NovelToon NovelToon
Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:902
Nilai: 5
Nama Author: Cristaal

Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Langit Cemburu.

Rabu pagi di SMA Taruna Bakti berjalan dengan dinamika baru yang membingungkan bagi Aletha. Tommy benar-benar menepati janjinya untuk menjauh. Mantan pacarnya itu bahkan tidak terlihat di koridor sekolah ataupun area parkir sejak gerbang dibuka. Namun, posisi kosong itu justru digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih merepotkan, pengawasan absolut dari Langit.

"Letha, ini daftar anggota kelompok untuk tugas proyek Kimia nanti. Gue sengaja masukin lo sekelompok sama gue, nggak apa-apa, kan?"

Aletha mendongak dari meja kelasnya, mendapati Rendy, ketua kelas XI-IPA 2 yang terkenal ramah dan pintar sedang berdiri di depan mejanya sambil tersenyum manis. Rendy menyodorkan selembar kertas folio berisi coretan pembagian kelompok.

Aletha mengulas senyum tipis, merasa agak lega karena Rendy adalah orang yang asyik diajak bekerja sama.

“Oh, iya, Ren. Nggak apa-apa banget kok. Malah bagus kalau sekelompok sama lo, biar tugasnya cepat kelar."

Rendy terkekeh pelan, lalu sedikit menundukkan tubuhnya, menumpu kedua tangannya di tepi meja Aletha dengan jarak yang cukup dekat.

"Sip. Nanti pulang sekolah kita bisa mulai bahas di perpus sebentar ya, Letha? Cuma berdua dulu aja buat nentuin materi dasarnya."

"Bisa kok, Ren. Kebetulan nanti…"

*BRAK.*

Suara tumpukan buku paket Kimia setebal lima ratus halaman yang dijatuhkan dengan sengaja dari meja sebelah langsung memotong kalimat Aletha.

Sentakan itu begitu keras hingga membuat Rendy refleks menegakkan kembali tubuhnya karena terkejut.

Langit berdiri dari kursinya. Cowok tinggi itu sama sekali tidak melirik ke arah Rendy. Ia hanya merapikan kerah seragam putihnya dengan gerakan lambat yang terkesan sangat arogan, lalu melangkah memutari meja hingga posisinya kini berdiri tepat di samping bangku Aletha, menghalangi jarak pandang Rendy sepenuhnya. Hawa dingin yang pekat mendadak menguar dari tubuh tegapnya.

"Ubah daftar kelompoknya, Ketua Kelas," perintah Langit dengan nada suara bariton yang teramat tenang, namun sarat akan intimidasi yang tidak bisa diganggu gugat.

Rendy berkedip bingung, dahi jalannya berkerut.

“Maksud lo gimana, Langit? Ini daftarnya sudah dibagi rata per bangku."

Langit menatap Rendy dengan sepasang mata hazel-nya yang sedingin es di kutub utara.

"Aletha masuk kelompok gue. Cari orang lain buat mengisi slot di kelompok lo."

"Eh, bentar, Langit! Nggak bisa sepihak gitu dong," protes Rendy, mencoba mempertahankan posisinya sebagai ketua kelas.

"Aletha sendiri sudah setuju sekelompok sama gue. Lagipula, ini cuma tugas sekolah."

Langit perlahan menarik sudut bibirnya, membentuk seringai tipis yang terlihat sangat meremehkan. Ia melirik kertas folio di tangan Rendy, lalu beralih menatap langsung ke manik mata cowok itu dengan kilat kemarahan tersembunyi yang pekat.

"Gue nggak suka mengulang kalimat gue dua kali," desis Langit dengan suara rendah yang mendadak membuat atmosfer di dalam kelas menjadi sangat mencekik. Ia meletakkan satu tangan panjangnya di atas sandaran kursi Aletha, sebuah gerakan posesif yang sangat kentara di depan mata Rendy dan murid-murid lain yang mulai memperhatikan.

