Fernando Garcia Sanchez punya segalanya: kerajaan bisnis teknologi yang disegani, dan sebuah organisasi kriminal yang tumbuh jauh dari mata dunia. Yang tak ia punya hanyalah seseorang yang mencintainya tanpa peduli nama keluarganya.
Maka suatu malam, sang Don menyamar sebagai bartender di klub malamnya sendiri. Di tengah hujan deras, ia bahkan tak sanggup membuka sebuah payung, dan seorang gadis asing menyeberangi jalan hanya untuk menolongnya.
Carolina Gomes Santos, gadis Brasil yang merantau ke Madrid, tak menanyakan harta, pekerjaan, atau nama belakangnya. Ia hanya mengeringkan wajah pria itu dengan handuk kecil, lalu tersenyum.
Sejak malam itu, Fernando tak lagi bisa menyangkal bahwa ia telah jatuh. Namun pria yang ia kenal sebagai "Jorge" menyimpan kebohongan yang cepat atau lambat akan meledak. Dan Carolina sendiri, tanpa ia sadari, membawa rahasia yang jauh lebih besar dari kebohongan mana pun: sebuah masa lalu yang sengaja dihapus, dan mimpi-mimpi tentang ibunya yang terus memperingatkan bahwa hidupnya akan berubah drastis.
Ketika kebenaran terungkap satu per satu, cinta mereka diuji oleh pengkhianatan, musuh lama yang tak pernah berhenti mengintai, dan keputusan sulit antara kedamaian dan kekacauan.
Bisakah seorang pria yang terbiasa mengendalikan segalanya mempertahankan satu-satunya hal yang tak ingin ia kehilangan?
Dan apa jadinya jika wanita yang ia pilih ternyata bukan sekadar gadis kafe biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Carolina atau Estrella?
Ketika selesai membaca, tanganku gemetar.
Kupandangi kertas itu lama tanpa sanggup sepenuhnya memahami kata-kata yang baru kubaca.
"Tidak..."
Catarina berdiri di sampingku, matanya juga berkaca-kaca.
"Carol..."
"Dia bukan ibuku?"
Suaraku nyaris tak bertenaga.
Catarina menggenggam tanganku.
"Dia ibumu. Mungkin bukan secara biologis, tapi dia ibumu."
Aku menggeleng sambil kembali menatap liontin itu.
Estrella.
Kata itu seperti milik orang lain.
Bukan milikku.
"Aku seorang putri?"
Catarina diam beberapa detik.
"Dari yang tertulis di sini, iya."
Aku berdiri.
Aku perlu bicara dengan seseorang.
Dan saat itu, yang terpikir olehku adalah Fernando.
Kuraih ponsel.
Tak ada pesan darinya. Kutelepon, tak diangkat.
Kucoba lagi, tetap tidak.
Aku tak berpikir dua kali untuk pergi ke perusahaan.
Sesampainya di sana, aku bertemu Santiago.
"Aku perlu bicara dengan Fernando."
Ia langsung tahu ada yang tidak beres.
"Ada apa?"
"Aku hanya perlu bicara dengannya."
Santiago tidak mendesak. Ia mengambil ponsel, menelepon sebuah nomor yang tak kukenal, dan beberapa detik kemudian Fernando menjawab.
"Fernando, Carolina ada di kantor menunggumu."
Terdengar jeda singkat.
"Suruh dia menunggu. Aku segera ke sana."
Tak lama kemudian pintu terbuka.
Fernando masuk dan begitu aku melihatnya, aku tak sanggup berkata apa-apa.
Aku hanya menghampirinya dan memeluknya.
Aku mulai menangis.
Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya merengkuhku dan membiarkanku menangis, mengusap punggungku pelan-pelan sampai napasku mulai tenang.
Lalu kami duduk di sofa.
Aku masih memegang kotak kecil itu.
Fernando memandangnya, lalu memandangku.
"Jadi kamu sudah tahu kisah aslimu?"
Dadaku mengencang.
Sesaat aku mengira ia menyembunyikannya dariku lagi.
Kutatap dia langsung.
"Tolong, Fernando, jangan bilang kamu sudah tahu bagian hidupku ini dan berbohong lagi padaku."
Ia membelai rambutku dan menatap dalam ke mataku.
