Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 — Pertemuan di Pelabuhan Tua
Malam belum sepenuhnya turun ketika Alexander Wu kembali membaca pesan yang diterimanya.
Jika kau ingin menyelamatkan Celine dari kesalahan ibumu, temui aku besok malam di pelabuhan lama. Datang sendiri.
Di bawah pesan itu terdapat foto seorang perempuan tua berdiri di depan bangunan usang. Wajahnya tampak samar, tetapi nama yang tertulis di belakang foto membuat Alexander tidak bisa mengabaikannya.
Lin Qiao.
Nama yang baru saja disebutkan ayahnya sebagai satu-satunya orang yang mungkin mengetahui identitas anak yang diselamatkan Amelia Wang.
Alexander memasukkan ponselnya ke saku, kemudian memandang kotak beludru di atas meja. Gelang perak dengan liontin bunga terbaring di dalamnya. Dua huruf terukir pada bagian belakang liontin itu: A.W.
Selama bertahun-tahun, ia mengira gelang tersebut hanyalah kenang-kenangan masa kecil yang disimpan ayahnya. Kini, benda itu justru menjadi petunjuk bahwa masa lalunya mungkin tidak sesederhana yang ia percayai.
Ia ingin segera menemui Celine dan menceritakan semuanya.
Namun, ia teringat permintaan perempuan itu. Jangan lagi mengambil keputusan atas namanya. Jangan menggunakan alasan melindungi untuk menyembunyikan kebenaran.
Alexander akhirnya menghubungi Daniel Zhou.
“Aku menemukan petunjuk tentang Lin Qiao,” katanya. “Seseorang mengirimiku foto dan meminta bertemu besok malam di pelabuhan lama.”
“Siapa pengirimnya?”
“Aku tidak tahu.”
“Kalau begitu, jangan datang sendirian.”
Pesan itu membuat Alexander terdiam.
“Dia secara khusus memintaku datang sendiri.”
“Dan kau berniat menuruti permintaan orang yang identitasnya tidak jelas?”
“Aku tidak punya banyak pilihan.”
“Kau selalu punya pilihan, Alexander. Kau bisa datang dengan pengamanan yang tidak terlihat, memberi tahu pihak berwenang, atau menolak pertemuan itu sampai kita mengetahui siapa yang mengirim pesan.”
Alexander mengusap wajahnya.
“Aku hanya tidak ingin Celine berada dalam bahaya.”
“Kalau begitu, jangan membuat keputusan yang justru menempatkannya dalam bahaya. Aku akan membicarakannya dengan Celine.”
Alexander tidak membantah.
Untuk pertama kalinya, ia menerima kenyataan bahwa melindungi Celine tidak berarti ia harus menyelesaikan semua masalah seorang diri.
Ketika Daniel menghubungi Celine keesokan paginya, perempuan itu sedang memeriksa kembali foto anak kecil dengan gelang perak.
Begitu mendengar nama Lin Qiao dan rencana pertemuan di pelabuhan, Celine langsung berdiri.
“Alexander menerima undangan yang sama?”
“Tidak persis sama. Dia menerima foto Lin Qiao dan diminta datang sendiri.”
Celine mengerutkan kening.
“Kenapa orang itu menghubunginya, bukan aku?”
“Mungkin karena Alexander memiliki gelang tersebut. Mungkin juga karena pengirimnya ingin memisahkan kita agar lebih mudah mengendalikan situasi.”
Celine terdiam. Ia tidak menyukai kemungkinan kedua, tetapi pengalaman selama penyelidikan membuatnya sulit mengabaikannya.
“Aku ingin ikut.”
Daniel sudah menduga jawaban itu.
“Kita tidak akan pergi tanpa persiapan. Aku akan mengatur pengamanan dan memeriksa area pelabuhan lebih dahulu. Jika Lin Qiao benar-benar berada di sana, kita harus memastikan dia datang atas kemauannya sendiri.”
“Dan jika itu jebakan?”
“Kita mundur. Tidak ada bukti yang sebanding dengan nyawa seseorang.”
Celine mengangguk, meskipun kegelisahan belum meninggalkan dadanya.
Sebelum menutup telepon, Daniel menyampaikan satu informasi tambahan.
“Aku sudah memeriksa sebagian arsip kepegawaian lama. Lin Qiao memang pernah bekerja sebagai kepala administrasi arsip Shengyuan. Namun, catatan terakhirnya menyebutkan bahwa dia meninggalkan Shanghai setelah kematian Shen Guowei.”
“Apakah ada catatan perjalanan?”
“Ada satu permohonan perjalanan ke Hong Kong, tetapi nama penumpangnya tidak tercatat dengan jelas. Kita belum tahu apakah dia benar-benar pergi.”
