NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KJT 2

Dengung percakapan ribuan warga Desa Ping-an memenuhi udara pagi yang kering berdebu. Alun-alun desa yang biasanya sepi kini berjejal oleh lautan manusia dari berbagai pelosok permukiman. Di tengah lapangan batu itu, sebuah pilar batu hitam setinggi tiga meter berdiri kokoh. Permukaan pilar tersebut diukir dengan gurat-gurat pola kuno yang berkedip pelan, memancarkan pendar kebiruan yang sejuk setiap kali pilar itu menyerap energi spiritual dari udara sekitar.

Shen Jue menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana linen abu-abunya yang kusam. Ia mengambil posisi di sudut terluar alun-alun, bersandar santai pada sebuah tiang kayu pembatas ladang. Matanya yang jernih memperhatikan pilar batu itu tanpa berkedip.

"Formasi penyerap jiwa yang sangat mentah," batin Shen Jue sambil menyipitkan mata.

Dari sudut pandang seorang master tempa yang berpengalaman ratusan tahun, struktur ukiran pada pilar itu sangat kasar. Jalur pembuluh energinya banyak yang terputus di tengah jalan, membuang hampir empat puluh persen energi alami yang terkumpul di sekitarnya. Namun untuk standar dunia yang tidak mengenal kitab kultivasi tingkat tinggi ini, alat sederhana tersebut sudah cukup efektif untuk memancing getaran jiwa dari tubuh seorang anak dan memaksa roh bawaannya mewujud ke alam fana.

Di panggung kayu yang dibangun di samping pilar, berdiri seorang pria tua berjanggut putih tipis yang mengenakan jubah kain biru tua. Dialah Tetua Liu, pengawas ritual dari pemerintah wilayah setempat. Di sebelah kirinya terdapat sebuah meja kecil kayu dengan sebuah bola kristal bening yang berfungsi mengukur intensitas energi roh.

"Dengar semuanya!" seru Tetua Liu dengan suara berat yang diperkuat oleh sedikit dorongan energi dari dalam dadanya.

Suasana alun-alun yang tadinya bising seketika berubah hening. Ratusan pasang mata menatap lurus ke panggung dengan napas tertahan. Puluhan anak-anak berusia sepuluh tahun yang berdiri di barisan depan tampak gemetar. Wajah-wajah mungil mereka pucat ditelan ketakutan sekaligus harapan yang membumbung tinggi.

"Hari ini adalah hari di mana takdir kalian ditentukan oleh Langit dan Bumi!" lanjut Tetua Liu sambil membuka gulungan kain di tangannya. "Ritual Panggilan Jiwa tidak pernah memandang kasta atau kekayaan. Roh yang bangkit dari jiwa kalian adalah identitas sejati yang akan menentukan apakah kalian akan tetap menapak lumpur atau terbang ke awan!"

Sorot mata para orang tua di sekeliling lapangan mendadak berubah liar. Di Benua Tianwu, memiliki anak yang berhasil membangkitkan Roh Senjata tajam atau Roh Binatang buas adalah satu-satunya cara untuk mengangkat derajat seluruh keluarga dari kemiskinan.

"Anak pertama, Xiao Bao!" panggil Tetua Liu sambil membaca nama dari gulungan.

Seorang anak laki-laki bertubuh gempal—anak dari wanita gemuk tetangga gubuk Shen Jue—melangkah maju dengan langkah gemetar. Ibu anak itu, yang berdiri tak jauh dari tempat Shen Jue bersandar, menyatukan kedua tangannya di dada sambil berdoa setengah berbisik dengan wajah tegang.

"Tempelkan telapak tangan kananmu di atas ukiran pilar!" perintah Tetua Liu dengan nada datar.

Xiao Bao menelan ludah kasar. Dengan tangan yang basah oleh keringat dingin, ia menempelkan telapak tangannya pada bagian tengah pilar batu hitam.

Seketika, pola-pola ukiran di pilar menyala terang. Cahaya biru berpusar cepat, merambat naik mengaliri lengan Xiao Bao dan masuk ke dalam dadanya. Anak itu menjerit pelan saat tubuhnya bergetar hebat. Detik berikutnya, sebuah pusaran cahaya kecil muncul melayang di atas telapak tangannya yang lain.

Cahaya itu perlahan memadat, membentuk bayangan sebuah benda yang sangat tidak asing.

"Roh Senjata... Cangkul Besi!" teriak Tetua Liu mengumumkan hasil pengamatan. Bola kristal di meja berkedip redup. "Tingkat Energi Jiwa: Rendah!"

Pusaran cahaya itu menghilang, menyisakan sebuah cangkul besi berukuran sedang yang tampak biasa di tangan Xiao Bao. Anak gempal itu seketika terduduk lemas di papan kayu panggung, matanya berkaca-kaca menatap alat pertanian di tangannya.

Di bawah panggung, ibu anak itu menghentakkan kakinya ke tanah dengan wajah merah padam. "Cangkul? Cuma cangkul besi biasa? Sia-sia aku memberinya makan daging saban minggu!" umpat wanita itu tanpa memedulikan perasaan anaknya yang sedang menangis sesenggukan.

Shen Jue mengamati adegan itu dengan raut wajah dingin. Ia melihat betapa kejamnya aturan dunia ini. Bagi rakyat biasa, membangkitkan roh berupa alat pertanian sama saja dengan vonis seumur hidup untuk menjadi buruh di ladang, tanpa ada kesempatan untuk menembus batas menuju jenjang petarung atau penguasa.

Satu per satu anak dipanggil naik ke panggung.

"Liu Kang! Roh Binatang: Kelinci Hutan! Tingkat Rendah!"

