Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14.Dalang
Malam makin larut saat mobil sport milik Damar akhirnya kembali memasuki garasi mansion Diksara. Setelah aksi pembungkaman Bagas di kafe yang berjalan sukses, suasana di antara mereka berdua sebenarnya jauh lebih mencair. Namun, begitu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, perisai gengsi Damar yang setinggi langit langsung terpasang kembali bagaikan benteng baja.
Naya melangkah santai menuju lantai dua untuk membersihkan diri di kamar mandi kamar utama. Rasa gerah akibat hembusan angin malam di kafe tadi membuat tubuhnya butuh kesegaran air hangat.
Sementara itu, Damar memutuskan untuk mampir sejenak ke ruang kerja pribadinya yang terletak tak jauh dari kamar utama. Pria itu melangkah tegap mendekati jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kerlap-kerlip lampu Kota Medan dari ketinggian. Sambil merapikan kemeja hitamnya yang sengaja dibuka dua kancing teratasnya, Damar merogoh ponsel genggam dari dalam saku celananya. Ia menekan tombol panggilan cepat.
"Halo, Andre?" panggil Damar dingin.
"Selamat malam, Pak Damar. Laporan yang Bapak minta terkait latar belakang kedatangan Bagas sudah selesai saya telusuri," ujar Andre dari seberang telepon dengan nada suara yang sangat serius dan profesional. "Ternyata ada hal yang sangat menarik, Pak. Bagas tidak tiba-tiba tahu alamat mansion ini, nomor telepon Bu Naya, atau status pernikahan Bapak begitu saja."
Alis tebal Damar bertaut tajam, matanya memicing menatap kegelapan malam di luar jendela. "Maksud kamu?"
"Ada yang memberi tahu Bagas secara spesifik dan sengaja menyuruh pria itu untuk mengusik Bu Naya, Pak. Bahkan informasi soal utang budi keluarga Diksara di masa lalu dan fakta bahwa pernikahan ini berlandaskan kesepakatan kontrak juga dibocorkan oleh orang yang sama." Andre berdeham sejenak sebelum melanjutkan dengan berbisik. "Pelakunya adalah Mbak Lea, Pak."
DEG.
Rahang tegas Damar mengetat keras. Aura dingin nan mematikan seketika terpancar dari seluruh tubuh tegapnya. Matanya membeku, memancarkan kilatan amarah yang sangat pekat.
"Mbak Lea sepertinya mulai panik setengah mati karena Bapak belakangan ini sama sekali tidak merespons panggilan teleponnya atau memperhatikan keberadaannya lagi," jelas Andre panjang lebar dari ujung telepon. "Padahal dulu sebelum Bapak menikah dengan Bu Naya, Mbak Lea merasa dirinya sudah sangat dekat untuk menggait Bapak menjadi pendamping hidupnya. Karena takut kehilangan kesempatan sepenuhnya untuk menjadi Nyonya Diksara, Mbak Lea memanfaatkan Bagas—mantan kekasih Bu Naya yang toxic itu—untuk membuat kekacauan di rumah tangga Bapak."
Damar mengepalkan jemarinya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Lea... berani-beraninya dia memakai cara kotor dan licik seperti ini untuk mengusik Naya! batin Damar murka.
Selama ini, Damar memang menganggap Lea sebagai wanita terpelajar, berkelas, dan rasional yang pantas berada di lingkaran sosialnya. Namun kini, melihat Lea bertindak sejauh ini—memanfaatkan orang luar yang manipulatif hanya demi memuaskan ambisi pribadinya—Damar merasa sangat jijik. Pria itu justru merasa bersyukur luar biasa karena takdir membawanya menikah dengan Naya, bukan wanita penuh kepalsuan dan manipulasi seperti Lea.
"Urus semua aset, investasi, dan kerja sama bisnis kecil milik keluarga Lea yang terhubung dengan Diksara Group," perintah Damar dingin dan mutlak tanpa ada kompromi sedikit pun. "Berikan peringatan keras padanya agar tidak bertindak konyol dan kekanak-kanakan lagi di belakang saya."
"Baik, Pak Damar. Segera saya laksanakan malam ini juga," sahut Andre cepat sebelum mematikan sambungan telepon.
