Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Poveglia: Tanah yang Terlupakan
Kabut di Laguna Venesia malam ini bukan lagi sekadar fenomena alam; ia terasa seperti napas dingin dari masa lalu yang bangkit untuk menyelimuti pengkhianatan yang sedang direncanakan di Pulau Poveglia. Di atas perahu motor dengan mesin elektrik yang nyaris tanpa suara, Elena Moretti duduk diam, namun pikirannya bekerja secepat peluru. Ia memeriksa magasin Beretta-nya untuk keempat kalinya—bukan karena ia ragu, tapi karena ia butuh kepastian mekanis di dunia yang penuh ketidakpastian ini.
Di hadapannya, Matteo Valenti tampak seperti siluet gelap yang menyatu dengan malam. Ia mengenakan rompi antipeluru di bawah jaket taktis hitamnya. Luka di perutnya masih terasa berdenyut, setiap guncangan perahu kecil itu memicu rasa nyeri yang tajam, namun wajahnya tetap keras seperti batu pahatan. Di tangannya, sebuah tablet digital menampilkan pemetaan satelit real-time dari pulau yang akan mereka serbu.
"Isabella tidak hanya mengandalkan sejarah kelam pulau ini untuk menjauhkan orang-orang," suara Matteo rendah, nyaris terkubur oleh bunyi kecipak air di lambung kapal. "Dia memasang sistem keamanan yang biasanya hanya ditemukan di kedutaan besar. Ada tiga titik buta di sisi selatan, tapi semuanya dijaga oleh sensor termal."
Elena menatap layar tablet itu. Titik-titik merah bergerak di sepanjang perimeter pulau. "Dia tidak lagi bermain sebagai mafia, Matteo. Dia bermain sebagai negara di dalam negara."
"Itu tujuan akhirnya, Elena," jawab Matteo tanpa menoleh. "Mafia adalah target empuk bagi hukum. Tapi jika kau menjadi 'hukum' itu sendiri, siapa yang bisa menyentuhmu? Isabella sedang menukar seluruh aset Valenti untuk kursi di Dewan Tujuh. Dia ingin legitimasi, bukan sekadar uang."
Itulah maksud dari misi ini. Mereka bukan sedang melakukan pembunuhan balasan. Jika mereka hanya membunuh anggota Dewan Tujuh malam ini, orang lain yang lebih haus darah akan menggantikan posisi mereka besok. Maksud dan tujuan Elena telah bergeser: ia harus mengambil data asli dari koper fisik mereka—bukti digital yang mengaitkan kementerian negara dengan dana gelap Moretti. Tanpa bukti itu, mereka hanya akan menjadi buronan yang membunuh pejabat. Dengan bukti itu, mereka adalah penyelamat negara.
Saat perahu motor itu menyentuh dermaga kecil yang sudah runtuh dan tertutup lumut di sisi terjauh Poveglia, bau tanah basah dan bangunan busuk menyergap indra penciuman mereka. Poveglia adalah labirin reruntuhan rumah sakit karantina bagi penderita pes. Di sini, ribuan nyawa melayang berabad-abad lalu, dan kini, sejarah seolah terulang—pulau ini kembali menjadi tempat bagi mereka yang "sakit" secara moral.
Elena melompat turun lebih dulu, senjatanya teracung ke depan dengan stabil. Ia memberikan isyarat tangan kepada Luca yang tetap berada di perahu untuk posisi siaga. Matteo turun setelahnya, napasnya sedikit tertahan saat ia harus meloncat kecil ke daratan.
"Tunggu," Elena menahan dada Matteo. Sinar inframerah dari menara pengawas tua menyapu semak-semak hanya beberapa meter di depan mereka. "Sapuan radarnya setiap dua belas detik. Kita punya jendela kecil."
Mereka bergerak merangkak di antara semak belukar yang liar dan berduri. Elena memimpin di depan, menggunakan pisau taktisnya untuk menyisihkan dahan tanpa menimbulkan derik suara. Setiap gerakan dilakukan dengan perhitungan matang. Tidak ada dialog puitis; hanya kode-kode tangan dan tatapan mata yang saling memahami.
