**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki Beruban di Balik Jeruji
"Aku?"
Perempuan berseragam cokelat itu menatap Sekar dengan bingung. Permen jahe pemberian Arsya masih tergenggam di tangannya.
"Kenapa harus aku? Aku bukan keluarganya."
"Itu juga yang aku tanyakan kepada kuasa hukum Mamik." Sekar menghela napas. "Katanya, Mamik hanya mau menyerahkan dokumen-dokumen terakhirnya di depan orang yang pernah menolak tawarannya. Mamik bilang, hanya orang seperti itu yang tidak akan memakai dokumen tersebut untuk kepentingan sendiri."
Aina terdiam. Perempuan bermata sayu itu teringat ruangan kecil di kantor polisi. Kipas angin di langit-langit. Wajah lelaki tua yang perlahan runtuh setelah tawarannya ditolak.
"Dokumen apa lagi?" tanya Aina.
"Aku tidak tahu." Sekar menggeleng. "Tapi aku tidak mau datang sendirian."
Aina menatap Arsya, yang kini sibuk menggambar dinosaurus di balik selembar formulir bekas. Lalu perempuan bertubuh mungil itu menatap Sekar.
"Kapan?"
"Kamis siang."
"Aku ikut."
Rumah tahanan itu berada di belakang kantor kepolisian resor di Praya. Bangunannya bercat abu-abu dengan pagar tinggi dan kawat berduri di bagian atas. Udara siang itu panas dan berdebu.
Raka menyetir mobil dengan hati-hati, seperti biasa. Lelaki berlesung pipi itu memutuskan menunggu di mobil bersama Arsya. Sekar tidak ingin anaknya langsung masuk ke tempat itu. Bocah bermata bulat itu baru akan dipanggil jika keadaan memungkinkan.
Seorang petugas mengantar Aina dan Sekar ke ruang kunjungan. Ruangan itu sempit, dengan beberapa meja plastik dan kursi besi. Di salah satu meja, seorang lelaki tua sudah menunggu.
Lalu Mustiadi tampak jauh lebih kurus daripada terakhir kali Aina melihatnya. Rambutnya yang dulu beruban rapi kini dibiarkan tumbuh tidak teratur. Baju tahanan berwarna oranye yang dikenakannya terlihat terlalu longgar di bahu. Di sampingnya duduk seorang lelaki berjas hitam, kuasa hukumnya.
Begitu melihat Sekar, lelaki beruban itu berdiri. Bibirnya bergetar.
"Sekar."
Sekar tidak langsung menjawab. Perempuan berwajah teduh itu berdiri kaku di ambang pintu. Aina menyentuh punggung Sekar dengan lembut, lalu keduanya melangkah masuk dan duduk.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Lalu Mustiadi akhirnya.
"Ibu sakit sejak Mamik ditahan. Tapi adik-adik menjaganya." Suara Sekar datar. "Mamik ingin bicara apa?"
Lelaki beruban itu menunduk. Kedua tangannya yang keriput saling meremas di atas meja.
"Mamik ingin minta maaf."
Sekar tidak menjawab.
"Selama tiga puluh tahun, Mamik mengira sedang melindungi keluarga kita. Mamik menjodohkanmu dengan Raka. Mamik membantu memalsukan surat. Mamik mengambil tanah yang bukan milik Mamik." Suara lelaki itu pecah. "Ternyata Mamik tidak melindungi siapa pun. Mamik hanya melindungi diri sendiri. Dan kamu yang harus membayarnya. Dua belas tahun pernikahanmu dibangun di atas kebohongan Mamik."
Air mata Sekar akhirnya jatuh. Perempuan berwajah teduh itu menutup mulut dengan tangan.
"Mamik tahu kamu akan bersaksi melawan Mamik di pengadilan nanti," lanjut Lalu Mustiadi pelan. "Mamik tidak akan menghalangimu lagi. Bersaksilah. Katakan semuanya. Itu yang seharusnya Mamik lakukan tiga puluh tahun lalu."
Sekar terisak. "Kenapa baru sekarang, Mamik?"
"Karena baru sekarang Mamik melihat apa yang terjadi kalau seseorang berani jujur." Lelaki beruban itu menoleh kepada Aina. "Ibu Aina menolak tawaran Mamik. Ibu Aina mengakui kesalahannya sendiri, padahal tidak ada yang bisa membuktikannya. Dan Ibu Aina tetap berdiri. Mamik yang selama ini berbohong justru jatuh."
Lalu Mustiadi memberi isyarat kepada kuasa hukumnya. Lelaki berjas hitam itu membuka tas kerja dan mengeluarkan dua buah amplop.
