NovelToon NovelToon
38.000 Langkah Ke Hatimu

38.000 Langkah Ke Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Time Travel
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.

Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.

Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 — Pesan Terakhir di Sore Itu

Seminggu berlalu dan Bima tidak muncul. Setiap sore aku datang ke taman dengan harapan dia sudah ada di sana menunggu. Tapi bangku kayu itu selalu kosong. Angin berhembus sama seperti biasanya, pohon-pohon bergoyang pelan, tapi suasana terasa sepi sekali tanpa kehadirannya. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa dia mungkin sedang sibuk atau ada hal yang harus diselesaikan. Semakin hari semakin berat rasanya melangkah menuju tempat itu, tapi aku tetap pergi setiap hari. Bagaimana kalau dia datang saat aku tidak ada di sana? Aku tidak mau dia merasa ditinggal saat dia mungkin paling membutuhkan seseorang.

Hari kelima tanpa kehadirannya aku menemukan selembar kertas terselip di bawah batu kecil di sisi bangku tempat kita biasa duduk. Tulisan tangannya aku kenal betul. Tanganku gemetar saat mengambilnya dan membacanya dengan hati yang berdebar.

"Maaf aku belum bisa datang. Jangan khawatir ya. Aku baik-baik saja. Hanya sedang harus menyelesaikan bagian terberat dari 38.000 langkah ini. Tunggu aku sebentar lagi. Aku hampir sampai. Hanya sedikit jarak yang tersisa."

Aku memeluk kertas itu di dadaku. Dia baik-baik saja. Dia masih berjuang. Dia belum menyerah. Kata-katanya memberiku kekuatan yang luar biasa sore itu. Aku tidak sendirian dalam perjuangan ini. Dia juga sedang berusaha dari sisinya sendiri. Aku tersenyum lebar untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir. Ternyata dia tidak lupa. Dia masih ingat janjinya. Dia masih berjalan menuju aku, walau aku tidak melihatnya.

Hari-hari berikutnya menjadi lebih ringan. Aku tetap datang ke taman setiap sore. Kadang ada pesan baru yang kutemukan tersembunyi di balik batu atau di sela akar pohon besar di dekat bangku itu. Kadang hanya satu kalimat pendek, kadang sedikit lebih panjang. Dia bercerita tentang perjalanannya, tentang betapa melelahkannya langkah yang sedang ia jalani, tapi selalu diakhiri dengan janji bahwa dia akan datang. Semakin lama aku membaca tulisan-tulisannya semakin aku mengerti bahwa 38.000 langkah itu bukan jarak fisik semata. Itu adalah perjuangan batin yang berat, pengorbanan yang tidak terlihat mata, dan keberanian untuk tetap melangkah meski jalannya terjal dan sepi.

Suatu sore pesannya berbeda dari biasanya. Tulisan tangannya sedikit bergetar seolah ditulis dengan terburu-buru atau dengan tangan yang gemetar.

"Besok adalah hari yang menentukan Aurora. Kalau semuanya berjalan lancar aku akan datang sore itu. Tepat waktu. Jam yang sama. Di tempat yang sama. Tolong tunggu aku ya. Ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini akhir dari perjalananku dan awal dari cerita kita. Tolong jangan pergi sebelum aku datang. Aku janji aku akan sampai."

Jantungku berdebar keras saat selesai membacanya. Besok. Akhirnya dia akan datang. Akhirnya semua rahasia itu akan terungkap. Aku tidur dengan perasaan campur aduk antara senang luar biasa dan cemas yang tak bisa dijelaskan. Malam itu terasa sangat panjang. Aku terus membayangkan bagaimana wajahnya saat dia berdiri di depanku besok sore. Apa yang akan dia katakan? Bagaimana ceritanya dimulai dan bagaimana berakhir? Tidurku tidak nyenyak dan aku bangun pagi dengan perasaan tidak tenang yang mendadak kuat sekali.

Hari itu cuaca cerah sekali. Langit biru bersih tanpa awan. Sinar matahari hangat menyentuh bumi seolah ikut menyambut hari yang kutunggu lama ini. Aku berjalan menuju taman dengan hati yang berdebar kencang. Aku datang lebih dari satu jam lebih awal dari waktu biasanya. Aku tidak sabar. Setiap menit terasa berjalan sangat lambat. Aku duduk di bangku kayu itu sambil melihat ke arah jalan masuk berulang kali. Semua orang yang lewat aku perhatikan dengan harapan itu adalah dia. Tapi belum ada sosok yang kucari.

Jam yang kutunggu sudah lewat sepuluh menit. Dua puluh menit. Tiga puluh menit. Dia belum datang. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa dia mungkin terhalang sesuatu. Maka aku tunggu lagi. Satu jam berlalu. Matahari mulai turun perlahan ke arah barat. Cahayanya berubah menjadi keemasan yang lembut dan indah, tapi hatiku terasa semakin gelap dengan setiap menit yang berlalu tanpa kehadirannya. Dia tidak pernah terlambat selama ini. Kalau dia bilang akan datang pada jam tertentu maka dia akan ada di sana tepat waktu. Sesuatu pasti terjadi.