"Tidak, putriku. Aku baru tahu hari ini. Satu-satunya yang kusembunyikan darimu adalah bahwa Miguel sedang menyelidiki masa lalumu. Kami selalu menyelidiki orang yang mendekati keluarga kami, dan ketika kamu hadir dalam hidupku, hampir tak ada yang bisa kami temukan tentangmu. Itu menarik perhatianku, terutama perhatian Miguel, karena dia salah satu orang paling efisien yang kukenal kalau harus mencari tahu sesuatu."
Ia menarik napas dalam sebelum melanjutkan.
"Seorang peretas yang bekerja untuk kami, yang hanya kami cari kalau semua kemungkinan lain habis, akhirnya berhasil menemukan kebenarannya. Ketika Miguel memberitahuku apa yang mereka temukan, aku juga butuh waktu untuk memahami semuanya. Aku menghilang hari ini karena perlu berpikir, menata informasi, dan mencari cara mengatakannya padamu tanpa membuat hidupmu makin membingungkan."
Kelegaan yang kurasakan begitu besar sampai nyaris membuatku menangis lagi.
Seandainya Fernando menyembunyikan ini lebih lama, aku tak yakin bisa memaafkannya lagi.
"Dan kamu sendiri, bagaimana kamu menemukannya?" tanyanya sambil melirik kotak itu.
"Aku bermimpi tentang Mama. Dalam mimpi itu dia bilang di mana kotaknya dan bahwa masa laluku ada di dalamnya. Waktu bangun, aku ingat dia, lalu menemukan liontin dan suratnya."
Kuserahkan kertas itu padanya.
Fernando membacanya dalam diam.
Setelah selesai, ia melipat surat itu hati-hati dan meletakkannya di meja.
Lalu ia menarikku mendekat.
"Bagiku, tidak penting apakah kamu Carolina atau Estrella. Aku jatuh cinta padamu sebelum tahu semua ini, dan aku akan tetap memilihmu meski kita tak pernah menemukan masa lalumu. Yang penting adalah aku mencintaimu dan masih ingin kamu jadi istriku."
Aku mengangkat wajah untuk menatapnya.
"Meski kamu tahu aku mungkin seorang putri?"
Senyum muncul di bibirnya.
"Justru karena itu. Karena kamu akan tetap jadi wanita yang memarahiku kalau aku berbuat salah."
Sebuah tawa kecil lolos dariku di sela air mata.
"Aku nggak tahu apakah aku bisa jadi putri."
"Kamu nggak perlu belajar hari ini."
"Bagaimana kalau aku nggak mau?"
Fernando menangkup wajahku dengan kedua tangannya.
"Kalau begitu bagiku kamu tetap Carolina Gomes Santos. Nama yang kamu bawa selama dua puluh empat tahun tidak akan hilang hanya karena kita menemukan nama lain. Estrella bagian dari ceritamu, tapi tidak menghapus siapa kamu sekarang."
Kata-kata itu menusukku dengan cara berbeda.
Selama ini kupikir mengetahui siapa diriku berarti kehilangan segala yang kukenal.
Tapi mungkin tidak begitu.
Mungkin aku bisa membawa kedua kisah itu.
Carolina adalah gadis yang dibesarkan Mama, wanita yang dikenal Catarina, karyawan yang berjuang membangun hidupnya sendiri, dan wanita yang jatuh cinta pada Fernando.
Estrella adalah bayi yang tak pernah kukenal.
Sang putri yang tumbuh jauh dari orang tuanya.
Dua kisah dalam satu orang.
Kuremas tangan Fernando.
"Aku takut."
"Aku tahu."
"Aku nggak tahu apa yang akan terjadi ketika aku tahu siapa orang tua kandungku."
"Kita cari tahu bersama."
"Bagaimana kalau mereka mau membawaku pergi?"
Fernando menatapku beberapa detik.
"Tak ada yang akan membawamu ke mana pun tanpa kehendakmu."
Aku tersenyum.
"Bicaramu seperti bisa melawan keluarga kerajaan."
Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Aku sudah menghadapi hal yang jauh lebih buruk."
Kali ini aku tertawa lepas.
Fernando mencium keningku dan tetap di sisiku, sementara aku kembali menggenggam liontin itu.
Untuk pertama kalinya, aku tak melihat kata Estrella itu seperti milik orang asing.
Mungkin ini baru permulaan.
Dan sementara aku masih mencoba memahami siapa diriku sebelum menjadi Carolina Gomes Santos, satu hal kuyakini: aku tak perlu mencari tahu semuanya sendirian.