NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Labrakan Toilet dan Taring yang Tersembunyi

Keluar dari ruang OSIS pagi itu rasanya kayak habis melewati ujian ketahanan jantung tingkat tinggi. Eca berjalan cepat menyusuri koridor lantai satu yang mulai ramai oleh murid-murid yang berdatangan. Kedua tangannya sengaja dimasukkan ke dalam saku rok seragam abu-abunya untuk menyembunyikan jemarinya yang masih gemetar hebat. Pipinya masih terasa hangat, dan ucapan serak Angkasa di dekat telinganya tadi terus-menerus terngiang bak kaset rusak.

Sialan, kenapa gue jadi gampang kemakan gombalan cowok dajjal itu sih? Fokus, Ca, lo ke sekolah ini buat nyari ketenangan, bukan buat jatuh cinta! maki Eca dalam hati sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir bayangan Angkasa.

Pelajaran jam pertama sampai jam keempat berlalu tanpa hambatan berarti. Eca mati-matian berpura-pura fokus pada penjelasan materi kalkulus di papan tulis, walaupun pikirannya melayang ke mana-mana. Nadya, teman sebangkunya, beberapa kali melirik Eca dengan pandangan heran karena cewek itu terus-menerus menghela napas panjang setiap sepuluh menit sekali.

KRIIINGGGG!

Bel tanda istirahat pertama berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas seperti biasa.

"Ca, ke toilet bentar yuk? Temenin gue cuci muka, ngantuk banget nih," ajak Nadya sambil meregangkan kedua tangannya ke atas.

Eca yang juga merasa gerah dan ingin membasuh wajahnya agar segar kembali langsung mengangguk. "Boleh, Nad. Yuk."

Mereka berdua berjalan santai menuju toilet perempuan yang terletak di lorong sepi dekat tangga barat lantai dua. Toilet itu berukuran cukup luas dengan deretan wastafel marmer dan cermin besar di bagian depannya. Begitu masuk, Nadya langsung menuju salah satu wastafel untuk cuci muka, sementara Eca masuk ke dalam bilik toilet untuk buang air kecil.

Klik.

Pintu bilik toilet dikunci dari dalam oleh Eca. Namun, baru saja Eca menyelesaikan urusannya dan hendak membuka kunci pintu kembali, suara debukan pintu utama toilet yang dibuka dengan kasar dari luar terdengar mengejutkan seisi ruangan.

BRAK!

"Nadya, lo keluar sekarang!" sebuah suara cewek yang melengking tinggi dan penuh nada perintah terdengar menggema di dalam toilet.

Eca menahan tangannya di atas knop pintu bilik, menempelkan telinganya ke pintu kayu untuk mendengarkan situasi di luar. Dari celah bawah pintu bilik, Eca bisa melihat ada tiga pasang sepatu roda tinggi dengan tali ketat khas siswi-siswi populer sekolah.

"Eh? Kak Fanya? Ada apa ya, Kak?" suara Nadya terdengar canggung dan agak ketakutan.

"Nggak usah banyak tanya. Gue nggak ada urusan sama lo. Gue tahu cewek cupu pindahan baru yang sok kecantikan itu temen sebangku lo kan? Dia di dalam bilik mana?" tanya Fanya ketus. Dia adalah ketua geng cewek populer SMA Taruna Bangsa, sekaligus cewek yang kemarin sempat menghadang jalan Eca di kantin karena cemburu melihat Eca bolak-balik masuk ruang OSIS Angkasa.

"E-Eca nggak ada di sini, Kak. Dia tadi ke perpus," bohong Nadya, berusaha melindungi Eca.

PLAK!

Suara tamparan pelan di atas wastafel marmer terdengar nyaring. "Nggak usah bohong lo! Tasnya masih ada di kelas tapi dia nggak ada, pasti ke toilet ini! Heh, cupu! Keluar lo sekarang sebelum gue dobrak pintu bilik ini satu-satu!" teriak Fanya emosi.

