Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mode Manja
“Aww … pelan.” Danish meringis kala Lea menekan luka lebamnya.
Lea memutar bola matanya. “Lagian kamu buat ulah apa, sampai si Reynan mukul kamu kaya gini?” tanya Lea.
Danish diam. Mana mungkin ia menjawab dengan jujur.
“Jawab Danish,” kata Lea lagi.
“Em itu, aku habis dari kamar mandi. Pas lewat, si Zara kepleset. Aku reflek bantu dia, ya mungkin si Reynan cemburu,” kilah Danish.
“Lagian ngapain sampai bantu si Zara segala. Padahal biarin aja dia jatuh,” ucapnya.
“Ya aku reflek sayang,” ujarnya.
Lea berdecak. Namun ia masih mengobati luka lebam Danish.
***
Pagi harinya, Reynan membawa koper milik Zara ke rumah Budi.
“Udah sarapan belum?” tanya Lia.
“Belum, Bu.” Reynan yang menjawab.
“Sarapan dulu sana, Za. Ajak suaminya,” kata Lia.
“Iya, Bu.” Zara pun mengajak Reynan untuk sarapan.
“Setelah Hendri datang, aku pulang,” ucap Reynan disela makannya.
Zara menjawab dengan menganggukan kepalanya. Ada sedikit yang mengganjal di hatinya, tapi entah apa.
Tidak ada lagi pembicaraan sampai makanan itu habis.
Setelah itu, Reynan membantu Zara untuk memasukkan pakaian ke dalam lemari.
“Hati-hati, selalu jaga diri, ya. Apalagi dengan mantanmu itu. Aku rasa, dia mulai menyesal dengan keputusannya menikah dengan Lea,” kata Reynan, seraya mendudukan Zara di pangkuannya.
“Kamu juga hati-hati, jaga diri juga. Awas jangan aneh-aneh, aku udah ngasih sesuatu yang paling berharga dari diriku padamu.”
Reynan tersenyum simpul. “Aku juga. Kamu orang pertama yang menyentuhku dan akan jadi satu-satunya orang yang menyentuhku,” ucapnya.
Zara berdecak kecil. Namun tidak dipungkiri, ia pun merasa senang. Apalagi di zaman sekarang, sudah susah mencari laki-laki yang benar-benar masih perjaka.
Namun untuk Reynan, Zara yakin memang baru pertama kali melakukan itu dengannya.
Terbukti saat pertama melakukan itu, dengkul Reynan bergetar, sesuai dengan apa yang dikata Kiky Saputri.
Yang sebelumnya ia kira duda, ternyata masih perjaka.
“Kenapa liatnya gitu amat?” tanya Zara, kala Reynan menatap dirinya dengan begitu intens.
“Kamu cantik,” ucapnya. Setelah itu menyambar bibir Zara dengan pelan dan menuntut.
Seolah tidak ada puasnya. Kini Reynan merebahkan Zara di atas pembaringan.
“Boleh?” tanya Reynan.
Zara yang sudah terangs*ng pun, hanya bisa mengangguk.
Dengan semangat, Reynan membuka bawahan Zara. Namun saat membuka dalaman, semangat Reynan menurun.
“Kenapa?” tanya Zara, kala Reynan membuang napas kasar.
“Merah. Sayang,” ucapnya lirih.
Zara langsung bangkit, lalu duduk. Ia melihat ada bercak di sana. “Maaf,” ucapnya. Memang ini adalah jadwal dirinya kedatangan tamu bulanan.
“Gimana dong?” tanya Reynan, dengan mata melirik ke arah si Jhon.
Zara pun reflek melihat ke arah si Jhon yang sudah tegak sempurna.
Zara menggelengkan pelan kepalanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
“Ikut aku. Ini harus diselesaikan. Gak bisa kalo dibiarkan, apalagi kita akan LDM,” kata Reynan seraya menarik pelan Zara ke kamar mandi.
***
“Apa gak apa-apa bos, saya tinggal di sini?” tanya Hendri.
Saat ini Hendri beserta anak dan istrinya sudah berada di rumah Reynan.
“Ya gak apa-apa. Bukannya saya yang minta kamu untuk tinggal di sini?”
Hendri menganggukan kepalanya. “Terima kasih, bos.”
“Yang penting, kamu kerja yang bener, jujur. Terus rumah juga diurus dengan baik, biar gak cepat rusak.”
“Iya, bos.”
“Hati-hati sama si Amir, takutnya buat ulah dan buat pabrik hancur.”
“Iya, bos. Saya akan terus memperhatikan pergerakannya.”
“Iya, harus itu. Jangan lengah.”
“Siap, bos.”
“Ya sudah, saya juga hari ini mau balik Jakarta.”
“Oh … iya … hati-hati, bos.”
Setelah bicara dengan Hendri, Reynan pun kembali ke rumah Budi.
Budi dan Lia sedang pergi ke sawah, untuk melihat para pekerja yang sedang panen.
Di rumah itu, hanya mereka berdua.
Reynan terus berada di sisi Zara, ia tidak mau berjauhan meski satu jengkal pun.
“Manja banget kamu,” ucap Zara.
“Heum.”
“Aku haus, Mas.” Zara melepaskan tangan Reynan yang sedari tadi memeluknya.
“Kamu di sini aja. Aku yang ambil,” kata Reynan. Lekas ia pun mengambil air minum ke dapur.
Tidak lama, Reynan kembali dan memberikan air minum itu ke Zara.
“Terima kasih, Mas.”
“Sama-sama,” balasnya. Setelah itu, ia kembali memeluk Zara.
“Yang …” panggilnya.
“Hem.”
“Nanti aku mau ke Jakarta, loh.”
“Iya … tahu. Terus?”
Reynan berdecak kesal. Masa istrinya itu tidak mengerti dengan kode-nya.
“Kenapa?” tanya Zara.
“Mau ini,” ucapnya seraya memegang mochi jumbo milik Zara. “Lima hari kita gak ketemu, sebagai bekal,” lanjutnya.
“Semoga pas kita ketemu, tamu bulanan kamu udah beres,” sambungnya.
“Belum-lah,” kata Zara.
“Kok belum? Bukannya paling lama seminggu?” tanya Reynan.
“Paling lama dua minggu, paling cepat dua puluh empat jam,” jawab Zara.
“Iya … semoga saja udah ‘kan?”
“Biasanya aku dua minggu, Mas.”
“Hah, masa?” Nampak sekali wajah terkejut Reynan.
Zara menganggukan kepalanya seraya menahan senyumnya.
Namun, tidak lama, tawa Zara pun pecah juga. Ia tidak kuat menahan kala melihat wajah suaminya yang lemas, kusut dan tidak bersemangat sama sekali.
“Kamu bohong, ya? Kamu bohongi Mas ya?” tanya Reynan dengan mata memicing.
Tawa Zara kembali pecah.
“Kamu dasar, ya. Dosa bohongi suami,” ucap Reynan seraya menggelitik perut Zara.
“Aduh … aduh … ampun, Mas. Hahahaha … aduh stop, aku gak kuat, Mas.”
“Gak mau, aku gak akan kasih kamu ampun.”
“Ah … ah … aduh … hahahaha … Mas, stop, Mas. Aku gak kuat, Mas. Ah … ah … hahaha …”
Namun suara Zara disalah artikan dengan seseorang.
Sampai orang itu merasa panas dingin mendengarnya.