala lebih dekat lagi pada guling, hidungnya mengendus.
" Mengapa gulingnya terasa keras memiliki bau yang sangat familiar, seperti hidup dan bernafas? bahkan ada detak jantungnya juga !?"
Ada sesuatu yang berat dan panjang melingkar di pinggangnya.
Kaki bening bergerak- gerak merasakan bantal guling itu kini ukurannya menjadi lebih panjang.
Mata bening terbuka.. merasakan sesuatu yang janggal di sisinya.
matanya terbelalak.
saat menyadari tangan dan kakinya tengah memeluk erat seorang laki- laki
" Aaaaa.....!!!!" Bening menjerit- histeris karena kaget. Dan mendorong tubuh laki Laki itu hingga jatuh dari ranjang.
Dirga kaget dan mengucek matanya sambil meringis sakit.
" Tuan Dirga..kenapa tidur disini?" tanya Bening Emosi.
" Kau membuat ku kaget saja." Ucap Dirga santai sambil bangun dengan susah payah dari lantai
" Kenapa tidur diranjangku?" ulang Bening kesal dan malu
" Apa salahnya tidur dengan istri sendiri." tanya Dirga tanpa bersalah.
Dia duduk ditepi ranjang. Bening mengatupkan tanganya didada dan bersandar di dinding menjauhi Dirga reaksi melindungi diri.
"Anda tidak sopan sekali.."
" Aku mengantuk dan lelah sekali mencari kamarmu, kembali kelantai atas butuh waktu dan tenaga karena aku buta, belum terbiasa jalan sendiri. jadi aku memutuskan tidur disini saja, lagipula tak terjadi apa pun denganmu bukan!?" jelas Dirga.
Bening terdiam dan berpikir membenarkan ucapan Dirga.
Dia menghela nafas.
" kenapa seharian ini kau menghindariku apa kau marah padaku?"
Dirga bertanya kembali
" Marah!?" ulang Bening tak mengerti
" Iya karena kejadian semalam.."kata Dirga tanpa beban.
Wajah Bening memerah mengingat ciuman nya yang panas dengan Dirga malam tadi.
Dia tak menjawab dirga karena malu.
" maafkan aku, jika kau marah, aku janji tak akan mengulanginya lagi.."
" Bukan..begitu.." sahut bening cepat.
" Lalu.."
" Aku..aku..ah! sudahlah cepat keluar dari kamarku.." usir bening kesal.
"tidak mau" tolak Dirga keras kepala.
"Lalu kau mau apa disini, kamarku sempit dan tak nyaman." kata Bening.
" Aku masih mengantuk, ayo tidur kembali." goda Dirga.
" Anda sudah gila barangkali, kalau begitu aku saja yang keluar, anda lanjutkan saja tidurnya." Bening bergegas bangkit hendak keluar Dirga berhasil menarik baju bening.
" Kita keluar bersama.." Ajaknya sambil mencari tangan bening lalu menggenggamnya.
Bening kaget namun tak menolak sentuhan Dirga di jarinya. dia segera memakai penutup kepala mengambil tongkat Dirga lalu mengajak Dirga keluar bersama.
"jam berapa sekarang?" tanya Dirga
Bening melihat phonselnya
" Jam setengah tiga sore .."
" Antarkan aku ke kamar, aku ingin mandi dan ganti baju, kita ketempat fitness, aku mau berolah raga."
" Baiklah! " jawab Bening.
Saat menaiki tangga Bening dan Dirga bertemu Adam
" Tuan darimana saja? aku cemas mencari anda kemana-mana"
."Aku dari ka.."
" Bening segera membekap Mulut Dirga agar tak mebocorkan rahasia mereka.
."Tuan Dirga dan saya keluar sebentar tadi, jalan-jalan karena bosan.." Bening tersenyum kecut karena harus berbohong."
Dirga menarik alisnya bingung dengan jawaban Bening, setelah mengerti dia tersenyum jahil
" Iya kita jalan-jalan tadi" sahutnya ikut berbohong.
Mereka meninggalkan Adam yang keheranan melihat kekompakan mereka berdua.
Namun dalam hati Adam bersyukur jika hubungan bening dan Dirga semakin baik.
Semoga mereka benar - benar menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya.
" Kenapa harus malu, mengatakan bahwa kita tidur sekamar? bukankah wajar!?" kata Dirga saat mereka berada dikamar Dirga.
" Sejak kapan anda menganggap aku istri?" Balas Bening ketus.
Dirga terdiam.
" Sudahlah..Aku mau siap-siap.." Dirga pun masuk ke ruang ganti untuk mengganti bajunya dengan baju olah raga.
Setelah siap dengan perlengkapannya mereka pun menuju ke tempat fitness diantar Darmo supir Dirga.