Saling selingkuh, mewarnai kehidupan rumahtangga Dave, dan Alana.
Hingga keduanya menyadari adanya cinta pada diri masing-masing, disaat rumahtangga yang mereka jalani, berada diujung tanduk. Dan cinta itu semakin kuat, dengan kehadiran sikembar Louis, dan Louisa.
Ikuti kisah cinta Alana, dan Dave yang merupakan saudara tiri.
IG. Popy_yanni.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melewati hari bersama Louis, dan Louisa.
Tatapan kedua bocah itu beralih menatap keasal suara, seketika tangisan Louis terhenti, saat mendapati sosok tampan yang tengah tersenyum lembut padanya.
"Apa yang membuatmu, menangis? katakan pada paman,"Tanya Dave sekali lagi, dengan senyuman kecil diwajahnya menatap bocah laki-laki itu.
"Adikku ingin membeli mobil-mobilan itu Paman? tapi harganya sangat mahal,"Celah, Louisa.
Dave menatap sosok gadis kecil itu, dengan tatapan intens. Dan dia larut, dengan asumsinya sendiri.
"(Gadis kecil ini, wajahnya begitu mirip dengan Alana. Kenapa semua hal yang aku temui diinegara ini, mengingatkanku pada wanita itu?)" Bathinnya, yang laruti dalam pikirannya.
"kalau kau mau, ayo kita kembali kesana, Paman yang akan membelikan mobil-mobilan itu." Ucapnya tersenyum, dengan membungkukan badanya mensejajarkan tingginya, dengan Louis.
"Tapi harganya, sangat mahal Paman?!" Seru, Louisa.
"Tidak masalah, karena Paman punya banyak uang." Jawabnya, dengan tawa kecilnya.
"Kau serus Paman, akan membelikan aku mobil-mobilan itu?!" Tanya Louis memastikan, dengan bolamata berbinar.
"Tentu, dan Paman juga akan membelikan untukmu juga gadis kecil?" Dengan mencubit gemas, pipi Louisa.
Kedua bocah kecil itu saling menatap, tersenyum, dan langsung melonjak kegirangan.
"Baiklah Paman, ayo kita kesana?!" Ajak Louis, yang terlihat begitu bersemangat.
"Ayoo?! dan pegang tanganku." Jawab Dave, dengan meraih tangan kedua anaknya pada sisi kiri, dan kanan dan berlalu ketoko mainan itu.
****
"Ambillah mainan, apapun yang kalian suka.Paman yang akan membayarnya." Ucapnya tersenyum, menatap kedua anak kecil itu.
"kau serius, Paman?!" Tanya Louisa, dengan menatap intens wajah tampan itu.
"Iya, Paman serius,"
Tanpa menajawab kedua bocah itu langsung berlari menuju mainan kesukaan mereka, dengan terlihat begitu bersemangat.
Dave hanya tersenyum menatap keduanya, dan segera dia menghampiri kasir, untuk melakakukan pembayaran.
"Apakah dia putramu, Tuan?!" Tanya kasir toko itu, saat melihat kemiripan wajah Louis, dan laki-laki itu.
"Maksudmu?!" Dengan tatapan intens, menatap penjaga toko itu.
"Maksud saya, anak laki-laki itu sangat mirip dengan anda, dan dia seperti versi mini anda." Jawabnya, tersnyum.
Dave hanya tersenyum, dan tidak menjawab. Tatapan matanya beralih menatap Louis dengan tatapan yang begitu intens, menatap perawakan anak laki-laki itu, seperti melihat diirnya waktu kecil dulu. Hingga lamunan itu terbuyar, dengan kedatangan kedua bocah itu yang membawa mainan, dan boneka ditangan mereka.
"Paman, apakah aku boleh memiliki boneka yang ini?" Pinta Louisa, menatap penuh harap pada Dave.
"Tentu saja, boleh."
Kasir itu hanya tersenyum, saat melihat tingkah kedua bocah itu.
"Anak-anakmu sangat manis, Tuan?!"
"Tentu, memang mereka anak yang sangat manis." Ucap Dave dengan terus memandang Louisa, dan Louisa yang tengah kegirangan.
