Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 03
“Halla, gak usah sok tersakiti, semua ini terjadi ya karena kamu yang gak mampu memberikan anak. Jangan egois, Janti!” suaranya meninggi, setiap kali teringat akan kekosongan 4 tahun perut sang menantu, emosinya pun ikutan naik.
Janti mengedip-ngedipkan mata, mengusap buliran sempat terjatuh. Masih dengan menunduk ia usahakan memasang wajah tegar, memakai topeng kalau segala sesuatu masih sama.
Kemudian dia berdiri, mengambil shower, menyalakan air, menunggu sampai terasa hangat, baru dibasuh tubuh bersabun ibunya.
Abaya yang dikenakan Janti terciprat air, bagian bawah ikut basah, namun biarkan saja.
“Lusa jangan lupa cicil hutang keluargamu! Sudah 2 tahun pun gak lunas-lunas.” Darti merangkul pundak menantunya yang tengah berusaha membopong.
“Iya, Bu,” jawab lirih. Diangkatnya wanita telah selesai dimandikan, selanjutnya dibantu berpakaian.
“Kalau bukan karena Herlan, mana mau aku memberi pinjaman tanpa bunga. Semisal kuterapkan seperti di bank, hutang 56 juta itu bisa jadi ratusan. Bersyukurlah dirimu bersuamikan putraku yang terlanjur cinta sampai mengesampingkan status derajat kalian bak langit dan bumi,” masih saja dia mencemooh.
Ya, perbedaan mereka sungguh mencolok. Herlan dari keluarga kaya. Dia berpendidikan, pengusaha toko bangunan sudah memiliki 4 cabang, warisan turun-temurun dari kakek pihak ibu.
Sedangkan Arjanti, keluarganya sederhana. Ayah seorang petani menggarap sawah maupun kebun tetangga, dan Ibunya menjadi buruh memetik daun teh di desa mereka.
Janti mendudukkan ibu mertua di atas kasur, lalu bergerak gesit mengambil pakaian kering dan dalaman.
Tangannya lincah dengan mulut tertutup tak sepatah kata terucap. Dia sudah terbiasa dihina, dijadikan tempat pelampiasan teruntuk wanita yang telah bertahun-tahun lamanya absen melayani suami dikarenakan ketidakmampuan memberi kepuasan.
Ketika Darti sudah berpakaian lengkap, rambut disisir rapi, dia kembali bertitah. “Bawa aku ke depan lagi!”
Tanpa menjawab menggunakan lisan, namun langsung menarik kursi roda mendekatkan ke tepian kasur. Kembali badan yang bagian mulut sering mengeluarkan kata-kata beracun, diangkat lalu didudukan.
“Jangan kamu ganggu Herlan sama Saila. Kan sudah puas dulu dimesrai, saatnya sekarang mengalah demi kelahiran penerus untuk keluarga Doko,” katanya tanpa perlu repot-repot menjaga perasaan wanita yang setengah mati menahan gejolak hati.
Darti mulai bercengkrama dengan besannya, sementara para tamu sudah pada pulang, tinggal keluarga inti saja.
Arjanti melirik jam dinding. ‘Sudah pukul setengah satu siang, dan telah 2 jam mereka diatas.’
Dia butuh tempat sunyi untuk menepi, menenangkan hati, namun terhalang pekerjaan perlu diselesaikan sesegera mungkin.
Seraya menahan lara, Janti membereskan peralatan makan kotor dengan dibantu Astuti.
Dalam diam, dicucinya piring-piring bertumpuk dalam kitchen sink.
“Kamu mau mandi busa?!” tegur wanita berbokong lebar, padat naik ke atas, serasi dengan buah dada berukuran besar juga.
“Eh ....” Ia menunduk dan langsung terkejut melihat bak cuci piring tertutup busa sabun.
“Maaf, Mbak,” ucapnya merasa bersalah. Terburu-buru menarik saringan dasar bak cuci piring, lalu mulai membilas mangkuk kaca.
Astuti memutar malas bola matanya. Terang-terangan menelisik dari samping penampilan berantakan istri pertama sang tuan muda. Dari rambut panjang keluar ikatan, lalu lengan dan bagian bawah abaya basah.
"Coba deh kamu perawatan. Umur masih 23 tapi kelihatan berusia 30 tahunan. Percuma punya suami kaya, kalau gaya berpakaian ketinggalan zaman," sindirnya berani. Sama sekali tidak sungkan akan status Arjanti di rumah ini.
