NovelToon NovelToon
Singgah Yang Tertukar

Singgah Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:818
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
​Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balasan Nathaniel

Di kepala Stephany, hierarki dunia kampus itu sederhana: dirinya adalah pusat perhatian yang modis, bergaul dengan kalangan elit, dan berada di kasta atas.

Sementara Elena? Di mata Stephany, Elena hanyalah seorang gadis ambisius penjual makanan kantin sosok pekerja kasar berkedok tenant kampus yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, hidupnya pas-pasan, dan hanya beruntung karena punya paras manis yang kebetulan menarik perhatian para pria elit seperti Fattah.

Ironisnya, realita tidak berjalan sesuai dengan skenario di kepala Stephany.

Berapa kali Stephany datang ke kafe mini itu dengan gaya sok akrab, menenteng paper bag belanjaan mewah dari sebuah butik fesyen papan atas di pusat kota, lalu dengan sengaja memamerkannya di depan Elena?

"Eh, El, kamu tahu nggak? Outherwear ini limited collection lho, aku PO langsung dari butik paling hits di kota. Harganya jutaan! Modelnya emang seanggun ini, makanya cowok-cowok S2 pada klepek-klepek kalau lihat cewek berkelas pakai brand kayak gini," begitu kira-kira gerutuan pamer Stephany tempo hari, lengkap dengan kibasan rambut dan senyum meremehkan.

Elena yang mendengar ocehan itu waktu itu hanya bisa menahan diri agar tidak tertawa lepas.

Bagaimana bisa Elena tidak geli? Outerwear berharga jutaan yang dibangga-banggakan Stephany setengah mati itu adalah desain eksklusif musim lalu dari butiknya sendiri dan Stephany membelinya menggunakan uang sakunya sendiri di toko yang kepemilikannya 100% dipegang oleh Elena.

Namun, Elena memilih untuk diam. Tidak ada niat sedikit pun di benak Elena untuk membeberkan identitas aslinya, membongkar kepemilikan butik, atau merusak kehaluan Stephany di hadapan umum.

Bagi Elena, membiarkan Stephany tetap merasa lebih unggul sambil bangga memakai produk buatannya sendiri justru adalah sebuah bentuk hiburan tersendiri yang jauh lebih memuaskan.

Biarin aja dia puas pamer, batin Elena kala itu sambil tersenyum kecil melayani pembeli. Toh, uang dari belanjaan Stephany juga masuk ke kas bisnisnya sendiri.

Kembali ke masa kini, di hadapan meja kasir kantin teknik yang mulai dipadati mahasiswa lain, Stephany masih memasang senyum sinis terselubung, mencoba menempatkan Elena pada posisi "rendah" di hadapan Fattah dan rekan-rekan S2-nya.

"Maksud aku, wajar kan kalau pesanan aku didahulukan?" lanjut Stephany dengan nada manja yang dilebih-lebihkan, melirik tajam ke arah Elena.

"Kamu kan cuma ngurusin stan kecil begini, pasti nggak seribet penelitian tesis Mas Fattah dan kawan-kawan. Iya kan, Mas Fattah?" tanyanya sambil mengedipkan mata, mencoba menarik perhatian sang pria berkarisma.

Fattah sama sekali tidak terusik. Pria itu bahkan tidak menoleh ke arah Stephany. Dengan gestur yang sangat tenang, Fattah justru melangkah maju selangkah, menepis keberadaan Stephany seolah gadis itu tidak lebih dari angin lalu.

"Ambil waktu kamu, Elena," ucap Fattah dengan suara beratnya yang berwibawa, menatap lurus ke dalam manik mata Elena dengan senyum tipis yang hangat.

"Kami nggak buru-buru. Dan soal pesanan, kami serahkan sepenuhnya ke menu rekomendasi rahasia kamu."

Mendengar perlakuan acuh tak acuh dari Fattah sementara Elena diperlakukan bak ratu, wajah cantik Stephany kontan merona merah karena menahan jengkel dan malu yang luar biasa.

Merasa usahanya menarik perhatian Fattah sia-sia, raut wajah Stephany berubah masam. Namun, ego mahasiswi Manajemen itu terlalu tinggi untuk menyerah begitu saja.

Kepalanya memutar otak, mencari celah sensitif yang bisa ia gunakan untuk menjatuhkan harga diri Elena sekaligus merusak citra gadis itu di depan Fattah.

Seketika, rumor yang beredar di kalangan kantin terlintas di kepalanya: tuduhan bahwa Elena adalah wanita yang belum bisa move on dari mantan kekasihnya.

