Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23: Tamu tak diundang
Kepulan asap hitam dari ledakan belerang perlahan-lahan mulai menipis di lantai tiga. Setelah momen intim sekaligus canggung di mana Long Tianxu menyeka wajah gosongnya menggunakan sapu tangan sutra, sang Jenderal Besar akhirnya pamit turun ke lantai satu.
Ruozi ditinggal sendirian dengan jantung yang masih berdegup sedikit tidak keruan. Ia buru-buru menepuk kedua pipinya dengan kesal. Fokus, Ruozi, fokus! Ingat target utamamu di dunia kuno ini adalah jadi juragan apotek kaya raya, bukan malah baper sama cowok kaku begitu! batinnya menyemangati diri.
Ruozi memutuskan untuk turun ke lantai satu demi menenangkan diri sekalian melihat situasi gudang belakang yang tadi siang diisi berkarung-karung herbal.
Pintu depan ruko tentu saja masih tertutup rapat, dan papan bertuliskan 'Segera Buka' masih menggantung manis di tirai bambu bagian luar. Namun, baru saja kaki Ruozi menginjak anak tangga terakhir di lantai bawah, suasana tenang di dalam ruko mendadak berubah menjadi sangat mencekam.
Aura dingin yang pekat tiba-tiba menusuk kulit. Di balik pintu ruko yang tertutup, terdengar suara gesekan langkah kaki massal yang sangat teratur namun berbobot berat.
Empat pengawal elit berzirah hitam titipan Tianxu yang tadinya berjaga di dalam ruangan langsung menghunus pedang mereka dengan gerakan kilat, membentuk formasi pertahanan di depan tangga.
BRAK!
Pintu kayu ruko yang sudah dikunci rapat dipaksa terbuka dari luar dengan kekuatan tenaga dalam yang sangat besar hingga engselnya berderit nyaring.
Sesosok pria paruh baya bertubuh kurus dengan jubah menteri berlapis sutra ungu megah melangkah masuk dengan sangat tenang. Di belakangnya, belasan pengawal pribadi berwajah bengis mengiringi dengan tangan yang sudah bersiap di atas gagang pedang.
Pria itu adalah Perdana Menteri Li, musuh politik nomor satu Long Tianxu di kekaisaran yang terkenal sangat licik.
"Hmm, jadi di sini tempatnya," ucap Perdana Menteri Li dengan suara rendah yang bergaung penuh penekanan.
Mata sipitnya yang tajam bagaikan ular langsung menyapu seisi ruko yang rapi, sebelum akhirnya pandangan itu terkunci tepat pada Shen Ruozi yang berdiri di ujung tangga bawah. "Dan gadis sekurus triplek inilah yang dirumorkan menjadi tabib rahasia sekaligus kaki tangan baru dari Jenderal Besar Long Tianxu?"
Mendengar kata "sekurus triplek" diucapkan oleh orang asing yang datang merusak pintu rukonya, sumbu pendek di kepala Ruozi langsung terbakar seketika. Siapa pun pria tua berjubah ungu ini, berani-beraninya dia menghina fisik dan merusak properti berharga milik Shen Ruozi di hari ketiga ini!
Ruozi melangkah maju melewati barisan pengawal zirah hitam dengan wajah judes paling maksimal. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap langsung mata Perdana Menteri Li tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Eh, Pak Tua berjubah ungu! Datang-datang tidak mengetuk pintu, malah mendobrak sampai rusak begitu. Kamu tahu tidak harga engsel kayu jati ini mahal? Dan satu lagi ya... siapa yang kamu sebut kaki tangan? Aku ini pemilik resmi Apotek Ruozi Jaya Medika, bukan bawahan siapa-siapa!" semprot Ruozi galak dengan suara lantang.
Perdana Menteri Li sempat tertegun sesaat, tidak menyangka akan mendapat semprotan ketus dari seorang gadis biasa di ibu kota. Namun, detik berikutnya, senyuman licik yang penuh ancaman kembali terulas di bibir tipisnya.
Pria tua itu maju dua langkah, mengabaikan hunusan pedang dari para pengawal zirah hitam. "Keberanianmu patut dipuji, Gadis Kecil. Tapi asal kamu tahu, siapa pun yang berani membantu atau menyembuhkan Long Tianxu, artinya dia sedang memilih untuk menjadi musuhku. Dan musuh Perdana Menteri Li... biasanya tidak akan berumur panjang untuk melihat tokomu ini dibuka untuk umum," bisik Perdana Menteri Li dengan kilatan membunuh yang sangat pekat di matanya.
