Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Sore di Taman Kota
Pukul lima sore lewat lima belas menit, mobil mewah Aris memasuki area parkir khusus di dekat Grand Central Park, taman kota paling megah dan populer di pusat kota.
Sore itu, suasana taman tampak sangat hidup dan menyenangkan. Langit beranjak jingga keemasan, memantulkan pendar matahari senja di atas permukaan kolam buatan yang dihiasi air mancur menari.
Banyak keluarga berjalan-jalan santai, anak-anak kecil bermain balon sabun, dan pasangan muda duduk di bangku taman menikmati angin sepoi-sepoi.
Aris memarkirkan mobilnya dengan rapi. Ia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Raya yang menggendong Cyla di depan dada menggunakan baby carrier modern berwarna abu-abu yang serasi dengan gaun peach-nya.
Raya melangkah keluar, menghirup udara sore yang segar dengan mata terpejam menikmati hembusan angin. Senyuman manis pun terukir di bibirnya.
"Wah... udaranya segar sekali! Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan suasana luar seperti ini," seru Raya gembira, matanya berbinar-binar menatap hamparan rumput hijau yang luas di hadapannya.
Aris berdiri di sampingnya, merentangkan jas mantel panjangnya untuk melindungi bahu Raya dari angin sore yang mulai mendingin. "Jangan terlalu lama melawan angin, Raya. Kalau kamu kedinginan, kita bisa langsung kembali ke mobil."
Raya menggeleng pelan, seraya mencubit gemas ujung hidung Aris dengan tangan kanannya, sebuah gestur manja yang sangat berani dan belum pernah ia lakukan sebelumnya.
"Aku tidak kedinginan, Aris. Aku sedang bahagia. Jadi, berhentilah bersikap seperti pengawal pribadiku yang kaku, dan jadilah kekasihku yang manis hari ini, ya?" bisik Raya manja sambil tersenyum menggoda.
Aris terpaku sejenak. Jantungnya bergemuruh luar biasa. Perlakuan manis itu membuatnya merasa seolah-olah ia benar-benar seorang pria yang paling dicintai di dunia ini.
Ia pun membalas dengan tersenyum tulus, lalu meraih jemari Raya yang lembut, dan menggenggamnya erat-erat di dalam genggaman tangannya.
"Baiklah, Nona Raya. Hari ini aku sepenuhnya milikmu dan Cyla," jawab Aris lembut.
Mereka mulai berjalan menyusuri jalur pejalan kaki yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. Cyla di dalam gendongan tampak sangat gembira, sambil menunjuk-nunjuk ke arah burung-burung merpati yang berterbangan di atas rumput.
"Papa... Bulung!" celoteh Cyla riang, seraya menunjuk ke depan.
Langkah kaki Aris mendadak sedikit tersendat mendengar panggilan itu, namun ia segera menguasai dirinya. Raya yang mendengar Cyla memanggil Aris dengan sebutan "Papa" tersenyum makin lebar, dan merasa keluarga kecil mereka tampak begitu nyata dan harmonis.
Mereka kemudian membeli tiga tangkup es krim vanila berbalut cokelat. Raya tertawa kecil saat setitik cokelat menempel di ujung hidung Aris, lalu dengan sigap Raya membersihkannya menggunakan tisu basah.
Aris membiarkan wanita itu melakukannya, seolah menikmati setiap detik kebahagiaan semu yang tercipta di sore yang indah itu.
Namun, di balik keindahan dan tawa renyah yang menghiasi sore itu, takdir tampaknya tidak pernah membiarkan Aris hidup sepenuhnya tenang di atas kebohongannya.
Tanpa disadari oleh Aris maupun Raya, di seberang area kolam buatan, di dekat deretan kafe terbuka yang dipadati pengunjung, seorang pria paruh baya berjas kasual sedang duduk menikmati kopi sorenya.
Pria itu adalah Pak Hartono, mantan manajer senior di perusahaan tempat mendiang Ardiansyah dulu bekerja secara lepas sebagai konsultan proyek teknik sipil.
