NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1.Aliran Hangat

Aroma khas rumah sakit, perpaduan antara karbol, antiseptik, dan kecemasan yang samar selalu menjadi bagian dari napas Lentera selama satu tahun terakhir.

Sebagai seorang mahasiswi yang sedang menempuh fase profesi dokter atau koas, Unit Gawat Darurat (UGD) adalah medan perang yang sesungguhnya.

Malam itu, jarum jam di dinding putih UGD Rumah Sakit Pusat Kota menunjukkan pukul 02.15 dini hari.

Ruangan tampak relatif tenang, hanya menyisakan suara ritmis dari monitor dan pendingin ruangan yang menusuk tulang.

Tera, begitu gadis itu biasa dipanggil, sedang duduk di meja konter perawat. Jari-jarinya yang lentik bergerak cepat di atas papan ketik, menyelesaikan laporan anamnesis pasien terdahulu.

Wajahnya yang polos tampak lelah, gurat hitam samar menggantung di bawah kelopak matanya yang indah. Namun, kecerdasannya tidak meredup sedikit pun.

Di tengah rasa kantuk yang mendera, otaknya tetap bekerja dengan presisi seorang calon dokter masa depan.

Bagi Lentera, setiap detik di tempat ini adalah pertaruhan yang harus ia bayar tuntas demi pengorbanan kedua orang tuanya di rumah kontrakan sempit pinggiran kota.

Keheningan malam itu pecah seketika saat pintu ganda UGD dihantam terbuka dari luar.

"Pasien trauma berat! Siapkan tindakan darurat sekarang!" teriak seorang petugas ambulans dengan napas tersengal-sengal.

Dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang tampak robek dan bernoda darah mendorong brankar masuk dengan kecepatan tinggi.

Di atas brankar itu, terbaring seorang laki-laki yang membuat seluruh ruangan mendadak mencekam.

Lentera langsung melompat dari kursinya. Jiwa medisnya bergejolak, mengalahkan seluruh rasa kantuk dalam sekejap.

Sebagai koas yang sedang berjaga, dia adalah orang pertama yang berlari mendekati brankar tersebut sebelum para dokter spesialis turun dari lantai atas.

Namun, begitu matanya menangkap kondisi pasien, langkah kaki Tera sempat tertahan sedetik. Dia tercengang.

Lelaki di atas brankar itu bertubuh tegap dan jangkung, mengenakan kemeja sutra hitam yang kini telah hancur bersimbah darah.

Wajahnya yang memiliki rahang tegas dan struktur luar biasa tampan layaknya pahatan marmer, kini pucat pasi bagai mayat.

Namun, yang membuat Tera terkesiap bukanlah ketampanannya, melainkan luka-luka yang dideritanya.

Itu bukan luka kecelakaan biasa. Ada bekas sayatan halus namun sangat dalam di sepanjang dadanya, dengan pinggiran luka yang berwarna kehitaman seperti terbakar, bukan karena api, melainkan seperti efek reaksi kimia atau energi yang tidak masuk akal.

Pola lukanya tidak wajar, tidak menyerupai senjata tajam ataupun peluru yang pernah Lentera pelajari di bangku kuliah kedokteran umum.

"Detak jantung tidak stabil! Tekanan darah menurun drastis, 70 per 40!" seru Tera lantang sambil memeriksa denyut nadi di leher pria itu.

Kulit pria itu terasa sedingin es, lelaki misterius itu berada di antara ambang sadar dan tidak, matanya terpejam rapat, tetapi alisnya bertaut menahan rasa sakit yang teramat sangat.

Bibirnya yang mulai membiru bergerak-gerak samar, memuntahkan igauan yang lirih namun penuh tekanan emosional.

"N U G R A H A _" bisik pria itu dengan suara serak yang bergetar.

Lentera mendekatkan telinganya demi mendengar igauan tersebut.

