“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Gemerlap Kota Jakarta
Dulu, aku adalah wanita yang terlalu sering membandingkan jalan hidupku dengan orang lain.
Di tengah kaku dan dinginnya tatanan keluarga keraton yang menuntut kesempurnaan, aku kerap bertanya-tana pada kesunyian malam.
Apakah aku pantas mendapatkan kebahagiaan yang tulus? Apa yang salah denganku hingga di masa lalu aku harus diperlakukan tidak adil saat menjalin hubungan? Apakah diriku tidak berhak merasakan dicintai dan diratukan sebagaimana wanita lain merasakannya?
Rasa minder dan ketidakpercayaan diri itu telah lama menjadi benalu yang menggerogoti jiwaku. Ketika seorang perempuan tumbuh dalam penolakan dan pengabaian, ia akan terbiasa merasa bahwa dirinya adalah 'kekurangan' yang harus selalu menutupi diri. Ia belajar untuk percaya bahwa cinta yang indah hanya milik mereka yang beruntung, sementara dirinya cukup menerima sisa-sisa takdir yang disodorkan.
Namun malam ini, di atas ketinggian lantai lima puluh salah satu hotel bintang lima paling megah di kawasan Jakarta Pusat, semesta seolah ingin membantah seluruh keraguan konyolku itu.
Lobi rooftop restaurant bernuansa kemewahan modern itu menyajikan pemandangan lanskap kota Jakarta yang memukau. Dari balik dinding kaca tebal melengkung, hamparan lampu-lampu jalanan dan pencakar langit berkerlap-kerlip bagaikan lautan bintang di atas bumi. Suasana meja fine dining kami ditata dengan sangat romantis, lilin-lilin kecil beraroma terapi lembut bertengger di atas taplak meja putih, diapit oleh vas porselen berisi selusin mawar merah segar.
Aku duduk berhadapan dengan Dimas Arjowibowo.
Malam ini aku mengenakan gaun organza sutra dusty pink pemberian Dimas. Gaun itu melekat sempurna di tubuhku, membiaskan kesan feminin, anggun, dan bersinar. Sementara Dimas tampak begitu tampan dan memesona dengan setelan jas navy tanpa dasi, kemeja putihnya dibuka satu kancing atas, dan rambut gondrongnya yang disisir rapi ke belakang.
"Kamu melamun lagi, Mei," suara berat dan halus Dimas memecah keheningan di antara kami.
Aku tersentak pelan dari jalan pikiranku, menatap piring hidangan pembuka yang tersaji indah di hadapanku. Aku melempar senyum tipis, menggeleng pelan.
"Tidak melamun, Mas. Cuma... masih agak canggung saja," jujurku pelan, jemariku memegang gagang sendok perak. "Pemandangan kota dari sini indah sekali."
Dimas tidak langsung memandang kaca luar. Mata hitam pekatnya justru terpaku lurus menatap wajahku, menyusuri setiap garis fitur mukaku dengan pendar kehangatan yang begitu pekat.
"Pemandangan di luar sana tidak ada apa-apanya dibandingkan wanita di hadapan saya malam ini," sahut Dimas tenang, suaranya mengalun seperti nada musik klasik yang diputar lembut di restoran ini.
Pipiku seketika membakar hangat. Perlakuan manisnya selalu saja berhasil meruntuhkan dinding pertahananku.
Sejak pertama kali mengenal nama Dimas Arjowibowo dari majalah bisnis dan cerita orang-orang, gambaran yang tertanam di kepalaku adalah sosok pria yang dingin, kaku, jutek, dan bertangan besi. Namun, makin hari aku bersamanya, sosok itu berubah total.
Dimas ternyata adalah pria yang sangat menyukai physical touch atau sentuhan fisik yang menenangkan. Dia perhatian, sangat pengertian, dan tidak pernah ragu menunjukkan afeksinya secara terbuka padaku.
Tentu saja, pikiran kecil di dalam kepalaku yang penuh keraguan terkadang masih berbisik jahat: Apakah dia seperti ini kepada semua perempuan yang pernah dekat dengannya dulu? Ataukah ini hanya perlakuan sementara manis di awal hubungan?
Namun, setiap kali tatapan mata kami bertemu, aku tahu keraguan itu hanyalah bayangan dari trauma masa laluku sendiri.
Dimas mengulurkan tangan tegapnya menyeberangi meja makan. Jemari tangannya yang panjang dan hangat menggenggam jemariku yang agak dingin, membelainya dengan ibu jarinya secara perlahan dan berulang. Sebuah sentuhan fisik yang begitu protektif dan menenangkan.
"Mas Dimas..." panggilku pelan, menatap pertautan tangan kami.
"Ya, Mei?"
Aku memberanikan diri menatap mata hitamnya yang dalam. "Boleh aku jujur satu hal?"
"Tentu saja. Di antara kita, tidak boleh ada hal yang disembunyikan lagi," balas Dimas, mengusap punggung tanganku.
Aku menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk menelanjangi rasa minder yang selama ini menyiksaku.