Dengan senyum miring yang penuh intrik, Stephany menyilangkan tangan di dada, memajukan tubuhnya ke arah meja kasir.

"Oh iya, El..." celoteh Stephany dengan nada suara sengaja dikencangkan agar terdengar oleh Fattah dan kawan-kawannya.

"Gimana kabar hubungan kamu sama Nathan? Masih sering galauin dia ya? Kasihan banget sih, padahal dengar-dengar Nathan udah punya pengganti kamu. Tapi kamu kok kayaknya masih terjebak di masa lalu terus?"

Kata 'Nathan' yang meluncur dari bibir Stephany seketika menyengat pendengaran Elena.

Deg.

Gerakan tangan Elena yang sedang memegang pena mendadak terhenti.

Untuk beberapa detik yang singkat namun menyesakkan, Elena terpaku membisu. Bayangan konflik, rasa sakit hati, hingga aksi gila Julian yang baru beberapa hari lalu membuang cincin dari Nathan ke selokan mendadak berkelebat tumpang-tindih di kepalanya, menghantam dadanya hingga terasa sesak.

Stephany menyunggingkan senyum kemenangan melihat Elena yang mendadak terdiam kaku.

Namun, bukannya memberi panggung bagi Stephany untuk melontarkan hinaan lebih lanjut, Elena menarik napas panjang.

Tanpa menoleh atau membalas sepatah kata pun pertanyaan memprovokasi dari Stephany, Elena langsung menoleh ke arah dapur dalam.

"Ria, Maya, tolong gantiin aku di kasir sebentar ya. Layani pesanan didepan," panggil Elena dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, meski getar tipis di ujung nadanya tak bisa sepenuhnya disembunyikan.

Dua stafnya langsung mengangguk sigap dan mengambil alih posisi kasir.

Tanpa memedulikan tatapan puas Stephany maupun kekagetannya sendiri, Elena memutar tubuhnya. Dengan langkah terburu-buru yang berubah menjadi lari-lari kecil, gadis itu menerobos pintu samping dan menghambur keluar menuju area taman belakang kafenya yang sepi untuk menenangkan gemuruh di dadanya.

Fattah, yang sejak awal mengamati setiap perubahan garis wajah Elena, tahu betul ada luka tersembunyi yang baru saja digores sengaja oleh Stephany.

Sorot mata teduh pria S2 Teknik itu seketika menajam dingin, melirik Stephany sejenak dengan tatapan penuh teguran tajam yang sukses membuat Stephany terdiam mematung.

Tanpa membuang waktu dan mengabaikan pesanan kafenya yang baru disiapkan, Fattah langsung membalikkan badan. Dengan langkah kaki panjang dan cepat, ia melangkah menyusul Elena ke area taman belakang.

Udara sejuk di taman belakang kafe terasa kontras dengan debar jantung Elena yang bergemuruh hebat. Gadis itu berdiri di balik rimbunnya tanaman hias, menyandarkan punggungnya pada dinding luar bangunan dengan napas yang memburu.

Tangannya menangkup wajahnya sendiri, berusaha mati-matian menahan pertahanan agar air mata kepedihan dan emosi yang meluap tidak tumpah begitu saja.

Namun, ketegaran itu runtuh saat satu bulir air mata akhirnya lolos menetes membasahi pipinya.

Langkah kaki berirama tegas terdengar mendekat.

Elena mendongak cepat, mendapati sosok Fattah Fernandez berdiri beberapa langkah di hadapannya.

Pria S2 Teknik itu tidak langsung merangsek maju atau melompat memberi sentuhan fisik yang lancang.

Sebagai pria yang usianya terpaut enam tahun lebih tua dari Elena, kedewasaan dan kematangan emosional Fattah terlihat begitu nyata dari cara ia menempatkan diri.

Fattah sangat paham batasan. Ia tahu kapan harus bertindak dan kapan harus memberi ruang.

Melihat mata Elena yang memerah dan raut kalut di wajah gadis itu, Fattah tidak menyentuhnya sama sekali. Dengan gerakan tenang dan santun, pria itu merogoh saku jaketnya, lalu mengeluarkan sehelai kain sapu tangan bersih berwarna putih netral.

Ia tidak langsung menyodorkannya, melainkan meletakkannya perlahan di atas bangku kayu taman tepat di samping Elena, lalu mundur selangkah untuk memberikan rasa aman.

"Pakai ini kalau butuh, Elena," suara berat Fattah mengalun rendah, terdengar begitu menenangkan dan sarat akan ketulusan tanpa ada secercah rasa menghakimi pun.

