NovelToon NovelToon
Puteri Rahasia Sang Ratu

Puteri Rahasia Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Suesant SW

Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.

Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.

Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2. Mayat Yang Dingin

Orang yang selama bertahun-tahun berdiri di luar pintu paviliunnya, mengawal setiap perjalanan kemanapun selama ini dia pergi setia menjaga setiap langkah Wang Laoyin dan menjalankan perintah tanpa pernah membantah.

Namanya Shen Rui.

Seorang pengawal yang dikenal pendiam, setia, dan nyaris tidak pernah mengangkat wajah ketika berbicara kepada permaisuri. Ia telah mengabdi kepada keluarga kerajaan selama lebih dari sepuluh tahun. Wang Laoyin bahkan pernah mengajukan penghargaan kepadanya setelah ia menyelamatkan seorang pelayan kecil dari kebakaran di gudang istana. Dan kini, lelaki itu terbaring mati di ranjangnya. Di sebelah tubuhnya. Dengan darah yang membasahi tempat tidur sang permaisuri.

"Tidak..."

Wang Laoyin mundur dengan gerakan mendadak.

Punggungnya menghantam tiang ranjang. Tangannya mencengkeram selimut hingga buku-buku jarinya memutih.

"Ini tidak mungkin."

Ia menatap wajah Shen Rui sekali lagi, berharap menemukan tanda kehidupan sekecil apa pun. Mungkin lelaki itu hanya pingsan. Mungkin luka itu tidak sedalam yang terlihat. Mungkin semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan lenyap ketika ia terbangun.

Namun, tidak ada napas.

Tidak ada gerakan dada.

Tidak ada denyut kehidupan yang dapat ia temukan dari wajah pucat itu, yang tersisa hanyalah keheningan yang begitu dingin hingga seolah membekukan udara di sekelilingnya.

Wang Laoyin menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Dari tenggorokannya terdengar suara tertahan, campuran antara ketakutan, keterkejutan, dan penyangkalan yang menyakitkan.

Ia segera meraih jubah luar yang tergeletak di sisi ranjang dan menutupi tubuhnya. Dengan kaki gemetar, ia turun dari tempat tidur.

Dan mengapa ia tidak mendengar apa pun?

Ia mencoba mengingat kejadian beberapa jam sebelumnya. Ia mengingat teh hangat. Mengingat laporan yang ditinggalkan di meja. Mengingat suara pelayan yang menyampaikan pesan Raja.

Namun, setelah itu, ingatannya seperti dinding putih yang tidak memiliki pintu.

Tidak ada suara langkah kaki.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada jeritan.

Tidak ada apa pun.

Kekosongan itu justru lebih menakutkan daripada mayat yang terbaring di ranjangnya. Seseorang telah memasuki Paviliun Fengyi tanpa sepengetahuannya dan telah membunuh pengawalnya. Dan seseorang telah memastikan bahwa ia akan terbangun di tengah genangan darah, dengan tubuh lelaki itu berada tepat di sampingnya.

Wang Laoyin merasakan hawa dingin menjalar dari telapak kaki hingga ke tengkuk.

Ini bukan kecelakaan.

Naluri yang selama bertahun-tahun diasah di tengah intrik istana menjeritkan peringatan dalam benaknya.

Ini adalah jebakan.

Jebakan yang dirancang dengan sangat teliti.

Namun, sebelum ia sempat menyusun pikirannya lebih jauh, sebuah suara memecah kesunyian dari balik pintu.

"Yang Mulia?" Seorang pelayan perempuan memanggil dengan suara ragu. Wang Laoyin tersentak.

Ia menoleh ke arah pintu berukir phoenix. Bayangan seseorang terlihat bergerak di balik kertas jendela.

"Yang Mulia, apakah Yang Mulia sudah bangun?" Itu suara Qing'er, pelayan pribadinya.

Wang Laoyin membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokannya terasa tercekik. Ia ingin memanggil pelayan itu, ingin memerintahkan penjaga mengunci seluruh paviliun, ingin segera mencari tahu siapa yang telah melakukan kekejian ini.

"Akh..." Dia merasa masih bingung harus berbuat apa, matanya kembali tertuju kepada Shen Rui.

Pada wajah pucat itu dan pada darah di ranjang.

Pada pedang yang sengaja diletakkan di lantai.

Tiba-tiba, ia memahami sesuatu yang jauh lebih mengerikan, jika seseorang menemukan dirinya bersama mayat ini, tidak seorang pun akan bertanya terlebih dahulu apakah ia bersalah?

Mereka akan melihat seorang permaisuri di atas ranjang, seorang pengawal yang tewas di sisinya dan darah yang menutupi tempat tidur. Sebuah skandal mengerikan yang berakhir tragis, itulah yang kasat mata.

Mereka akan melihat apa yang ingin diperlihatkan oleh pembunuh itu.

Bukan kebenaran, melainkan sebuah cerita yang telah disiapkan untuk menghancurkannya.

"Yang Mulia?" Suara Qing'er terdengar lagi, kali ini terdengar lebih dekat.

