"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melewatinya Bagaikan Angin 08.
Satu hal yang Firdaus lupakan tentang penyesalan: dia tidak datang dalam bentuk ledakan besar. Dia merayap pelan, seperti udara dingin yang menyelinap lewat celah pintu, lalu membekukan isi dada sampai mati rasa.
Sudah satu minggu sejak hari ulang tahun Firdaus itu. Satu minggu pula Firdaus hidup dalam ritme yang kacau.
Di ruang OSIS, dia mendapati dirinya berkali-kali menatap kursi kosong di sudut ruangan—tempat Elsa biasanya duduk sambil sibuk memilah proposal dengan jemari kecilnya yang sesekali belepotan tinta pulpen.
"Daus, ini proposal dari seksi humas. Perlu tanda tangan lo sekarang." Tyas menyodorkan selembar kertas, memecah lamunan Firdaus.
Firdaus berdehem, mencoba mengumpulkan fokusnya yang berserakan. "Ah, iya. Taruh situ aja."
"Lo oke?" Tyas menyipitkan mata. "Muka lo kayak orang kurang tidur seminggu."
"Gue oke. Cuma mikirin sponsor pensi," bohong Firdaus. Bojong yang payah, karena Tyas tahu betul Firdaus tidak pernah se-frustrasi ini hanya karena urusan angka dan nominal.
"Kalau soal Elsa..." Tyas menggantung kalimatnya, ragu-ragu. "Dia beneran udah leave dari semua grup koordinasi, Daus. Nomor lo juga... kayaknya diblokir, ya?"
Firdaus tidak menjawab. Dia hanya meraih pulpennya dengan gerakan kaku. Kata-kata Tyas barusan seperti garam yang ditaburkan di atas luka basah. Diblokir.
Firdaus baru tahu rasanya dikunci di luar dari kehidupan seseorang yang dulunya selalu mengetuk pintunya setiap jam.
**
Jarum jam menunjukkan pukul tiga sore.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tiga puluh menit yang lalu, meninggalkan area sekolah dalam keheningan yang berangsur-angsur pekat.
Firdaus berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju ruang perpustakaan.
Langkahnya sengaja diperlambat. Sepatu kulitnya tidak lagi berketukan tegas seperti biasa. Ada beban tak kasatmata yang menggelayut di kedua pundaknya.
Dia tahu Elsa ada di sana. Dari jendela kaca besar di lantai bawah tadi, dia sempat menangkap siluet gadis itu yang berjalan ke arah gedung perpustakaan tua di ujung koridor barat.
Sendirian. Tanpa Aris yang biasanya mengekor seperti pelindung bayangan.
'Ini kesempatan gue' pikir Firdaus. Egonya yang sempat hancur lebur kini mencoba menyusun diri kembali, memercikkan sedikit harapan egois. Mungkin kemarin Elsa cuma emosi.
'Mungkin kalau kita bicara berdua, tanpa ada Aris atau anak-anak lain yang menonton, dia bakal dengerin.'
Koridor perpustakaan terkenal sepi di jam-jam seperti ini.
Cahaya matahari sore yang berwarna jingga tua masuk membelah ventilasi, menciptakan garis-garis siluet panjang di lantai ubin.
Di ujung lorong yang lurus itu, sosok yang dicarinya muncul.
Elsa berjalan keluar dari pintu kayu perpustakaan. Dia sedang mendekap dua buku tebal di dadanya. Rambutnya dikuncir kuda asal-asalan, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajahnya yang tampak lelah namun... damai. Tidak ada gurat kebinaran yang biasa Firdaus lihat saat gadis itu masih mengejar nya dengan rasa tulus.
Jantung Firdaus berdegup dua kali lebih cepat. Dia menghentikan langkahnya tepat di tengah koridor, menutup seluruh jalur aman bagi Elsa untuk lewat kecuali jika gadis itu memilih berbalik arah atau menepi drastis.
Jarak mereka mengikis. Dua puluh meter. Sepuluh meter. Lima meter.
Firdaus menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan suaranya agar terdengar selembut mungkin, tanpa nada perintah. "Sa..."
Namun, kata itu menguap begitu saja di udara.
Elsa tidak berhenti. Dia bahkan tidak memperlambat ritme langkah kakinya.
Pandangan matanya lurus ke depan, melewati bahu Firdaus, seolah-olah cowok jangkung yang berdiri tegap di hadapannya itu hanyalah tiang koridor yang mati.
Wusss.
Aroma bedak bayi dan parfum vanila berbaur wangi detergen yang sangat familier di indra penciuman Firdaus berembus seiring dengan langkah Elsa yang melewatinya begitu saja. Sempurna. Tanpa ada keraguan, tanpa jepitan langkah yang kikuk, tanpa lirikan sekilas di sudut mata.
Elsa melewatinya seolah Firdaus adalah angin lalu.
Dunia Firdaus rasanya berhenti berputar seketika. Seluruh pasokan oksigen di sekitarnya seolah tersedot habis. Dia mematung, menatap lurus ke depan pada koridor kosong, sementara punggung Elsa menjauh di belakangnya.
Bukan bentakan. Bukan tamparan. Bukan pula makian penuh dendam. Ternyata, bentuk rasa sakit paling absolut di dunia ini adalah ketika keberadaanmu dianggap tidak pernah ada oleh orang yang pernah menjadikanmu semestanya.
"Elsa!"
Suara Firdaus pecah. Akhirnya, benteng gengsinya runtuh total. Dia berbalik dengan cepat, mengejar langkah Elsa dan langsung mencengkeram pergelangan tangan gadis itu. Tidak kuat, namun cukup tegas untuk menghentikan pergerakannya.
Elsa terpaksa berhenti. Dia tidak memberontak, tidak juga tersentak kaget. Dia hanya menoleh pelan, menatap tangan Firdaus yang melingkari pergelangan tangannya, lalu mengalihkan pandangannya naik ke wajah cowok itu.
Tatapan itu... kosong. Dingin dan sedalam palung laut.
"Lepas, Kak," ucap Elsa lirih. Suaranya datar, tanpa emosi naik-turun.
"Kita perlu bicara, Sa. Tolong. Cuma lima menit," pinta Firdaus. Ada nada memohon yang belum pernah ada dalam sejarah hidup seorang Muhammad Firdaus. "Soal ucapan Reno kemarin... gue beneran nggak bermaksud—”
Sayangnya, Elsa menepis tangan Firdaus dengan satu hentakan mantap. Gadis itu kembali melanjutkan langkah kaki nya.
......................
...****************...
Tbc,