Pak Hartono secara kebetulan sedang menghadiri pertemuan bisnis di sekitar taman tersebut. Saat ia mengalihkan pandangannya ke arah kerumunan orang yang berjalan di jalur pejalan kaki, matanya tak sengaja menangkap sosok seorang wanita bergaun peach yang berdiri tidak jauh dari air mancur.
Dahi Pak Hartono berkerut rapat. Ia menyipitkan matanya, dan mencoba mengenali siluet dan wajah wanita tersebut.
"Tunggu sebentar... Bukankah itu... Raya?" gumam Pak Hartono pada dirinya sendiri.
Ia ingat betul wajah Raya, karena beberapa bulan lalu, sebelum kecelakaan tragis itu merenggut nyawa Ardiansyah, Pak Hartono sempat datang berkunjung ke rumah kontrakan kecil Ardi untuk membicarakan proyek desain gambar teknik bersama suaminya.
Didorong oleh rasa penasaran, Pak Hartono beranjak dari kursi kafenya. Ia meninggalkan cangkir kopinya begitu saja, lalu berjalan cepat menembus kerumunan orang dab berusaha mendekati posisi wanita tersebut untuk memastikan apakah benar itu adalah Raya, istri dari mendiang Ardiansyah yang dikabarkan hilang ingatan dan selamat dari kecelakaan maut bersama anaknya.
"Raya? Nona Raya...?" panggil Pak Hartono dengan suara agak keras di antara bisingnya suara air mancur.
Suara panggilan asing itu terdengar sayup-sayup kerena terbawa angin sore, memotong gelak tawa dan obrolan ringan antara Aris dan Raya.
Raya yang sedang menunduk merapikan pita rambut Cyla, menghentikan gerakannya. Ia mendongak, dan mengerutkan dahinya karena bingung.
"Aris... apakah kamu dengar seseorang memanggil namaku?" tanya Raya menoleh pada Aris.
Aris yang tadinya sedang tersenyum lebar mendengarkan cerita Cyla, mendadak membeku. Seluruh otot di tubuhnya menegang kaku dalam sepersekian detik. Indra pendengarannya menangkap suara langkah kaki tergesa-gesa yang mendekat dari arah belakang mereka.
"Raya! Ya Tuhan, benar itu kamu, Nak!" suara seorang pria paruh baya terdengar makin jelas, dan kini hanya berjarak beberapa meter di belakang mereka.
Darah di tubuh Aris seolah berhenti mengalir. Tenggorokannya mendadak kering kerontang. Dengan gerakan patah-patah yang penuh ketegangan luar biasa, Aris memutar tubuhnya, dan melindungi Raya dengan berdiri di depan wanita itu secara refleks.
Di hadapan mereka, berdiri Pak Hartono dengan napas tersengal-sengal karena berjalan cepat. Pria paruh baya itu menatap Raya dengan mata terbelalak kaget, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pria berjas rapi yang berdiri tegap menutupi tubuh Raya.
Dan saat mata Pak Hartono mengenali wajah pria di hadapannya, keterkejutannya makin berlipat ganda.
"B-Bapak... Aris Prakasa?!" seru Pak Hartono terperanjat, menatap Aris dan Raya secara bergantian dengan penuh kebingungan. "P-Direktur Aris?! Kenapa Anda... bersama Nona Raya, istri dari almarhum Ardiansyah?!"
Nama Ardiansyah kembali diucapkan dengan lantang di tempat terbuka, memecah keheningan sore dan menghantam telinga Raya dan Aris bagaikan petir di siang bolong.
Raya membelalakkan matanya, kepalanya mendadak berdenging tajam. Kata-kata itu, istri dari almarhum Ardiansyah, memicu gelombang rasa sakit yang luar biasa di dalam kepalanya, seolah sebuah pintu besi berat yang selama ini dikunci rapat-rapat mulai mencoba mendobrak keluar dari dalam kesadarannya.
Aris merasakan dunianya runtuh seketika. Ancaman yang ia takuti, yang ia kira telah musnah bersama kepergian Surya, kini bangkit kembali dalam bentuk seorang kenalan lama dari masa lalu Ardiansyah yang muncul begitu saja di tengah keramaian taman kota.
Bersambung...