Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cium tangan suami: 27
Tatiana Wilman melirik benci sang ibu tiri. Nasehat panjang kali lebar tak mampu menyentuh kalbu, gagal menyentak logikanya agar bisa berpikir logis. “Itu karena kamu pintar menggoda papiku. Wanita sepertimu banyak ditemui di sosial media yang sok bijak, aslinya sedang menawarkan diri.”
“Jika dimatamu aku seperti itu, maka kuberi dirimu sebuah petuah agar bisa dijadikan pedoman pegangan hidup supaya jangan sampai salah ucap maupun langkah.” Sudut bibir Saniya tertarik, ia tersenyum meremehkan, membalas tatapan nyalang dengan sorot tenang.
“Harap selalu berhati-hati, sebab jika seorang laki-laki telah jatuh cinta kepada wanita penggoda, biasanya dia akan jadi sangat penurut. Tatiana … sekali lagi kamu melakukan hal yang merugikan orang lain, jangan salahkan aku kalau memanfaatkan bakat telah dirimu akui barusan. Sana pergi ke sekolah!” Saniya mengedipkan mata kirinya.
“Nyebelin banget sih kamu!” Tatiana menggeram, dia tidak berani membalas disaat ayahnya sedang emosi sulit diajak kompromi.
Tatiana Wilman berjalan angkuh keluar rumah, amarah masih menguasai.
Sepeninggalan putri sambungnya, Saniya menarik napas sembari memejamkan mata. Cemooh sinis Tatiana memang tidak dimasukkan kedalam hati, namun rasanya sedikit lelah menghadapi remaja labil itu.
“Bu ….” mbak Juraida berdiri di samping sang nyonya.
“Ya, kenapa, Mbak?”
“Saya mau minta maaf, tadi belum sempat ngomong langsung ke Ibu. Maaf sudah buat pakaian Ibu rusak,” ia benar-benar menyesal, dan merasa bersalah.
Saniya mengikis jarak, mengelus sebentar pundak tertutup lemak. “Saya harap, lain kali mbak Juraida lebih hati-hati. Kendatipun seandainya bukan mbak yang melakukan, tetapi pekerjaan itu adalah tanggung jawabmu. Jadi, jangan ceroboh lagi.”
“Akan saya ingat, Bu. Maaf, ya?” Wajahnya menunduk.
“Saya maafin. Mbak pasti belum sarapan, kan? Makan lah dulu.” Saniya menurunkan tangannya, lalu dia melangkah menuju kamar.
Ardan sudah dibawah main ke halaman depan dekat pos satpam. Suci mengalihkan perhatian si bungsu agar tidak terlihat sedih dan teringat kejadian di meja makan tadi.
.
.
“Saniya, kamu hari ini libur, ‘kan?” tanya pria sudah berpakaian santai — kaos polos hitam, celana jeans biru tua.
“Iya, Mas. Aku sudah izin ke wakil kepala sekolah.” Ia baru saja masuk ke dalam kamar.
“Mas Yarash yang beresin tempat tidurnya, atau Bibi?” tanyanya sambil memandangi ranjang sudah rapi, bantal bersandar di belakang guling, dan selimut terlipat.
Saat Saniya ditinggal ke dapur, kamarnya masih berantakan dan Ardan belum bangun.
Yarash tengah memakai jam tangan sport sesuai kebutuhan saat berada di lapangan yang terkadang tiba-tiba hujan.
“Sedari kecil saya sudah terbiasa membereskan kamar sendiri. Saniya … suamimu ini bukan langsung berekonomi mapan, semua yang sekarang saya dapatkan, dan dapat kamu nikmati kedepannya, hasil merintis dari bawah. Mama dan Papa pensiunan dosen — kehidupan kami dulu berkecukupan tetapi tidak berlebihan,” terangnya.
Kekaguman Saniya bertambah ke pria penyabar ini. Yarash di matanya nyaris sempurna, bertanggung jawab, dan mengerti bagaimana caranya memperlakukan seorang istri meski dia tidak cinta.
“Mungkin nanti saya pulangnya sedikit terlambat. Hari ini waktunya panen Lobster dan juga Rajungan, terus sibuk mengurus prosedur karantina agar dapat surat izin dari dinas perikanan sebelum di ekspor ke Asia,” ia menjelaskan tanpa dipinta dan berhasil menambah rasa kagum sang istri yang memandang dengan binar hangat.
“Jadinya nanti malam mau makan dirumah, atau tidak, Mas?”
Yarash mengambil jaket jeans dari tiang gantungan baju. Sambil mengenakan, ia menjawab. “Sepertinya tidak, saya makan bersama tim karyawan yang harus kerja lembur. Lebih jelasnya, nanti saya hubungi kamu.”
“Baik, Mas,” Saniya tidak bisa tidak memuji penampilan pria layaknya pemuda itu, namun hanya berani menyatakan kekaguman dalam hati saja.
“Mas Yarash hati-hati selalu dalam beraktivitas, terus ingat makan tepat waktu. Sekarang cuaca sulit diprediksi, saat panas terik tiba-tiba mendung lalu hujan deras, membuat daya tahan tubuh mudah lemas kalau tidak dijaga baik-baik,” nasehatnya tulus dari hati.
Yang diberi perhatian, untuk beberapa saat bergeming, lalu senyum simpul menghiasi bibir, dia senang ada seseorang mengingatkannya. “Terima kasih, Saniya. Saya berangkat, ya.”
Saniya menghadang langkah pria yang langsung berhenti. Ia mengulurkan tangannya. “Salim, Mas.”
‘Rasanya lebih mudah ketika ada Ardan diantara kami, kenapa sekarang terasa berbeda?’ Yarash mengulurkan tangan kanannya, dan langsung disambut oleh Saniya.
Keikhlasan tersirat dari sorot mata redup saat Saniya mencium punggung tangan suaminya. ‘Tangan inilah yang kini bersedia menafkahiku dengan rezeki halal, semoga Tuhan selalu menjaga setiap langkah kakimu mas Yarash.’
Hanya beberapa detik saja, lalu Saniya melepaskan tangan Yarash, dia menjelaskan secara gamblang. “Aku belajar mengikuti sesuatu yang sangat dianjurkan sebagai simbol tawaduk dan penghargaan istri kepada suaminya. Mas Yarash keberatan, tidak? Jika iya, lain —”
“Saya sangat suka.” Gerakannya seperti terprogram otomatis, Yarash menepuk sangat pelan pucuk kepala wanita pemilik senyum teduh, mata indah.
“Kalau ada apa-apa, atau perlu sesuatu, langsung hubungi saya. Jangan sungkan, saya selalu siap kamu repotkan!” ujarnya tegas namun perhatian.
“Iya, Mas.” Saniya menahan napas demi menurunkan kecepatan denyut jantung yang sekarang seperti habis berlari kencang.
Yarash menurunkan tangannya, ia seperti tengah menimbang-nimbang, tidak langsung pergi, namun pada akhirnya berlalu juga setelah menghela napas panjang.
Saniya tidak mengantarkan suaminya sampai teras, dia berdiam diri di kamar. Duduk termenung di atas kasur, dan tiba-tiba air matanya mengalir dengan sendirinya.
‘Kamu telah bersuami, wajar apabila mas Yarash menyentuhmu, lebih dari usapan di kepala pun dia berhak atas dirimu,’ batinnya tengah menenangkan gemuruh di dada efek dari rasa bersalah, seakan telah mengkhianati Fahmi yang masih terus menghubungi meski tak pernah sekalipun direspon.
“Ibu tili! Ibu tili … cucuku mau lahilan! Ayo jadi doktel, Ibu tili!”
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...