Di dalam bilik toilet, sepasang mata Eca yang tersembunyi di balik kacamata bulat tebal mendadak menyipit tajam. Kilatan amarah yang pekat langsung membanjiri bola matanya. Rasa takut? Sama sekali tidak ada. Di sekolah lamanya, Eca pindah justru karena dia lelah menjadi korban perundungan yang terus-menerus diam dan mengalah. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa di sekolah baru ini, dia tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak harga dirinya lagi. Jika mereka menginginkan perang, maka Eca akan memberikan perang yang sesungguhnya.

Eca perlahan memutar kunci pintu bilik toilet dengan gerakan tenang.

CEKLEK.

Pintu bilik terbuka terbuka lebar. Eca melangkah keluar dengan gaya santainya, membetulkan letak kacamata tebalnya, lalu menatap lurus ke arah Fanya dan dua antek-anteknya yang kini berdiri bersedekap dada di depan wastafel dengan pandangan meremehkan. Nadya berdiri di pojok ruangan dengan wajah pucat pasi memandangi Eca.

"Oh, akhirnya keluar juga lo, Tikus Cupu," cibir Fanya sambil maju dua langkah, mengikis jarak di antara mereka. Dia menatap penampilan Eca dari ujung rambut ke ujung kaki dengan tatapan jijik. "Lo tahu nggak salah lo apa di sekolah ini, hah? Berani-beraninya lo tebar pesona dan berduaan terus sama Angkasa dari kemarin? Lo pikir lo level sama dia? Dandanan lo aja mirip gembel pasar!"

Eca tidak langsung menjawab. Dia berjalan santai menuju wastafel di sebelah Nadya, menyalakan keran air, lalu mencuci kedua telapak tangannya dengan sangat tenang seolah-olah Fanya hanyalah angin lalu yang tidak penting. Tindakan Eca yang terkesan meremehkan itu sukses membuat wajah Fanya memerah padam karena menahan dongkol.

"Heh! Kuping lo budek ya?! Gue lagi ngomong sama lo, Cupu!" bentak Fanya kesal. Dia maju dengan cepat, tangan kanannya terangkat tinggi, bersiap untuk menjambak kuncir dua rambut Eca dari arah belakang untuk memberikan pelajaran.

Namun, Fanya tidak tahu siapa sosok asli di balik topeng gadis cupu itu.

Sebelum jemari tangan Fanya sempat menyentuh sehelai rambut pun, Eca dengan gerakan yang sangat cepat, gesit, dan tak terduga memutar tubuhnya. Tangan kanan Eca bergerak secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan Fanya di udara, lalu dengan satu sentakan bertenaga yang memanfaatkan berat tubuh Fanya sendiri, Eca memutar pergelangan tangan cewek itu ke belakang punggungnya dan mendorong tubuh Fanya dengan kasar hingga punggung cewek populer itu membentur dinding keramik toilet dengan suara debukan keras.

BRAK!

"Aww! Sakit, sialan!" jerit Fanya kesal, matanya membelalak lebar antara syok dan kesakitan karena cengkeraman tangan Eca di punggungnya bener-bener kuat banget, beda total dengan tenaga cewek cupu pada umumnya.

Dua antek Fanya yang berdiri di belakang langsung melotot syok, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di depan mata mereka. Murid cupu yang mereka anggap lemah baru saja melumpuhkan ketua geng mereka dalam waktu kurang dari dua detik!

Eca memajukan tubuhnya, mencondongkan wajahnya tepat di depan wajah Fanya yang kini mulai memancarkan raut ketakutan. Nada suara Eca mendadak berubah total—tidak ada lagi suara cicit lugu atau gemetar ketakutan khas cewek cupu. Yang ada hanyalah suara aslinya yang rendah, dingin, tajam, dan penuh dengan aura intimidasi yang sangat pekat, sukses bikin bulu kuduk Fanya merinding seketika.

