NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 - SINYAL RADIO MISTERIUS

Sinar matahari pagi membias redup melalui celah jendela kaca berdebu, menembus tirai tipis yang menggantung kaku di ruang tamu. Udara di dalam rumah asing itu terasa agak pengap, namun jauh lebih aman dibandingkan kabut spora yang mulai membumbung pekat di luar sana. Rian terkapar lelap di atas karpet tua, napasnya terdengar teratur setelah rasa lelah yang luar biasa menyerap seluruh tenaganya sejak pertarungan brutal di gedung parkir.

Di sudut ruangan dekat meja kayu, Steve duduk menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang dingin. Pria kekar itu memegangi bahu kirinya yang baru saja dibalut kasa steril oleh Luna, menggerakkan lengannya pelan-pelan untuk menguji kelenturan ototnya.

"Perbannya tidak terlalu kencang, kan?" tanya Luna seraya memasukkan sisa botol alkohol ke dalam kantung rompi taktisnya.

"Pas sekali. Rasanya jauh lebih baik daripada tadi." jawab Steve sambil tersenyum tipis, menatap bahunya yang rapi terbungkus perban.

Luna mengangguk singkat. Ia melangkah ke arah jendela depan, menyibak tirai beberapa sentimeter untuk memantau halaman pemukiman. Di luar, keheningan pagi terasa begitu janggal. Hanya ada satu atau dua zombie berspora yang melintas kaku di antara tumpukan sampah, bergerak lambat bagaikan bayangan tanpa jiwa.

Steve berdiri dari duduknya, mengibaskan debu yang menempel di celana jinsnya. Ia berjalan pelan mengelilingi ruang tengah rumah tersebut, menyisir rak buku dan lemari kayu tua yang pintunya setengah terbuka. Nalurinya sebagai pekerja lapangan membuatnya terbiasa mencari barang-barang berguna di tempat baru.

"Pemilik rumah ini sepertinya pensiunan pegawai negeri." gumam Steve sambil menggeser beberapa tumpukan koran lama di meja sudut.

"Ada sesuatu yang berguna?" tanya Luna tanpa menoleh dari balik jendela.

"Sebentar..." Steve meraih sebuah kotak plastik berwarna hitam kusam yang tergeletak di balik tumpukan buku tebal.

Kotak itu adalah sebuah radio penerima sinyal darurat bertenaga baterai dan engsel engkol manual. Bentuknya agak agak antik dengan antena besi yang bisa ditarik memanjang. Steve menyapu debu tebal yang melapisi permukaan radio tersebut menggunakan ujung kemejanya.

"Radio gelombang pendek. Baterainya masih ada, tapi agak longgar." kata Steve seraya mengetuk-ngetuk bagian belakang wadah baterainya.

Luna membalikkan badan, melangkah mendekati Steve dengan ketertarikan yang tidak bisa disembunyikan. Di tengah kota yang lumpuh total dengan jaringan seluler yang mati, komunikasi radio adalah satu-satunya jendela untuk mengetahui situasi peradaban yang tersisa.

"Coba nyalakan. Pakai engkol manualnya kalau baterainya habis." instruksi Luna pelan.

Steve mengangguk. Ia menarik engkol kecil di samping radio, memutarnya beberapa kali dengan gerakan cepat hingga lampu indikator merah di sudut layar menyala redup. Suara desis kresek-kresek khas frekuensi kosong langsung memenuhi ruangan yang hening.

Kssssshhhhh...

"Kecilkan volumenya, Steve. Suaranya bisa tembus ke halaman luar." peringat Luna refleks meletakkan tangannya di atas bahu Steve.

"Iya, tenang saja." jawab Steve seraya memutar tombol volume ke tingkat paling rendah, hingga desisan radio itu hanya terdengar samar di antara mereka berdua.

Jemari Steve yang bersimpul otot kuat mulai memutar kenop frekuensi secara perlahan. Jarum merah di layar radio bergeser melintasi angka-angka frekuensi AM dan FM. Sebagian besar saluran hanya menghasilkan suara statis gumpalan frekuensi mati yang monoton.

Ksssssh... krrrkkk... ksssssh...

Rian yang tadinya tertidur di lantai mendadak terbangun, mengusap matanya kaget saat mendengar desisan radio tersebut. Ia merangkak mendekat ke arah meja dengan wajah dipenuhi harapan tegang.

"Itu... itu siaran pemerintah?" bisik Rian dengan suara parau.

"Belum tahu. Semua saluran utama mati total." balas Steve tanpa mengalihkan pandangannya dari kenop frekuensi.

Steve terus memutar jarum radio melintasi gelombang pendek VHF. Tiba-tiba, suara desis yang tadinya konstan berubah ritmenya. Ada getaran gelombang lain yang mencoba menerobos suara statis tersebut, memicu bunyi klik berulang yang teratur.

Krrkk... bipp... ksssssh...