"Feng Mei! Roh Senjata: Jarum Jahit! Tingkat Rendah!"

"Zhao Huo! Roh Binatang: Ayam Jantan! Tingkat Rendah!"

Helaan napas berat dan jeritan kekecewaan bersahut-sahutan di seluruh penjuru alun-alun. Dari puluhan anak yang sudah maju, hampir semuanya hanya membangkitkan roh perkakas rumah tangga atau binatang ternak kecil. Kesenjangan antara harapan tinggi dan kenyataan pahit menghantam warga desa tanpa ampun.

Namun, suasana muram itu pecah saat anak seorang tuan tanah lokal melangkah menuju pilar.

"Gao Han! Roh Senjata: Pedang Perunggu! Tingkat Menengah!" teriak Tetua Liu dengan nada suara yang meninggi untuk pertama kalinya. Bola kristal berkedip dengan pendar kebiruan yang cukup terang.

Sorak-sorai langsung bergemuruh di sudut kanan alun-alun. Ayah dari Gao Han tertawa lebar sambil menepuk dadanya sendiri, memamerkan cincin-cincin perak di jarinya kepada orang-orang di sekelilingnya. Gao Han berdiri tegak di atas panggung, menggenggam pedang perunggu yang memadat di tangannya dengan dagu terangkat sombong.

"Bagus sekali. Dengan Roh Pedang Tingkat Menengah, kau memiliki kualifikasi resmi untuk mendaftar ke akademi tingkat dasar di kota," puji Tetua Liu sambil mengangguk puas.

Shen Jue mengalihkan pandangannya dari Gao Han menuju pedang perunggu di panggung. Dari analisis matanya yang terbiasa menempa bahan-bahan ilahi, kerapatan energi pada pedang itu sebenarnya sangat buruk. Bilah pedang tersebut memiliki celah struktur yang sangat rapuh di bagian pangkalnya. Jika beradu dengan benturan keras, pedang itu akan dengan mudah patah menjadi dua. Namun di mata warga desa miskin ini, pedang perunggu cacat itu sudah dianggap sebagai keajaiban yang agung.

"Dunia yang sangat dangkal," bisik Shen Jue perlahan.

Saat Shen Jue sedang sibuk mengevaluasi struktur energi pilar, beberapa pasang mata warga di sekitarnya mulai menyadari keberadaan anak yatim piatu itu. Bisik-bisik bernada sinis berseliweran di antara kerumunan.

"Bukankah itu si Shen Jue?" tanya seorang pria berbadan kurus sambil menyenggol lengan temannya.

"Benar, anak yatim piatu dari gubuk reyot di ujung desa," jawab temannya dengan nada merendahkan. "Kudengar kemarin sore dia hampir mati kena demam tinggi. Kenapa sekarang bisa berdiri segar begitu?"

"Hmph, untuk apa anak tidak bergizi seperti dia datang ke sini?" cemooh seorang wanita tua sambil membetulkan letak selendangnya. "Cuma membuang-buang energi pilar desa saja. Paling-paling dia cuma bisa membangkitkan mangkok retak atau sapu lidi."

Cemoohan dan tatapan meremehkan itu memburu dari berbagai arah, tetapi Shen Jue berdiri seolah tidak mendengar apa pun. Pikirannya sama sekali tidak terpengaruh oleh omongan orang-orang fana yang picik. Bagi seorang mantan tetua agung yang pernah memimpin puluhan ribu murid, hinaan seperti ini tidak lebih dari suara bising serangga di musim panas yang tidak perlu ditanggapi.

Matahari perlahan merayap makin tinggi, memancarkan sinar hangat yang mulai memanggang alun-alun. Antrean anak-anak di depan panggung menyusut dengan cepat.

Tetua Liu mengusap keringat di lehernya, lalu kembali menatap gulungan kertas di tangannya yang tinggal menyisakan beberapa nama terakhir.

"Selanjutnya, Shen Jue!" panggil Tetua Liu dengan suara lantang yang bergema di seluruh lapangan.

Hening sejenak melingkupi kerumunan, sebelum diikuti oleh tawa kecil dari beberapa warga desa yang mengenali status anak itu.

Shen Jue menghentikan sandaran punggungnya di tiang kayu. Ia merapikan lipatan lengan baju linen abu-abunya yang kusam dengan gerakan tenang dan teratur. Tanpa ada keraguan sedikit pun dalam setiap pijakan kakinya, ia melangkah membelah kerumunan warga desa yang memberi jalan sambil menatapnya curiga.

"Lihat gayanya, sok tenang seperti bangsawan saja," celetuk seorang pria di pinggir jalan sambil terkekeh geli.

Shen Jue terus berjalan lurus, menaiki tangga kayu panggung step demi step. Angin pagi menyingkap rambut hitamnya yang terikat rapi, memperlihatkan tatapan matanya yang sangat tenang—begitu tenang hingga membuat Tetua Liu yang berdiri di atas panggung sempat tertegun sejenak saat matanya beradu pandang dengan anak itu.

Shen Jue berhenti tepat di depan pilar batu hitam yang masih memancarkan pendar kebiruan. Ia menatap pilar itu lamat-lamat, merasakan getaran energi bawaan di dalam dadanya yang mulai bereaksi bergetar pelan.

"Letakkan tangan kananmu di pilar," instruksi Tetua Liu dengan nada yang kembali datar, tidak menaruh harapan pada anak yatim piatu yang berpenampilan kumal ini.

Shen Jue mengangguk pelan. Ia mengangkat tangan kanannya yang mungil dan meletakkannya tepat di atas ukiran utama pilar batu.

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor.........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ....,......
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!