Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Perburuan Pertama Isabella
Isabella berdiri di depan pintu kayu rumah kecil itu sambil memandang hutan lebat yang terbentang di hadapannya.
Hutan tempat dirinya diasingkan, hutan yang menurut cerita Martha dipenuhi monster, binatang buas, dan berbagai makhluk yang bahkan para kesatria kerajaan enggan mendekatinya. Namun, Isabella tidak merasa takut. Tangannya menggenggam erat sebuah pisau kecil yang dia temukan di dapur, senjata itu memang tidak seberapa, tetapi setidaknya cukup untuk melindungi dirinya.
Isabella kemudian menoleh ke belakang, dia melihat martha bersama ketiga anaknya. Tubuh mereka begitu kurus, pakaian mereka juga lusuh, wajah mereka pucat dan yang paling menyedihkan adalah hampir tidak ada makanan yang tersisa.
Isabella menarik napas panjang.
"Martha, tolong jaga mereka." Kata Isabella lembut tapi tegas.
"Nyonya mau pergi kemana?" Tanya Martha sambil menatap Isabella bingung.
"Berburu." Kata Isabella singkat, matanya menatap ke arah hutan.
"Berburu?" Tanya Martha terkejut, dia menatap Isabella dengan jantung yang berdebar. Martha berharap dia Isabella tidak benar-benar serius dengan ucapannya.
"Ya."
Isabela tersenyum tipis, kemudian kembali mempersiapkan perlengkapannya untuk berburu.
"Ke hutan?" Tanya Martha, wajahnya semakin di penuhi kecemasan.
"Ya." Isabella mengangguk.
"Tidak! hutan itu terlalu berbahaya nyonya, nyonya tidak boleh memasuki hutan itu!" Ucap Martha dengan suara lantang, dia melarang Isabella ke sana karena Martha tau, jika hutan itu terlalu berbahaya, dia hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Majikannya itu.
Isabella menatap Martha bingung, kenapa Martha harus seheboh itu. Bukankah semua hutan sama saja, pikir Isabella.
"Kenapa?" Akhirnya Isabella bertanya pada Martha, karena sejak tadi dia penasaran kenapa Martha melarangnya ke sana sedangkan persediaan makanan mereka bahkan sudah habis.
"Di sana ada banyak monster!" Ucap Martha gemetar, tangannya bahkan berkeringat karena rasa takut.
"Lalu?" Tanya Isabella.
Hanya monster kan, kenapa dia harus menghentikan perburuan ini. Dia bahkan sudah menghadapi ratusan orang yang jauh lebih berbahaya dari monster.
"Di sana ada banyak binatang buas juga." Kata Martha pelan, suaranya hampir tidak terdengar. Tapi Isabella tetap bisa mendengarnya, jangan remehkan pendengaran Isabella. Dia sudah sangat terlatih sejak kecil.
"Aku mengerti." Isabella mengangguk dengan santai. Sedangkan Martha, dia semakin panik saat melihat respon dari majikannya ini.
"Nyonya tidak boleh ke sana." Kata Martha lagi.
Martha menatap penuh harap ke arah Isabella, suaranya bahkan sedikit gemetar saat dia memohon. Berharap sang majikan mengurungkan niatnya untuk memasuki hutan itu, tapi Isabella tidak gentar, dia hanya menatap Martha dengan tenang.
"Jika aku tidak pergi ke sana, kita akan benar-benar akan mati kelaparan martha. " Ucap Isabella santai tapi tapi suaranya terdengar tegas.
Martha terdiam, dia menatap Isabella dengan sendu. Berharap majikannya ini mau mengerti, kalau hutan itu bukanlah tempat yang bisa Isabella masuki sesuka hati. Sedangkan Isabella sama seki tidak peduli, karena yang dia pikirkan saat ini hanyalah bagaimana ketiga anaknya juga Martha bisa makan.
Isabella lalu mengambil mantel tua yang tergantung di dekat pintu.
"Aku tidak peduli makhluk apa saja yang ada di dalam sana, entah itu monster, serigala, atau bahkan naga." Kata Isabella, tatapan Isabella tertuju pada hutan.
"Aku hanya peduli bagaimana kita bisa makan malam ini." Lanjut Isabella.
Martha menatap punggung Isabella dengan mata berkaca-kaca. Selama bertahun-tahun melayani Alicia, Martha tidak pernah melihat wanita itu memikirkan ketiga anaknya seperti ini. Biasanya Alicia hanya mengurung diri di dalam kamar, menangis seharian. Dia bahkan tidak pernah sekalipun melihat wajah ketiga anaknya. Namun sekarang, semuanya berubah.
