“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”
• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.
• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.
• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.
• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.
• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 — Nama yang Tertulis dalam Darah
Bianca tidak mampu bergerak.
Pria yang berdiri di ambang pintu itu memiliki wajah pucat, rambut sedikit lebih panjang daripada yang diingatnya, dan luka tipis di dekat pelipis. Tubuhnya tampak lebih kurus, seolah berbulan-bulan hidup dalam ketakutan telah merenggut sebagian kekuatannya.
Namun, Bianca mengenali gelang kulit hitam di pergelangan tangannya.
Ia mengenali bentuk mata itu.
Dan ia mengenali suara yang selama ini hanya bisa ia dengar dalam kenangan.
“Adrian?”
Pria itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Bianca.”
Hanya satu kata. Namun, kata itu menghancurkan pertahanan yang telah Bianca bangun selama berbulan-bulan.
“Adrian!”
Bianca berlari menghampirinya dan memeluk kakaknya erat-erat. Adrian sempat terhuyung, lalu merangkulnya dengan kedua tangan. Bianca menangis di dadanya, mencengkeram jaketnya seolah takut pria itu akan menghilang lagi jika ia melepaskannya.
“Kau masih hidup,” bisiknya berkali-kali. “Ya Tuhan, kau masih hidup.”
“Aku minta maaf,” jawab Adrian dengan suara serak. “Maaf karena membuatmu melewati semua ini sendirian.”
Bianca menarik diri, memegang wajah kakaknya dengan kedua tangan.
“Di mana saja kau? Siapa yang melakukan ini kepadamu? Kenapa kau tidak menghubungiku?”
Adrian membuka mulut, tetapi pandangannya beralih ke Dante yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka.
Seketika, ekspresinya berubah.
“Kau membawanya ke sini?” tanyanya kepada Bianca.
“Apa maksudmu?”
Adrian menatap Dante dengan kebencian yang sulit disembunyikan.
“Seharusnya kau tidak pernah memercayai pria itu.”
Dante tidak mengangkat senjatanya, tetapi sorot matanya mengeras.
“Adrian Laurent,” katanya dingin. “Aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk mencarimu.”
“Dan sekarang kau berharap aku berterima kasih?”
“Aku tidak membutuhkan rasa terima kasihmu.”
“Bagus. Karena kau tidak akan mendapatkannya.”
“Adrian!” Bianca menyela. “Kalian bisa berhenti saling mengancam? Aku baru saja menemukanmu kembali!”
Adrian menoleh kepada adiknya. Kemarahannya sedikit mereda, tetapi ketakutan masih terlihat jelas di wajahnya.
“Bianca, kau tidak tahu siapa dia sebenarnya.”
“Kalau begitu, jelaskan kepadaku.”
Adrian terdiam cukup lama.
Kemudian ia mengucapkan satu kalimat yang membuat udara di ruangan itu terasa membeku.
“Dante Vieri adalah alasan ayah kita menyembunyikanmu selama ini.”
Mereka berpindah ke sebuah ruang kecil di belakang ruang perawatan. Marco berjaga di luar pintu, sementara Dante berdiri dekat jendela yang retak. Bianca duduk di hadapan Adrian dan tidak melepaskan tangannya.
Ia takut kehilangan kakaknya lagi.
“Aku ingin kau menjelaskan semuanya dari awal,” kata Bianca.
Adrian mengusap wajahnya.
“Beberapa bulan lalu, aku menemukan transaksi mencurigakan di perusahaan ayah. Uang dalam jumlah besar dipindahkan ke sebuah perusahaan cangkang yang terhubung dengan keluarga Vieri. Ketika aku menyelidikinya, aku menemukan dokumen lama tentang ibu kita.”
“Elena?” Bianca menahan napas.
Adrian mengangguk.
“Di dalam dokumen itu ada nama Alessandro Vieri, Luciano, dan seorang dokter bernama Rafael Moretti. Ada juga catatan mengenai pembayaran rumah sakit pada malam ibu meninggal.”
Bianca teringat cincin perak dan rekaman suara Alessandro.
“Rafael Moretti,” gumamnya. “Apakah kau tahu siapa dia sebenarnya?”
“Aku tahu dia pernah bekerja untuk keluarga Vieri. Tetapi yang lebih penting, aku menemukan surat yang ditulis ayah kita.”
Adrian mengeluarkan selembar kertas terlipat dari saku bagian dalam jaketnya. Kertas itu kusut dan memiliki bercak cokelat di salah satu sudutnya.
