Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Datang Bertubi-tubi
Grace tak langsung membalas. Dia tampak sangat lelah dengan semua hal yang berhubungan dengan Norman. Namun, tatapannya membuat Norman mulai berkeringat dingin.
"Sayang, kau dengar aku, 'kan?" Norman masih menggenggam tangan Grace sampai sekarang.
Bukannya menjawab pertanyaan, Grace malah menarik tangannya, kemudian memalingkan wajah dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
Norman terlihat panik. "Sayang, kau mau ke mana?"
"Mandi!" Tanpa menoleh ke belakang, Grace pun menanggapi.
"Aku ikut, ya!" tanya Norman sambil melangkahkan kaki ke arah Grace.
Norman harus membuat Grace memercayai perkataannya.
Grace masih juga tak membuka suara. Sekarang, dia berdiri di depan wastafel lalu melucuti kain yang menempel di tubuhnya satu per satu hingga menyisakan pakaian dalam berwarna hitam.
Sementara itu, Norman sudah berada di dalam kamar mandi bersamanya. Ia segera berdiri di belakang Grace dan menatap istrinya melalui pantulan cermin di depan. Saat ini, lelaki itu sedang menahan diri agar tak menerkam Grace. Sedari tadi, jakunnya naik dan turun.
"Sayang, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Kau percaya denganku, 'kan? Kau harus tahu video yang beredar di media sosial semuanya rekayasa. Musuhku sedang berusaha menghancurkan rumah tangga kita," kata Norman sambil memegang pundak Grace dari belakang.
Bagi siapa pun yang mendengar penjelasan Norman, perkataannya terdengar sangat meyakinkan. Namun, Grace bukanlah wanita yang bisa dikelabui. Sebab, dialah yang membuat kekacauan di dunia maya kemarin.
"Iya, aku percaya," balas Grace sambil berusaha melepas anting-antingnya.
Dua kata itu berhasil membuat Norman tersenyum lebar. "Benarkah? Ternyata istriku ini sangat pengertian. Bagaimana kalau kita mandi bersama-sama? Kita sudah lama tidak berhubungan sejak kau pulang dari Milan," kata Norman sambil mengecup singkat pundak Grace.
Grace menyeringai sebentar lalu dengan cepat membalikkan badan dan menatap dingin. Norman tampak sangat terkejut.
"Aku sangat heran dengan suamiku ini. Alih-alih meminta maaf atas perbuatan mamamu dan adikmu kemarin, kau malah mengajakku melakukan sesuatu yang menjijikkan."
Sontak perkataan Grace membuat Norman terperangah. "Apanya yang menjijikkan? Kita kan pasangan suami istri. Hal yang wajar bukan mandi bersama? Masalah mama dan adikku, kenapa aku harus minta maaf? Memangnya mereka salah apa?"
Grace membuang napas kasar dan memejamkan matanya sejenak. Norman seolah tak tahu apa yang terjadi kemarin.
"Pikir saja sendiri, Norman. Keluar kau dari sini sekarang!"
Grace segera mendorong dada Norman hingga lelaki itu hampir saja terjatuh. Grace langsung menarik tangan Norman menuju pintu kamar mandi.
Norman tersentak, tampak bingung. Belum sempat dia membuka suara, sesampainya di depan pintu, Grace menutup pintu dengan sangat kencang hingga menimbulkan bunyi dentuman.
Brak!
"Ada apa dengannya?" Norman tampak frustrasi. Masalah satu belum selesai, masalah lain pun datang.
Ponsel Norman tiba-tiba berdering. Pesan dari Edmund meminta Norman membawa Grace ke rumahnya sekarang.
"Ck!" Norman berdecak kesal saat membaca pesan tersebut.
Sekitar pukul delapan pagi, Norman dan Grace sudah berada di mansion besar milik Edmund. Dengan berbagai cara, akhirnya Norman bisa membawa Grace kemari.
Seperti hari biasanya, rumah Edmund tak pernah sepi. Selalu ada teman-teman sebayanya. Pagi ini, baru ada Julian Sinclair yang terlihat sedang menemani Edmund menyantap sarapan di taman belakang. Namun, kali ini ada yang berbeda. Terlihat Allison dan Ruby duduk bersama mereka.
Saat melihat kedatangan Grace dan Norman, pandangan langsung tertuju pada mereka. Allison dan Ruby menatap tajam ke arah Grace. Sementara Julian terlihat datar tanpa ekspresi.
"Akhirnya kalian datang. Mari duduklah. Ayo, Grace, duduk." Tuan rumah pun berkata sambil melirik sinis Norman sekilas.
Mendapat pandangan itu, Norman hanya tersenyum kecut.
Grace hanya mengangguk, kemudian duduk sambil melirik satu per satu manusia di sekitarnya. Dia tak memedulikan Allison dan Ruby yang saat ini terlihat tidak senang dengan kedatangannya.
"Grace, atas nama keluarga Turner, Kakek minta maaf karena Norman telah melakukan hal bodoh soal video tak senonoh itu."
Begitu Grace dan Norman duduk, Edmund segera membuka suara.
Grace tak segera menjawab. Sekarang, dia menatap Edmund dengan kening berkerut samar.
Selama enam tahun menjadi bagian dari keluarga Turner, Grace jarang sekali datang ke rumah Edmund jika tidak diminta. Jika bertemu lelaki berambut putih ini, Edmund selalu berbicara dengan sombong. Edmund seolah tak peduli dengan kehadirannya sebagai menantu.
Apa yang sebenarnya terjadi selama dia menempuh pendidikan? Tidak biasanya Edmund bersikap seperti ini.
Apa karena ada pria asing di hadapannya sekarang? Yang Grace sendiri pun tidak tahu namanya. Grace mencoba membaca situasi saat ini.
Julian duduk dengan tenang, mengambil makanan di piring tanpa memedulikan keadaan di sekitarnya. Cara tangannya bergerak begitu luwes.
"Grace," panggil Norman, berusaha menyadarkan.
Grace lantas tersadar lalu berkata, "Aaa, iya. Terima kasih, Kakek. Aku percaya sama Norman."
Mendengar hal itu, Edmund terkekeh pelan sambil melirik Julian. "Syukurlah. Apa kau tahu kemarin Norman Kakek pukul karena dia membuat nama Turner tercoreng."
Grace menoleh ke arah Norman. Tadi pagi dia sempat melihat bekas memar di wajah Norman, tapi dia mengabaikan hal itu.
"Kau memang keren, Edmund. Meskipun sudah tua, tenagamu masih kuat." Julian tiba-tiba menimpali, suaranya berat dan berwibawa.
"Tentu saja." Edmund tertawa pelan.
Melihat hal itu, Allison dan Ruby hanya saling tatap. Sementara Norman tersenyum meringis.
Grace tampak canggung lalu terpaksa membalas, "Um, iya, Kakek. Terima kasih."
"Kenapa kau mengatakan terima kasih? Jadi, kau senang Norman dipukul?" Balasan Grace membuat Allison refleks membuka suara sambil menatap tajam.
Tawa Edmund dan Julian mendadak berhenti.
Grace yang tadinya terlihat tenang mulai terlihat kesal. "Lalu aku harus jawab apa? Norman memang pantas diberi pelajaran. Lagipula, dia bukan suami yang baik. Dia tak pernah membelaku ketika aku dihina oleh mama mertua dan adik iparku ini. Norman selalu diam. Jadi, wajar aku berterima kasih kepada Kakek karena telah memukulnya. Apa perlu aku ingatkan lagi? Bukankah kemarin Mama dan Ruby mengatakan aku mandul di hadapan Norman?"
Bersambung ~
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