"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Eva
"Eva, kenapa Raditya sejak kemarin terus berada di luar ruangan mama ya? katanya mau mengurus pekerjaan di pabrik tapi kata Burhan tidak ada di pabrik" tanya Hilda
"Tadi Eva mengikuti mas Raditya ma, ternyata perempuan bernama Kanaya itu di rawat di rumah sakit, kakinya kena luka bakar dan katanya dia terjebak di dalam kamar saat terjadi kebakaran di salah satu rumah di pesantren" jawab Eva
Eva juga curiga dengan sikap Raditya sejak kemarin lusa, ternyata Raditya masuk ke ruangan lain yang di dalamnya ada Kanaya, bahkan Kanaya begitu di manja oleh Raditya, di bantu saat makan bahkan di gendong ketika akan ke kamar mandi meskipun di sana juga ada Irsyad dan Shaquilla.
"Ada kebakaran di pesantren?" tanya Hilda
"Iya ma, bahkan kebakaran itu juga karena ada salah satu murid Mbah Tarman yang ternyata nekat ingin merebut pacar Shaquilla di sana" jawab Eva yang tahu dari Tarman kalau salah satu muridnya hilang setelah dia nekat masuk ke area pesantren.
"Pesantren itu berarti berbahaya Eva, lalu bagaimana dengan Raditya?" tanya Hilda khawatir
"Kita di sini sudah lebih dari satu minggu ma, mas Raditya tidak minum ramuan yang Eva buat selama itu juga makanya Eva sedang memikirkan cara supaya kita bisa cepat pulang, mas Raditya tidak boleh di biarkan seperti ini terus ma" jawab Eva
"Kalau bagitu bawa mama pulang saja, kaki mama dan tangan mama juga sudah sembuh, kita di sini hanya supaya menghemat biaya hotel kan, kamu urus deh kepulangan mama, biar mama berobat jalan saja" ucap Hilda
"Mama yakin?" tanya Eva tapi dia juga senang Hilda benar benar tunduk padanya.
"Iya, mama tidak mau Raditya jadi gila lagi seperti saat terakhir dia terus mencari Riyanti" jawab Hilda
"Dapur kita juga sudah hampir selesai di renovasi ma, hari ini pasti selesai dan besok kita bisa pulang" ucap Eva yang sudah menghubungi Erwin, preman yang akan dia minta tinggal di rumah sebagai tukang kebun tapi sebenarnya Erwin akan menggoda Kanaya supaya Kanaya menyukai Erwin tentunya dengan bantuan pelet dari Tarman.
Eva lalu pamit keluar untuk mengawasi Raditya, jarak kamar Kanaya dan Hilda tidak terlalu jauh itu sebabnya Eva tahu tempat Kanaya di rawat, bahkan Eva juga tahu kalau selama dua hari ini Kanaya selalu di jenguk oleh Adrian yang akan memberikan air zamzam untuk Raditya agar tubuh Raditya asli tidak lemah dan mampu melawan jin Kanwal.
"Kak Gerhana di jahit lagi lukanya" ucap Kanaya
"Iya, tidak apa apa lagipula aku satu ruangan dengan kamu jadi aku tidak akan terlalu khawatir" jawab Gerhana yang kapok untuk memakai pengobatan dokter, dia memilih di obati Hala saja sekarang agar lukanya lebih cepat sembuh dan dia bisa menjaga Kanaya dengan penuh.
Gerhana juga tidak tahu kenapa dia begitu tertarik pada Kanaya ketika pertama kali melihat Kanaya, ada perasaan ingin melindungi, ingin selalu dekat Kanaya dan ingin menjadi seseorang yang berharga dalam hidup Kanaya.
"Tapi Gerhana, kanapa orang itu tidak mati?" tanya Raditya heran.
"Itu karena di tubuhnya sudah ada Iblis yang bersarang Om, tubuh Gita memang sudah mati tapi bagian dari iblis itu membuat tubuh Gita seperti hidup kembali" jawab Gerhana
"Begitu ya, jadi kalau nanti aku mati, jin dalam tubuhku...."
"Ssttt.. Jangan mengatakan apapun" ucap Adrian memperingatkan karena dia tahu Eva ada di luar kamar rawat Kanaya.
