Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Ujian di Perempat Final
Atmosfer di Arena Agung Pegunungan Shiwan mencapai titik didih. Babak eliminasi massal telah usai, menyisakan hanya enam belas petarung terbaik yang berhak melangkah ke babak perempat final Turnamen Antar-Klan (Tian Mo Bi-Wu).
Di panggung utama yang kini telah diperbaiki dan diperkuat dengan lapisan batu granit tahan benturan, bendera-bendera dari delapan klan tersisa berkibar megah ditiup angin lembah.
Namun, perhatian puluhan ribu penonton di tribun tidak lagi tertuju pada murid-murid elit klan atas. Tatapan semua orang terpusat pada satu sudut: barisan jubah hitam milik Ordo Roda Bintang.
"Babak Pertama Perempat Final!" suara Instruktur Dokgo menggelegar lewat corong pendorong Ki. "Antara perwakilan Keluarga Cheon, Cheon Ryeon... melawan perwakilan khusus dari Divisi Pengawal Tetua, Tetua Muda Ma Gwang!"
BAM!
Sorak-sorai penonton langsung meledak, bercampur dengan bisik-bisik tegang di seluruh tribun.
"Ma Gwang?! Bukankah dia sepupu tertua Ma Cheon-Wo yang sudah masuk ke Ranah Master (Ki Projection) tingkat awal?!"
"Gila! Dia bukan lagi murid Akademi biasa! Usianya sudah tujuh belas tahun dan dipanggil khusus dari pasukan pengawal Istana Utama!"
"Klan Ma beneran tidak tahu malu! Mereka mengirim master tingkat dewasa cuma buat menjatuhkan seorang anak usia sepuluh tahun!"
Di atas panggung batu, seorang pemuda bertubuh tinggi besar dengan jubah merah gelap melompat turun dari tribun kehormatan. Langkah kakinya begitu berat hingga membuat lantai granit bergetar halus. Di bahunya tersilang sebuah pedang raksasa (Greatsword) berbahan besi kelam yang tebal.
Aura Ki berwarna merah darah membumbung dari tubuh Ma Gwang, memancarkan tekanan hawa panas yang sanggup membuat murid-murid di barisan terdepan tribun kesulitan bernapas.
Ranah Master (Ki Projection / Gang-Qi)!
Berbeda dengan Ranah Pembentukan yang hanya bisa memadatkan Ki di dalam tubuh, seorang master di Ranah Master sanggup memproyeksikan Ki keluar tubuh menjadi aura pelindung atau tebasan energi berdaya hancur tinggi.
Ma Gwang mencabut pedang raksasanya dengan satu tangan, mengarahkannya ke muka Ryeon dengan tatapan penuh kebencian.
"Bocah sampah!" bentak Ma Gwang dengan suara berat bergemuruh. "Kau sudah mempermalukan Klan Ma di depan seluruh klan! Hari ini, aku tidak cuma bakal mematahkan tanganmu... tapi aku bakal memotong sirkulasi Dantianmu sampai kau jadi cacat seumur hidup!"
Di sudut panggung yang berseberangan, Cheon Ryeon melangkah maju dengan santai. Dia mengenakan jubah hitam polos tanpa zirah luar yang mencolok. Tangan kanannya memegang sebilah pedang kustom tipis buatan tungku mikro-karbonnya bersama Jin-Bao dan Son-mi.
"Bicaramu terlalu banyak untuk seseorang yang kestabilan koordinasi ototnya kacau," sahut Ryeon datar, matanya menatap Ma Gwang tanpa ada riak emosi sedikit pun.
Di tribun khusus penonton faksi luar, Jaegal So-yeon menyilangkan tangannya di dada. Matanya menatap tajam ke arah Ryeon.
Ranah Master awal punya ketahanan aura eksternal yang tebal, analisis So-yeon dalam hati. Serangan totokan titik saraf biasa tidak bakal bisa menembus dinding Ki Gang-Qi milik Ma Gwang. Bagaimana caramu menembus pertahanan mutlak itu, Ryeon?
DANGGG!
Suara gong penanda dimulainya pertempuran bergema nyaring!
"Mati kau, Bocah!"
BOOM!
Ma Gwang menghentakkan kakinya. Lantai granit di bawahnya hancur berkeping-keping saat tubuh besarnya menerjang maju bagaikan meriam merah! Pedang raksasanya diayunkan mendatar, memproyeksikan tebasan aura Ki merah sepanjang tiga meter yang sanggup membelah benteng batu!
[Jurus Pedang Api Pembelah Gunung!]
Tebasan energi merah itu meluncur kilat memotong udara dengan suara raungan angin yang memekakkan telinga!
Namun, alih-alih melompat mundur atau menangkis, Ryeon justru melangkah maju lurus menuju arah tebasan energi tersebut!
"Dia gila?! Dia mau menabrakkan diri ke tebasan Gang-Qi?!" jerit para penonton di tribun histeris.
Di mata analitis Cheon Ryeon yang bekerja kilat bagaikan komputer tempur, tebasan energi merah itu tidak memiliki kepadatan yang merata.
