-
Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.
Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
🍂🍂🍂🍂🍂
Sinar matahari sore menembus celah-celah pepohonan jati dengan pendar kemerahan yang guram. Bau sangit racun dan hawa lembap tanah teraduk bersama kepulan asap belerang yang dibakar warga di sepanjang pematang sawah. Bagas melangkah tegap menyusuri jalan setapak Desa Lemah Wungu yang mendadak lengang dari aktivitas harian. Langkah kakinya berat, namun matanya memancarkan keteguhan seorang pimpinan yang tak akan membiarkan rakyatnya berjuang sendirian.
Dua orang pemuda desa dan Kang Saman mengekor di belakangnya, masing-masing membawa obor minyak tanah dan tas kulit berisi minyak penawar serta kain bebat.
Tujuan pertama Bagas adalah gubuk sederhana di pinggir Sawah Kidul milik Pak Merto, seorang petani tua yang hidup sebatang kara. Begitu Bagas mendorong pintu bambu gubuk tersebut, aroma racun ular yang tajam dan amis seketika menyengat hidungnya. Di atas bale-bale bambu, Pak Merto terbaring memegangi betis kanannya yang membengkak hitam sebesar buah kelapa kecil.
"Pak Merto..." panggil Bagas seraya berlutut cepat di samping bale-bale.
Mata Pak Merto yang sayu dan kemerahan perlahan terbuka. Pria tua itu meringis menahan sakit yang amat luar biasa, napasnya tersengal-sengal pendek.
"Pak Kades... Nyuwun sewu..." bisik Pak Merto parau, suaranya bergetar hebat. "Perut saya rasanya mual dan panas bagaikan dibakar lahar..."
Bagas segera memeriksa bekas gigitan di betis Pak Merto. Dua lubang taring kecil dikelilingi warna kebiruan yang menjalar hingga ke lutut. Dengan cekatan, Bagas membebat bagian atas lutut Pak Merto menggunakan kain bersih untuk menahan laju racun, lalu mengoleskan ramuan penawar dari tasnya.
"Cobalah bertahan, Pak Merto. Bagaimana ceritanya Anda bisa terkena gigitan ini?" tanya Bagas lembut seraya mengusap dahi tua yang dibasahi keringat dingin itu.
Pak Merto menelan ludah yang terasa pahit. "Tadi siang... saya sedang memperbaiki tanggul irigasi di ujung sawah, Pak Kades. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba air sungai mendidih kecil. Dari balik tumpukan jerami, puluhan ular bersisik hijau tua merayap keluar bersamaan. Mereka tidak lari saat saya gertak... mereka justru melompat dan langsung mematuk betis saya. Matanya keemasan, Pak... seperti kesetanan!"
Dada Bagas berdesir hebat. Mata keemasan... Itu adalah ciri khas bangsa taksaka dari Sendang Manten.
"Kalian tenang saja, Pak Merto. Minyak penawar ini akan meredakan panasnya. Saman! Tinggalkan dua botol minyak di sini dan pastikan Pak Merto minum air hangat!" perintah Bagas tegas.
"Siap, Pak Kades!" sahut Kang Saman sigap.
Usai memastikan kondisi Pak Merto stabil, Bagas melanjutkan langkahnya menuju bantaran Sungai Mbalam di batas timur desa. Di sana, sebuah rumah panggung kayu dihuni oleh keluarga Bu Lastri. Suasana di pelataran rumah itu diwarnai tangisan histeris. Bu Lastri sedang memeluk anak bujangnya, Joko, yang terbaring kaku di selasar dengan lengan kiri terbalut kain basah.
"Pak Kades! Tolong anak saya, Pak Kades!" jerit Bu Lastri begitu melihat kedatangan Bagas, air matanya meluncur deras membasahi pipinya yang keriput.
Bagas mempercepat langkahnya, berlutut di samping Joko. Pemuda tani itu menggigil hebat meski tubuhnya terasa amat panas saat disentuh.
"Joko, dengarkan suara Saya. Di mana kamu digigit?!" tanya Bagas seraya membuka kain balutan di lengan pemuda itu.
Lengan kiri Joko tampak membengkak, kulitnya memerah memar. Joko meringis seraya menunjuk ke arah bantaran sungai.
"Di... di tepi sungai, Pak Kades..." tutur Joko terbata-bata dengan bibir pecah-pecah. "Tadi sore saya mau menimba air untuk menyiram kebun cabai. Tiba-tiba dari dalam lubang batu sungai, merayap ular berkepala pipih bersisik zamrud. Saya kaget dan mencoba mundur, tapi ular itu bergerak seperti disuruh... melompat cepat sekali dan langsung mematuk lengan saya. Warnanya hijau mengkilat, Pak Kades... persis seperti ular-ular yang dulu sering diceritakan di mitos Hutan Keramat!"
