Dikhianati dan ditikam dari belakang oleh kekasih sekaligus rekannya sendiri, Laras—pembunuh bayaran paling ditakuti di dunianya—mati sambil bersumpah membalas. Tapi maut bukan akhir. Sebuah "kesempatan kedua" melemparkan jiwanya menembus waktu, ke dalam tubuh seorang wanita di abad ke-21: Kirana, istri kontrak yang lemah, hamil, dan dihina, menikah dengan taipan sedingin es yang menganggapnya sampah.
Suaminya, Raka Prawira, mengira ia masih perempuan cengeng yang dulu membiusnya demi mengikat pernikahan. Keluarga kandung Kirana memerasnya. Ibu mertuanya menganggapnya pemburu harta. Dan di balik imperium bisnis megah keluarga Prawira, tersembunyi dunia penyelundupan senjata, pengkhianatan, dan persaingan warisan berdarah.
Sayang sekali bagi mereka semua—perempuan yang kini menghuni tubuh itu bukan lagi Kirana yang mereka kenal. Ia seorang ahli racun, strategi, dan pertumpahan darah. Satu per satu, mereka yang pernah menginjaknya akan belajar satu pelajaran mahal: tak ada yang mengkhianati wanita ini lalu hidup untuk menceritakannya.
Dari ruang rapat hingga baku tembak di jalan tol, dari perang dingin pernikahan kontrak hingga gairah yang perlahan membakar—saksikan sang perebut takdir mengubah hidup yang seharusnya menghancurkannya menjadi takhta miliknya sendiri.
Sanggupkah sang taipan yang tak pernah mencintai siapa pun bertahan dari perempuan paling berbahaya yang pernah tidur di ranjangnya... apalagi setelah jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gena Jim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Chelsea menatapku dengan mulut ternganga, seolah aku baru saja menamparnya alih-alih memberi jawaban logis. Jari-jarinya yang berhias kuku panjang palsu meremas tas mahalnya, yang sejujurnya memang indah, aku suka. Kira-kira kalau kucuri bagaimana, ya?
"Ada apa denganmu, Kirana?"
Ia melontarkannya dengan nada melengking yang mengganggu telingaku selama beberapa detik, sampai aku harus sedikit memejamkan mata.
"Dulu kamu pasti sudah memohon-mohon agar aku tinggal untuk membantumu membujuk Raka membelikanmu tas edisi terbatas yang kini sudah beredar di pasaran... Sekarang kamu tak butuh bantuanku lagi? Kamu... aneh."
"Orang bisa berubah setelah nyaris mati, Chelsea."
Jawabku tenang sambil menatapnya lekat, dan kuperhatikan sedikit kegugupan padanya, pasti karena terkejut aku berani membalasnya.
Aku mendekat hingga tinggal beberapa sentimeter dari wajahnya, dan parfumnya terlalu manis, jenis yang dipakai para bangsawan untuk menutupi bau busuk tubuh mereka... Membuatku mual.
"Atau mungkin karena aku tak lagi butuh siapa pun untuk bicara mewakiliku... Aku sudah cukup dewasa untuk hal-hal seperti itu."
Aku bicara dengan penuh percaya diri, dan ia mundur beberapa langkah sambil mengerutkan kening.
Sebelum ia sempat melontarkan alasan lain soal Prancis, mode, atau omong kosong lainnya, pintu kembali terbuka.
Udara di ruangan itu seketika berubah, menjadi lebih berat, dingin, dan menyengat listrik.
Kualihkan pandanganku ke pintu dan kulihat suamiku yang menawan, datang dengan penampilan sempurna, memesona, mengenakan setelan abu-abu yang menegaskan bahu bidangnya.
Mata baja itu menyapu seluruh ruangan hingga berhenti padaku selama beberapa detik.
"Raka, Ipar!"
Chelsea memekik, mengubah wajahnya menjadi topeng keramahan palsu.
"Aku sedang bercerita pada Kirana betapa aku mencemaskannya."