Celine menatap foto Shen Yiran yang berada di sampingnya.
Hong Kong kembali muncul dalam penyelidikan mereka. Tempat itu mungkin menjadi perlindungan bagi Shen Yiran, tempat persembunyian Lin Qiao, atau sekadar jejak palsu yang sengaja ditinggalkan.
Ia tidak ingin lagi menganggap setiap petunjuk sebagai jawaban.
Kali ini, ia akan menunggu bukti.
Malam harinya, pelabuhan lama diselimuti kabut tipis. Lampu-lampu kuning di sepanjang dermaga memantulkan cahaya redup pada permukaan air yang gelap. Bangunan gudang tua berdiri berjajar, sebagian jendelanya pecah, sebagian lainnya tertutup papan kayu.
Alexander tiba lebih dahulu.
Ia mengenakan mantel gelap dan membawa kotak kecil berisi gelang perak. Sesuai kesepakatan dengan Daniel, beberapa petugas keamanan berada di sekitar lokasi tanpa menarik perhatian. Daniel dan Celine menunggu di kendaraan yang terparkir cukup jauh dari dermaga.
“Aku melihat seseorang di dekat gudang nomor tujuh,” ujar Daniel melalui alat komunikasi kecil. “Jangan bergerak sebelum kami memastikan identitasnya.”
Alexander memandang bangunan yang ditunjuk.
Seorang perempuan tua berdiri di bawah lampu yang hampir padam. Rambutnya memutih, tubuhnya sedikit membungkuk, dan sebuah tongkat berada di tangan kanannya.
Ketika Alexander mendekat, perempuan itu mengangkat wajah.
“Kau putra Victor Wu?”
Alexander berhenti beberapa langkah darinya.
“Siapa Anda?”
Perempuan itu mengeluarkan tawa pendek yang terdengar pahit.
“Pertanyaan yang seharusnya kau ajukan adalah mengapa ayahmu menyimpan gelang yang bukan milikmu.”
Alexander mengeluarkan kotak beludru.
“Apakah Anda Lin Qiao?”
Perempuan itu menatap gelang di dalam kotak. Wajahnya berubah pucat.
“Jadi, dia akhirnya menunjukkan benda itu kepadamu.”
“Siapa pemilik gelang ini?”
Lin Qiao tidak segera menjawab. Ia mengamati Alexander dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang membandingkan wajah pria dewasa itu dengan seseorang yang pernah dilihatnya puluhan tahun lalu.
“Kau tumbuh dengan baik,” gumamnya.
Alexander merasa dadanya menegang.
“Apa maksud Anda?”
“Lima belas tahun lalu, ada seorang anak yang seharusnya tidak pernah masuk ke dalam catatan keluarga Wu. Amelia mengambil risiko besar untuk menyelamatkannya. William membantu, meskipun dia tahu keputusan itu dapat menghancurkan hidupnya sendiri.”
“Anak itu siapa?”
Lin Qiao memejamkan mata.
“Aku tidak bisa menjawab sebelum melihat apakah kau membawa sesuatu yang lain.”
Alexander mengeluarkan gelang tersebut dan menyerahkannya kepada perempuan tua itu.
Lin Qiao membalik liontin bunga, lalu menekan bagian kecil di sisi logam. Sebuah lapisan tipis terbuka, memperlihatkan ukiran yang selama ini tersembunyi.
Bukan hanya inisial A.W.
Di bawahnya terdapat deretan angka pendek dan satu huruf: H-317.
Alexander terkejut.
Angka 317 mengingatkannya pada nomor brankas yang pernah digunakan Amelia untuk menyimpan dokumen keluarga.
“Apakah ini kode?”
“Ini petunjuk menuju sesuatu yang disimpan Amelia sebelum dia meninggal,” jawab Lin Qiao. “Namun, benda itu tidak lagi berada di tempat semula.”
“Di mana benda itu sekarang?”
Lin Qiao menatapnya dengan mata yang mendadak dipenuhi ketakutan.
“Seseorang mengambilnya beberapa tahun lalu. Orang itu memiliki akses ke arsip Shen Capital dan tahu persis apa yang harus dihapus.”
Alexander hendak bertanya lebih jauh ketika Lin Qiao tiba-tiba menoleh ke arah jalan.
Sebuah mobil hitam muncul di ujung dermaga.
“Pergilah!” bisiknya.
Alexander tidak bergerak.
“Anda belum menjawab pertanyaanku.”
“Kalau kau tetap di sini, kau tidak akan pernah mendapatkan jawaban apa pun!”
Mobil itu berhenti mendadak. Dua pria turun dan bergerak cepat menuju gudang.
