NovelToon NovelToon
Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.

Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.

Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.

Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Rangga melemparkan sebuah amplop cokelat ke atas meja kamar hotel. Dira, yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit basah, menatap benda itu sebelum memandang lelaki di hadapannya.

“Kau tahu apa ini?” tanya Rangga.

Dira meraih amplop tersebut. Di dalamnya terdapat cetakan percakapan, bukti transfer, dan tangkapan layar pesan yang dikirim kepada salah satu akun gosip. Wajahnya tetap tenang, tetapi jemarinya berhenti bergerak.

“Dari mana kau mendapatkan ini?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Rangga mencondongkan tubuh. “Aku bertanya, kau yang membocorkan hubungan kita kepada media waktu itu?”

Dira meletakkan berkas itu perlahan. “Kalau aku bilang bukan, kau akan percaya?”

“Jawab!”

Bentakan pria itu membuat Dira mengangkat wajah. Beberapa minggu terakhir Rangga tidak pernah menemuinya. Teleponnya jarang dijawab, pesannya dibiarkan menggantung, dan sejak keluarga Cendana mulai mengawasi gerak-geriknya, ia seperti orang asing bagi lelaki yang dulu mengejarnya tanpa henti. Namun sekarang Rangga datang sendiri, dengan amarah yang menyala-nyala.

“Ya,” jawab Dira akhirnya. “Aku yang mengirimkan informasi itu.”

Mata Rangga terlihat dingin. Meski sudah menduga, pengakuan langsung itu tetap membuat dadanya panas.

“Kau sadar apa akibatnya? Saham perusahaan ayahku tertekan. Seluruh keluarga memeriksa satu sama lain. Aku hampir dianggap mempermalukan nama Cendana di depan mitra bisnis!”

“Aku tidak pernah menyebut namaku,” balas Dira. “Aku menggunakan nama samaran. Tidak ada yang bisa membuktikan aku pelakunya.”

“Tapi aku bisa.” Rangga mengetuk berkas itu. “Ada jejak pembayaran dari rekening yang terhubung denganmu. Kau sengaja membiarkan orang-orang tahu, lalu bersembunyi seolah-olah kau korban.”

Senyum tipis Dira menghilang. Ia tidak menyangka Rangga akan menemukan jalur yang ia gunakan. Ia memang sengaja menyebarkan kabar itu setelah Bu Farah mengusirnya dari rumah keluarga Cendana dan Rangga menolak menolongnya. Ia ingin membuat mereka merasakan sedikit dari kehancuran yang ia alami. Namun ia tidak pernah membayangkan rumor itu akan mengancam bisnis keluarga sebesar ini.

“Aku marah,” katanya, mengubah nada menjadi lebih pelan. “Mereka membuangku begitu saja. Kau pun meninggalkanku saat aku paling membutuhkanmu.”

“Jangan jadikan itu alasan!”

“Apa bedanya dengan alasan yang selalu kau pakai untuk menyakitiku?” Dira menatapnya lekat-lekat. “Kau bilang mencintaiku. Kau bilang pernikahanmu dengan Jingga hanya untuk membuatku cemburu. Tapi setelah semuanya terbongkar, kau memilih menyelamatkan dirimu sendiri dan membiarkanku menghadapi penghinaan sendirian.”

Rangga mengepalkan tangan. “Aku tidak pernah menyuruhmu membocorkan hubungan kita.”

“Dan aku tidak pernah memintamu menikahi Jingga.”

Kalimat itu menghantam tepat pada sasaran. Sesaat, tak ada suara di antara mereka selain dengung pendingin ruangan. Rangga tahu Dira tidak sepenuhnya salah. Namun mengakui itu berarti menghadapi kenyataan bahwa semua kekacauan ini lahir dari keputusan-keputusannya sendiri.

“Ayahku akan menghancurkanmu kalau tahu kau pelakunya,” ujar Rangga dingin. “Dia bisa menuntutmu, dan keluargaku akan memastikan kau tidak lagi punya tempat di sekitar kami.”

Dira menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi Rangga sudah terlalu mengenalnya untuk langsung percaya. Ia pernah melihat air mata yang sama digunakan Dira untuk membuat orang lain merasa bersalah. Kali ini, meski begitu, ada ketakutan sungguhan di baliknya.

“Aku salah,” bisik Dira. “Aku tahu aku salah, tapi jangan serahkan aku kepada Om Arman. Aku nggak punya siapa-siapa lagi untuk melindungiku selain kamu.”