Bianca menerimanya dengan tangan gemetar.
Tulisan di dalamnya sudah memudar, tetapi beberapa kalimat masih terbaca jelas.
Jika sesuatu terjadi kepadaku, lindungi Bianca.
Dia tidak boleh mengetahui bahwa namanya tercatat dalam perjanjian lama keluarga Vieri.
Jika Luciano menemukan dokumen asli, dia akan membunuh siapa pun yang menghalangi jalannya.
Bianca mengangkat wajah.
“Perjanjian apa?”
Adrian menggeleng.
“Aku tidak menemukan dokumen aslinya. Namun, orang-orang Luciano mengetahui bahwa aku telah melihat surat itu. Mereka menangkapku sebelum aku sempat mencari tahu lebih jauh.”
“Luciano yang menculikmu?”
“Aku tidak melihat wajah orang yang memberi perintah. Tetapi aku mendengar mereka menyebut namanya berkali-kali.”
Dante akhirnya angkat bicara.
“Kenapa kau tidak memberitahukan semua ini kepada Bianca sebelum menghilang?”
Adrian tertawa hambar.
“Karena aku tahu kau akan mencarinya begitu mengetahui apa yang kami temukan.”
“Jelaskan.”
Adrian menatap Dante dengan sorot tajam.
“Ayah kami pernah berkata bahwa keluarga Vieri tidak sekadar menyimpan rahasia tentang ibu kami. Mereka menyimpan rahasia tentang kelahiran Bianca.”
Bianca merasa tenggorokannya mengering.
“Jangan berputar-putar, Adrian. Apa yang sebenarnya kau ketahui tentang ayah kandungku?”
Kakaknya terdiam.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah foto kecil dari dompetnya.
Foto itu memperlihatkan Elena Laurent berdiri di depan sebuah rumah tua. Di sampingnya terdapat Alessandro Vieri, sementara seorang pria berjas putih berdiri sedikit jauh dari mereka.
Bianca mengenali pria itu dari foto yang ditemukan di ruang kerja Dante.
Rafael Moretti.
Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Di bagian belakang foto terdapat tulisan tangan yang masih jelas terbaca.
Untuk Elena dan anak kita. Sampai suatu hari kebenaran menemukan jalannya.
Bianca menatap tulisan tersebut tanpa berkedip.
“Anak kita,” bisiknya.
Adrian mengangguk perlahan.
“Aku tidak tahu apakah Rafael adalah ayah kandungmu. Tetapi aku menemukan surat lain yang menyebutkan bahwa ibu melahirkan seorang anak perempuan pada malam ketika terjadi kebakaran di klinik tempat ia dirawat.”
Bianca merasakan air matanya menggenang.
“Aku lahir di rumah sakit Roma.”
“Itulah yang tertulis dalam akta kelahiranmu,” jawab Adrian. “Namun, catatan klinik itu menunjukkan bahwa ada seorang bayi perempuan yang dipindahkan pada malam yang sama. Nama ibunya Elena Laurent.”
Dante menegang.
“Di mana klinik itu sekarang?”
“Sudah ditutup bertahun-tahun lalu,” jawab Adrian. “Tetapi aku menemukan alamat dokter yang menangani ibu pada malam itu.”
“Rafael Moretti,” kata Bianca.
“Ya.”
Hening menyelimuti ruangan.
Selama ini, Bianca mengira hidupnya hanyalah rangkaian kehilangan: ibunya meninggal, kakaknya menghilang, dan ayahnya menyembunyikan terlalu banyak hal. Namun, sekarang ia mulai memahami bahwa kehilangan itu mungkin bukan peristiwa-peristiwa yang berdiri sendiri.
Seseorang telah mengatur semuanya.
Seseorang yang mengetahui kebenaran tentang kelahirannya.
Dan seseorang itu masih mengawasinya.
Dante berjalan mendekati meja dan meletakkan sebuah foto di hadapan Adrian.
Foto itu memperlihatkan Luciano sedang memasuki sebuah bangunan dengan seorang pria yang wajahnya ditutupi bayangan.
“Apakah kau mengenali pria di samping Luciano?” tanya Dante.
Adrian memperhatikan foto itu lama sekali. Wajahnya berubah pucat.
“Dia salah satu penjaga yang mengawasiku.”
“Siapa namanya?”
“Aku tidak tahu. Mereka memanggilnya Dokter.”
Dante dan Bianca saling bertukar pandang.
“Dokter,” ulang Bianca pelan. “Rafael?”