"Dia punya tugas lain sepulang sekolah yang jauh lebih penting daripada berduaan sama lo di perpustakaan."

Aletha menahan napas, wajahnya mendadak terasa panas akibat tindakan nekat Langit yang kelewat protektif ini. Di sekolah, mereka memang dikenal sebagai Tom and Jerry yang selalu bertengkar, tapi cara Langit menghalangi Rendy saat ini sama sekali tidak terlihat seperti musuh yang sedang menjahilinya. Ini adalah insting teritorial seorang laki-laki yang sedang menandai batas wilayahnya.

Rendy menatap tangan Langit di kursi Aletha, lalu melirik wajah Aletha yang sudah memerah kaku. Menyadari aura mengintimidasi dari sang juara umum yang siap meledak jika ia mendebat lebih jauh, Rendy akhirnya mengembuskan napas kalah. Ia melangkah mundur satu langkah.

"Oke, oke. Gue ubah daftarnya. Lo sekelompok sama Aletha," ucap Rendy kaku, lalu buru-buru berbalik dan berjalan cepat menuju meja guru di depan kelas demi menyelamatkan nyawanya.

Setelah Rendy pergi, Langit tidak langsung kembali ke bangkunya. Ia menurunkan pandangannya, menatap langsung ke arah Aletha yang masih terpaku menatapnya dengan mata melotot sempurna.

"Langit! Lo beneran udah kehilangan urat malu, ya?!" bisik Aletha tajam dengan volume suara yang ditahan.

"Kenapa lo harus ngusir Rendy kayak gitu? Dia kan cuma ngajak kerja kelompok!"

Langit menopang tubuhnya dengan melipat kedua tangan di depan dada, menundukkan kepalanya sedikit agar wajahnya sejajar dengan Aletha. Sorot mata hazel-nya mengunci manik mata gadis itu penuh dengan keangkuhan yang mutlak.

"Tugas lo di sekolah ini adalah jadi babu pribadi gue, Kurcaci," ucap Langit dengan nada suara datarnya yang menyebalkan, namun ada getaran lain yang tersembunyi di balik kalimatnya.

"Dan seorang babu nggak punya hak buat membagi waktu kerjanya dengan cowok lain yang senyumnya kelewat genit kayak ketua kelas lo itu."

Wajah Aletha semakin terasa terbakar. Jantungnya mendadak berdentum maraton dengan sangat keras di dalam rongga dadanya. Benci yang biasanya ia gunakan sebagai tameng kini mendadak lumpuh total, digantikan oleh debaran aneh yang begitu manis dan mendebarkan.

"Lo... lo cemburu, ya?" tebak Aletha nekat, mencoba membalas tatapan Langit dengan sisa-sisa keberaniannya, meski sebenarnya ia salah tingkah setengah mati.

Langit tertegun selama setengah detik. Sorot mata hazel-nya sempat bergetar halus mendengar tebakan telak dari Aletha. Namun dengan cepat, cowok perfeksionis itu kembali menguasai topeng tripleksnya. Ia menegakkan kembali tubuh tingginya, lalu menjentikkan jarinya di depan dahi Aletha dengan pelan.

"Jangan ketinggian kalau mimpi, Kurcaci," sahut Langit dingin sebelum berbalik dan kembali duduk di bangkunya sendiri dengan santai.

Aletha memegangi dahinya yang baru saja dijentikkan, menatap punggung tegap Langit dengan bibir mengerucut sebal. Namun di bawah meja, tangan mungilnya meremas rok abu-abunya dengan erat demi menahan senyuman kecil yang mendadak ingin meledak di bibirnya. Si tiang listrik yang dingin itu ternyata bisa bertingkah kelewat menggemaskan saat egonya terusik oleh cowok lain. Labirin pernikahan pura-pura mereka kini resmi berubah menjadi arena permainan perasaan yang jauh lebih berbahaya.

1
Fiya
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!