Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Suara deru mesin sepeda motor tua milik Burhan perlahan menghilang di ujung gang perkampungan.
Asap tipis sisa pembakaran knalpot masih membumbung pelan di udara pagi yang lembap.
Bagi Anisa, berlalunya suara motor itu bukanlah awal dari ketenangan hari, melainkan pertanda dimulainya siksaan mental yang saban hari harus ia panggul sendirian.
Baru saja ia menutup pintu depan dan menguncinya pelan, suara dentupan keras terdengar dari arah dapur.
Bu Salma pemilik rumah sewa berdinding papan tempat mereka menumpang sudah berdiri tegak dengan kedua tangan berkacak pinggang.
Matanya menatap Anisa tajam, seolah wanita muda itu adalah benalu yang mengotori kediamannya.
"Anisa! Kamu dengar tidak dari tadi saya memanggil?!" bentak Bu Salma, suaranya melengking membelah kesunyian pagi.
Anisa terlonjak kaget, meremas ujung daster kusamnya dengan gemetar. "M-maaf, Bu Salma. Saya baru saja mengunci pintu depan setelah Kang Burhan berangkat ke lokasi proyek."
"Alasan terus!" potong Bu Salma kasar. Ia melangkah mendekati Anisa, menunjuk muka wanita itu dengan telunjuknya yang berhias cincin emas tebal.
"Kamu kira dengan suamimu kerja di proyek itu, kamu bisa bersantai-santai di rumah saya? Lihat itu air galon belum diisi, sapu di pojokan tidak disentuh, dan ember cucian menumpuk! Kamu ini istri atau patung?"
Anisa menunduk dalam-dalam, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. "Saya baru mau mengerjakannya sekarang, Bu. Tadi saya harus menyiapkan bekal makan siang untuk Kang Burhan dulu
"Tidak usah bawa-bawa nama Burhan!" sergah Bu Salma makin tinggi. "Burhan itu orangnya polos, kasihan dia dapat istri tidak berguna seperti kamu! Kerjaannya cuma menghabiskan beras dan menumpang hidup di rumah saya. Ingat ya, sewa kontrakan bulan ini saja suamimu baru bayar setengah! Kamu pikir air dan listrik di sini gratis?"
"Kang Burhan berjanji sisanya akan dibayar begitu mandor membagikan upah mingguan hari Sabtu nanti, Bu..." bisik Anisa lirih, suaranya hampir tenggelam oleh ketakutannya sendiri.
"Janji, janji! Dari bulan lalu janjinya selalu sama!" Bu Salma mendengkus bersungut-sungut. Ia menyambar sapu ijuk di sudut dinding lalu melemparkannya hingga jatuh tepat di depan kaki Anisa.
"Sekarang bersihkan seluruh teras depan, cuci piring di dapur, dan jangan berani-berani istirahat sebelum semuanya bersih mengkilap! Kalau sampai ada debu sedikit saja di meja tamu, saya buang semua baju kamu ke jalanan!"
"Baik, Bu Salma... akan saya kerjakan sekarang," sahut Anisa pasrah.
Sepanjang pagi hingga menjelang siang, Anisa menyapu, mengepel, dan menyikat lantai dapur dengan tangan yang memerah akibat terpaan sabun pembersih yang keras.
Setiap kali Anisa lewat di depan kamar utama, Bu Salma selalu melontarkan cemoohan baru. Jika bukan soal masakan Anisa yang dianggap hambar, pasti soal penampilan Anisa yang diejek tidak tahu diri.
"Hei, Anisa!" panggil Bu Salma lagi saat melihat Anisa sedang membilas pakaian di belakang.
"Iya, Bu?" Anisa menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju.
"Kamu tidak ada niat untuk cari uang tambahan apa? Kasihan suamimu kepanasan di tapak proyek, angkat-angkat semen sampai punggungnya mau patah, sementara kamu cuma duduk manis di sini!" kata Bu Salma sambil mengunyah sirih, menatap Anisa dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
"Saya... saya sebenarnya mau bantu berjualan kue di depan gang, Bu. Tapi Kang Burhan melarang. Katanya lebih baik saya fokus menjaga rumah," jawab Anisa jujur.
Bu Salma tertawa mengejek, tawa yang menusuk hingga ke ulu hati Anisa. "Menjaga rumah? Rumah siapa yang kamu jaga? Ini rumah saya! Burhan melarangmu karena dia malu punya istri ragu-ragu seperti kamu. Kalau kamu memang berbakti, kamu cari kerjaan! Cuci baju tetangga atau jadi kuli gosok, bukannya malah jadi beban!"
Anisa menggigit bibir bawahnya erat-erat. Rasa sakit di hatinya bergemuruh, namun ia memilih bungkam. Ia tahu, melawan Bu Salma hanya akan membuat wanita tua itu semakin murka dan berujung pada ancaman pengusiran.
Bagi Anisa dan Burhan, rumah sewa murah ini adalah satu-satunya tempat bernaung yang sanggup mereka jangkau saat ini.
"Kenapa diam saja? Merasa tersindir?" tantang Bu Salma, memajukan wajahnya. "Ingat ya Anisa, selama suamimu belum melunasi sisa uang sewa bulan ini, kamu itu tidak ada bedanya dengan penumpang gelap di sini! Jangan pasang wajah memelas seperti itu, saya tidak mempan!"
"Saya mengerti, Bu Salma. Maafkan saya..." ucap Anisa pelan sambil menundukkan kepala serendah-rendahnya.
Bu Salma mencibir lalu membalikkan badan meninggalkan Anisa yang berdiri sendirian di dekat bak cuci.
Dalam kesendirian itu, air mata Anisa akhirnya luruh membasahi pipinya yang pucat.
Ia mengusap matanya cepat-cepat, lalu kembali menyikat pakaian dengan jemari yang bergetar, menanti malam tiba saat Burhan pulang
meski ia tahu, kenyataan penderitaan ini harus tetap ia sembunyikan rapat-rapat demi menjaga ketenangan suaminya.