Nugraha? Apakah itu namanya? Atau nama keluarganya? Sebelum Tera sempat menganalisis lebih jauh, sepasang mata lelaki itu tiba-tiba terbuka sedikit.

Manik matanya berwarna gelap, tajam, dan menyimpan kilatan magis yang begitu pekat, membuat Tera terpaku selama beberapa saat.

Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, tangan kanan pria itu yang besar dan kokoh tiba-tiba melesat ke atas.

Dengan gerakan refleks yang tak terduga, dia menyambar pergelangan tangan kanan Tera.

Cengkeramannya begitu kuat, sangat berbanding terbalik dengan kondisinya yang sedang sekarat. Tera meringis kecil, merasakan tulang pergelangan tangannya seolah hendak remuk.

"Tuan, lepaskan, saya harus memeriksa luka Anda," ucap Tera mencoba menenangkan dengan suara selembut mungkin.

Namun, sedetik kemudian, tubuh lelaki itu tiba-tiba bergetar hebat.

"Pasien kejang! Segera tindakan!" teriak Lentera panik.

Pria itu mengalami serangan kejang yang sangat aneh. Tubuhnya melengkung kaku di atas brankar, otot-otot lehernya menegang hingga urat-uratnya menonjol.

Kejang itu terjadi berulang-ulang dengan frekuensi yang sangat cepat, memicu alarm dari bedside monitor berbunyi nyaring, memekakkan telinga.

Seluruh petugas medis di UGD langsung berlarian panik mendekati brankar.

"Lepaskan tangannya, Dok! Kita harus memasang selang oksigen!" seru seorang perawat pria mencoba memisahkan tangan pria itu dari pergelangan tangan Lentera.

Dua orang perawat mencoba menarik jari-jari pria itu, tetapi anehnya, genggaman tangan pria misterius itu justru semakin mengunci kuat pada tangan Lentera.

Dia seperti sedang berpegangan pada satu-satunya tali penyelamat di tengah jurang kematian.

Melihat kepanikan yang kian memuncak dan kondisi vital pasien yang semakin drop menuju garis merah kematian, Tera mengambil keputusan nekat.

Alih-alih menarik tangannya mundur, Tera justru membalas genggaman itu. Dia menggunakan tangan kirinya untuk menangkup tangan pria tersebut, lalu menggenggamnya dengan amat kuat, menyalurkan seluruh keyakinan dan niat tulus dari lubuk hatinya untuk menyelamatkan nyawa pria ini.

"Tenang, Anda aman di sini. Bertahanlah," bisik Tera dengan penuh ketulusan, menatap langsung ke arah wajah pria yang sedang kesakitan itu.

Tepat pada detik itu, sebuah keanehan yang berada di luar nalar medis terjadi.

Tera merasakan sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Ada aliran hangat yang mendadak muncul dari dalam dadanya, mengalir deras melewati bahu, turun ke lengan, dan memancar keluar begitu saja melalui telapak tangannya yang sedang menggenggam erat tangan pria itu. Aliran itu terasa seperti sengatan listrik lembut yang menenangkan, hangat, dan sangat nyaman.

Seketika itu juga, kejang hebat yang berulang pada tubuh lelaki itu mendadak berhenti.

Tubuhnya yang semula sekaku papan perlahan-lahan mengendur dan menjadi tenang kembali.

Napasnya yang memburu dan terputus-putus berubah menjadi embusan napas yang teratur.

Garis gelombang pada monitor yang tadinya bergerak acak dan kacau, perlahan membentuk grafik yang stabil.

Angka tekanan darahnya merangkak naik dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi seorang pasien trauma berat.

Lentera tertegun, menatap tangannya sendiri dengan mata membelalak.

Apa yang baru saja terjadi? Aliran hangat apa ini?, belum sempat Tera mencerna kejadian tersebut, pintu ganda UGD kembali terbuka dengan dentuman yang lebih keras.