Damar menurunkan ponselnya, bernapas berat untuk menetralkan gemuruh emosi di dadanya. Namun di balik kemarahannya pada Lea, ada desiran hangat yang perlahan menyusup ke dalam benaknya. Pria itu tiba-tiba teringat bagaimana Naya berdiri di sampingnya tadi di kafe. Cewek itu tidak hanya membalas serangan Bagas dengan savage, tapi juga menyebut rumah tangga mereka dengan sangat santai di depan pria itu.
Damar merapikan lengan kemejanya, menyembunyikan sebaris senyuman tipis yang hampir saja lolos membingkai bibirnya. Dengan langkah tegap dan santai, sang CEO gengsian itu berjalan meninggalkan ruang kerja, berniat kembali ke kamar utama untuk menemui istrinya.
Sementara itu di dalam kamar utama, Naya baru saja selesai mandi air hangat. Tubuhnya terasa jauh lebih segar, dan aroma wangi sabun vanilla-jasmine memenuhi seisi ruangan. Naya mengenakan piyama santai berbahan kaus yang sangat nyaman, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur king-size yang empuk.
Ketika pintu kamar terbuka dan Damar melangkah masuk, Naya sedang asyik rebahan sambil memutar-mutar ponsel di tangannya, sesekali tertawa kecil menyaksikan video komedi di media sosial.
"Mas Kulkas dari mana aja? Kok mukanya ditekuk gitu kayak baju belum distrika tiga hari?" tegur Naya santai tanpa dosa begitu melihat suaminya berjalan mendekat.
Damar menghentikan langkahnya di dekat tepi kasur. Ia menatap Naya yang berbaring santai tanpa beban di atas kasur, begitu kontras dengan kerumitan yang baru saja ia selesaikan di ruang kerja. Keinginan untuk memberi tahu bahwa Lea-lah yang mengirim Bagas sempat melintas di kepala Damar. Namun, perisai gengsi besarnya langsung menahan lidahnya rapat-rapat.
Kalau saya beri tahu Naya sekarang bahwa saya sampai menyuruh Andre menelusuri dalang di balik Bagas, dia pasti makin besar kepala dan berpikir saya sangat terobsesi membela dirinya, batin Damar membela gengsinya.
"Saya habis menyelesaikan beberapa dokumen di ruang kerja," sahut Damar kaku seraya merapikan posisi jam tangan mewahnya. "Dan soal pria tadi di kafe... masalah itu sudah selesai seutuhnya. Kamu tidak usah memikirkannya lagi."
Naya terkekeh pelan seraya mendudukkan tubuhnya di kasur, menatap Damar dengan pandangan jenaka. "Dih, siapa juga yang sudi mikirin si Bagas parasit itu, Mas? Jangankan mikirin, ngingat namanya aja bikin enek! Yang ada saya malah kasihan sama dia. Muka dia pas Mas gertak pakai embel-embel 'milik Damar Diksara' tadi pucat banget kayak lele kena garam!"
Damar berdeham keras-keras, berusaha menahan bibirnya agar tidak ikut tersenyum mendengar celotehan Naya yang tidak pernah kehabisan ide untuk mengejek orang lain. Pria itu melangkah kaku menuju lemari pakaian untuk mengambil baju ganti.
"Bagus kalau kamu tidak memikirkannya," ujar Damar dengan suara beratnya yang diusahakan selayaknya bos besar. "Sekarang rapikan tempat tidur dan tidurlah."
Naya langsung merayap ke tengah kasur, lalu menepuk-nepuk guling pembatas berenda di tengah kasur dengan gaya jahilnya yang khas.
"Siap, Mas Kulkas! Pembatas perbatasan dua negara sudah terpasang rapi tanpa celah!" seru Naya riang sambil menaik-turunkan alisnya. "Mas Damar tidur di zona aman ya. Awas aja kalau tengah malam ada tangan atau kaki yang nekat melewati garis perbatasan, nanti saya kenakan denda kompensasi tambahan lima ratus juta!"
Damar melirik guling pembatas itu dengan tatapan jengkel bercampur gemas. Rasanya ia ingin sekali melemparkan guling pembatas itu keluar dari jendela kamar, namun gengsinya menahan pria itu untuk bertindak gegabah.
"Saya tidak berminat melewati perbatasan konyol kamu itu," desis Damar ketus, menyambar baju gantinya lalu melangkah menuju kamar mandi untuk bersiap mandi, meninggalkan Naya yang tertawa puas di atas kasur.
_Bersambung