siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.
Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intelijen Bumbu Dapur dan Penyamaran Daster Maut
Matahari Jakarta belum sepenuhnya bangun ketika Bella Damayanti sudah mondar-mandir di ruang tamu unit 303. Di depannya, sebuah papan tulis putih kecil yang biasanya digunakan Maya untuk mencatat menu diet yang selalu gagal kini penuh dengan coretan spidol merah. Di tengah papan itu, pin kepala banteng "Toro Loco" tertempel menggunakan selotip.
"Oke, dengerin," suara Bella serak, khas orang yang hanya tidur dua jam dan mengonsumsi tiga gelas kopi hitam tanpa gula. "Hasil pelacakan gue lewat informan lama di intelijen oke, sebenernya lewat grup WhatsApp mantan rekan di Polsek kelompok Toro Loco ini punya markas di sebuah gudang distribusi bawang di daerah Jakarta Barat."
Siska Paramita keluar dari dapur sambil membawa piring berisi roti bakar aroma bawang putih. "Gudang bawang? Pantesan daster Maya bau bumbu dapur pas semalam kita pegang."
Maya Adinda muncul dari kamarnya dengan mata sembap. Ia mengenakan piyama sutra ungu, tangannya sibuk memulas lip balm.
"Gudang bawang itu pasti kotor ya? Banyak debu? Aduh, kulitku bisa breakout kalau kita ke sana."
Bella menatap Maya dengan tatapan 'kalau kamu nggak diam, aku borgol di tiang jemuran'. Maya langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Masalahnya," lanjut Bella, "gudang itu dijaga ketat. Bukan pakai anjing pelacak, tapi pakai preman-preman pasar yang kalau lihat perempuan asing langsung curiga. Kita nggak bisa masuk begitu saja pakai jaket kulit dan kacamata hitam ala film Mission Impossible. Kita butuh pintu masuk yang logis."
Siska meletakkan piring roti tawarnya. Matanya berbinar. "Pintu masuk yang paling logis adalah... makanan. Don Toro itu punya istri, Bu Fatma, yang punya usaha katering 'Fatma Jaya'. Aku tahu mereka lagi cari supplier bumbu dasar siap pakai karena pesanan katering mereka lagi membeludak buat acara pernikahan massal minggu depan."
Bella tersenyum miring. "Nah, itu dia. Siska, lo bakal masuk sebagai pengusaha bumbu rumahan yang mau menawarkan kerja sama.
Maya, lo jadi asistennya Siska. Bawa brosur, bawa contoh bumbu, dan yang paling penting, bawa pesona 'guru TK' lo buat bikin penjaga gerbang meleleh."
"Terus kamu, Bel?" tanya Maya.
"Gue?" Bella mengambil sebuah topi proyek warna kuning dan rompi oranye dari balik sofa. "Gue bakal jadi petugas PLN bodong yang lagi cek meteran di area gudang. Gue bakal masuk lewat jalur belakang buat nyari di mana mereka nyimpen 'harta karun' jemuran kita."
Misi Penyamaran Dimulai
Pukul 10.00 WIB. Sebuah mobil LCGC putih yang disetir Siska berhenti di depan sebuah gudang besar bertembok kusam dengan papan nama samar: "UD. BAWANG BAROKAH". Bau bawang putih yang menyengat langsung menyerang indra penciuman mereka bahkan sebelum pintu mobil dibuka.
"Aduh, bau banget! Parfum mahal gue kalah telak!" keluh Maya sambil menyemprotkan parfum berkali-kali ke udara.
"Maya, simpen parfum lo! Lo itu asisten katering, bukan mau ke kondangan!" bentak Siska. Siska sendiri tampil meyakinkan dengan celemek bersih bertuliskan "Dapur Siska" dan rambut yang dicepol rapi.