"Maksud dari sistem ini adalah deteksi, bukan eliminasi," bisik Matteo saat mereka bersandar di balik dinding bata yang retak. "Mereka ingin tahu siapa yang datang sebelum orang itu sampai ke pintu utama. Jika kita masuk lewat jalur utama, kita sudah mati sebelum sempat melihat wajah mereka."
"Maka kita gunakan jalur bawah tanah yang tidak ada di peta modern," Elena menunjuk ke arah lubang ventilasi beton yang tertutup semak. "Saluran pembuangan limbah medis tua. Ayahku pernah menyebutkan ini dalam catatan kecilnya tentang sejarah Venesia. Jalur ini mengarah langsung ke bawah aula utama."
Mereka merayap masuk ke dalam lubang gelap itu. Air limbah yang dingin dan bau busuk merendam kaki mereka hingga ke lutut. Elena bisa mendengar deru generator portabel yang bergetar di atas kepala mereka, menandakan mereka sudah berada di bawah gedung utama.
Di ujung saluran, Elena berhenti. Ia menatap ke atas, ke arah celah ventilasi marmer. Cahaya halogen dari ruangan di atas menyusup masuk melalui celah sempit itu, menerangi wajah Elena yang kotor oleh lumpur namun matanya berkilat tajam.
Di atas sana, suara gelas kristal berdenting. Suara tawa formal dan percakapan dengan aksen Roma yang kental terdengar sangat kontras dengan kondisi Elena dan Matteo yang berada di gorong-gorong.
"Malam ini, Verona menjadi milik kita," suara seorang pria terdengar berat dan berwibawa dari atas. "Dengan kontrol atas pelabuhan dan sistem pengawasan baru, tidak ada satu pun paket yang masuk ke Italia tanpa sepengetahuan Dewan."
Elena merasakan rahangnya mengeras. Itu adalah suara Menteri Kehakiman. Pria yang seharusnya menjaga hukum, justru sedang menjualnya.
Matteo menyentuh bahu Elena, memberikan ketenangan yang ia butuhkan. Ia menyerahkan sebuah perangkat peretas kecil kepada Elena. "Maksud dari keberadaanku di sini bukan untuk menembak, Elena. Aku akan menjadi umpan. Aku akan memancing tim keamanan mereka ke koridor sayap barat dengan granat asap dan alat simulasi tembakan. Begitu mereka pecah konsentrasi, kau masuk ke aula dan ambil disk di koper perak itu."
Elena menatap Matteo dengan ragu. "Luka itu... kau tidak akan bisa berlari cepat jika mereka mengejarmu."
Matteo menarik Elena mendekat, dahinya menempel pada dahi Elena. "Aku sudah menghabiskan sepuluh tahun berlari dari kenyataan bahwa aku mencintaimu di tengah perang ini. Luka ini tidak ada apa-apanya dibandingkan itu. Ambil datanya, hancurkan mereka, dan jemput ibumu. Itu perintah, bukan permintaan."
Elena tidak membantah. Ia memberikan satu anggukan singkat—sebuah komitmen tanpa kata. Ia melihat Matteo merangkak menjauh menuju ujung lorong lain, bersiap memulai pengalihan.
Sepuluh detik kemudian, ledakan tumpul dari granat asap mengguncang gedung. Suara alarm mulai melengking tinggi. Suara langkah sepatu bot militer terdengar berlari menjauh dari aula utama menuju sayap barat.
"Sekarang," desis Elena pada dirinya sendiri.
Ia mendorong penutup ventilasi marmer itu hingga terbuka sedikit, lalu dengan lincah memanjat keluar. Ia mendarat di atas karpet merah aula yang megah tanpa suara, seperti bayangan yang muncul dari lubang neraka. Di tengah ruangan, tujuh pria yang tadinya merasa paling berkuasa di Italia kini tampak panik, namun mata Elena hanya tertuju pada satu benda: koper perak yang terbuka di tengah meja.
Langkah kaki Elena berderap maju. Ia bukan lagi sekadar Moretti; ia adalah hakim yang datang untuk menagih hutang darah.