NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / CEO / Romantis / Cinta setelah menikah / Pengasuh
Popularitas:28k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.

Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.

Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 PLAYGROUND

Di kamar Queen, sinar matahari masuk melalui jendela besar, membuat ruangan bernuansa hangat.

Boneka-boneka tersusun rapi di sudut, sementara gaun kecil Queen tergantung rapi di lemari. Sari berdiri di belakang Queen yang duduk manis di kursi kecil depan meja rias.

“Diam ya, Non,” ucap Sari lembut. “Biar ikat rambutnya rapi.”

Queen mengangguk patuh.

Sari menyisir rambut halus itu perlahan. Jemarinya cekatan, namun sentuhannya lembut seolah rambut itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Ia kemudian menguncir rambut Queen membentuk kuncir kuda kecil, mengikatnya dengan pita warna pastel.

“Cantik,” kata Sari tulus.

Queen tersenyum lebar, matanya berbinar saat melihat pantulan dirinya di cermin. “Kak Sari pinter banget. Papah pasti bilang Queen cantik.”

Sari tersenyum kecil. “Papah pasti senang lihat Non Queen rapi begini.”

Queen menggoyangkan kakinya, terlihat sangat bersemangat. “Hari ini Queen mau main lama di playground. Papah janji!”

Sari mengangguk sambil merapikan pita. “Iya. Nona Queen senang, ya?”

“Sangat!” Queen tertawa kecil. “Queen jarang main sama papah. Biasanya Queen main sama Kak Sari… atau sendirian.”

Kalimat itu sederhana, diucapkan tanpa beban. Namun Sari merasakan sesuatu menekan dadanya.

Ia berjongkok agar sejajar dengan mata Queen. “Nona Queen itu anak baik. Kadang orang dewasa sibuk, tapi bukan berarti mereka tidak sayang.”

Queen terdiam sejenak, lalu bertanya polos, “Kalau mamah?” Sari terkejut kecil.

Queen menunduk, memainkan ujung bajunya. “Mamah selalu pergi. Kata papah, mamah kerja. Tapi Queen jarang sekali dipeluk mamah.”

Sari menelan ludah. Hatinya perih. Namun ia tahu, kata-katanya akan sangat berarti bagi hati kecil itu.

“Mamah Nona Queen kerja keras,” jawab Sari pelan. “Supaya bisa bikin Queen bangga.”

Queen mengangkat wajahnya. “Tapi Queen lebih mau mamah di rumah.”

Sari tersenyum lembut, lalu mengusap pipi kecil Queen. “Nona Queen boleh kangen. Itu wajar. Tapi Nona Queen tetap harus sayang sama mamah. Mamah pasti sayang Queen, cuma caranya beda.”

Queen mengangguk pelan. “Queen sayang mamah… walaupun mamah jarang ada.”

Sari memeluk Queen singkat. “Nona Queen anak kuat.”

Tak lama, ketukan terdengar di pintu.

“Sari, Nona Queen, mobil sudah siap,” ucap sopir pribadi Ammar dari luar.

Sari berdiri, merapikan gaun Queen. “Ayo, Non.”

Queen menggenggam tangan Sari dengan ceria.

Di luar, mobil hitam berkilau telah menunggu. Sari membantu Queen naik ke kursi belakang, lalu duduk di sampingnya.

Mobil melaju meninggalkan halaman rumah megah itu, menuju pusat kota.

Queen menempelkan wajahnya ke jendela, matanya berbinar melihat gedung-gedung tinggi dan jalanan yang ramai.

“Kak Sari,” panggilnya.

“Iya, Non?”

“Playground-nya besar banget, ya?”

“Iya. Katanya yang paling besar di kota.”

Queen bertepuk tangan kecil. “Queen mau main semuanya!”

Sari tertawa pelan. “Pelan-pelan. Nanti capek.”

Tak lama, mobil berhenti di depan sebuah bangunan besar penuh warna. Tulisan besar di atasnya menunjukkan bahwa itu memang salah satu playground terbesar di kota lengkap dengan perosotan tinggi, area pasir, kolam bola, dan wahana edukatif.

Queen langsung tak sabar.

Namun setelah turun dari mobil, matanya mencari-cari. Ia menoleh ke kiri. Ke kanan. Lalu menatap sopir dengan raut sedikit lesu.

“Pak…” suaranya mengecil. “Papah mana?”

Sopir tersenyum sopan. “Tuan Ammar akan menyusul, Nona. Setelah urusannya beres.”

Wajah Queen berubah. Bukan marah melainkan kecewa. “Oh…” jawabnya pelan. Bahu kecilnya sedikit turun.

Sari langsung berjongkok di hadapannya. “Nona Queen kecewa?”

Queen mengangguk pelan. “Queen pikir papah ikut dari rumah.”

Sari mengusap punggung tangan kecil itu. “Papah sudah janji, kan? Papah pasti datang.”

Queen menghela napas kecil, lalu menatap playground di depan mereka.