"Apakah Yang Mulia baik-baik saja? Kami mendengar suara benda jatuh." Suara pelayannya itu terdengar cemas. Wang Laoyin memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, ketakutan di wajahnya telah bercampur dengan kemarahan.

Siapa pun pelakunya? ia akan menemukannya. Ia tidak akan membiarkan darah seorang pengawal setia dijadikan alat untuk merampas kehormatannya. Otaknya dipaksanya untuk berfikir dan sebagiannya berusaha menenangkan ketakutannya. Dengan susah payah, ia menarik napas dan memaksa suaranya keluar.

"Jangan masuk!" Teriakannya mengguncang kesunyian.

Di balik pintu, terdengar langkah kaki yang mendadak berhenti.

"Yang Mulia?" Qing'er terdengar menghiba.

"Siapa pun yang berada di luar, jangan menyentuh pintu ini sebelum aku memerintahkan masuk!"

Wang Laoyin berusaha mengembalikan wibawa pada suaranya. Ia masih seorang permaisuri. Selama mahkota phoenix masih menjadi lambang kedudukannya, ia tidak akan membiarkan siapa pun melihat dirinya hancur. Takdir rupanya sedang mempermainkannya dan telah menyiapkan panggung yang jauh lebih kejam daripada yang dapat dibayangkannya.

Dari kejauhan, langkah-langkah berat terdengar berlari di sepanjang koridor. Banyak langkah.

Langkah para pengawal kerajaan.

Disusul bunyi zirah yang beradu, suara pedang bergesekan dengan sarungnya dan teriakan seorang pejabat yang memerintahkan semua pintu dikunci.

"Ada pembunuhan di Paviliun Fengyi! Ada pembunuhan di Paviliun Fengyi!"

Suara itu menggema di sepanjang lorong. Berderap-derap ramai dan suara riuh yang berakhir di depan pintu kamar sang ratu.

"Atas perintah istana, tidak seorang pun boleh meninggalkan tempat ini!" Suara berat dan tegas itu menggema, mungkin suara salah seorang komandan pengawal.

Wang Laoyin membeku. Ia belum memanggil siapa pun. Ia belum mengirim seorang pelayan pun keluar.

Lalu, bagaimana kabar pembunuhan itu dapat tersebar begitu cepat? Bagaimana orang-orang diluar sana tahu jika di dalam kamarnya ada terjadi pembunuhan?

Mengapa para pengawal sudah berlari menuju paviliunnya, seolah-olah mereka telah mengetahui apa yang akan ditemukan di dalam?

Pertanyaan-pertanyaan itu menghantam pikirannya satu demi satu, membuat Wang Laoyin bingung sesaat dan sedikit kesadarannya menyimpulkan, ada seseorang telah menunggu malam ini dan seseorang itu telah menyiapkan semua ini, seseorang yang sedang menunggu saat yang tepat untuk menyaksikan kehancurannya.

Pintu Paviliun Fengyi akhirnya digedor.

Wang Laoyin tidak bersuara, dia masih diam seribu bahasa sedang berusaha menganalisis apa yang terjadi sebenarnya.

"Atas perintah Raja, buka pintu!" Suara seorang komandan pengawal terdengar keras dan tegas. Terdengar Qing'er menangis di balik pintu.

"Yang Mulia, apa yang terjadi di dalam? Tolong jawab saya!"

Wang Laoyin menatap pintu itu, lalu menoleh kepada mayat Shen Rui, seluruh tubuhnya gemetar, tetapi ia tidak lagi mundur. Ia berjalan menuju ranjang dan berjongkok di sisi mayat. Dengan tangan yang masih bergetar, ia menyentuh pergelangan tangan Shen Rui, memastikan sekali lagi bahwa lelaki itu benar-benar telah kehilangan nyawanya.

Dingin.

1
Eka Burjo
oke lanjut
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Suesant SW: siap lanjutttt
total 1 replies
Eka Burjo
lanjut
Eka Burjo
akhirnya selesai juga maratonku🤭
Suesant SW: mkasih bnyak dah marathon😄😄😄
total 1 replies
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Rara
apa aku kedua thor
Aisyah Suyuti
good
ˡᵃⁿᵃ✰͜͡𝐯𐝃
semangat terus dengan karya² barunya Thor 💪💪💪💪💪
Sri Rahmawati
ibu yg bijak 😍😍
Sri Rahmawati
pertama ☝️☝️☝️
Deandra
lanjut thorrr
Eka Burjo
huhuhu aku ikutan 😭
Sri Rahmawati
/Angry/
Rara
😔😔😔😔😔
🌼EmeLBy🌼
lanjut
🌼EmeLBy🌼: Masih OL thor hihihihii
sama
total 2 replies
Sri Rahmawati
peluk dariku Yang Mulia 🤗🤗🤗
Sri Rahmawati
ku menangis 😭😭😭
Sri Rahmawati
aku maraton bacanya baru tau hari ini dan udh hbs satu pak tisu 😭😭😭
Sri Rahmawati
hadir Thor 🥰🥰
Suesant SW: makasih Kak Sri🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Rara
sediiih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!