Kali ini, sekelompok dokter spesialis senior, kepala divisi UGD, bahkan Direktur Utama Rumah Sakit yang mengenakan jas dokter lengkap berlari tergesa-gesa dengan wajah yang memucat pasi oleh ketakutan.

Di belakang mereka, mengiringi sepasang paruh baya berpenampilan luar biasa anggun dan berwibawa, memancarkan aura kekuasaan yang kuat.

"Minggir! Semuanya menyingkir dari sana!" teriak dokter senior dengan suara panik yang bergetar hebat.

Dokter senior itu melihat Lentera yang masih berdiri paling dekat dan memegang tangan pasien. Wajah sang dokter senior seketika berubah murka bercampur panik yang luar biasa.

"Hei, Anak Koas! Apa yang kamu lakukan?! Menjauh dari dia! Jangan berani-berani menyentuh pasien itu!" bentak dokter senior itu sambil berlari mendekat dan langsung menyentak bahu Lentera hingga gadis itu terhempas mundur beberapa langkah.

Lentera hampir saja kehilangan keseimbangan jika tidak berpegangan pada tiang infus di dekatnya.

Pergelangan tangannya akhirnya terlepas dari cengkeraman pria itu, dan seketika itu juga, aliran hangat misterius yang dirasakannya tadi lenyap tanpa bekas.

"Identitas sudah dikonfirmasi! Dia bukan orang sembarangan! Cepat bawa ke ruang operasi utama, sekarang!" seru sang Direktur Utama RS yang ikut turun tangan mendorong brankar.

Di tengah hiruk-pikuk dan kepanikan para petinggi rumah sakit, Tera mendengar dengan sangat jelas bagaimana para dokter senior dan perawat berulang kali meneriakkan sebuah nama dengan nada penuh penghormatan dan ketakutan yang mendalam.

"Tuan Sean! Tolong bertahan, Tuan Sean!"

"Siapkan jalur VVIP! Blokir seluruh lantai lima untuk keluarga Nugraha!"

Tera berdiri mematung di sudut ruangan yang mendadak sepi setelah rombongan itu pergi.

Dia melihat sisa-sisa darah yang berceceran di lantai UGD, lalu menatap telapak tangannya sendiri yang masih terasa sedikit hangat.

"Sean, Tuan Sean" gumam Tera lirih, mencoba mengingat nama yang diteriakkan tadi, serta igauan pria itu tentang nama NUGRAHA.

Namun, yang membuat pikiran Tera terus berputar bukanlah status sosial pria bernama Sean itu, melainkan misteri medis yang baru saja ia saksikan dengan matanya sendiri.

Luka bakar kehitaman yang tidak wajar, kejang yang langsung mereda hanya dengan sebuah genggaman tangan, dan aliran hangat yang keluar dari dalam tubuhnya.

Lentera menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila.

Yang sudah mulai penasaran yuk komen yang banyak ya. Jangan lupa LIKE VOTE dan HADIAH nya.

1
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
Nurul Ambar
akhirx....
Nurul Ambar
sean datang
Nurul Ambar
deg deg an smga baik2 saja
Mety Haula
kayanya nanti muksnya buksn retak lahi malah berbalik kebelskang tenang tera tuan sean psdti datang apa yg nyusup ke rs dr klan hitam blm ketahusn ya
Mety Haula
alhamdullilah akhirnya yera luluh juga hatinya semoga kedepannya berjalan mulus langsung tancap mks
Novita Sari
Alhamdulillah tera menerima sean.....
Endang Hidayanti
so sweet bgt Sean, 😍
Novita Sari
si muka retak salah pilih lawan
Novita Sari
tenang tera kekuatan sean udah sempurna..
Novita Sari
si muka retak gak kapok kapok muka udah jelek masih sok sokan
Tri Hastuti
baru bab awal udh tegang
sean anaknya siapa ini?
Rita Susanti
sedikit banget sih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!