"Dengerin gue baik-baik, Kakak Kelas yang Terhormat," bisik Eca tepat di depan wajah Fanya, matanya yang tajam berkilat penuh ancaman nyata dari balik lensa kacamata tebalnya. "Gue pindah ke sekolah ini cuma buat belajar dengan tenang. Gue nggak ada minat sama sekali buat nyari masalah sama lo atau siapa pun di sini. Tapi kalau lo atau geng sampah lo ini berani maju satu langkah lagi buat ngusik hidup gue atau temen gue..."

Eca mempererat cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Fanya hingga cewek itu kembali mengaduh kesakitan. "...gue nggak akan segan-segan buat patahin tangan lo ini sekarang juga di dalam toilet sepi ini. Paham?!"

Fanya menelan ludah dengan susah payah, wajahnya memucat sempurna di bawah tekanan aura menyeramkan Eca. Dia cuma bisa mengangguk pasrah dengan gerakan kaku karena ketakutan setengah mati.

Eca melepaskan cengkeraman tangannya dengan sentakan kasar, membuat Fanya hampir saja terjerembab ke lantai kalau tidak ditangkap oleh kedua anteknya. "Sekarang... keluar dari toilet ini sebelum gue berubah pikiran," perintah Eca dingin sambil menunjuk pintu keluar dengan dagunya.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Fanya dan kedua temannya langsung berhamburan lari keluar dari toilet dengan langkah seribu, menyisakan suara debukan pintu utama yang ditutup tergesa-gesa.

Suasana toilet kembali hening. Eca mengembuskan napas panjang, merapikan kerah seragamnya yang sedikit kusut, lalu menoleh ke arah Nadya yang masih berdiri mematung di pojok dengan mulut menganga lebar karena syok tingkat dewa.

"E-Eca... lo... lo beneran Eca kan? Kok lo bisa bela diri kayak gitu tadi?! Keren banget gila!" pekik Nadya heboh setelah berhasil menguasai keterkejutannya.

Eca buru-buru mengubah ekspresi wajahnya kembali ke mode cupu yang lugu, tersenyum canggung sambil membetulkan kacamatanya. "Eh... itu... dulu di sekolah lama aku sempet ikutan ekskul bela diri tarung derajat sebentar, Nad, hehe... refleks aja tadi karena panik," bohong Eca buru-buru mencari alasan aman.

Nadya menggeleng-gelengkan kepalanya kagum. "Refleks lo serem banget, Ca! Tapi lo harus hati-hati ya, si Fanya pasti bakal ngadu ke komite sekolah atau... ke Angkasa buat bales dendam sama lo."

Eca cuma bisa tersenyum kecut dalam hati. Biarin aja dia ngadu ke Angkasa, toh cowok itu emang udah megang semua kartu as hidup gue, batin Eca pasrah.

Namun, tepat saat Eca dan Nadya hendak melangkah keluar dari pintu utama toilet perempuan, sesosok tubuh jangkung tegap yang sangat familiar sudah berdiri bersandar di dinding koridor luar tepat di sebelah pintu. Cowok itu berdiri dengan gaya santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana almamater OSIS-nya, dan sepasang mata elangnya yang tajam sedingin es tampak menatap lekat-lekat langsung ke arah Eca begitu pintu terbuka.

Dialah Angkasa Argantara Mahendra! Cowok itu ternyata sudah berdiri di sana sejak tadi dan samar-samar mendengar seluruh keributan serta suara asli Eca yang penuh ancaman di dalam toilet!

Sudut bibir tipis Angkasa terangkat sedikit, membentuk sebuah seringai licik dan misterius yang dipenuhi oleh kilatan kekaguman yang sangat besar terhadap rahasia baru asisten pribadinya. "Taring lo... ternyata menarik juga kalau lagi keluar, Alesya," bisik Angkasa pelan dengan suara beratnya yang seksi di koridor yang mendadak kembali terasa mencekam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!