"Nyonya."
Isabella berhenti, Martha menundukkan kepalanya.
"Berhati-hatilah." Kata Martha pasrah, kini tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia hanya berdoa semoga Isabella bisa pulang dengan selamat.
Isabella tersenyum tipis.
"Aku akan segera kembali."
Kemudian dia mulai melangkah memasuki hutan, semakin jauh Isabella berjalan, semakin sunyi keadaan di sekelilingnya. Pohon-pohon menjulang tinggi menutupi cahaya matahari, kabut tipis menyelimuti hutan itu.
Isabella berjalan perlahan sambil memperhatikan setiap jejak di tanah, dalam kehidupan sebelumnya, dia memang bukan pemburu. Namun sebagai seseorang yang pernah bertahan hidup dalam dunia yang keras, dia tahu bagaimana membaca lingkungan.
Jejak kaki.
Rumput yang terinjak.
Dahan yang patah.
Semua itu bisa menjadi petunjuk, Isabella tiba-tiba berhenti, matanya menyipit. Di tanah terdapat sebuah jejak kaki kecil.
"Rusa..."
Isabella tersenyum tipis, sepertinya dia sudah menemukan menu untuk makan malam mereka nanti.
Isabella mulai mengikuti jejak kaki itu, beberapa menit kemudian Isabella melihat seekor rusa. Tangannya perlahan mengambil anak panah dari tas sederhana yang dibawanya, busur tua itu sebenarnya ditemukan di rumah, kondisinya buruk, tapi masih bisa digunakan. Isabella lalu mulai menarik tali busur itu.
Lalu...
Whoosh!
Anak panah itu melesat dan anak panah itu mengenai perut rusa itu, tapi sepertinya anak panah itu belum mampu membunuh rusa itu.
Hingga rusa itu akhirnya berlari, melihat buruannya melarikan diri Isabella langsung mengejarnya.
"Sial!"
Dia terus berlari menembus pepohonan, rusa itu akhirnya terjatuh setelah beberapa saat. Isabella berdiri di samping rusa itu dengan nafas yang terengah-engah.
"Setidaknya malam ini mereka bisa makan." Kata Isabella, senyum tipis menghiasi wajahnya.
Tapi ketika Isabella hendak mengambil rusa itu, Isabella tiba-tiba mendengar suara geraman dari belakang. Suaranya sangat besar hingga menakuti semua burung-burung.
GRAUUURRR...
Isabella membeku, suara itu terdengar sangat jelas seakan sangat dekat dengannya. Isabella perlahan menoleh, matanya membelalak saat melihat Sepasang mata merah menyala terlihat di antara semak-semak.
Isabella menggenggam pisaunya lebih erat.
"Sepertinya..."
Isabella tersenyum kecil, menatap sesuatu yang kini menghampiri nya.
"aku menemukan masalah."
Dari balik pepohonan, seekor serigala hitam raksasa keluar, tubuhnya hampir dua kali lebih besar daripada serigala biasa, taringnya panjang, dan air liur terus menetes dari mulutnya. Isabella menatap makhluk itu tanpa mundur sedikit pun.
"Kalau kau ingin memakan rusa itu..."
Dia mengangkat pisaunya.
"kau harus melewatiku terlebih dahulu."
Serigala itu menggeram semakin keras.
GRAUUURRR
Lalu—
Ia menerjang Isabella, tapi Isabella segera berguling ke samping. Melihat Isabella menghindar serangannya, serigala itu menatap Isabella semakin tajam.
Cakar Serigala itu menghantam tanah tepat di tempat dirinya berdiri sebelumnya.
BUK!
Tanah itu seketika bergetar, bekas cakaran besar terlihat di tanah itu. Isabella bergidik menatap bekas cakar itu, jika cakaran makhluk itu mengenai dirinya. Mungkin dia bisa terluka parah, atau lebih parahnya lagi dia bisa mati.
Wajah Isabella langsung berubah serius, dia menatap tajam serigala itu.
"Untung saja aku bergerak cepat."
Isabella menggenggam pisaunya lebih erat, mengamati setiap gerakan serigala itu. Dia tidak boleh lengah, karena sekali dia lengah maka dia akan mati detik itu juga.
Isabella tidak merasa takut, karena hal seperti ini sudah biasa baginya. Apalagi saat ini dia harus cepat pulang dan membawa hasil buruannya, ketiga anaknya menunggunya dengan perut lapar.
Dan malam ini...
Mereka harus makan.
Apa pun yang terjadi.
Isabella tidak akan pulang dengan tangan kosong.
Bersambung.