“Kau punya keluargamu sendiri.”

“Mereka tidak tahu apa yang terjadi di antara kita. Kalau kabar ini sampai kepada mereka, aku akan kehilangan Varel. Mereka akan menganggapku perempuan hina.” Dira melangkah mendekat. “Kau sungguh ingin itu terjadi?”

Rangga memalingkan wajah, berusaha mempertahankan amarahnya. Ia datang untuk mendapatkan pengakuan dan memastikan rumor itu berhenti, bukan untuk kembali terjerat dalam permainan Dira. Namun, ketika perempuan itu menyentuh lengannya, semua batas yang ia bangun beberapa minggu terakhir mulai goyah.

“Aku tidak datang untuk menyelamatkanmu,” kata pria itu.

“Aku tahu.” Dira menurunkan tangannya, membuat jarak di antara mereka. “Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tidak menyebarkan kabar itu karena membencimu. Aku melakukannya karena aku terluka. Aku ingin kau datang mencariku, seperti sekarang.”

Rangga menatap wanita itu dengan tajam. “Jadi semua ini hanya supaya aku menemuimu?”

“Awalnya, mungkin.” Dira menghela napas. “Tapi sekarang kau sudah di sini. Katakan padaku, Rangga, setelah semua yang kita lakukan, apa kau benar-benar bisa kembali menjadi orang asing bagiku?”

Pertanyaan itu menggantung di udara. Rangga seharusnya menjawab ya. Seharusnya ia pergi, membawa bukti itu kepada ayahnya, lalu menutup pintu terhadap Dira untuk selamanya.

Namun ia justru teringat masa-masa ketika perempuan itu selalu menjadi pusat keinginannya sebelum ada Jingga. Sebelum pernikahan yang gagal, sebelum semua rahasia berubah menjadi senjata.

“Aku tidak akan mengatakan apa pun pada Papa, tapi kau harus menghentikan semua ini. Jangan ada kiriman baru, jangan ada pesan kepada media, dan jangan membuat masalah lain.”

Dira mengangkat wajah. “Kau berjanji?”

“Aku berjanji tidak akan menyerahkan bukti ini kepadanya. Itu saja.”

Dira meraih tangan Rangga, menggenggamnya dengan kedua tangan. “Makasih.”

“Jangan membuatku menyesal.”

“Aku tidak akan melakukannya lagi.”

Rangga ingin memercayainya. Atau mungkin ia hanya ingin percaya karena pilihan itu membuatnya tidak perlu kehilangan Dira sepenuhnya. Ia memasukkan berkas ke dalam amplop, lalu menyimpannya kembali ke tas.

“Hubungan kita tidak boleh diketahui siapa pun, keluargaku nggak akan pernah menerima ini. Bagi mereka, menjalin hubungan dengan istri mendiang kakakku adalah aib yang tidak bisa dimaafkan.”

“Bahkan setelah Mas Tara meninggal, mereka tetap menganggapku milik masa lalu keluarga itu,” sahut Dira. “Ibumu sudah mengusirku. Om Arman pasti akan melakukan hal yang sama kalau tahu kita masih bertemu.”

“Karena itu, jangan datang ke rumahku. Jangan menghubungiku saat aku bersama keluarga. Kita bertemu hanya jika aku yang mengatur tempatnya.”

Dira menatap Rangga beberapa saat, lalu mengangguk. “Baik. Kita simpan hubungan ini untuk kita berdua.”

Rangga tahu kesepakatan itu salah, tetapi ia tetap mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Dira. Perempuan itu menyandarkan wajahnya ke telapak tangannya, membiarkan keheningan menutupi keputusan yang baru mereka buat. Tak ada permintaan maaf untuk Jingga, tak ada penyesalan atas Tara, dan tak ada keberanian untuk menghadapi keluarga mereka dengan jujur.

Malam itu, mereka kembali memilih kebohongan karena kebenaran menuntut harga yang tak ingin mereka bayar.

Ketika Rangga akhirnya meninggalkan hotel, Dira berdiri di balik tirai jendela, mengawasi mobil pria itu menghilang dari halaman. Air matanya sudah kering. Ia membuka ponsel dan menghapus percakapan dengan akun gosip, tetapi tidak menghapus salinan bukti yang disimpannya di tempat lain.