Di gerbang, dua orang pria berbadan besar dengan tato di lengan menghalangi jalan. Salah satunya adalah Udin, yang jidatnya masih dibalut perban gara-gara hantaman sutil Siska semalam.
"Mau apa kalian?" tanya Udin ketus. Matanya menyipit, merasa familier dengan suara Siska, tapi ia tidak yakin karena semalam kondisi sangat gelap dan matanya perih kena semprotan merica.
Maya maju selangkah, memberikan senyum manis yang biasa ia gunakan untuk menenangkan anak TK yang sedang tantrum.
"Halo, Mas-mas ganteng... Kami dari Bumbu Mak Nyus. Kita sudah ada janji sama bagian logistik Bu Fatma buat kirim sampel bumbu dasar rendang dan opor. Ini lho, Mas, bumbunya asli, tanpa pengawet, sealami cinta kita..."
Udin tertegun. Jantungnya yang biasanya hanya berdegup kencang saat dikejar polisi, kini berdegup karena senyuman Maya. "Oh... Bumbu ya? Anu, Bu Fatma lagi nggak ada di tempat. Tapi kalau mau naruh sampel, silakan masuk ke kantor depan."
"Terima kasih ya, Mas... Siapa namanya? Mas Udin? Nama yang gagah sekali," goda Maya sambil mengedipkan sebelah mata.
Udin tersipu malu, wajah garangnya berubah jadi merah jambu. "I-iya, silakan masuk, Mbak."
Sementara Maya dan Siska masuk lewat pintu utama, Bella bergerak dari sisi lain. Ia sudah mengenakan rompi oranye dan membawa tas perkakas. Dengan gerakan lihai, ia memanjat pagar belakang yang tertutup tumpukan palet kayu.
Siska dan Maya duduk di ruang tunggu kantor yang pengap. Siska diam-diam memperhatikan sekeliling. Di sudut ruangan, ia melihat sebuah keranjang besar yang ditutupi kain terpal. Ujung sebuah kain bermotif bunga lavender mencuat dari sana.
"May, lihat," bisik Siska. "Itu serbet linen gue!"
Maya melirik. "Dan itu... di bawahnya... ada warna pink macan! Itu daster gue, Sis!"
Maya hampir saja berdiri dan menerjang keranjang itu kalau saja Siska tidak menahan tangannya. "Sabar, May. Kita butuh bukti lebih banyak. Kenapa mereka ngumpulin kain-kain ini?"
Tiba-tiba, pintu kantor terbuka. Seorang pria dengan perut buncit, mengenakan kemeja batik yang kekecilan, masuk dengan wajah gusar. Itu adalah Don Toro. Ia sedang memegang ponsel, tampak sangat tertekan.
"Iya, Sayang! Iya! Ini aku lagi cek bawangnya. Jangan marah-marah... Nanti aku belikan emas dua gram kalau orderan kateringnya lancar. Oke, oke... I love you too, Macan Kemayoranku."
Don Toro menutup telepon dan menghela napas panjang. Ia berbalik dan terkejut melihat dua wanita cantik di ruang tunggunya. "Siapa kalian? Mau nagih utang?"
Siska berdiri dengan tenang. "Bukan, Pak. Kami dari Bumbu Mak Nyus. Kami dengar katering Fatma Jaya sedang butuh bantuan logistik bumbu."
Don Toro menatap Siska dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Bumbu ya? Hmmm, boleh juga. Istri saya memang lagi pusing karena asisten koki kami baru saja kabur gara-gara nggak kuat disuruh ngupas bawang sekuintal sehari."
Sementara itu, di area gudang bagian dalam, Bella bergerak di antara karung-karung bawang. Ia menemukan sebuah ruangan tersembunyi yang dijaga oleh satu orang anak buah Don Toro yang sedang asyik bermain gim di ponselnya.
Bella mengambil sebuah obeng dari tasnya. Ia tidak akan menyerang secara langsung. Ia melempar sebuah baut ke arah tumpukan kaleng kosong di sudut lain.