Bu Lastri meremas tangan Bagas dengan wajah penuh ketakutan. "Pak Kades... apakah ini kutukan dari Sendang Manten? Apakah bangsa ular marah karena desa kita sekarang makin ramai?!"
Bagas memegang erat telapak tangan Bu Lastri, menatap wanita tua itu dengan sorot mata yang penuh kepastian dan ketenangan.
"Tidak ada kutukan yang bisa merusak rakyat Lemah Wungu selama Saya berdiri di sini, Bu Lastri," tegas Bagas dengan intonasi rendah namun mantap. "Ini bukan kutukan, ini adalah gangguan yang akan Saya selesaikan secepatnya. Joko akan selamat, percayalah pada Saya."
Bagas mengeluarkan sisa energi hangat dari Rajah Pusaka Sisik Emas di dada kirinya. Secara sembunyi-sembunyi, Bagas menempelkan telapak tangannya di atas bekas gigitan Joko, menyalurkan pendar pencerahan sejuk untuk menetralisir racun bisa di dalam pembuluh darah pemuda itu. Dalam hitungan detik, bengkak di lengan Joko perlahan menyurut dan napas pemuda itu menjadi lebih teratur.
Bu Lastri membelalak kaget melihat keajaiban itu, langsung bersujud memegang kaki Bagas. "Terimakasih, Pak Kades... Terimakasih banyak!"
Pemeriksaan tidak berhenti di situ. Bagas terus berjalan menerobos kegelapan sore yang mulai berganti malam. Di sebuah kebun cengkeh di kaki bukit, Bagas mendatangi gubuk milik Pak Sastro, seorang tetua tani yang juga menjadi korban.
Pak Sastro duduk bersandar di pintu gubuknya, paha kirinya sudah diikat kain tebal. Wajah pria tua itu penuh guratan keheranan.
"Pak Sastro, bagaimana lukanya?" sapa Bagas seraya berlutut di hadapannya.
Pak Sastro menggeleng-gelengkan kepalanya penuh tanda tanya. "Saya tidak apa-apa, Pak Kades... racunnya sudah saya keluarkan sedikit. Tapi ada hal aneh yang saya lihat di kebun tadi."
Bagas mengernyitkan dahi. "Hal aneh apa, Pak Sastro?"
Pak Sastro mendekatkan wajahnya, berbisik pelan agar tidak terdengar pemuda lain. "Ular-ular yang menyerang kebun ini... mereka tidak bertindak seperti binatang liar yang mencari makan. Mereka seperti prajurit yang kehilangan komando, merayap tanpa arah tapi sangat agresif begitu melihat manusia. Seolah-olah... ada pusaran energi besar di alam gaib yang sedang tergoncang dan membuat mereka menjadi liar!"
Dada Bagas berdegup kencang mendengar kesaksian Pak Sastro. Kata-kata tetua tani itu cocok sepenuhnya dengan firasat buruk yang dirasakan Kirana di rumah joglo. Pelunturan takhta Ratu Ular beberapa bulan lalu dan hilangnya sosok penguasa di Sendang Manten rupanya telah meninggalkan kekosongan kekuasaan di Kerajaan Bawah Tanah, membuat ribuan ular taksaka kehilangan kendali dan menyerbu alam fana!
Bagas berdiri tegap, menatap ke arah Hutan Keramat yang membentang makin pekat di balik kegelapan malam. Tongkat kepemimpinan kayu jati di tangan kanannya diremas kuat.
"Saman!" panggil Bagas dengan intonasi menggelegar.
"Nggih, Pak Kades!"
"Kumpulkan seluruh perangkat desa dan pemuda ronda malam ini juga di pendopo Balai Desa! Siapkan obor belerang di setiap batas RT, dan instruksikan seluruh warga untuk tidak keluar rumah setelah petang!" perintah Bagas berwibawa. "Saya sendiri yang akan mencari sumber gejolak ini!"
"Siap, Pak Kades!"
Bagas mengusap dada kirinya tempat sisa Rajah Pusaka Sisik Emas berada. Denyut hangat dari pusaka itu kian bergejolak hebat, seolah memanggilnya untuk segera menuntaskan ancaman yang mengintai keselamatan warga Lemah Wungu serta kedamaian rumah tangganya bersama Candra Kirana.
Bersambung...