Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti-Bukti yang Terkumpul
Saat Cahyo sedang melobi banyak pihak untuk menyelamatkan anaknya, pihak kepolisian terus melakukan penyidikan atas kasus Arga.
Dari penggeledahan di vila, mereka berhasil mendapatkan jasad Arga, sepeda motor milik Arga, DNA yang tertinggal di sana, senjata pembunuhan, dan rekaman CCTV.
Sebagian CCTV sudah dihapus, tetapi mereka berhasil mengembalikan rekaman tersebut berkat bantuan Pradipta.
Dari rekaman itulah diketahui bahwa Bimo dan ketiga temannya memang membawa Arga ke vila. Mereka kembali dipanggil ke kantor Polda dan untuk sementara ditahan di sana.
Yanto pun langsung dibawa ke kantor Polda untuk dimintai keterangan. Selain itu, pria itu juga dijadikan tersangka sebagai kaki tangan dalam pembunuhan Arga. Yanto membantu menyembunyikan mayat Arga dan barang bukti.
Bimo harus kembali ke kantor Polda untuk menjalani pemeriksaan. Pablo tetap mendampingi pria itu atas perintah Cahyo.
Sebelum menjalani pemeriksaan, Pablo terlebih dahulu menemui Temi. Dia sudah tahu bahwa Temi yang sudah membocorkan lokasi vila hingga akhirnya masalah ini terbongkar.
Selain menemui Temi, Pablo juga menemui Yanto. Pria itu dengan bodohnya menunjukkan di mana mayat Arga berada.
“Kamu sudah melakukan kesalahan, Temi. Sebagai bayarannya, kamu yang harus menanggung kesalahan Bimo,” ujar Pablo.
“T-Tapi bukan saya yang membunuh Arga,” jawab Temi dengan wajah pucat.
“Kamu juga ikut memukulinya.”
“Iya, tapi yang mukul Arga sampai mati itu Bimo.” Temi tetap tidak mau menyerah.
“Saya janji akan meringankan hukuman kamu kalau kamu mau mengakui kejahatanmu. Setelah kamu keluar dari penjara nanti,
Pak Cahyo akan menyiapkan rumah, pekerjaan, dan deposito tabungan untukmu. Tapi kalau kamu menolak, hidupmu akan sengsara selamanya,” ancam Pablo.
Temi menelan ludahnya susah payah. Pria itu berada dalam dilema. Dia tidak mau mengakui kejahatan yang tidak dilakukannya.
Namun, jika menolak, Temi juga takut dengan ancaman Pablo. Dia tahu benar bagaimana sepak terjang Cahyo. Pria itu bisa melakukan apa saja untuk menyengsarakan orang yang menolak perintahnya.
“Pak Yanto, kamu juga bodoh! Kenapa kamu menunjukkan mayat Arga?!” sentak Pablo.
“M-Maaf, Pak. Saya takut di penjara.”
“Kamu memang akan di penjara. Kalian berdua akan di penjara. Satu sudah membunuhnya dan satu lagi sudah menyembunyikan mayatnya.
Kalau sampai Bimo terkena masalah, ini semua karena kesalahanmu! Harusnya kamu buang saja mayat Arga ke sungai, bukan disimpan di freezer. Dasar bodoh!”
Pablo segera meninggalkan kedua pria itu. Waktunya Bimo menjalani interogasi akan segera dimulai.
Sepeninggal Pablo, Yanto mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Kenapa sekarang justru dirinya yang disalahkan? Pria itu hanya melakukan yang diperintahkan.
Bahkan, Yanto tidak tahu apa yang terjadi. Pria itu dihubungi tengah malam untuk membereskan kekacauan yang dibuat Bimo.
Yanto menoleh ke arah Temi. Sama seperti dirinya, Temi juga tampak bingung.
Sementara itu, di ruang interogasi, Nino dan Asep sudah siap melakukan interogasi. Di atas meja sudah terdapat peralatan untuk mengambil DNA.
Darah yang tertinggal di ruangan dan yang terdapat pada jasad Arga sudah selesai diperiksa.
Sekarang, mereka sedang mengumpulkan DNA pembanding. DNA Yanto dan ketiga teman Bimo sudah diambil. Hanya tinggal DNA Bimo yang belum diambil.
“Saudara Bimo, buka mulut Anda. Saya perlu mengambil DNA Anda,” perintah Asep.
“Apa-apaan ini?” tanya Pablo. ”Kalian tidak boleh mengambil DNA-nya tanpa izin!” seru pengacara itu.
Asep melemparkan surat perintah resmi yang dikeluarkan pihak kepolisian. Status Bimo saat ini pun sudah dinaikkan dari saksi menjadi tersangka.
“Jangan mempersulit kami, Bapak Pablo yang terhormat. Pengambilan DNA adalah prosedur yang harus dijalani Saudara Bimo yang saat ini statusnya dinaikkan menjadi tersangka. Tunjukkan itikad baik Anda dalam penyidikan ini,” ujar Nino.