Mendengar ancaman mati yang keluar dari mulut Perdana Menteri Li, suasana di dalam ruko langsung membeku. Empat pengawal elit berzirah hitam di depan Ruozi sudah menurunkan tubuh mereka, bersiap menerjang ke depan untuk melakukan pertumpahan darah demi melindungi aset sang Dewa Perang.
Namun, sebelum pedang mereka sempat berbenturan, Ruozi justru melangkah maju dan menepis pelan lengan salah satu pengawalnya agar tidak menghalangi pandangannya.
Gadis modern itu menatap langsung ke arah Perdana Menteri Li dengan mata menyipit meremehkan. "Aduh, Pak Tua, zaman sekarang masih saja pakai jurus ancam-mengancam biar kelihatan keren? Bosan tahu tidak!" ketus Ruozi sambil bersedekap dada. "Kamu pikir aku takut? Asal kamu tahu ya, jangankan perdana menteri, malaikat maut saja kalau mau mencabut nyawaku harus antre pakai nomor bambu di toko ini! Daripada sibuk mengancam umurku, mending sekarang kamu pikirkan bagaimana cara membayar ganti rugi pintu ruko yang sudah kamu jebol ini!"
Perdana Menteri Li langsung melongo dengan rahang yang sedikit bergeser. Belasan pengawal pribadinya pun ikut tertegun mendengar keberanian atau kegilaan gadis sekurus triplek di depan mereka.
Belum pernah ada satu orang pun di seluruh kekaisaran yang berani memedulikan harga sebuah engsel pintu kayu di tengah ancaman hukuman mati dari seorang pejabat tertinggi negara. "Gadis gila! Berani-beraninya kamu menuntut ganti rugi padaku?! Habisi dia sekarang juga!" bentak Perdana Menteri Li yang harga dirinya langsung terluka parah.
Belasan pengawal berpakaian bengis itu langsung merangsek maju dengan pedang terhunus, siap mencincang Ruozi menjadi potongan kecil. Namun, tepat sebelum ujung bilah besi pertama sempat mendekati ujung jubah Ruozi, sebuah gelombang hawa murni yang luar biasa dahsyat mendadak meledak dari arah koridor halaman belakang ruko.
DUAARR!
Tekanan tenaga dalam yang sangat pekat dan dingin seketika menghantam seluruh ruangan lantai satu, membuat belasan pengawal Perdana Menteri Li langsung terlempar mundur hingga menabrak dinding dan memuntahkan darah segar.
Beberapa stoples obat kosong di atas rak sempat bergetar hebat, namun anehnya, gelombang hawa murni itu sama sekali tidak menyentuh atau melukai tubuh Shen Ruozi sedikit pun.
Dari balik bayangan koridor belakang, sesosok pria bertubuh tinggi besar dengan jubah hitam bordir naga melangkah masuk dengan sangat tenang. Setiap ketukan langkah kakinya di atas lantai kayu memancarkan aura membunuh yang begitu kuat hingga sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Siapa lagi kalau bukan Long Tianxu, sang Dewa Perang yang ternyata belum sepenuhnya meninggalkan area ruko karena firasat buruknya.
"Perdana Menteri Li... berani sekali kamu membawa anjing-anjing tanahmu untuk membuat kekacauan di tempat pribadiku," ucap Tianxu dengan suara baritonnya yang sangat rendah, dingin, dan bergema penuh wibawa mutlak di dalam ruko yang mendadak sunyi senyap layaknya kuburan.
Wajah Perdana Menteri Li yang tadinya merah padam karena amarah seketika berubah menjadi pucat pasi. Sepasang matanya melotot syok menatap Long Tianxu yang berdiri tegap di depannya tanpa ada tanda-tanda kelemahan fisik sedikit pun. Berdasarkan laporan mata-mata istana, sang Dewa Perang seharusnya sedang sekarat menahan serangan racun kronisnya hari ini, namun pria di depannya ini justru memancarkan aliran tenaga dalam yang jauh lebih kuat dan stabil daripada sebelumnya!
Ruozi yang melihat kedatangan heroik sang investor kelas kakap langsung tersenyum licik, kembali menyembunyikan dirinya dengan aman di balik punggung tegap Long Tianxu yang terasa sangat kokoh dan melindungi. "Nah, Mas Jenderal! Bagus sekali kamu datang tepat waktu! Cepat urus pria tua berjubah ungu ini, dan jangan lupa tagih denda kerugian pintu rusak beserta biaya trauma psikologis sebanyak seratus tael emas!" bisik Ruozi heboh dari belakang punggung Tianxu, memulai drama perseteruan politik perdana mereka di hari ketiga ini dengan penuh gaya matre.