"Untuk apa, Mbak? Sehari-hari cuma di rumah, belum lagi ngurusin Ibu, masak buat keluarga. Suamiku juga gak ada protes," balasnya santai.
“Sikapmu ini yang buat mereka seenak jidat mengatai. Gak ada aura nyonya sekali dalam dirimu, pantasnya disamakan dengan babu. Malah lebih menarik aku dalam berpenampilan,” kritiknya tajam.
“Daripada makan ati, tinggal satu rumah dengan madumu, terus Herlan sudah menunjukkan tanda-tanda berat sebelah, dan didukung pula ayah dan ibunya, mending mundur sebelum lebih dalam lagi dia menorehkan luka,” niatnya menasehati, tetapi suaranya sarat mengejek.
“Mbak, jangan terlalu mencampuri urusan rumah tanggaku. Mas Herlan janji akan adil, bisa jadi sikapnya sekarang karena Saila masih baru, perlu waktu untuk beradaptasi,” tetap membela sang suami.
“Cihh … adil?” Astuti tertawa geli. Dia maju sampai perut menekan pinggir meja dapur. “Mengusirmu dari kamar utama, enggan membela seperti biasa, malah terkesan cuek, membiarkan kamu dipermalukan di hadapan para tamu, apa itu termasuk adil, Janti?”
Gerakan mencuci piring terhenti. Ia biarkan air keran membasahi jemari. Tatapannya menembus kaca jendela dapur. Janti memperhatikan seekor Kupu-kupu coklat bintik putih yang hinggap di bunga Mawar sedang mekar.
“Teruslah membohongi diri sendiri, dan silahkan rasakan sedikit demi sedikit rasa sakit nantinya membuat hatimu sekarat. Pada saat itu tiba, tinggal penyesalan yang tersisa.” Astuti pergi dari sana, tidak berminat membantu pekerjaan nyonya muda.
Janti menunduk, melanjutkan mencuci gelas kaca. ‘Kamu salah Mbak, mungkin bukan penyesalan yang akan kutemui, bisa jadi kerelaan dan kelegaan hati.’
Selesai mencuci peralatan makan, dilanjut menyapu lantai bagian dapur, baru setelah itu mengepel.
Bagian luar dibereskan oleh Astuti, pembantu berumur 35 tahun itu paling suka dipuji rajin, pintar, dan jika sang nyonya sedang berbaik hati, maka dia diberi sedikit uang ataupun makanan ringan.
Hampir setengah jam kemudian, pekerjaan Arjanti telah selesai. Dia menimbang-nimbang seraya berhitung dalam hati, tiap sebentar memandangi jam dinding.
Rasa tidak nyaman mengenakan pakaian sempat basah bercampur keringat, membuat kulit badannya mengalami gatal ringan.
“Janti, Sayang, kamu dimana?”
Wanita berdiam diri di dapur, mendengar suara Herlan memanggil. Janti pun bergegas ke sumber suara — melewati ruang makan, lalu sekat ruang tamu, dan tiba-tiba langkahnya berhenti saat melihat dua koper di dekat tangga.
Herlan memasukkan ponsel ke dalam saku celana setelah memeriksa pesan masuk dari karyawan tokonya.
Mendapati raut bingung, sorot mata menyimpan tanya sang istri pertama, dia lantas menjelaskan.
“Mas sama Saila mau pergi bulan madu. Gak lama, cuma 4 hari,” ucapnya seperti mengungkapkan hal ringan.
‘Baru beberapa jam kabul terikrar, namun sudah lebih dari dua kali kamu melanggar janjimu sendiri yang mengatakan akan berlaku adil Mas,’ batinnya berbisik, sedangkan netra menelisik sosok yang bergelayut di lengan kekar suaminya.
Janti maju sampai dapat melihat jelas tanda kemerahan di leher pria memiliki tinggi 168 sentimeter, kulit kuning langsat, wajah mulus tanpa brewok maupun kumis. “Kenapa gak ngomong dulu ke aku, Mas? Mengapa hal seperti ini diputuskan seorang diri?”
Seketika tubuh Herlan menegang, gesture tenang pun tampak gelisah samar.
Saila melakukan gerakan disengaja demi memperlihatkan sesuatu yang menggoyahkan keyakinan Arjanti tentang — cinta suaminya takkan pernah surut apalagi kering.
.
.
Bersambung.
sm org yg pling plang,yg belum pitus sm masa lalunya nanti kamu jd pelampiasan,semangat Janti