Bimo melihat pengacaranya. Pablo pun tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tidak punya alasan untuk menolak pengambilan DNA kliennya.
Apalagi sudah ada surat perintah resmi dan status Bimo sudah naik menjadi tersangka.
Dengan terpaksa, Bimo membuka mulutnya. Asep mengambil buccal swab, kemudian mengusapkannya ke dinding bagian dalam pipi.
Dalam waktu singkat, Asep sudah selesai melakukan tugasnya. Pria itu memasukkan buccal swap yang terdapat DNA Bimo ke dalam wadah steril.
Setelah mendapatkan DNA Bimo, Asep segera keluar dari ruangan. Dia akan langsung mengirimkan sampel DNA tersebut ke rumah sakit, sedangkan Nino tetap tinggal untuk melakukan interogasi.
“Apa alasan Anda membunuh Arga?” tanya Nino.
“Saya tidak membunuh Arga,” elak Bimo.
“Lalu, kenapa Anda membawa Arga ke vila?”
“Saya tidak membawanya! Saya tidak kenal dia!” Bimo masih bersikeras dengan keterangan sebelumnya.
“Lalu, bagaimana jasad Arga bisa ditemukan di sana?”
“Saya tidak tahu! Mungkin saja Pak Yanto yang membunuhnya.”
“Benarkah?” Nino hanya tersenyum miring melihat sikap Bimo yang masih arogan.
Pria itu membalik laptop, kemudian menyalakan rekaman CCTV di vila yang berhasil dipulihkan oleh Pradipta. Dalam rekaman itu terlihat mobil yang dikemudikan Bimo memasuki pekarangan vila. Di belakangnya menyusul Temi dengan membawa motor Arga.
Tidak lama kemudian, dua teman Bimo yang berada di mobil keluar sambil memapah Arga yang masih dalam keadaan pingsan. Pria itu dibawa masuk ke dalam vila.
Mata Bimo membelalak melihat rekaman tersebut. Seingatnya, dia sudah menghapus rekaman CCTV malam itu. Pria itu mulai terlihat cemas. Pablo langsung mengambil alih situasi.
“Klien saya hanya menolong Arga yang mengalami kecelakaan tunggal di jalan. Dia berbaik hati membawanya ke vila.”
“Kalau klien Anda membawanya agar korban bisa beristirahat, mengapa kami menemukan korban dalam keadaan tidak bernyawa?”
“Mungkin memang nyawa korban tidak terselamatkan. Karena panik, penjaga vila menyembunyikannya di freezer.”
“Luka-luka yang dialami korban bukan berasal dari kecelakaan tunggal. Melainkan luka karena pukulan dan hantaman benda logam.”
“Lalu, apa kalian punya buktinya kalau klien saya terlibat dalam kematian Arga?” tantang Pablo.
“Kita lihat saja nanti. Itulah gunanya kami mengambil sampel DNA klien Anda.”
“Cukup hari ini! Bawakan saja bukti yang akurat kalau memang klien saya terlibat. Saya juga sudah mengajukan penangguhan penahanan. Jadi, tidak ada alasan menahan klien saya lebih lama. Ayo, Bimo!”
Nino membiarkan saja Pablo membawa pergi Bimo. Akan tiba waktunya dia menyeret anak manja itu ke balik jeruji.
“Bagaimana ini, Pak?” tanya Bimo saat mereka berjalan kembali ke mobil.
“Tenanglah. Malam ini kamu tinggalkan negara ini diam-diam. Saya dan ayahmu sudah mengaturnya. Kamu bersembunyi dulu selama setahun atau dua tahun.”
Bimo mengangguk pelan. Dia pasrah saja mengikuti arahan pengacaranya. Tanpa mereka sadari, pembicaraan tadi didengar oleh Eris. Tentu saja hantu wanita itu langsung melaporkannya kepada Nino.
“Bimo mau kabur ke luar negeri malam ini. Aku mendengar pengacaranya bilang begitu tadi,” lapor Eris.
Mendengar itu, Nino langsung menemui Miko. Tanpa membuang waktu, Miko langsung meminta pihak kepolisian mengajukan surat pencegahan untuk Bimo ke Kementerian Hukum dan HAM. Nantinya surat tersebut akan diteruskan ke Direktorat Jenderal Imigrasi.
Nino segera kembali ke mejanya. Dia harus segera menyusun laporan berikut bukti kuat yang dapat membawa Bimo ke balik jeruji. Pria itu yakin bahwa Cahyo tidak akan diam begitu saja melihat anaknya terancam hukuman pidana.
“Permisi.”
Nino langsung mengangkat kepala begitu mendengar suara seorang perempuan. Dia terkejut melihat Lisa sudah berdiri di depan mejanya.
“Saya bersedia menjadi saksi untuk kasus Arga,” ujar Lisa sebelum Nino sempat mengatakan apa-apa.
***
Akhirnya Lisa nongol
semoga neng Giana baik baik aja 🙏