Amplop pertama berwarna putih dan tebal. "Ini surat pernyataan yang sudah ditandatangani klien saya di hadapan notaris," kata kuasa hukum itu. "Isinya pernyataan bahwa tanah di Tanak Awu bukan milik klien saya, dan klien saya bersedia menyerahkannya kepada ahli waris yang sah, yaitu Ibu Sumiati dan putranya."
Amplop kedua berwarna cokelat dan tipis. Di depannya hanya tertulis satu nama dengan tulisan tangan yang gemetar.
Sumiati.
"Surat ini dari Mamik untuk Ibu Sumi," kata Lalu Mustiadi. "Mamik tidak berani meminta maaf secara langsung. Mamik juga tidak pantas melakukannya." Lelaki beruban itu mendorong kedua amplop itu ke arah Aina. "Karena itu Mamik meminta Ibu Aina yang menyampaikannya. Ibu orang yang tidak punya kepentingan atas tanah itu. Ibu juga orang yang pertama kali membetulkan KTP Sumiati, sehingga semua ini bisa terungkap."
Aina menatap kedua amplop itu, lalu menatap Sekar. Perempuan berwajah teduh itu mengangguk pelan.
"Saya akan menyampaikannya, Pak," kata Aina. "Tapi saya tidak bisa menjanjikan bagaimana Ibu Sumi akan menerimanya."
"Mamik tidak meminta janji." Lelaki beruban itu tersenyum lemah. "Mamik hanya meminta surat itu sampai."
Sebelum kunjungan berakhir, Lalu Mustiadi meminta satu hal terakhir.
"Bolehkah Mamik melihat Arsya? Sebentar saja."
Sekar ragu lama. Lalu perempuan berwajah teduh itu menelepon Raka. Beberapa menit kemudian, lelaki berlesung pipi itu masuk ke ruang kunjungan sambil menggandeng tangan kecil Arsya.
Bocah bermata bulat itu menatap kakeknya dengan heran.
"Kakek? Kenapa Kakek pakai baju oranye? Kenapa Kakek tinggal di sini?"
Lalu Mustiadi berlutut di lantai, sejajar dengan cucunya. Lelaki beruban itu mengusap kepala Arsya dengan tangan gemetar.
"Kakek sedang belajar, Nak."
"Belajar apa?"
"Belajar jujur." Lelaki tua itu tersenyum di sela tangisnya. "Kakek terlambat belajar. Kamu jangan sampai terlambat seperti Kakek, ya."
Arsya mengangguk serius, meskipun jelas tidak benar-benar mengerti. Bocah itu merogoh sakunya dan menyerahkan sebutir permen jahe kepada kakeknya.
"Ini untuk Kakek. Biar Kakek tidak sedih."
Lalu Mustiadi menggenggam permen itu dan menangis tanpa suara.
Siang itu juga, Aina harus menjalani pemeriksaan rutin kandungan di RSUD Praya. Rumah sakit itu tidak jauh dari rumah tahanan. Raka mengantarnya, sementara Sekar dan Arsya pulang lebih dulu.
Dokter muda berkerudung putih itu menyambut Aina dengan senyum ramah. "Bagaimana keadaan Ibu? Masih mual?"
"Sudah jauh berkurang, Dok."
"Bagus. Kita lihat perkembangan janinnya, ya."
Aina berbaring di ranjang pemeriksaan. Gel dingin dioleskan ke perutnya yang kini mulai sedikit membuncit. Alat USG ditekan perlahan. Di layar, bayangan hitam putih mulai bergerak.
Aina sudah mengenali suara itu. Dug-dug. Dug-dug. Suara yang paling disukainya di dunia.
Namun, kali ini dokter muda itu terdiam lebih lama daripada biasanya. Alat di tangannya bergerak ke sisi lain perut Aina, lalu berhenti. Dahi dokter itu berkerut. Lalu perlahan, bibirnya melengkung membentuk senyum lebar.
"Bu Aina," katanya. "Coba lihat layar ini baik-baik."
Aina menoleh ke arah layar. Perempuan bermata sayu itu tidak mengerti apa yang dilihatnya. Hanya bayangan abu-abu dan hitam, seperti biasa.
Dokter menekan sebuah tombol. Suara detak jantung memenuhi ruangan. Namun, kali ini suara itu terdengar berbeda. Lebih ramai. Seperti dua irama yang saling bersahutan.
"Ada dua, Bu Aina," ucap dokter muda berkerudung putih itu pelan. "Dua detak jantung."