"Ada apa Kiai?" tanya Raditya berbisik
"Istrimu ada di luar sedang menguping" jawab Adrian dan semuanya mengangguk faham.
"Kiai tampan, apa dia juga bisa melihat Sahara?" tanya Sahara yang juga ada di sana bersama Dimas untuk menjaga Gerhana atas permintaan Gibran yang tidak bisa datang.
Gibran juga ingin melihat kondisi anaknya itu, tapi bengkel Dimas tidak bisa dia tinggalkan, di tambah Dimas juga di panggil Adrian jadi Gibran menitipkan Gerhana pada Dimas untuk di rawat dan harus menelpon setiap hari agar keluarga Gerhana tidak khawatir.
"Kalau kamu jadi manusia ya pasti bisa, tapi dia juga punya kemampuan untuk melihat makhluk halus, hanya saja yang ada di dalam tubuh tidak bisa dia rasakan" jawab Adrian
"Berarti si ular Sanca aman dong?" tanya Sahara dan Adrian mengangguk.
"Aku bukan ular ratu genderuwo" kesal Sanca
"Nama kamu Sanca, kalau bukan ular lalu apa? atau burung kamu mirip ular Sanca belang belang, coba Sahara lihat?" tanya Sahara dan Sanca kembali masuk ke dalam tubuh Kanaya dengan tawa semua orang di sana.
Pertama bertemu Sahara, Sanca pikir Sahara adalah perempuan yang polos dengan wujud manusia yang begitu manis, tapi semua dugaannya itu berubah setelah melihat bagaimana genitnya Sahara memeluk Dimas, Gerhana, Adrian bahkan semua keluarga Adrian di peluk Sahara dan di usap usap roti sobeknya.
"Kenapa dia kabur? Sahara kan tidak gigit genderuwo" gerutu Sahara
"Kamu memang tidak menggigit, tapi kamu mencubit, mengusap dan meremas, Sanca takut dengan perempuan seperti itu" jawab Dimas
"Ish...payah sekali dia, tidak tahu bagaimana perempuan jaman sekarang bersikap" sinis Sahara
"Kamu saja yang terlalu mendalami peran jadi perempuan masa kini" ledek Adrian
Kanaya terus tertawa melihat interaksi Sahara dengan semua orang yang ada di sana, bahkan Irsyad yang awalnya tidak tahu kalau Sahara adalah sosok jin pelindung juga ikut tertawa meskipun dia selalu merinding setiap kali Sahara tertawa Kunti. Kanaya juga senang Raditya dua hari ini tetap menjadi Raditya asli, dan Adrian sudah mulai tahu alasan Raditya berubah, itu adalah karena air hitam yang selalu di buat oleh Eva.
"Kalau Om sibuk tidak apa apa ko Om pulang" ucap Gerhana
"Tidak ko, Om mau sekalian belanja keperluan bengkel dan mau minta beberapa bibit sayuran di kampung Ciremai, papa mau menanam terong dan kol juga katanya.
"Ambil di tempat Opa saja, di sana banyak jangan beli di pasar karena kualitasnya kurang bagus" ucap Adrian
"Baik Abah" jawab Dimas
"Bagaimana kondisi di Curug?" tanya Adrian
"Alhamdulillah semuanya lancar, masih ada beberapa gangguan tapi tidak sehebat saat Radini menguasai kawasan hutan yang sekarang Dimas beli Abah" jawab Dimas
"Pengaruh Radini itu benar benar besar di kampung karena keluarganya juga sudah lama tinggal di sana, apalagi setelah Radini meninggal semua perkebunan, toko emas dan juga rumah di jual oleh Roman untuk kemajuan desa, namanya jadi di kenal sebagai perempuan dermawan dan namanya bersih kembali" ungkap Adrian
"Siapa Radini itu Abah yai?" tanya Kanaya
"Perempuan pemuja iblis, Radini bahkan semua keturunan Sukarna di masa lalu adalah perempuan pemuja iblis, sekarang dia sudah tidak ada" jawab Adrian
"Rudin sudah tobat di akhir hidupnya" bisik Sahara
"Sebut namanya dengan benar Sahara" ucap Dimas
"Ish.. itu panggilan kesayangan Sahara, sama seperti Sahara panggil cah Bagus" keluh Sahara tapi telinganya langsung di Jewer Adrian.