Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.
Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.
Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.
Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.
Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.
Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XIAO LUO
Xiao Luo adalah seorang Office Girl di sebuah perusahaan konglomerat. Rutinitasnya selalu sama: berangkat saat fajar menyingsing pukul enam pagi, dan pulang ketika matahari mulai condong ke barat pukul empat sore.
Empat tahun sudah ia mendedikasikan dirinya di sana—berjuang merangkak dari seorang pekerja magang hingga berhasil diangkat menjadi karyawan tetap.
Meski kariernya stagnan tanpa pernah mencicipi kenaikan jabatan, Xiao Luo tetap bersyukur. Gaji tiga juta yang ia terima setiap bulan sudah lebih dari cukup untuk menopang hidupnya yang serba hemat.
Hidup tidak pernah benar-benar ramah pada Xiao Luo. Kedua orang tuanya wafat ketika ia masih sangat kecil, meninggalkannya sebagai seorang anak tunggal yang sebatang kara.
Saat itu, sang paman—Xiao Er Gao—menampung Xiao Luo yang baru berusia tiga belas tahun. Namun, kebaikan itu hanyalah topeng muslihat. Keluarga sang paman hanya mengincar seluruh harta warisan peninggalan orang tua Xiao Luo.
Di usianya yang masih terlalu muda, Xiao Luo belum paham betapa kejamnya intrik kelurga sendiri. Baru setelah satu bulan menetap, topeng manis itu tanggal sepenuhnya.
Xiao Luo dipaksa bangun lebih pagi daripada ayam berkokok dan tidur jauh melampaui larut malam demi menyelesaikan tumpukan pekerjaan rumah tangga.
Paman Xiao Er Gao memiliki sepasang anak. Putrinya, Xiao Lu, seumuran dengan Xiao Luo dan sama-sama mengusung marga Xiao. Namun, garis nasib dan kepribadian mereka bak langit dan bumi. Xiao Lu tumbuh dalam kemanjaan, sementara Xiao Luo menjadi pelayan tanpa bayaran di rumah pamannya sendiri selama tiga tahun berturut-turut.
Penderitaan itu memuncak ketika Xiao Luo dipaksa putus sekolah karena tak ada seorang pun yang sudi membiayainya. Jiwanya terguncang parah; ia mengalami depresi hebat hingga nyaris mengakhiri hidupnya sendiri.
Beruntung, takdir mempertemukannya dengan seorang penolong berhati mulia. Orang asing itulah yang menyelamatkan nyawanya dan memberinya pekerjaan sebagai office girl.
Sejak hari itu, Xiao Luo tinggal di asrama khusus petugas kebersihan—fasilitas sederhana yang disediakan perusahaan bagi pekerja yang tak memiliki tempat tinggal.
Empat tahun berlalu. Berkat kedisiplinannya menyisihkan tiap lembar rupiah, impian Xiao Luo untuk memiliki tempat bernaung akhirnya terwujud.
Awalnya, ia hanya menargetkan kontrakan kecil berukuran tiga kali empat meter. Namun, keberuntungan berpihak padanya. Sebuah rumah kuno yang sudah bertahun-tahun kosong dijual dengan harga yang sangat miring.
Uang tabungannya bahkan masih menyisakan sedikit sisa untuk biaya hidup sehari-hari.
Satu nilai tambah yang amat disyukuri Xiao Luo: rumah kuno itu berdiri tepat di belakang gedung perusahaannya.
Kini, ia tak perlu lagi mengeluarkan ongkos; cukup berjalan kaki beberapa menit untuk sampai di tempat kerja.
Pada hari Sabtu—satu dari dua hari liburnya—Xiao Luo memutuskan untuk mengemas barang-barangnya yang tak seberapa dan mulai pindah.
Namun, menyambut rumah barunya ternyata membutuhkan perjuangan ekstra. Ilalang liar di halaman depan tumbuh begitu lebat dan tinggi, melampaui tubuh orang dewasa.
Saat mencoba menerobos masuk, kulit lengannya sampai tergores semak belukar. Kondisi fisik rumahnya pun jauh lebih mengenaskan dari yang ia bayangkan.
Sebenarnya, wajar jika rumah itu dijual murah. Selain karena kondisinya yang terbengkalai, rumor mistis yang beredar di sekitar lingkungan membuat calon pembeli lain memilih mundur. Namun bagi Xiao Luo, memiliki rumah seluas ini—meski tua dan rapuh—adalah sebuah anugerah luar biasa.
Begitu melangkahkan kaki menembus pintu utama, Xiao Luo langsung mencari alat-alat kebersihan. Namun setelah menggeledah beberapa sudut, tak ada satu pun sapu atau kain lap yang bisa dipakai.
"Ah, mau tidak mau harus beli dulu," gumamnya pasrah.
Ia pun berjalan sejauh lima ratus meter menuju supermarket terdekat. Xiao Luo membeli sapu, alat pel, pembersih lantai, perlengkapan mandi, serta beberapa porsi makanan instan untuk mengganjal perut.
Sekembalinya dari supermarket, Xiao Luo langsung mengikat rambutnya dan menyingsingkan lengan baju. Ia memprioritaskan kamar tidur dan dapur terlebih dahulu.
Rumah kuno itu berarsitektur tradisional berbentuk persegi panjang dengan pelataran terbuka (courtyard) di bagian tengahnya, dikelilingi oleh bangunan di empat sisi.
Bangunan depan sangat cocok untuk menerima tamu. Bangunan samping terdiri dari beberapa kamar tidur yang sudah dilengkapi kamar mandi dalam. Sementara bangunan belakang difungsikan sebagai dapur dan gudang.
