Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Rangga melemparkan sebuah amplop cokelat ke atas meja kamar hotel. Dira, yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit basah, menatap benda itu sebelum memandang lelaki di hadapannya.
“Kau tahu apa ini?” tanya Rangga.
Dira meraih amplop tersebut. Di dalamnya terdapat cetakan percakapan, bukti transfer, dan tangkapan layar pesan yang dikirim kepada salah satu akun gosip. Wajahnya tetap tenang, tetapi jemarinya berhenti bergerak.
“Dari mana kau mendapatkan ini?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Rangga mencondongkan tubuh. “Aku bertanya, kau yang membocorkan hubungan kita kepada media waktu itu?”
Dira meletakkan berkas itu perlahan. “Kalau aku bilang bukan, kau akan percaya?”
“Jawab!”
Bentakan pria itu membuat Dira mengangkat wajah. Beberapa minggu terakhir Rangga tidak pernah menemuinya. Teleponnya jarang dijawab, pesannya dibiarkan menggantung, dan sejak keluarga Cendana mulai mengawasi gerak-geriknya, ia seperti orang asing bagi lelaki yang dulu mengejarnya tanpa henti. Namun sekarang Rangga datang sendiri, dengan amarah yang menyala-nyala.
“Ya,” jawab Dira akhirnya. “Aku yang mengirimkan informasi itu.”
Mata Rangga terlihat dingin. Meski sudah menduga, pengakuan langsung itu tetap membuat dadanya panas.
“Kau sadar apa akibatnya? Saham perusahaan ayahku tertekan. Seluruh keluarga memeriksa satu sama lain. Aku hampir dianggap mempermalukan nama Cendana di depan mitra bisnis!”
“Aku tidak pernah menyebut namaku,” balas Dira. “Aku menggunakan nama samaran. Tidak ada yang bisa membuktikan aku pelakunya.”
“Tapi aku bisa.” Rangga mengetuk berkas itu. “Ada jejak pembayaran dari rekening yang terhubung denganmu. Kau sengaja membiarkan orang-orang tahu, lalu bersembunyi seolah-olah kau korban.”
Senyum tipis Dira menghilang. Ia tidak menyangka Rangga akan menemukan jalur yang ia gunakan. Ia memang sengaja menyebarkan kabar itu setelah Bu Farah mengusirnya dari rumah keluarga Cendana dan Rangga menolak menolongnya. Ia ingin membuat mereka merasakan sedikit dari kehancuran yang ia alami. Namun ia tidak pernah membayangkan rumor itu akan mengancam bisnis keluarga sebesar ini.
“Aku marah,” katanya, mengubah nada menjadi lebih pelan. “Mereka membuangku begitu saja. Kau pun meninggalkanku saat aku paling membutuhkanmu.”
“Jangan jadikan itu alasan!”
“Apa bedanya dengan alasan yang selalu kau pakai untuk menyakitiku?” Dira menatapnya lekat-lekat. “Kau bilang mencintaiku. Kau bilang pernikahanmu dengan Jingga hanya untuk membuatku cemburu. Tapi setelah semuanya terbongkar, kau memilih menyelamatkan dirimu sendiri dan membiarkanku menghadapi penghinaan sendirian.”
Rangga mengepalkan tangan. “Aku tidak pernah menyuruhmu membocorkan hubungan kita.”
“Dan aku tidak pernah memintamu menikahi Jingga.”
Kalimat itu menghantam tepat pada sasaran. Sesaat, tak ada suara di antara mereka selain dengung pendingin ruangan. Rangga tahu Dira tidak sepenuhnya salah. Namun mengakui itu berarti menghadapi kenyataan bahwa semua kekacauan ini lahir dari keputusan-keputusannya sendiri.
“Ayahku akan menghancurkanmu kalau tahu kau pelakunya,” ujar Rangga dingin. “Dia bisa menuntutmu, dan keluargaku akan memastikan kau tidak lagi punya tempat di sekitar kami.”
Dira menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi Rangga sudah terlalu mengenalnya untuk langsung percaya. Ia pernah melihat air mata yang sama digunakan Dira untuk membuat orang lain merasa bersalah. Kali ini, meski begitu, ada ketakutan sungguhan di baliknya.
“Aku salah,” bisik Dira. “Aku tahu aku salah, tapi jangan serahkan aku kepada Om Arman. Aku nggak punya siapa-siapa lagi untuk melindungiku selain kamu.”
“Kau punya keluargamu sendiri.”
“Mereka tidak tahu apa yang terjadi di antara kita. Kalau kabar ini sampai kepada mereka, aku akan kehilangan Varel. Mereka akan menganggapku perempuan hina.” Dira melangkah mendekat. “Kau sungguh ingin itu terjadi?”