PRANG!
Si penjaga berdiri. "Siapa itu? Kucing?" Saat si penjaga memeriksa sumber suara, Bella dengan gerakan cepat merayap masuk ke ruangan tersebut.
Mata Bella membelalak. Ruangan itu bukan berisi senjata atau narkoba. Ruangan itu penuh dengan jemuran! Ratusan daster, kerudung, serbet, hingga sarung bantal tersusun rapi dalam kategori warna. Dan yang lebih mengejutkan, di tengah ruangan itu ada mesin jahit industri yang sedang bekerja secara otomatis menjahit kain-kain jemuran itu menjadi satu kesatuan yang aneh.
"Apa-apaan ini?" gumam Bella. Ia mengambil foto dengan ponselnya. Kain-kain jemuran itu dijahit menjadi semacam kantong-kantong kecil yang kemudian diisi dengan sesuatu yang berbentuk kristal putih.
"Narkoba!" batin Bella. "Mereka menyelundupkan narkoba di dalam kain-kain jemuran bekas agar tidak terdeteksi anjing pelacak karena aromanya sudah tercampur bau keringat dan deterjen manusia!"
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat mendekat. Bella tidak punya waktu untuk keluar. Ia terpaksa bersembunyi di dalam salah satu tumpukan daster yang besar yang kebetulan semuanya bermotif daster batik Ibu-Ibu PKK.
Di kantor depan, situasi mulai memanas. Don Toro, yang awalnya ramah, mulai curiga ketika melihat Maya terus-menerus melirik ke arah keranjang di sudut ruangan.
"Mbak ini asisten katering atau agen properti? Matanya lirik-lirik mulu," tegur Don Toro dengan nada curiga.
Maya gugup. "Anu, Pak... Saya cuma kagum sama dekorasi kantornya. Klasik... sangat... berbau bawang."
"Tunggu dulu," Don Toro mendekati Maya. Ia mencium aroma parfum Maya yang sangat menyengat. "Aroma ini... saya kayak pernah cium semalam. Di rooftop apartemen..."
Siska segera berdiri di depan Maya. "Mungkin Bapak salah orang. Banyak orang pakai parfum merk ini, Pak. Ini kan parfum sejuta umat."
Don Toro menyipitkan mata. "Dan sutil di tas Mbak itu... buat apa bawa sutil ke kantor saya?"
Siska lupa menyembunyikan sutil kesayangannya yang mencuat dari tas belanja. "Ini... ini untuk demonstrasi memasak, Pak! Biar Bapak yakin kalau bumbu kami bisa menghasilkan masakan yang... menghantam!"
Don Toro berteriak, "UDIN! JOKO! SINI!"
Udin dan Joko masuk ke ruangan. Udin melihat Siska lebih dekat. "Bos! Ini dia! Ini janda yang mukul jidat saya semalam pakai sutil!"
Siska tidak menunggu perintah. Ia langsung menarik sutilnya. "May, lari ke belakang! Cari Bella!"
"TANGKAP MEREKA!" perintah Don Toro sambil bersembunyi di balik mejanya.
Kekacauan pecah. Siska mengayunkan sutilnya layaknya pedang samurai. Udin mencoba menerjang, tapi Siska dengan lihai memutar tubuhnya dan memberikan hantaman telak ke bokong Udin.
PLAK!
"Aduuuh! Janda galak!" teriak Udin.
Maya, yang tidak punya kemampuan bela diri, menggunakan senjata andalannya. Ia mengambil botol-botol sampel bumbu cair yang ia bawa dan mulai melemparkannya ke arah Joko.
"Terima ini! Sambal Terasi Ekstra Pedas!"
BYUR!
Joko terkena siraman sambal tepat di wajahnya. "Huaaaa! Panas! Panas banget! Kayak kena api neraka!"
