NovelToon NovelToon
Goresan Takdir

Goresan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:46.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Rasa Bersalah

Hembusan hangat nafas Raden Daksa terasa membelai wajah Astri. Ia perlahan membuka matanya dan menatap wajah suaminya yang berada tepat di depannya.

Astri tersenyum sambil mengamati wajah tampan suaminya yang netranya masih terpejam. Pergulatan panas mereka yang berlangsung hingga menjelang pagi, sepertinya membuat Raden Daksa merasa puas.

"Selamat pagi, Sayang." Lirih Raden Daksa saat tangan lembut Astri menyusuri hidung bangirnya. Netranya masih terpejam, menikmati sentuhan lembut jari istrinya.

"Pagi, Mas." Jawab Astri.

"Love you, so much." Ujar Raden Daksa seraya mengeratkan dekapannya pada tubuh polos Astri yang berada di balik selimut.

Astri kembali tersenyum sambil memainkan rambut hitam suaminya.

"Jam berapa ini, Sayang?" Tanya Raden Daksa.

"Jam sembilan, Mas."

"Kita melewatkan sarapan." Kata Raden Daksa yang dijawab anggukan oleh Astri.

"Aku ingin makan soto, Mas, boleh?" Tanya Astri yang tiba-tiba ingin makan soto.

"Boleh, Sayang. Nanti kita cari penjual soto." Jawab Raden Daksa yang kemudian mengecup dahi Astri.

"Mau mandi bareng?" Tawar Raden Daksa yang dijawab anggukan oleh Astri.

Raden Daksa kemudian bangkit dan membopong tubuh istrinya menuju ke kamar mandi. Tentu saja, bukan hanya sekedar mandi, mereka kembali mengulang aktifitas menyenangkan seperti yang semalam mereka lakukan.

Suara gemericik shower yang mengalirkan air hangat di tubuh mereka, membuat permainan mereka berdua menjadi semakin panas dan liar.

Astri sampai memekik kala gelombang kenikmatan yang menghantam, kembali membuat syarafnya terasa seperti lumpuh seketika.

Setelah selesai dengan pergulatan panas dan membersihkan diri, Raden Daksa kembali membopong tubuh Astri dan mendudukkannya di tepi ranjang.

Wajah ayu dengan rambut yang sedikit basah, membuat gairah Raden Daksa kembali datang. Namun, terpaksa harus ia tahan saat ini karena ia tak tega melihat wajah kelelahan Astri yang baru selesai ia garap lagi.

Raden Daksa kemudian mengganti bathrobe yang ia kenakan dengan pakaian santai. Setelah itu, ia menghampiri Astri yang tertidur di ranjang dengan masih menggunakan bathrobe nya.

"Terkutuklah kamu, Raden Daksa." Monolognya

penuh penyesalan. Pria Soeradiningrat itu merutuki

dirinya sendiri.

Sebagai pria dan seorang suami, ia

merasa telah gagal menjaga dan melindungi

kenyamanan wanita yang paling dicintainya.

"Maafkan Mas, Dek Ayu."

Tutur Raden Daksa dengan nada suara yang bergetar penuh

penyesalan.

Tangannya yang besar menangkup pipi

Astri dengan sangat hati-hati takut bilamana

menambah rasa sakitnya.

"Aku terlalu gak sabar. Aku

menyakiti kamu karena keegoisanku, karena

kegilaanku, tolong ampuni aku, Dek Ayu."

Pinta Raden Daksa.

Astri menatap mata suaminya. Ia melihat

kepanikan dan rasa bersalah yang begitu nyata dalam

sorot mata Raden Daksa.

Meski tubuhnya terasa remuk dan

kaku, hati Astri tidak menyalahkan suaminya secara

penuh. Namun, rasa ngilu yang dahsyat membuat air

matanya menetes juga.

"Sakit banget, Mas... Aku ndak bisa berdiri." Keluh

Astri jujur.

Melihat air mata Astri menetes, hati Raden Daksa

makin teriris. Pria itu langsung mengambil alih

seluruh tanggung jawab pagi itu. Ia bertekad untuk menjadi pelayan dan penopang penuh bagi istrinya

sebagai bentuk hukuman atas tindakan serakahnya pagi ini.

"Jangan bergerak. Jangan paksakan kakimu, Sayang. Mulai detik ini, kamu gak boleh melangkah

selangkah pun tanpa Mas. " Ujar Raden Daksa tegas namun

sarat kelembutan.

Setelah mengganti pakaian Astri dengan

pakaian katun terlonggar dan paling nyaman yang ada

di dalam tas mereka, Raden Daksa kemudian mengeringkan rambut istrinya yang masih terbalut handuk.

"Pegang bahu Mas kalau kamu tidak kuat

duduknya." Bisik Raden Daksa sambil merangkul pinggang

Astri dengan sebelah tangannya. Sementara tangannya yang lain memegang hair dryer.

Raden Daksa kemudian memesankan soto untuk mereka sarapan. Ia juga memesan minyak aroma terapi untuk meredakan rasa nyeri Astri.

Raden Daksa kemudian menggendong Astri dan membawanya ke balkon kamar untuk menikmati udara segar. Dengan perlahan ia mendudukkan Astri di kursi yang dialasi busa empuk.

Tak lama, pesanannya sampai. Raden Daksa segera mengambil pesanan mereka dan kembali menghampiri Astri.

"Ayo buka mulutmu, Sayang." Ujar Raden Daksa

sambil menyendokkan soto untuk Astri.

"Mas Daksa... aku bisa makan sendiri, kok.

Tanganku ndak sakit." Kata Astri agak canggung

melihat suaminya berlutut di sisinya seperti itu.

