Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5
Sentuhan mendadak itu menyengat kulit theo, seketika memaku langkahnya yang hendak berhambur menuju pintu depan. Genggaman lemah namun sarat keputusasaan itu membuat dadanya berdenyut ganjil—perasaan tertahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Denting bel rumah kembali menggema dari lantai bawah, menuntut kehadirannya, tetapi tarikan rapuh di tangannya seolah memiliki gravitasi yang mustahil ia tepis begitu saja.
theo berlutut di sisi ranjang, menurunkan pandangannya hingga sejajar dengan wajah pucat yang bersimbah keringat dingin itu. Jemari tangannya yang lain bergerak kaku, menyelipkan anak rambut yang menempel di pipi sang gadis dengan kelembutan yang ia sendiri enggan akui.
"Gue cuma mau buka pintu buat dokter, bego,"
bisik theo parau, nada ketusnya sama sekali kehilangan taji di hadapan tatapan sayu itu.
Ia membalas genggaman jemari mungil itu sejenak, meremasnya perlahan guna menyalurkan kehangatan sebelum melepaskannya dengan berat hati.
"Tunggu semenit. Gue nggak bakal ke mana-mana."
theo bangkit, melangkah cepat menuju lorong depan seraya berseru lantang memanggil pelayan rumahnya untuk segera menuntun dokter masuk ke kamarnya.
10 menit kemudian setelah dokter memeriksa keadaan eca dan memberikan obat,dokter memyarankan untuk terus tetap menjaganya dan selalu mengganti kompres setiap menitnya agar demamnya turun.
Pintu kamar berderit pelan seiring langkah dokter paruh baya itu menghilang di ujung koridor. Hening kembali merajai ruangan, menyisakan desah napas berat yang terdengar payah dari sosok di atas tempat tidur. theo menatap baskom porselen di meja samping ranjang, mendengus pelan saat menyadari betapa konyol posisinya sekarang—seorang ketua komplotan jalanan yang mendadak beralih peran menjadi perawat semalaman suntuk.
Ia mencelupkan kembali kain katun itu ke dalam air suam-suam kuku, memerasnya hingga tetesan air berhenti mengalir. Dengan gerakan canggung namun hati-hati, theo meletakkan kompres baru ke kening yang masih terasa panas menyengat itu. Tatapannya menelusuri raut wajah pucat yang kini tampak begitu ringkih tanpa celaan tajam yang biasa terlontar.
"Lo benar-benar utang budi banyak ke gue malam ini,"
gumam theo datar, suaranya sarat getaran lelah yang ia sembunyikan di balik nada ketus.
Ia menarik kursi kayu mendekat, menjatuhkan bobot tubuhnya di sana tanpa berniat beranjak sedetik pun. Satu tangannya bertengger di tepi kasur, bersiap mengganti kompres itu begitu hawa panas kembali menguap.
30 menit telah berlalu, di tengah malam tiba-tiba eca bergumam kembali dan sedikit menitihkan air matanya,theo yang sudah mulai sedikit tertidur tiba-tiba kaget dan terbangun,
"Nenek....jangan pergi, eca nggak mau sendirian lagi,tolong jangan pergi"
Kepala theo terangkat mendadak, menghempaskan kantuk yang sempat merayapi kelopak matanya. Suara rintihan yang tercekat itu membedah keheningan dini hari, langsung mengembalikan kesadarannya secara penuh. Pandangannya terpaku pada bulir bening yang meluncur lambat membasahi pipi pucat di atas bantal kelabu miliknya.
Dada pemuda itu berdenyut nyeri, dihantam pemandangan rapuh yang mengikis habis tabiat angkuhnya. theo mendesah panjang, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga jarak mereka kian terkikis. Jemarinya yang kapalan bergerak ragu, menyeka jejak air mata itu dengan sapuan ibu jari yang teramat pelan, takut meremukkan sosok di hadapannya.
"Cengeng,"
desis theo lirih, nada suaranya serak tertahan tanpa sengatan tajam. Tangannya beralih meraih kain di dahi sang gadis yang mulai mengering, mencelupkannya kembali ke air dingin sebelum menepuk-nepuknya lembut ke kulit yang masih berpijar panas.
Ia membiarkan telapak tangannya tetap berada di sana, menangkup pelipis sang gadis seolah berusaha menyerap habis kepedihan yang merasuki alam bawah sadarnya.
"Gue kan udah bilang bakal nungguin di sini. Diam, tidur lagi."
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