Xiao Luo memilih sebuah kamar di bangunan sebelah kiri. Dilihat dari sisa-sisa ukiran dan dekorasinya, tampaknya ini adalah kamar utama di masa lalu. Di dalamnya masih tersisa ranjang kayu, lemari tua, dan meja rias yang berdebu tebal.
Rasa lelah Xiao Luo menguap berganti binar senang. Ia mulai menyapu, mengepel lantai, dan membersihkan sarang laba-laba yang menggelayut di dinding. Butuh waktu satu jam penuh hanya untuk merapikan kamar tersebut dan mengeluarkan barang-barang yang sudah lapuk.
"Hah... capek sekali," Xiao Luo menyapu peluh di dahinya dengan punggung tangan. "Tapi setidaknya sekarang sudah layak ditiduri. Untung saja aliran airnya masih menyala."
Setelah beristirahat sejenak, Xiao Luo beranjak menuju bangunan belakang tempat dapur berada. Kondisinya jauh lebih parah ketimbang kamar tidur. Debu tebal dan jelaga menempel di mana-mana. Butuh waktu lebih dari dua jam bagi Xiao Luo untuk menguras keringat, membersihkan sisa kotoran, dan membuang perabotan dapur yang sudah rusak.
"Gila! Benar-benar bikin encok!" keluh Xiao Luo sembari memegangi pinggangnya yang pegal. Perutnya mulai berbunyi nyaring.
"Duh, lapar banget lagi. Mau masak tapi belum ada kompor dan alatnya. Harus keluar beli makan... tapi malasnya setengah mati...".
Kringgg... Kringgg...
Ponsel di saku celananya berdering. Xiao Luo merengkuhnya dan menjawab dengan nada lemas.
"Halo..."
"..."
"Di rumah baru," jawab Xiao Luo pendek.
"..."
"Baru banget kelar beres-beres kamar. Kalau ada waktu, mainlah ke sini. Sekalian bantu-bantu aku bersih-bersih," kekeh Xiao Luo.
"..."
"Beneran mau ke sini?"
"..."
"Eh, sekalian bawain aku makanan dong, boleh ya?"
"..."
"Dapurnya masih melompong, belum bisa dipake masak."
"..."
"Kamu tahu kan rumah tua di belakang gedung kantor kita?"
"..."
"Agak seram sih memang, tapi tempatnya luas banget. Kalau kamu mau numpang tinggal di sini juga boleh banget."
"..."
"Oke, aku tunggu ya!"
Telepon ditutup. Senyum Xiao Luo terbit. Yang menelepon barusan adalah Su Wanwan, satu-satunya sahabat sejati yang ia miliki.
Mereka bekerja di perusahaan yang sama, meski memiliki nasib berbeda. Su Wanwan adalah staf magang di bagian administrasi, sedangkan Xiao Luo adalah petugas kebersihan. Kendati begitu, perbedaan status sosial tak pernah menghalangi keakraban mereka.
Sembari menunggu kedatangan Wanwan, Xiao Luo melanjutkan kegiatannya membersihkan ruang tamu, yang bersambung langsung dengan ruang keluarga dan ruang makan.
Meski perhiasan dan barang berharga pemilik lama sudah habis tak berbekas, meja dan kursi kayu di sana masih berdiri kokoh dan bisa digunakan.
Sementara itu di luar, Su Wanwan berdiri di depan pagar rumah tua tersebut. Tengkuknya mendadak merinding menatap bangunan lapuk di hadapannya.
Apa Xiao Luo benar-benar tinggal di sini? Apa dia tidak takut sama sekali? batin Wanwan meragu.
"Cari siapa, Nona?"
Sebuah suara mengejutkan Wanwan. Seorang wanita paruh baya yang membawa kantong belanjaan berjalan mendekat dari arah rumah sebelah.
Wanwan menoleh cepat. "Ah, Permisi, Bu... Apakah rumah ini ada penghuninya?"
"Sepertinya ada. Tadi pagi saya lihat ada seorang gadis muda datang membawa koper. Mungkin dia penghuni barunya," jawab wanita itu ramah.
"Ibu tinggal di sebelah?"
"Iya, itu rumah saya," tunjuknya ke bangunan sebelah. "Nona ini... siapanya gadis tadi?"
"Saya sahabatnya, Bu. Katanya dia baru pindahan ke sini. Tapi saya kaget, tidak menyangka dia berani tinggal di rumah ini. Bukannya rumah ini sudah lama sekali kosong ya?"
Wanwan memberanikan diri memancing informasi. Ibu tetangga itu mengangguk pelan, lalu merendahkan suaranya.
"Pemilik lama rumah ini sudah meninggal puluhan tahun lalu. Anak dan cucunya semua menetap di luar negeri, jadi rumah ini diserahkan ke pihak perumahan untuk dijual. Memang sudah lama sekali dipasarkan, tapi ya begitu... baru sekarang ada yang mau membelinya."
"Begitu ya, Bu... Terima kasih banyak atas informasinya," ujar Wanwan lega setidaknya tahu sejarah rumah itu. "Saya masuk ke dalam dulu ya, Bu. Kasihan teman saya sudah menunggu."
"Silakan, Nona. Kalau nanti butuh bantuan apa-apa, jangan sungkan main ke rumah Saya, ya."
"Baik, Bu. Terima kasih banyak!" Wanwan tersenyum sopan, lalu melangkah ragu menerobos rumput liar menuju pintu utama rumah tua itu.