"Tidak." Tolak Raden Daksa halus namun tak ingin dibantah.

"Biarkan Mas yang melayanimu hari ini. Ini

hukuman untuk Mas karena membuat kamu

menderita seperti ini. Makanlah yang banyak supaya tenagamu pulih." Ujar Raden Daksa.

Astri akhirnya menurut. Ia menerima setiap

suapan makanan dan tegukan teh hangat dari tangan

suaminya. Perhatian Raden Daksa yang begitu detail—mulai

dari mengelap sudut bibir Astri hingga memastikan

suhu minuman tidak terlalu panas—membuat rasa

nyeri di tubuh Astri perlahan terkikis oleh rasa

hangat di dadanya.

Selesai sarapan, Raden Daksa mengambil minyak

aromaterapi dan air hangat yang telah disiapkan. Pria

itu menyingsingkan dress yang di pakai Astri hingga ke

atas lutut secara perlahan.

"Mungkin ini akan sedikit ngilu, tapi Mas akan

melakukannya sehalus mungkin untuk melancarkan

sirkulasi darah di otot pahamu, Dek Ayu." Kata Raden Daksa.

Raden Daksa mengompres bagian paha dalam dan

pinggul Astri dengan handuk hangat, lalu membalur

jemarinya dengan minyak aromaterapi.

Dengan teknik

pijatan yang sangat lembut dan perlahan, pria berotot

kekar itu memijat tungkai kaki dan paha istrinya.

Setiap kali jarinya menekan titik otot yang kaku

dan membuat Astri mendesis, Raden Daksa akan menahan

tekanannya, meniup kulit istrinya, lalu meminta maaf.

"Maafkan Mas... Maaf, Sayang..." Bisik Raden Daksa

berulang kali.

Senyum keperkasaannya semalam dan pagi ini

hilang sepenuhnya, berganti wajah seorang suami

yang tulus memohon ampun atas kesalahannya.

Astri menatap suaminya yang terus berlutut

di sampingnya. Pria yang biasanya tampak

begitu berwibawa, tegas, dan mendominasi itu kini

bertekuk lutut di hadapannya, merawat kakinya

dengan penuh kesabaran dan rasa bersalah yang

mendalam.

Astri mengulurkan tangannya, menyentuh

pipi Raden Daksa dan mengelusnya pelan.

"Mas Daksa... sampun, Mas. Jangan memohon

maaf terus-menerus." Kata Astri dengan lembut.

Raden Daksa menghentikan pijatannya, lalu

menggenggam tangan Astri di pipinya dan memeluk

jemari itu erat-erat.

"Bagaimana bisa Mas gak minta maaf, Dek Ayu. Lihat kondisimu sekarang. Kamu bahkan gak bisa

berjalan karena

keserakahan Mas semalam dan pagi ini." Ujar Raden Daksa dengan nada

menyesal.

"Mas bertindak seperti pria awam yang tidak

bisa mengendalikan diri."

Imbuh Raden Daksa.

Astri tersenyum tipis. Rasa tulus dan

pertanggungjawaban Raden Daksa, membuat seluruh rasa

nyeri yang dirasakannya menguap.

"Aku ndak marah sama Mas Daksa." Kata Astri jujur.

"Memang tubuhku kaget dan rasanya remuk

banget sekarang. Tapi aku tau Mas melakukan itu

karena cinta dan gairah sama aku. Cuma, lain kali

ampun ngoten niki malih njih, Mas. Aku kapok kalau ndak bisa

jalan begini." Imbuh Astri.

Raden Daksa mengangguk cepat, menyunggingkan

senyum tipis yang lega mendengar istrinya tidak

menaruh dendam. Ia mencium telapak tangan Astri

cukup lama.

"Mas janji, Sayang. Mas janji tidak akan tamak

seperti itu lagi. Mas akan lebih mengendalikan diri

dan mengutamakan kenyamananmu." Ujar Raden Daksa dengan penuh komitmen.

1
Santi Seminar
panas membara
Fisca vis vis
novel ini bnyak adegan mantap2nya 🤣, mngkin karna raden daksa pak duda sndiri di bnding tokoh novel yg lain jdi dibuat beda 🤣🤣🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
novel yang ini lebih byk adetan mantap2nya dr yang sebelum nya. pasangan hp mereka.
Rahmawati
hareudang hareudang
Nyai Aksara 👩‍🦯
Ealah, kenapa gini terus adrgannya
This Is Me
Jadi kepikiran, apakah Yg dikandung istrinya itu anak Dwipa?
🤔🤔
ika
Peh ...
othor kie...🤣😄
Sukarti Wijaya
cuaca sudah panas tambah panas...🤭😄🤣
Intan Nurwulan
Hareudang gini ka othor,,jdi pengen honeymoon lg😂😍
citraalief
fanasss oeyyyy.... fanasss...🤣🤣🤣 maternuwun Kak sampun up seng puanass... puanassss🥰🙏
Reni Setia
hot hot haredang 😄😄
citraalief
😘 Semangat Up Kakk👍🙏💪
Nur Wakidah
pasangan teruwuuuuu😍😍😍😄😄😄
Rahmawati
itulah rasa iri timbul karna ketidakadilan, , tambah lope lope deh sama raden daksa
This Is Me
Astri & Daksa pasti jadi pasangan ortu idaman 🩷🩷
Rahmawati
astri. harus rajin olahraga biar bisa ngimbangi raden Daksa yg sll on fire😂
This Is Me
Terlalu lama puasa nih🤣
Reni Setia
raden Daksa lagi maruk,,, maklum duda lama 😄😄
🟢Rafifah
bsk sblm honeymoon terakhir mantap2 ny di kolam renang nich pasti seru
ika
wadowwww🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!