"Dulu... aku sering merasa diriku tidak berharga," tuturku dengan suara lirih yang hampir berbisik. "Saat impian desainku dipatahkan Romo, saat perhatian keluargaku hanya tertuju pada anak laki-laki, dan saat Juan membuangku begitu saja hanya karena aku mempertahankan harga diriku... aku berpikir aku memang tidak pantas dicintai secara utuh."
Dimas mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Cengkeraman jemarinya di tanganku justru makin erat dan hangat.
"Aku merasa minder berada di sisimu, Mas," lanjutku, mata beningku mulai berkaca-kaca. "Kamu sukses, berkuasa, dan punya segalanya. Sedangkan aku hanya wanita kaku dari daerah yang penuh dengan luka masa lalu. Kadang... aku takut ini semua cuma mimpi, atau kamu bersikap begini cuma karena penasaran belaka."
Keheningan malam di lantai lima puluh itu mendadak terasa makin khusyuk. Musik instrumen piano yang mengalun di latar belakang seolah menjadi pelengkap kejujuran hatiku.
Dimas tidak marah. Dia tidak tertawa.
Pria jangkung itu perlahan melepaskan pegangan tangannya, berdiri dari kursinya, dan melangkah mengitari meja makan. Dimas menarik kursi kosong di samping kursiku, lalu duduk tepat di sebelahku.
Aroma parfum woody-citrus miliknya yang mahal langsung mengepung seluruh indra penciumanku.
Dimas memutar posisi duduknya menghadapku sepenuhnya. Kedua tangannya yang hangat terangkat, menangkup lembut kedua pipiku, memaksaku menatap tepat ke dalam manik matanya yang berkilat penuh kesungguhan.
"Dengar saya baik-baik, Maizara Paramita," ucap Dimas dengan nada suara yang begitu dalam, mantap, dan sarat akan penekanan emosional. "Masa lalumu yang menyakitkan itu bukan bukti bahwa kamu tidak berharga. Itu hanya bukti bahwa orang-orang di masa lalumu terlalu buta untuk melihat betapa bahagianya memiliki permata sepertimu."
Airmata yang sejak tadi kubendung akhirnya menetes hangat membasahi pipiku. Jemari ibu jari Dimas dengan sigap dan lembut mengusap tetesan air mata itu.
"Kamu bertanya apakah kamu pantas mendapatkan ini semua?" lanjut Dimas, wajahnya makin mendekat hingga jarak hidung kami hanya terpaut beberapa sentimeter. "Kamu sangat amat pantas, Mei. Kamu adalah wanita paling anggun, cerdas, dan memiliki hati paling murni yang pernah saya temui dalam hidup saya."
"Tapi Mas... rasa takut dan raguku... "
"Biar rasa takut dan ragumu itu menjadi urusan saya untuk menyembuhkannya," potong Dimas tegas namun lembut. "Saya bersikap seperti ini memegang tanganmu, memelukmu, dan memanjakanmu, bukan karena saya membiasakan hal ini pada wanita lain. Kamu adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuat Dimas Arjowibowo berlutut dan menyerahkan seluruh hatinya tanpa syarat."
Deg.
Kalimat jujur dari mulutnya menghantam dadaku begitu telak. Seluruh ketakutan, rasa minder, dan benalu ketidakpercayaan diri yang kubawa selama bertahun-tahun seketika lebur tanpa sisa di dalam kehangatan tatapan matanya.
Lelaki ini benar-benar telah menjadi takdir yang dihadirkan Tuhan untuk menyembuhkan setiap luka di jiwaku.
Dimas menundukkan kepalanya sedikit, lalu mendaratkan kecupan hangat yang sangat lembut di keningku. Lama dan penuh dengan penghormatan. Aku memejamkan mata erat-erat, meremas pelan kain jas di bahunya, membiarkan rasa bahagia yang utuh memenuhi setiap rongga dadaku.
Ketika Dimas menarik kepalanya kembali, dia menatap bibirku yang sedikit terbuka, lalu menatap mataku meminta izin secara tersirat.
Aku tidak menarik diri. Aku tersenyum manis dan memberikan sebuah anggukan pelan.
Melihat persetujuanku, sudut bibir Dimas terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan. Tanpa membuang waktu lagi, Dimas memiringkan wajahnya dan merengkuh bibirku ke dalam sebuah ciuman yang amat manis dan dalam.
Ciuman di atas ketinggian kota Jakarta itu terasa begitu ajaib. Tidak ada ketergesa-gesaan, hanya ada penyatuan dua jiwa yang saling menemukan pelabuhan terakhirnya. Lidahnya menyapu lembut, menuntut balasan yang dengan penuh kepasrahan kuberikan. Tanganku terangkat, melingkar di lehernya, menikmati kehangatan physical touch dari pria yang kini resmi menjadi pemilik hatiku.
Restoran romantis ini, hamparan lampu kota di bawah sana, dan pendar lilin di meja makan menjadi saksi bisu bahwa malam ini, Maizara Paramita telah berhenti membandingkan hidupnya.
Di dalam dekapan Dimas Arjowibowo, aku akhirnya tahu bagaimana rasanya dicintai, diratukan, dan dihargai sebagai seorang wanita yang utuh.