Katanya, dan Raka sama sekali tak mengacuhkannya. Perhatiannya terpaku pada gaun mawarku dan sikap tegapku, tapi ia bilang tak mau peduli, jadi aku memusatkan perhatian pada kukuku sendiri yang sejujurnya begitu terawat dan indah, wah, aku tak pernah punya kuku seindah ini.
"Mobil sudah menunggu di bawah."
Katanya dengan suara datar, sepenuhnya mengabaikan kakakku, dan itu membuatku ingin tertawa dalam hati sampai nyaris tak bisa kutahan.
"Santo sudah naik untuk mengambil barang-barangmu dan akan mengurus urusan dengan dokter. Kamu sudah siap atau masih mau membuang-buang waktuku lagi?"
Kuberikan padanya senyum miring, senyum yang dulu kupakai sebelum menagih imbalan.
"Aku sudah lebih dari siap, suamiku."
Kataku, menekankan kata terakhir hanya untuk melihat rahangnya menegang.
"Chelsea, terima kasih atas bunganya... Lain kali usahakan perjalanan ke Prancismu tidak mengganggu 'kepedulian' keluargamu."
Tanpa berkata lagi, aku keluar dari ruangan tanpa menunggu jawaban, meninggalkan kakakku dengan kata-kata tertahan di mulut.
Saat melewati Raka, aroma kayu dan kuasa yang menguar darinya memikatku dan memukauku, tapi kalau ia terus menatapku seperti itu... Lebih baik kualihkan pandanganku ke arah lain, aku yakin lelaki mana pun akan memohon secuil perhatian dari perempuan cantik yang kini kujelma ini.
Perjalanan menuju mobil berlangsung sunyi. Raka berjalan di sisiku, tapi menjaga jarak yang cukup jauh seolah takut kegilaanku menular.
Saat tiba di kendaraan logam hitam mengilap itu, Santo membukakan pintu untukku dengan sikap hormat yang terasa lebih seperti kewajiban ketimbang tulus, dan ke benakku berdatangan samar-samar ingatan tentang perlakuanku pada Santo yang malang.
"Terima kasih, Santo."
Kataku lembut saat masuk.
Lelaki itu terpaku sesaat, dan lewat kaca kecil di depan, kulihat ia bertukar tatapan takjub dengan Raka.
"Apa yang kamu mainkan, Kirana?"
Raka akhirnya melontarkannya begitu mobil mulai melaju.
"Sekarang kamu sopan? Ini bagian dari strategi barumu supaya aku tak menuntut hak asuh penuh saat anak ini lahir?"
Aku membenamkan diri di jok kulit, yang lebih nyaman daripada kereta kuda mewah atau takhta mana pun yang pernah kulihat, lalu menatapnya lekat.
"Ini bukan strategi, Raka, aku hanya memutuskan bahwa hidup terlalu singkat untuk disia-siakan dengan jadi pengganggu... Dan soal hak asuh..."
Kuusap perutku perlahan.
"Anak ini milikku, dan kusarankan kamu tak mencoba merebutnya dariku."
Ia melepas tawa kering tanpa sedikit pun humor.
"Perlu kuingatkan bahwa kamulah yang membiusku untuk mengikatku padamu... Sekarang kamu bicara soal martabat? Kamu aktris yang hebat, itu kuakui."
"Katakan satu hal padaku, Raka."
Aku memotongnya, mengabaikan hinaannya yang sejujurnya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
"Aku tahu kontrak kita tinggal setahun lagi, tapi katakan sesuatu, apa yang jadi bagianku saat aku berpisah darimu? Setidaknya kuharap sejumlah besar uang dan sebuah mansion untuk kutinggali."
Raka menatapku sambil mengerutkan kening.
"Uang? Mansion? Apa kamu sudah gila? Dalam kontrak kita tertulis jelas, pisah harta. Kenapa aku harus memberimu satu rupiah pun kalau kamu tak melakukan apa-apa selain berfoya-foya tanpa peduli apa pun?"
Aku menggigit bibir sambil mengerutkan kening, membatin betapa dungunya gadis ini.
"Begitu rupanya... Pisah harta... Betapa pelitnya kamu."