Melalui alat komunikasi, Daniel memperingatkan Alexander agar segera mundur. Celine juga keluar dari kendaraan, tetapi Daniel menahannya agar tidak mendekati dermaga sebelum jalur aman dipastikan.
Alexander meraih lengan Lin Qiao dan membawanya ke balik tumpukan peti kayu.
Salah seorang pria berteriak, “Kami tahu kau membawa dokumennya! Serahkan sekarang!”
Lin Qiao menggigil.
“Aku tidak membawa apa-apa!”
Pria itu mengeluarkan foto seorang anak kecil.
Alexander hanya sempat melihat gelang bunga perak di pergelangan anak tersebut sebelum foto itu diremas dan dilempar ke tanah.
“Kalau kau tidak menyerahkannya, kami akan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa melindungimu lagi.”
Lin Qiao memandang Alexander dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan biarkan mereka mengambil gelang itu.”
Alexander menggenggam kotak kecil di tangannya.
“Aku tidak akan menyerahkannya.”
Beberapa detik kemudian, Daniel dan petugas keamanan tiba dari arah berbeda. Kedua pria tersebut berusaha melarikan diri. Salah satunya berhasil ditahan, sedangkan yang lain menghilang di antara gudang-gudang tua.
Namun, ketika Alexander berbalik, Lin Qiao sudah tidak ada.
Di tempat perempuan itu berdiri, hanya tersisa sebuah amplop kecil yang tergeletak di atas tanah.
Alexander mengambilnya.
Di dalamnya terdapat selembar foto lama yang memperlihatkan Amelia Wang berdiri bersama William Wang, Shen Yiran, dan seorang anak kecil yang wajahnya tertutup bayangan. Pada pergelangan tangan anak itu terlihat gelang bunga perak yang sama.
Di belakang foto tertulis kalimat pendek:
Jika anak ini kembali mencari namanya, jangan biarkan Victor menjadi orang pertama yang menjawab.
Celine akhirnya tiba di dekat gudang. Begitu melihat foto tersebut, wajahnya berubah.
Ia mengenali ibunya. Ia juga mengenali ayahnya.
Namun, yang membuatnya terpaku adalah sosok anak kecil di tengah mereka.
Di leher anak itu tergantung liontin kecil berbentuk bunga.
Celine pernah melihat liontin tersebut sebelumnya—bukan pada foto Alexander, melainkan dalam sebuah kotak peninggalan ibunya.
“Aku pernah melihat benda itu,” bisiknya.
Alexander menoleh kepadanya.
“Di mana?”
“Di kotak peninggalan ibuku. Ada liontin serupa, tetapi aku tidak tahu mengapa benda itu disimpan.”
Daniel mengambil foto tersebut dengan hati-hati.
“Kita harus memeriksa keasliannya. Dan kita harus menemukan Lin Qiao sebelum orang-orang tadi menemukannya lebih dahulu.”
Celine mengangguk, tetapi pikirannya sudah dipenuhi pertanyaan baru.
Jika gelang itu milik anak yang diselamatkan Amelia, mengapa Alexander menyimpannya sejak kecil? Mengapa Victor menyebut anak tersebut bukan berasal dari keluarga Wu maupun Shen? Dan mengapa Lin Qiao memperingatkan mereka agar tidak membiarkan Victor menjadi orang pertama yang menjelaskan identitasnya?
Sebelum mereka meninggalkan pelabuhan, ponsel Alexander bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang sama dengan pengirim undangan.
Lin Qiao sudah memberimu petunjuk. Sekarang tanyakan kepada Celine apa yang ditemukan ibunya di dalam brankas nomor 317.
Alexander menatap Celine.
Perempuan itu langsung menyadari perubahan ekspresinya.
“Apa yang terjadi?”
Alexander menyerahkan ponselnya.
Celine membaca pesan itu sekali, lalu sekali lagi.
Nomor 317.
Brankas peninggalan Amelia.
Brankas yang pernah ia buka pada awal penyelidikan.
Ia mengira semua dokumen penting telah ditemukan di sana. Namun, jika seseorang masih menghubungkan nomor itu dengan identitas anak yang diselamatkan ibunya, mungkin ada bagian dari peninggalan Amelia yang belum pernah mereka lihat.
Celine menatap foto lama itu dengan perasaan campur aduk.
Selama ini, ia mencari siapa yang menghancurkan keluarganya.
Kini, ia mulai memahami bahwa sebelum kehancuran itu terjadi, ibunya mungkin telah menyelamatkan seseorang dengan mengorbankan kebenaran.
Dan anak yang diselamatkan itu mungkin masih hidup.
Mungkin berada di dekat mereka.
Atau mungkin selama ini telah mengenal Celine, tanpa pernah berani mengungkapkan identitasnya sendiri.