Ia sudah berjanji tidak akan mengirimkan apa pun lagi. Ia tidak berjanji akan memusnahkan semua bukti.

Sementara itu, di dalam mobil, Rangga mengirim pesan singkat kepada orang yang menyelidiki kebocoran rumor.

“Hentikan penyelidikan. Jangan sampai nama Dira muncul dalam laporan mana pun.”

Rangga mengira telah mengendalikan keadaan. Padahal dengan melindungi Dira, ia baru saja memberi wanita itu kesempatan untuk kembali masuk ke hidupnya. Dan sekali lagi... Rangga mengikat dirinya lebih erat pada rahasia yang suatu hari bisa menghancurkan mereka berdua.

1
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
si serangga ini mmg ringan tangan yh serem deh😒
Mundri Astuti
ya ngga akan bahagia lah endingnya...kalian mulainya salah
Mundri Astuti
nah kan was" suamimu di deketin perempuan lain, mikir ngga jingga kamu gituin juga...
bahagia ngga kamu skrg ..
Mundri Astuti
mudah"an ga ada yg rusuh lagi ... akhirnya jingga menemukan bahagianya
Mundri Astuti
kirim org ke buat ngawasin keluarga mendiang istrimu sam...
Mundri Astuti
oiiiii Dira ....ga usah pake nyalahin org ..dah tau lagi berkendara suamimu ...malah ngajak ribut lagi...

denger ya Rangga dan Dira ...itu sebanding dengan apa yg dirasakan jingga saat kehilangan anaknya ...jadi ga usah so paling menderita
Agunk Setyawan
karma
Sarmini Isang
rasain rangga,dl km mensia siakan anak dan istrimu,sekarangpun Allah ambil anakmu dan bahkan tidak diberikan kesempatan memiliki anak lg selama ber istrikan dira,nikmat kan hasilnya kerena dl menyakiti anak dan istri
Mundri Astuti
nah nikmatin dah hasil mengkhianati dan menyakiti istri sah mu...walau kalian akhirnya bersatu ..kebahagian tdk serta merta mengikuti kalian
Mundri Astuti
ayo samudra ....segera selidiki...keluarga mantanmu ga beres euyyy
Heni Setiyaningsih
preet telat 😂
𝓡𝓡: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Sri Widiyarti
ampun deh keluarga benalu ga tau diri jangan sampe jingga terjebak Thor...
Sarmini Isang
hadeeeh,banyak bngt sampah dan benalu ya di kehidupan jingga,mereka pikir sdh pintar dan nenganggap jingga dan samudera bodoh,sampah rangga dan dira saja tinggal metik karma mereka yg sedang berjalan,tunggu giliran kamu kevin laki2 pecundang yg mau numpang hidup enak,orang tuanya jg sama benalunya
Sarmini Isang
good Leo buktikan km mampu dan lebih baik dr rangga,rangga hanya modal dukungan dr papanya tp kemampuan minus,cuma mampu mengumbar nafsu dan arogan,sekarang tinggal menikmati hasilnya rangga,dl km selalu menyakiti jingga dan mengabaikan anakmu demi anak orang lain,nikmati hidup seperti di neraka dengan dira yg tidak becus ngurus anak,semoga keguguran dan rahimnya diangkat,walaupun anaknya lahir akan cacat dan dira tidak bisa punya anak lg,sedangkan jingga sedang menyambut kebahagiaan dimasa depan bersama samudra
Mundri Astuti
Dira anak have juga ternyata...tapi kelakuannya minus yak
Mundri Astuti
tanggung jawab lah kau Rangga, kamu yg memulai
Sarmini Isang
setelah skandal rangga dan dira pasangan sampah menjijikan itu diketahui oleh keluarga besar cendana,rangga bakal hancur karirnya didepak dr perusahaan dan digantikan Leo,hudup miskin dan br sadar dia sangat mencintai jingga,apa jin dasim dira masih mau sama rangga,setelah diusur keluarganya
Sarmini Isang
mampus km rangga,balan hancur hidupmu,karirmu dan masa depanmu hancurrrr
Mundri Astuti
biar rasa ...cihhh sok lemah si Dira itu...di depan jingga keluar aslinya
Mundri Astuti
diiihhhh dari awal kamu nikahin jingga aja niatnya dah jelek Rangga ...skrg kamu dah dpt apa yg kamu inginkan malah masih ngerecokkin jingga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!