“Aku tidak bisa memastikan,” jawab Adrian. “Tetapi pria itu pernah bertanya kepadaku apakah Bianca masih mengenakan liontin bulan sabit milik ibu.”
Bianca spontan menyentuh liontin di lehernya.
“Kenapa dia menanyakan itu?”
“Dia mengatakan bahwa liontin tersebut adalah kunci menuju dokumen asli.”
Dante mengeluarkan kotak beludru dari sakunya. Cincin perak dengan lambang bulan sabit berkelopak delapan masih berada di dalamnya.
“Kalau begitu, mungkin cincin ini juga berkaitan dengan dokumen itu.”
Adrian menatap cincin tersebut dengan ekspresi terkejut.
“Kau menemukannya?”
“Di ruang kerja ayahku.”
Adrian berdiri terlalu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.
“Kita harus meninggalkan tempat ini sekarang.”
Dante segera mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua orang tetap tenang.
“Kenapa?”
“Karena kalau cincin itu benar-benar kunci, mereka akan tahu kita telah menemukannya.”
Seolah menjawab ucapannya, suara langkah kaki terdengar dari lorong.
Marco muncul di ambang pintu dengan pistol terangkat.
“Don, kita harus pergi. Ada kendaraan mendekat dari arah utara.”
“Berapa orang?”
“Setidaknya enam. Mereka tidak menjawab panggilan kita.”
Dante memasukkan cincin ke dalam saku bagian dalam jasnya.
“Bawa Adrian ke mobil. Sekarang.”
Bianca berdiri dan meraih tangan kakaknya.
Namun, sebelum mereka sempat melangkah, ponsel Adrian bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Adrian membukanya, lalu seluruh warna di wajahnya menghilang.
“Apa?” tanya Bianca.
Adrian menyerahkan ponselnya.
Pesan itu disertai foto sebuah ruangan kecil dengan dinding putih dan ranjang bayi di tengahnya. Di dinding tergantung sebuah jam tua yang menunjukkan pukul tiga lewat tujuh belas menit.
Di bawah foto tertulis:
Selamat bertemu kembali dengan adikmu, Adrian.
Sayang sekali kalian belum mengetahui seluruh kebenarannya.
Pesan kedua muncul beberapa detik kemudian.
Bianca bukan satu-satunya anak yang lahir malam itu.
Bianca mengangkat wajah perlahan.
“Maksudnya apa?”
Adrian tidak menjawab. Matanya terpaku pada layar ponsel.
Kemudian pesan terakhir muncul.
Jika ingin mengetahui siapa yang sebenarnya dibawa pulang oleh Elena Laurent, tanyakan kepada Alessandro Vieri mengapa ia menguburkan dua nama dalam satu makam.
Bianca merasa seolah lantai di bawah kakinya runtuh.
Dante segera meraih tangannya.
“Bianca, dengarkan aku. Apa pun yang tertulis di pesan itu, kita akan mencari jawabannya bersama.”
Bianca menatapnya. Ia ingin memercayai kata-kata itu, tetapi ketakutan telah tumbuh terlalu dalam.
“Bagaimana jika seluruh hidupku dibangun di atas kebohongan?”
Dante menggenggam tangannya lebih erat.
“Kalau begitu, kita akan menghancurkan kebohongan itu satu per satu.”
Sebelum Bianca sempat menjawab, terdengar suara tembakan dari lorong.
Marco berteriak agar mereka berlindung.
Dante menarik Bianca ke balik dinding, sementara Adrian bergerak ke sisi lain ruangan. Dalam kekacauan itu, lampu padam dan suara langkah kaki berlarian memenuhi lorong.
Lalu terdengar suara seorang pria melalui pengeras suara rumah sakit.
“Bianca Laurent!”
Semua orang terdiam.
“Jika kau ingin mengetahui nama yang tertulis dalam darahmu, datanglah ke makam Alessandro Vieri sebelum tengah malam.”
Suara itu berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan nada dingin.
“Dan bawalah suamimu. Karena malam ini, salah satu dari kalian akan mengetahui bahwa cinta kalian mungkin merupakan dosa yang telah direncanakan sejak sebelum kalian dilahirkan.”
Pengeras suara mati.
Bianca menoleh kepada Dante.
Pria itu berdiri membisu, wajahnya pucat untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu.
Bukan karena ancaman tersebut.
Melainkan karena ia mengenali suara itu.
Suara seseorang yang telah ia yakini mati selama dua belas tahun.
Bersambung — Bab 16: Pelukan Setelah Badai
jangan lupa mampirr🤭