Maya kemudian mengambil semprotan merica dari dalam tasnya. "Dan ini untuk penutupnya... Semprotan Bubuk Cabai Spesial Guru TK!"
Siska dan Maya berhasil menerobos keluar kantor dan lari menuju area gudang. Mereka berteriak memanggil Bella.
"BELLA! KITA KETAHUAN! BELLA!"
Tiba-tiba, dari tumpukan daster di tengah gudang, muncul sebuah sosok yang tertutup kain batik dari kepala sampai kaki. Sosok itu bergerak seperti hantu daster, menendang dua preman yang mencoba menghalangi jalan Siska dan Maya.
"Gue di sini! Lari ke arah truk!" teriak sosok itu, yang ternyata adalah Bella yang menyamar jadi tumpukan jemuran berjalan.
"Bella? Kok kamu jadi daster berjalan gitu?" tanya Maya sambil terus berlari.
"Jangan tanya sekarang! Mereka menyelundupkan sabu di dalam jemuran kita! Kita harus bawa bukti ini ke luar!"
Mereka bertiga terkepung di tengah gudang oleh belasan anak buah Don Toro. Don Toro muncul dengan napas tersengal-sengal.
"Kalian tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari sini! Rahasia bisnis saya tidak boleh bocor!" seru Don Toro.
Namun, di tengah ketegangan itu, suara klakson mobil mewah terdengar dari luar.
Sebuah mobil Alphard hitam berhenti tepat di depan pintu gudang. Seorang wanita bertubuh tambun, mengenakan perhiasan emas yang sangat mencolok dan memegang teflon penggorengan ukuran jumbo, turun dari mobil.
Itu adalah Bu Fatma, istri Don Toro.
Wajah Don Toro yang tadinya sangar langsung berubah pucat pasi. Ia gemetar hebat. "Ma... Mama? Kok Mama di sini?"
Bu Fatma masuk ke gudang dengan langkah yang membuat lantai terasa bergetar. Ia menatap Don Toro, lalu menatap keranjang berisi daster-daster perempuan.
"PA! JELASKAN SAMA MAMA! KENAPA BANYAK DASTER PEREMPUAN DI SINI?! PAPA MAU BUKA CABANG ISTRI MUDA?!"
Suara Bu Fatma menggelegar lebih keras daripada ledakan bom. Don Toro jatuh berlutut. "Bukan, Ma! Ini buat bisnis, Ma! Sumpah!"
Siska, Bella, dan Maya saling pandang. Mereka melihat peluang.
"Bu Fatma!" teriak Maya dengan nada paling sedih yang bisa ia buat. "Suami Ibu mencuri daster kami! Dia punya fetish aneh, Bu! Dia suka ngumpulin baju bekas janda-janda di apartemen kami!"
Mata Bu Fatma berkilat api. Ia mengangkat teflon jumbonya. "APA?! PAPA JADI MALING JEMURAN JANDA?!"
"Enggak, Ma! Itu fitnah! Aku cuma nyelundupin narkoba, Ma! Sumpah, cuma narkoba!" teriak Don Toro dalam keputusasaannya, secara tidak sengaja mengakui kejahatan yang lebih besar.
Hening sejenak.
"Narkoba?!" Bu Fatma makin murka. "Daster janda saja sudah bikin Mama marah, apalagi narkoba! Bisa hancur nama baik katering Mama!"
TENG!
Hantaman teflon Bu Fatma mendarat tepat di kepala Don Toro. Sang bos mafia itu tumbang seketika, matanya berputar-putar. Anak buahnya yang lain tidak ada yang berani bergerak. Mereka lebih takut pada Bu Fatma daripada pada polisi.
Bella segera mengeluarkan ponselnya. "Halo, tim buser? Saya punya paket lengkap di Gudang Bawang Barokah. Bos mafia, barang bukti sabu, dan... seorang ibu rumah tangga dengan senjata pemusnah massal bernama teflon."
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