Saat aku mulai berniat pulang dengan perasaan hancur, aku melihat seseorang berlari ke arahku. Bukan Bima. Itu seorang cowok lain yang wajahnya terasa asing tapi aku yakin belum pernah bertemu sebelumnya. Dia terlihat terengah dan keringat membasahi dahinya. Dia berhenti di depanku dan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kesedihan dan ketakutan di matanya yang membuat kakiku terasa lemas seketika.

"Kamu Aurora kan?" tanyanya dengan suara yang bergetar.

Aku mengangguk pelan, mulutku terasa kering. "Iya aku sendiri. Kamu siapa? Di mana Bima? Dia janji akan datang hari ini."

Cowok itu menunduk dalam, kedua tangannya meremas di depan tubuhnya seolah menahan tangis yang kuat. Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari tasnya dan menyodorkannya kepadaku dengan kedua tangan yang gemetar.

"Aku Rian. Teman Bima... dia... dia tidak bisa datang hari ini."

Dunia seolah berhenti berputar saat itu. Suara di sekitarku menghilang seketika. Aku menatap bungkusan di tangannya lalu menatap matanya dengan takut-takut.

"Maksudmu tidak bisa datang? Dia sakit? Dia di mana? Aku akan menemuinya saja," kataku dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Rian menggeleng pelan, air mata jatuh di pipinya saat dia menatapku dengan penuh belas kasihan. "Maaf Aurora. Bima kecelakaan tadi siang. Dia sedang dalam perjalanan ke sini. Dia hampir sampai... dia bilang dia hanya butuh sedikit waktu lagi untuk menyelesaikan langkah terakhirnya."

Kata-katanya menembus dadaku seperti pisaunya tajam. Aku mundur selangkah, kakiku terasa tidak kuat menopang tubuhku. Bungkusan itu terasa berat sekali di tanganku. Rasanya udara di sekitarku menipis dan aku sulit bernapas.

"Tidak mungkin. Dia janji. Dia bilang dia akan datang. Dia bilang ini hari pertemuan kita. Dia bilang dia hampir sampai. Dia tidak akan berbohong padaku," kataku berulang kali, suaraku pecah di akhir kalimat.

Rian mendekat seolah ingin menenangkan tapi dia tahu tidak ada kata yang cukup untuk meredakan rasa sakit ini. "Dia tidak berbohong Aurora. Dia memang hampir sampai. Dia berjuang sampai detik terakhirnya untuk menepati janjinya. Di dalam tasnya polisi menemukan peta dengan lokasi taman ini yang ditandai dengan lingkaran merah besar. Di saku jaketnya ada foto kamu yang dia bawa ke mana-mana. Dia benar-benar berjalan 38.000 langkah ini menuju kamu. Dia tidak pernah menyerah."

Aku membuka bungkusan itu dengan tangan yang gemetar hebat. Di dalamnya ada kotak kecil yang pernah dia tunjukkan padaku dulu. Dan ada satu surat terakhir yang ditulisnya pagi itu, seolah dia sudah tahu bahwa mungkin dia tidak akan sempat mengucapkannya langsung kepadaku. Tinta tulisannya masih terlihat jelas dan rapi.

"Kalau kamu membaca ini berarti aku belum sampai tepat waktu. Maaf ya. Aku berusaha sekuat tenaga. Aku benar-benar berusaha. Tapi ternyata takdir punya jalannya sendiri. Buka kotak itu. Di dalamnya ada jawaban atas semua pertanyaanmu. Terima kasih sudah menjadi tujuan perjalananku Aurora. Terima kasih sudah menungguku. Terima kasih sudah percaya padaku. Aku mungkin tidak bisa berdiri di depan matamu, tapi aku sudah sampai di hatimu kan? Di sanalah aku akan tinggal selamanya. Selamat menyelesaikan ceritamu tanpaku. Tapi ingat satu hal. Aku mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini. Sampai di pertemuan kita yang lain, di tempat yang tidak ada perpisahan di sana. Selamat tinggal untuk sementara waktu, langkahku yang terindah."

Tangisku pecah sepenuhnya di bawah langit sore yang indah itu. Bunga-bunga liar yang dulu dia berikan masih ada di kamarku, tapi orang yang memetiknya sudah pergi. Bangku kayu itu masih berdiri tenang, tapi sosok yang selalu menemaninya kini hanya tinggal kenangan. Aku tidak tahu apakah aku lebih beruntung pernah dicintai sedemikian dalam meski sebentar, atau lebih terluka karena harus kehilangan seseorang yang baru saja menjadi bagian terpenting dari duniaku. Yang aku tahu satu hal. 38.000 langkah itu bukan sekadar angka. Itu adalah jarak yang dia tempuh dari dunianya ke duniaku. Dan di langkah terakhirnya, dia memang sampai. Bukan di tempat janjian itu, tapi di hatiku. Di sana dia sudah menetap, dan tidak ada siapa pun yang bisa memisahkan kita dari sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!