“Kak Sari temani Queen dulu?” tanyanya ragu.

“Tentu,” jawab Sari mantap. “Kita main dulu. Nanti papah datang, Queen bisa cerita sudah main apa saja.”

Queen berpikir sebentar. Lalu tersenyum lagi.

“Iya! Nanti papah kaget!”

Sari tertawa kecil. “Nah, itu baru Queen.”

Mereka masuk ke dalam. Suara tawa anak-anak memenuhi ruangan. Warna-warni cerah membuat Queen kembali bersemangat. Ia langsung berlari kecil ke arah kolam bola, lalu ke perosotan.

Sari mengikutinya dengan sigap, matanya tak lepas dari Queen.

“Lihat, Kak Sari!” seru Queen dari atas perosotan.

“Queen tinggi!”

“Hati-hati, Non!” jawab Sari sambil tersenyum.

Queen meluncur turun sambil tertawa keras.

Tawa itu kembali renyah. Kembali tulus.

Sari berdiri di samping arena, dadanya menghangat melihat kebahagiaan anak itu. Ia sadar, meski hanya seorang pelayan, kehadirannya berarti bagi Queen.

Di sela permainan, Queen duduk di bangku kecil, meminum air.

“Kak Sari,” ucapnya tiba-tiba.

“Iya?”

“Kalau besar nanti… Queen mau jadi apa ya?”

Sari tersenyum. “Queen mau jadi apa?”

“Queen mau jadi orang yang selalu pulang,” jawabnya polos.

Sari terdiam. Kalimat sederhana itu kembali menusuk.

Ia menahan emosi, lalu tersenyum. “Itu cita-cita yang indah.”

Queen mengangguk. “Biar anak Queen nanti nggak nunggu.”

Sari memeluk Queen, kali ini lebih lama. “Queen anak baik. Papah pasti bangga.”

Tak jauh dari mereka, beberapa orang tua memperhatikan dengan senyum melihat seorang gadis muda dari desa yang dengan tulus menjaga anak kecil yang bukan darah dagingnya.

Dan di antara suara tawa dan warna-warni playground itu, Sari berdoa dalam hati Semoga hari ini papah Queen benar-benar datang.

Karena hati kecil itu terlalu sering belajar menunggu.

Dan di saat yang sama, di tempat lain, Ammar Abraham sedang menyelesaikan urusannya tanpa tahu bahwa setiap menit keterlambatannya adalah ujian kecil bagi janji yang ia buat pagi tadi.

1
💗 AR Althafunisa 💗
Kaya-kaya koq bisa dimanfaatkan begitu, kagak ada ketenangan, kagak ada kehangatan. Sepi seakan tak punya istri kalau begitu, kenapa ga cerai aja sih 😬
ollyooliver🍌🥒🍆
saranku sih pangggil mama aja, soalnya kalau anak sari lahir, trus panggil ammar papa dan sari bunda jatohnya kek.. anaknya sari juga anak tiri/anak angkat karna mengikuti panggilan queen.
Yatiek Widhodho
lanjut thorr
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
selamat ya Sari..
Felycia R. Fernandez
jadi ingat nge liwet dengan teman2 kerja🤍
Felycia R. Fernandez
aku laper jadinya 🤤😆😆😆
Felycia R. Fernandez
mas Ammar donk,masa panggil nama aja
Felycia R. Fernandez
Tetiba membuat nya berdua,eeeh yang salah cuma Ammar sendiri 🤣🤣🤣🤣
gak adil ya Mar...
semangat Mar...
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤦‍♀️😭😭😭😭
Reni Anjarwani
makin seru thor
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Queen kamu akan punya bunda🥰🥰
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yeaaayyy queen punya bunda🥰🥰
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Felycia R. Fernandez
biang kerok,gak bisa nahan nafsu🤬
Felycia R. Fernandez
ikutan 😭😭😭😭😭😭😭
Felycia R. Fernandez
ini datang karena Queen rindu atau sekaligus melamar Sari
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
😥😥😥😥😥😥
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
semoga keluarga Ammar benar² menerima Sari..
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yang kuat ya Sari...
Sweetie blue
Sejauh ini yang aku baca ada pesan yang di taman dalam cerita ini.

jika sudah memiliki suami sebisa mungkin diam di rumah. ngurus suami, anak dan juga rumah. jangan banyak gaya ingin kerja di luar dan mengabaikan kewajiban seorang istri.

kalo semuanya harmonis maka semuanya akan berakhir bahagia terutama restu orang tua. 😍😍

Mudah-mudahan happy ending ya cerita nya thour.. semangat berkaya💪💪💪😍😍😍
Felycia R. Fernandez: Sebenarnya gak gtu juga kk,
istri bole bekerja,aku juga bekerja.cuma kita juga harus ingat kewajiban kita sebagai istri dan ibu.
Sabrina diijinkan Ammar kerja tapi dia kebablasan,malah mentingin kerjaaan dari suami dan anak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!