Elena menatap sapu tangan itu sejenak, lalu beralih menatap manik mata Fattah yang meneduhkan. Tidak ada sorot menghakimi atau tatapan menuntut penjelasan di sana hanya ada kehangatan dan pengertian yang begitu kontras dengan cara Julian mendominasinya, atau cara Stephany mencoba merendorkannya.

Fattah melipat kedua tangannya di dada, menjaga jarak dengan sopan namun sorot matanya tetap menyiratkan perlindungan.

"Kamu nggak perlu jelasin apa-apa kalau memang belum siap," lanjut Fattah dengan nada bicara yang terukur, sangat matang, bagai seorang kakak yang tahu persis bagaimana menenangkan badai emosi di kepala seorang gadis muda.

"Tapi kalau butuh tempat buat sekadar menetralisir napas, saya bisa temenin di sini sampai kamu tenang."

Belum sempat Elena membuka suara untuk membalas perkataan Fattah, getaran tajam dari dalam saku kardigan wolnya memecah keheningan taman belakang.

Elena merogoh ponselnya dengan jemari yang masih sedikit bergetar. Layar menyala terang, menampilkan sebuah notifikasi pesan dari kontak yang sudah lama terkubur namun meninggalkan luka paling dalam: Nathan.

Tanpa sadar, Elena menggeser layar dan membaca rentetan kalimat yang terpampang di sana. Setiap kata yang diketik Nathan terasa seperti hantaman telak yang langsung meremukkan sisa-sisa pertahanan terakhirnya:

"El, tolong jangan hubungi aku lagi atau muncul di sekitar hidup aku. Prioritas utamanya sekarang adalah pacar aku. Tolong hargai perasaannya dan jaga jarak. Jangan jadi cewek egois yang terus-terusan mengusik hubungan kami."

Jleb.

Dunia seakan berhenti berputar seketika. Kalimat itu begitu kejam—sebuah vonis mutlak yang memosisikan Elena seolah-olah adalah pengganggu yang tidak tahu malu, padahal ia bahkan sudah berusaha keras menata hidupnya di atas reruntuhan masa lalu.

Air mata yang tadinya susah payah ia tahan akhirnya tumpah begitu saja tanpa bisa dicegah. Isakan tertahan lolos dari bibirnya, membuat tubuh mungil itu merosot pelan, bersandar lemah pada dinding bata di belakangnya.

Tanpa sengaja, letak berdiri Fattah yang cukup dekat membuat pria itu menangkap sekilas barisan kalimat pedas di layar ponsel Elena yang menyala terang.

Fattah tidak melontarkan pertanyaan interogatif, dan ia tidak mencoba merengkuh tubuh Elena secara lancang.

Sebagai pria matang yang memiliki banyak pengalaman hidup, sorot mata Fattah seketika berubah teduh, dipenuhi empati yang begitu dalam saat melihat kerapuhan di balik ketegangan wajah gadis itu.

Ia paham betul, luka lama yang baru saja disiram garam oleh orang tak bertanggung jawab kini sedang mengoyak batin Elena.

Fattah berlutut sebelah kaki di hadapan Elena, menjaga jarak aman namun cukup dekat untuk menjadi tempat bersandar yang kokoh.

"Elena..." panggil Fattah lembut, suaranya rendah dan menenangkan, kontras dengan kekalutan yang melanda kepala gadis itu. Pria itu tidak memaksa Elena untuk berbicara atau berpura-pura kuat.

"Kalau berada di sini justru bikin udara makin sesak buat kamu... mau ikut saya keluar sebentar?"

Fattah menengadah, menatap manik mata Elena yang basah oleh air mata.

"Kita pergi dari sini. Cari udara bebas di taman luar universitas. Kamu bisa diam sepanjang jalan, atau menangis sepuas kamu tanpa ada yang menghakimi. Biar saya temani."

Di tengah badai emosi yang menghantam rongga dadanya, pertahanan Elena sepenuhnya runtuh. Ia sudah terlalu lelah untuk berpikir, terlalu penat untuk menolak.

Dengan tatapan kosong yang sarat akan kepasrahan, Elena perlahan mengangguk lemah, menerima uluran ketenangan yang ditawarkan oleh pria di hadapannya itu.

1
Aurora odelyn Nakeisha
alurnya agak berat tapi bikin penasaran
Anandaaa
lanjutin torr gas
Langi Wijaya
ceritanya seru agak bikin tensi naik turun.....
ayo tor lanjutin update nya
Langi Wijaya
julian cowo bingung tapi clear agak out of the box pemikirannya😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!