Rangga memalingkan wajah, berusaha mempertahankan amarahnya. Ia datang untuk mendapatkan pengakuan dan memastikan rumor itu berhenti, bukan untuk kembali terjerat dalam permainan Dira. Namun, ketika perempuan itu menyentuh lengannya, semua batas yang ia bangun beberapa minggu terakhir mulai goyah.
“Aku tidak datang untuk menyelamatkanmu,” kata pria itu.
“Aku tahu.” Dira menurunkan tangannya, membuat jarak di antara mereka. “Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tidak menyebarkan kabar itu karena membencimu. Aku melakukannya karena aku terluka. Aku ingin kau datang mencariku, seperti sekarang.”
Rangga menatap wanita itu dengan tajam. “Jadi semua ini hanya supaya aku menemuimu?”
“Awalnya, mungkin.” Dira menghela napas. “Tapi sekarang kau sudah di sini. Katakan padaku, Rangga, setelah semua yang kita lakukan, apa kau benar-benar bisa kembali menjadi orang asing bagiku?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Rangga seharusnya menjawab ya. Seharusnya ia pergi, membawa bukti itu kepada ayahnya, lalu menutup pintu terhadap Dira untuk selamanya.
Namun ia justru teringat masa-masa ketika perempuan itu selalu menjadi pusat keinginannya sebelum ada Jingga. Sebelum pernikahan yang gagal, sebelum semua rahasia berubah menjadi senjata.
“Aku tidak akan mengatakan apa pun pada Papa, tapi kau harus menghentikan semua ini. Jangan ada kiriman baru, jangan ada pesan kepada media, dan jangan membuat masalah lain.”
Dira mengangkat wajah. “Kau berjanji?”
“Aku berjanji tidak akan menyerahkan bukti ini kepadanya. Itu saja.”
Dira meraih tangan Rangga, menggenggamnya dengan kedua tangan. “Makasih.”
“Jangan membuatku menyesal.”
“Aku tidak akan melakukannya lagi.”
Rangga ingin memercayainya. Atau mungkin ia hanya ingin percaya karena pilihan itu membuatnya tidak perlu kehilangan Dira sepenuhnya. Ia memasukkan berkas ke dalam amplop, lalu menyimpannya kembali ke tas.
“Hubungan kita tidak boleh diketahui siapa pun, keluargaku nggak akan pernah menerima ini. Bagi mereka, menjalin hubungan dengan istri mendiang kakakku adalah aib yang tidak bisa dimaafkan.”
“Bahkan setelah Mas Tara meninggal, mereka tetap menganggapku milik masa lalu keluarga itu,” sahut Dira. “Ibumu sudah mengusirku. Om Arman pasti akan melakukan hal yang sama kalau tahu kita masih bertemu.”
“Karena itu, jangan datang ke rumahku. Jangan menghubungiku saat aku bersama keluarga. Kita bertemu hanya jika aku yang mengatur tempatnya.”
Dira menatap Rangga beberapa saat, lalu mengangguk. “Baik. Kita simpan hubungan ini untuk kita berdua.”
Rangga tahu kesepakatan itu salah, tetapi ia tetap mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Dira. Perempuan itu menyandarkan wajahnya ke telapak tangannya, membiarkan keheningan menutupi keputusan yang baru mereka buat. Tak ada permintaan maaf untuk Jingga, tak ada penyesalan atas Tara, dan tak ada keberanian untuk menghadapi keluarga mereka dengan jujur.
Malam itu, mereka kembali memilih kebohongan karena kebenaran menuntut harga yang tak ingin mereka bayar.
Ketika Rangga akhirnya meninggalkan hotel, Dira berdiri di balik tirai jendela, mengawasi mobil pria itu menghilang dari halaman. Air matanya sudah kering. Ia membuka ponsel dan menghapus percakapan dengan akun gosip, tetapi tidak menghapus salinan bukti yang disimpannya di tempat lain.
Ia sudah berjanji tidak akan mengirimkan apa pun lagi. Ia tidak berjanji akan memusnahkan semua bukti.
Sementara itu, di dalam mobil, Rangga mengirim pesan singkat kepada orang yang menyelidiki kebocoran rumor.
“Hentikan penyelidikan. Jangan sampai nama Dira muncul dalam laporan mana pun.”
Rangga mengira telah mengendalikan keadaan. Padahal dengan melindungi Dira, ia baru saja memberi wanita itu kesempatan untuk kembali masuk ke hidupnya. Dan sekali lagi... Rangga mengikat dirinya lebih erat pada rahasia yang suatu hari bisa menghancurkan mereka berdua.
bahagia ngga kamu skrg ..
denger ya Rangga dan Dira ...itu sebanding dengan apa yg dirasakan jingga saat kehilangan anaknya ...jadi ga usah so paling menderita