****
Kini mereka bertiga, tengah menikmati pemandangan indah sebuah danau, yang terletak dibawah kaki bukit.
"(Kenapa aku seperti melihat diriku, dan Alana dalam versi kecil, pada diri kedua bocah ini.)" Bathinnya, dengan terus memandang Louis, dan Louisa yang tengah tertawa kecil, seraya menikmati ice cream mereka.
"Paman..?!" panggil Louisa, yang memecahkan lamunan laki-laki tampan itu.
"Ada apa?!"
"Dimana kau tinggal, apakah kita bisa bertemu lagi?"
"Paman tinggal ditempat yang sangat jauh, tapi kalau kau mau, besok kita bisa bertemu lagi, sebab Paman akan menyewa sebuah Vila, dan akan tinggal sementara disini, karena Paman harus mengawasi sebuah proyek."
"Apa kau bilang Paman? kau akan menyewa sebuah VIla, bukankah menginap divila itu sangat mahal?!" Timpal Louis.
Dave hanya tertawa kecil, dengan ekpresi terkejut bocah kecil itu, yang tampak begitu polos.
"Berapa usiamu?"
"Usiaku sebentar lagi enam tahun Paman, begitupun juga dengan kakak,"
"Apakah kalian berdua, kembar?!" Tanya Dave, memastikan.
"Iya Paman, kami berdua kembar." Timpal Louisa, menjawab rasa penasaran pria itu.
"Kalian berdua sangat manis, danPaman sangat menyukai kalian."
Larut dalam perbicangan, dan bersenda gurau, membuat ketiganya tidak menyadari waktu.
"ini sudah sore, kalian berdua pulanglah, nanti orangtua kalian akan mencari."
Beranjak dari duduknya, dengan meraih kantong masing-masing yang berisi mainan mereka.
"Iya Paman kami harus segera pulang, takut nanti Mama akan memarahi kami." Ucap Louisa.
"Hati-hatilah dijalan, dan jika kalian ingin bertemu dengan Paman, datang lagi kesini, aku akan menunggu kalian. Dan ingat jangan beritahu siapa-siapa, karena ini adalah rahasia kita bertiga."
"Tentu Paman, karena ini adalah rahasia kita bertiga."Ucap kedua bocah itu bersamaan, dan segera berlalu pergi.
Dave hanyan tersenyum, saat melihat perginya kedua bocah kecil itu.
"Alangakh bahagianya, kalau kedua anak itu adalah anakku." Serunya, dengan meninggalkan danau kecil itu.
Alana tampak begitu frustasi, sudah seharian ini kedua anaknya bermain dan belum pulang hingga sore ini.
Saat melihat kedua anaknya dari kejauhan, dengan cepat wanita berambut cokelat itu, menyambangi.
"Darimana saja kalian?! bahkan kalian tidak pulang untuk makan siang. Dan apa yang kalian bawah itu?!" Tatapan penuh selidik, menatap kedua anaknya.
"Ini paman tampan, yang membelikan pada kami, Maa?!"
"Paman, tampan?!" Dengan tatapan intens, menatap putrinya.
"kakak..? bukankah Paman bilang, ini rahasia kita?" Ucap Louis, yang berbisik pelan ditelinga, saudara perempuanya.
Seketika menutup mulutnya, karena baru menyadarinya.
"Oopppss.." Ucapnya.
"Baiklah kalau begitu sekarang kita pulang! dan jelaskan Pada Mama saat kita sudah berada dirumah." Ucapnya dengan meraih tangan kedua anaknya, dan berlalu pergi.
****
Malam telah menyambut kota Cambrigge, tatapan matanya jauh kedepan, menatap keindahan kota kecil itu dari lantai dua vila.
"Kenapa tiba-tiba, aku merindukan kedua bocah kecil itu yaa?" Gumamnya, seraya tersenyum kecil.
Terdengar suara telepone, yang mengalihkan tatapan laki-laki tampan itu pada saku celananya, dan seketika tersenyum kecil, saat melihat pada layar phonsel tertera nama Laura, dan memutuskan untuk menerimanya.