Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Rasa Bersalah
Hembusan hangat nafas Raden Daksa terasa membelai wajah Astri. Ia perlahan membuka matanya dan menatap wajah suaminya yang berada tepat di depannya.
Astri tersenyum sambil mengamati wajah tampan suaminya yang netranya masih terpejam. Pergulatan panas mereka yang berlangsung hingga menjelang pagi, sepertinya membuat Raden Daksa merasa puas.
"Selamat pagi, Sayang." Lirih Raden Daksa saat tangan lembut Astri menyusuri hidung bangirnya. Netranya masih terpejam, menikmati sentuhan lembut jari istrinya.
"Pagi, Mas." Jawab Astri.
"Love you, so much." Ujar Raden Daksa seraya mengeratkan dekapannya pada tubuh polos Astri yang berada di balik selimut.
Astri kembali tersenyum sambil memainkan rambut hitam suaminya.
"Jam berapa ini, Sayang?" Tanya Raden Daksa.
"Jam sembilan, Mas."
"Kita melewatkan sarapan." Kata Raden Daksa yang dijawab anggukan oleh Astri.
"Aku ingin makan soto, Mas, boleh?" Tanya Astri yang tiba-tiba ingin makan soto.
"Boleh, Sayang. Nanti kita cari penjual soto." Jawab Raden Daksa yang kemudian mengecup dahi Astri.
"Mau mandi bareng?" Tawar Raden Daksa yang dijawab anggukan oleh Astri.
Raden Daksa kemudian bangkit dan membopong tubuh istrinya menuju ke kamar mandi. Tentu saja, bukan hanya sekedar mandi, mereka kembali mengulang aktifitas menyenangkan seperti yang semalam mereka lakukan.
Suara gemericik shower yang mengalirkan air hangat di tubuh mereka, membuat permainan mereka berdua menjadi semakin panas dan liar.
Astri sampai memekik kala gelombang kenikmatan yang menghantam, kembali membuat syarafnya terasa seperti lumpuh seketika.
Setelah selesai dengan pergulatan panas dan membersihkan diri, Raden Daksa kembali membopong tubuh Astri dan mendudukkannya di tepi ranjang.
Wajah ayu dengan rambut yang sedikit basah, membuat gairah Raden Daksa kembali datang. Namun, terpaksa harus ia tahan saat ini karena ia tak tega melihat wajah kelelahan Astri yang baru selesai ia garap lagi.
Raden Daksa kemudian mengganti bathrobe yang ia kenakan dengan pakaian santai. Setelah itu, ia menghampiri Astri yang tertidur di ranjang dengan masih menggunakan bathrobe nya.
"Terkutuklah kamu, Raden Daksa." Monolognya
penuh penyesalan. Pria Soeradiningrat itu merutuki
dirinya sendiri.
Sebagai pria dan seorang suami, ia
merasa telah gagal menjaga dan melindungi
kenyamanan wanita yang paling dicintainya.
"Maafkan Mas, Dek Ayu."
Tutur Raden Daksa dengan nada suara yang bergetar penuh
penyesalan.
Tangannya yang besar menangkup pipi
Astri dengan sangat hati-hati takut bilamana
menambah rasa sakitnya.
"Aku terlalu gak sabar. Aku
menyakiti kamu karena keegoisanku, karena
kegilaanku, tolong ampuni aku, Dek Ayu."
Pinta Raden Daksa.
Astri menatap mata suaminya. Ia melihat
kepanikan dan rasa bersalah yang begitu nyata dalam
sorot mata Raden Daksa.
Meski tubuhnya terasa remuk dan
kaku, hati Astri tidak menyalahkan suaminya secara
penuh. Namun, rasa ngilu yang dahsyat membuat air
matanya menetes juga.
"Sakit banget, Mas... Aku ndak bisa berdiri." Keluh
Astri jujur.
Melihat air mata Astri menetes, hati Raden Daksa
makin teriris. Pria itu langsung mengambil alih
seluruh tanggung jawab pagi itu. Ia bertekad untuk menjadi pelayan dan penopang penuh bagi istrinya
sebagai bentuk hukuman atas tindakan serakahnya pagi ini.
"Jangan bergerak. Jangan paksakan kakimu, Sayang. Mulai detik ini, kamu gak boleh melangkah
selangkah pun tanpa Mas. " Ujar Raden Daksa tegas namun
sarat kelembutan.
Setelah mengganti pakaian Astri dengan
pakaian katun terlonggar dan paling nyaman yang ada
di dalam tas mereka, Raden Daksa kemudian mengeringkan rambut istrinya yang masih terbalut handuk.
"Pegang bahu Mas kalau kamu tidak kuat
duduknya." Bisik Raden Daksa sambil merangkul pinggang
Astri dengan sebelah tangannya. Sementara tangannya yang lain memegang hair dryer.