"Tahan di frekuensi itu." bisik Luna tajam, matanya menatap kaku ke arah pengeras suara kecil radio.

Steve menghentikan putaran jarumnya. Ia menahan posisi kenop dengan sangat hati-hati, memiringkan kepalanya agar telinganya berada lebih dekat ke speaker radio.

Di antara desisan gelombang yang mengayun, suara manusia mulai terdengar samar-samar. Suara itu jernih, tipis, namun diwarnai nada kecemasan yang amat sangat. Suara seorang wanita muda.

"...papun yang mendengar siaran ini... mohon... ini bukan rekaman otomatis..." suara wanita itu terputus-putus oleh nada gangguan sinyal.

Steve memutar engkol manualnya dua kali lagi untuk menambah daya listrik radio. Suara di pengeras suara mendadak menjadi jauh lebih jelas dan stabil.

"...Saya ulangi, siapa pun penyintas yang menangkap frekuensi darurat ini. Nama saya Nancy. Saya terjebak di dalam ruang server lantai dua Gedung Elektronik Sentral, Jalan Merdeka Nomor Empat Puluh..." suara wanita bernama Nancy itu terdengar memburu, napasnya terdengar kembang kempis di balik mikrofon transmiter.

Luna dan Steve saling berpandangan sekilas. Nama lokasi yang disebutkan wanita itu persis sama dengan tempat yang dibicarakan Steve sebelumnya.

"...Pintu ruang server terkunci rapat dari dalam, tapi suplai listrik cadangan saya tinggal lima belas persen. Puluhan zombie berkumpul di luar lorong lantai dua. Saya punya akses ke seluruh pemetaan CCTV kota dan sistem navigasi digital yang masih aktif sebelum jaringan pusat tumbang. Jika ada yang bisa membantu membukakan jalur keluar... saya bisa membagikan peta jalur aman keluar dari distrik ini... Tolong, siapa pun..." siaran itu terputus kembali menjadi suara desis panjang.

Kssssshhhhh...

Keheningan melingkupi ruang tamu rumah tersebut selama beberapa detik. Pesan darurat itu berulang kembali dari awal, dipancar-ulangkan secara otomatis oleh sistem radio transmiter buatan wanita bernama Nancy itu.

"Gedung Elektronik Sentral..." gumam Steve seraya mematikan tombol daya radio untuk menghemat baterai.

"Kamu yakin gedung itu yang berjarak dua kilometer dari sini?" tanya Luna menegaskan.

"Pasti. Itu kompleks pertokoan elektronik terbesar di distrik ini. Gedung empat lantai dengan sistem keamanan canggih." Steve mengangguk mantap.

"Wanita itu punya akses peta digital kota dan jaringan CCTV yang masih aktif." Luna menganalisis informasi yang baru saja ia dengar.

"Itu harta karun di dunia kiamat seperti ini, Luna. Kalau kita punya peta jalur aman dan pemantauan CCTV, kita tidak perlu berjalan buta menerobos kerumunan zombie di jalanan." ujar Steve dengan mata menyalakan semangat baru.

Rian yang duduk di lantai memandangi Luna dan Steve bergantian dengan cemas.

"Tapi wanita itu bilang ada puluhan zombie di lantai dua gedung itu. Berarti tempat itu sama berbahayanya dengan gedung parkir tadi!" kata Rian ragu.

"Memang berbahaya. Tapi berjalan tanpa peta di kota mati ini jauh lebih mematikan, Rian." jawab Luna tenang namun tegas.

Luna melangkah mendekati meja, mengambil busur recurve-nya dan menyandarkannya di bahu. Nalurinya sebagai mantan taruna militer menilai bahwa keberadaan seorang ahli teknologi yang menguasai data pemetaan kota adalah aset taktis yang sangat vital bagi keselamatan kelompok mereka dalam jangka panjang.

"Wanita itu tertahan di ruang server. Berarti dia punya kecerdasan dan kemampuan bertahan hidup yang cukup baik sampai bisa meretas transmiter radio." kata Luna.

"Jadi, kita ke sana?" tanya Steve seraya meraih pipa besi tebalnya dari sofa.

"Kita berangkat sekarang sebelum suplai listrik cadangannya benar-benar habis dan dia kehilangan akses ke sistem pemetaan." keputusan Luna bulat tanpa ragu.

Steve tersenyum tipis, mengangguk setuju pada komando wanita tersebut. Ia mengencangkan tali kemejanya, berdiri di samping Luna dengan kesiapan tempur murni. Sementara Rian, meski masih menyimpan rasa takut, bergegas berdiri dan menggendong ransel militernya rapat-rapat.

Sinyal radio misterius itu telah memberikan mereka sebuah rute dan tujuan baru. Di tengah Kota Mati yang tanpa kepastian, kelimanya—yang kini diwakili oleh langkah awal Luna dan Steve—mulai bergerak menembus bahaya demi menjemput anggota kelompok berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!