Frekuensi gelombang energi: 420 Hertz. Titik lemah konduksi: bagian tengah sabetan di mana dorongan energi bergetar lebih lambat akibat beban pedang raksasa, kalkulasi otak Ryeon selesai dalam sepersekian mikrodetik.
Saat tebasan aura merah itu tinggal berjarak sepuluh sentimeter dari dadanya, Ryeon mengangkat pedang tipis mikro-karbonnya.
Dia tidak mengadu kekuatan Ki. Ryeon memutar pergelangan tangannya dengan Sudut Aerodinamis 35 Derajat, lalu menggetarkan mata pedangnya dengan frekuensi yang menyamai getaran energi Ma Gwang!
TRANGGG!
Terjadi hal yang tidak masuk akal!
Tebasan aura Ki merah yang tadinya berdaya hancur luar biasa... mendadak terbelah menjadi dua bagian di ujung mata pedang Ryeon, terbias meluncur menghantam udara kosong di kiri dan kanan Ryeon tanpa menyentuh jubah hitamnya sedikit pun!
Prinsip Defleksi Resonansi Gelombang!
"A-apa?!" Ma Gwang terbelalak kaget setengah mati saat melihat jurus andalannya terbelah begitu saja bagaikan air ditusuk pisau.
Sebelum Ma Gwang sempat menarik kembali pedang raksasanya, Ryeon sudah meluncur menembus celah bias energi tersebut. Kecepatannya melampaui batas refleks mata manusia biasa!
"Aura pelindungmu tebal," bisik Ryeon dingin yang tiba-tiba sudah berada tepat di depan dada Ma Gwang. "Tapi aura itu terhubung langsung dengan sirkulasi napas dada atasmu."
Ryeon menancapkan ujung pedang tipisnya tepat di titik celah pelindung dada zirah Ma Gwang—titik persimpangan antara tulang dada dan meridian utama Dantian.
Ryeon melepaskan Sistem Kompresi Kinetik Gelombang Mikro!
BZZZZZT!
Getaran kinetik berfrekuensi tinggi menjalar menembus aura pelindung Ki Ma Gwang, menghantam langsung ke dalam organ Dantiannya dari dalam tanpa perlu merusak jaringan kulit luar!
"GUAAGH!"
Ma Gwang menyemburkan darah segar dari mulutnya. Aura merah membara di tubuhnya padam seketika bagaikan lilin ditiup angin badai. Pedang raksasanya terlepas dari genggamannya dan jatuh menghantam tanah dengan suara dentuman berat.
BRUK!
Tubuh raksasa master Ranah Master itu berlutut di depan kaki Ryeon, matanya melotot lebar membeku dalam rasa sakit luar biasa dan ketakutan yang tak tertahankan.
Ryeon menarik kembali pedang tipisnya, menyapukan ujung bilahnya ke udara untuk membersihkan sisa hawa panas, lalu menyarungkannya kembali dengan bunyi KLIK yang jernih.
"Kau terlalu mengandalkan ketebalan Ki," ucap Ryeon datar sambil menatap Ma Gwang yang terkulai lemas tak sadarkan diri di tanah. "Tanpa pemahaman struktur dan frekuensi... Ki-mu cuma benteng kertas yang gampang dibakar."
Keheningan yang luar biasa mencekam melingkupi seluruh Arena Agung Pegunungan Shiwan.
Tidak ada satu pun suara yang terdengar. Puluhan ribu penonton, para instruktur, hingga para Tetua Tinggi di tribun kehormatan berdiri membeku.
Seorang anak berusia sepuluh tahun... baru saja melumpuhkan seorang master Ranah Master dewasa hanya dalam satu serang tunggal yang tak masuk akal!
Di tribun penonton khusus, Jaegal So-yeon perlahan menyunggingkan senyum paling indah dan paling takjub dalam hidupnya. Tangannya mengepal rapat di balik lengan baju sutranya.
Dia membelah gelombang Ki dengan mengadu frekuensi getaran?! batin So-yeon gembira, dadanya berdebar kencang. Luar biasa! Teori sains dan biomekanikanya benar-benar melampaui batas pemikiran seluruh master di benua ini!
Di tribun kehormatan, Tetua Utama Akademi berdiri dari kursi ukirannya. Matanya memancarkan cahaya ketertarikan yang sangat dalam.
"Pengumuman!" teriak Tetua Utama sendiri dengan suara yang menggelegar menembus seluruh lembah. "Pemenang Babak Perempat Final... Cheon Ryeon dari Keluarga Cheon!"
BOOM!
Sorak-sorai dan teriakan gemuruh puluhan ribu penonton meledak seketika, mengguncang seluruh Pegunungan Shiwan! Nama Cheon Ryeon dan Ordo Roda Bintang dielu-elukan bagaikan legenda baru yang lahir di tanah Kultus Iblis!
Ryeon berbalik, melangkah tenang meninggalkan panggung pertarungan. Langkah pertamanya untuk menundukkan hierarki Kultus telah tuntas. Dan kini, seluruh benua Murim siap menjadi panggung utama bagi sang Jenderal Sains untuk merebut takhta tertinggi!