Raden Daksa kemudian memesankan soto untuk mereka sarapan. Ia juga memesan minyak aroma terapi untuk meredakan rasa nyeri Astri.
Raden Daksa kemudian menggendong Astri dan membawanya ke balkon kamar untuk menikmati udara segar. Dengan perlahan ia mendudukkan Astri di kursi yang dialasi busa empuk.
Tak lama, pesanannya sampai. Raden Daksa segera mengambil pesanan mereka dan kembali menghampiri Astri.
"Ayo buka mulutmu, Sayang." Ujar Raden Daksa
sambil menyendokkan soto untuk Astri.
"Mas Daksa... aku bisa makan sendiri, kok.
Tanganku ndak sakit." Kata Astri agak canggung
melihat suaminya berlutut di sisinya seperti itu.
"Tidak." Tolak Raden Daksa halus namun tak ingin dibantah.
"Biarkan Mas yang melayanimu hari ini. Ini
hukuman untuk Mas karena membuat kamu
menderita seperti ini. Makanlah yang banyak supaya tenagamu pulih." Ujar Raden Daksa.
Astri akhirnya menurut. Ia menerima setiap
suapan makanan dan tegukan teh hangat dari tangan
suaminya. Perhatian Raden Daksa yang begitu detail—mulai
dari mengelap sudut bibir Astri hingga memastikan
suhu minuman tidak terlalu panas—membuat rasa
nyeri di tubuh Astri perlahan terkikis oleh rasa
hangat di dadanya.
Selesai sarapan, Raden Daksa mengambil minyak
aromaterapi dan air hangat yang telah disiapkan. Pria
itu menyingsingkan dress yang di pakai Astri hingga ke
atas lutut secara perlahan.
"Mungkin ini akan sedikit ngilu, tapi Mas akan
melakukannya sehalus mungkin untuk melancarkan
sirkulasi darah di otot pahamu, Dek Ayu." Kata Raden Daksa.
Raden Daksa mengompres bagian paha dalam dan
pinggul Astri dengan handuk hangat, lalu membalur
jemarinya dengan minyak aromaterapi.
Dengan teknik
pijatan yang sangat lembut dan perlahan, pria berotot
kekar itu memijat tungkai kaki dan paha istrinya.
Setiap kali jarinya menekan titik otot yang kaku
dan membuat Astri mendesis, Raden Daksa akan menahan
tekanannya, meniup kulit istrinya, lalu meminta maaf.
"Maafkan Mas... Maaf, Sayang..." Bisik Raden Daksa
berulang kali.
Senyum keperkasaannya semalam dan pagi ini
hilang sepenuhnya, berganti wajah seorang suami
yang tulus memohon ampun atas kesalahannya.
Astri menatap suaminya yang terus berlutut
di sampingnya. Pria yang biasanya tampak
begitu berwibawa, tegas, dan mendominasi itu kini
bertekuk lutut di hadapannya, merawat kakinya
dengan penuh kesabaran dan rasa bersalah yang
mendalam.
Astri mengulurkan tangannya, menyentuh
pipi Raden Daksa dan mengelusnya pelan.
"Mas Daksa... sampun, Mas. Jangan memohon
maaf terus-menerus." Kata Astri dengan lembut.
Raden Daksa menghentikan pijatannya, lalu
menggenggam tangan Astri di pipinya dan memeluk
jemari itu erat-erat.
"Bagaimana bisa Mas gak minta maaf, Dek Ayu. Lihat kondisimu sekarang. Kamu bahkan gak bisa
berjalan karena
keserakahan Mas semalam dan pagi ini." Ujar Raden Daksa dengan nada
menyesal.
"Mas bertindak seperti pria awam yang tidak
bisa mengendalikan diri."
Imbuh Raden Daksa.
Astri tersenyum tipis. Rasa tulus dan
pertanggungjawaban Raden Daksa, membuat seluruh rasa
nyeri yang dirasakannya menguap.
"Aku ndak marah sama Mas Daksa." Kata Astri jujur.
"Memang tubuhku kaget dan rasanya remuk
banget sekarang. Tapi aku tau Mas melakukan itu
karena cinta dan gairah sama aku. Cuma, lain kali
ampun ngoten niki malih njih, Mas. Aku kapok kalau ndak bisa
jalan begini." Imbuh Astri.
Raden Daksa mengangguk cepat, menyunggingkan
senyum tipis yang lega mendengar istrinya tidak
menaruh dendam. Ia mencium telapak tangan Astri
cukup lama.
"Mas janji, Sayang. Mas janji tidak akan tamak
seperti itu lagi. Mas akan lebih mengendalikan diri
dan mengutamakan kenyamananmu." Ujar Raden Daksa dengan penuh komitmen.
🤔🤔
othor kie...🤣😄