NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Pagi itu, Nadira datang ke kantor dengan satu tujuan: mencari tahu apa arti kode AP-17 tanpa membuat kesimpulan yang belum bisa dibuktikan.

Sayangnya, semesta tampaknya punya selera humor yang buruk.

Baru lima menit setelah ia menyalakan laptop, Dimas sudah berdiri di samping mejanya sambil membawa dua lembar cetakan.

“Kamu punya waktu untuk tugas tambahan?”

Nadira menatap kertas itu dengan curiga. “Tergantung. Apakah tugasnya melibatkan bekerja sampai tengah malam?”

“Tidak kalau kamu bisa menyelesaikannya sebelum sore.”

“Itu bukan jawaban yang menenangkan.”

Dimas meletakkan cetakan di meja. “Ada pengumuman dari ASTRAL. Mereka akan mengadakan konferensi pers tentang persiapan turnamen internasional. Saya ingin kamu meliputnya.”

Nadira melirik judul pada halaman pertama.

ASTRAL SIAP BERTARUNG DI PANGGUNG INTERNASIONAL, VEX KEMBALI JADI SOROTAN.

Tentu saja.

Di antara jutaan berita yang bisa muncul hari itu, ia harus kembali berurusan dengan Raka Adhitama.

“Kenapa aku?”

“Karena kamu mengenal permainan mereka, punya hubungan kerja dengan tim, dan tulisanmu mengenai Raka mendapat respons bagus.”

Dimas berhenti sebentar.

“Kalau kamu merasa tidak nyaman, saya bisa menugaskan wartawan lain.”

Nadira mempertimbangkannya.

Ia bisa menghindari ASTRAL untuk sementara. Namun, ia tidak ingin kehidupan pribadinya menentukan pekerjaan yang sudah dibangunnya selama bertahun-tahun.

“Aku akan meliputnya.”

“Bagus. Jangan lupa menyelesaikan artikel yayasan juga. Saya ingin melihat hasil wawancaramu dengan pihak Adhitama Peduli.”

Nadira mengangguk.

Setelah Dimas pergi, ia membuka halaman catatannya dan menatap kode yang ditulis semalam.

AP-17.

Ia belum mendapatkan petunjuk baru. Surel kepada yayasan masih menunggu balasan, sementara pesan anonim itu tidak memberikan informasi selain kode tersebut.

Nadira memutuskan untuk tidak mencampuradukkan kedua pekerjaannya.

Pagi ini, ia akan menjadi wartawan esports.

Sore nanti, jika ada waktu, ia akan kembali menjadi anak yang berusaha memahami masa lalu ibunya.

Ruang konferensi ASTRAL dipenuhi wartawan ketika Nadira tiba.

Di bagian depan, layar besar menampilkan logo tim dengan latar belakang biru gelap. Beberapa pemain duduk berjejer di atas panggung, sementara Arman berdiri di samping meja narasumber.

Raka berada di tengah.

Ia mengenakan jaket resmi ASTRAL dan tampak jauh lebih nyaman dibandingkan saat menghadiri acara amal keluarga.

Ketika Nadira masuk, pandangan mereka sempat bertemu.

Raka mengangguk kecil.

Nadira membalas dengan anggukan profesional, lalu memilih tempat duduk di barisan kedua.

Tidak ada alasan untuk membuat pertemuan itu lebih rumit daripada yang diperlukan.

Konferensi dimulai dengan penjelasan Arman mengenai persiapan tim, jadwal latihan, dan target ASTRAL di turnamen internasional mendatang.

Setelah itu, sesi tanya jawab dibuka.

Seorang wartawan bertanya mengenai strategi tim. Wartawan lain menyinggung perubahan komposisi pemain. Beberapa pertanyaan diarahkan kepada Raka tentang tekanan menjadi kapten sekaligus salah satu pemain paling terkenal di Indonesia.

Raka menjawab semuanya dengan tenang.

“Saya tidak bisa menjamin kami akan menang,” katanya ketika ditanya mengenai target juara. “Tapi saya bisa menjamin bahwa kami akan datang dengan persiapan terbaik. Target itu penting, tetapi proses untuk mencapainya jauh lebih menentukan.”

Nadira mencatat jawabannya.

Ia tidak bisa menyangkal bahwa Raka memang kompeten dalam pekerjaannya. Kesalahan yang terjadi di antara mereka tidak menghapus kemampuan laki-laki itu sebagai atlet.

Saat gilirannya tiba, Nadira mengangkat tangan.

“Media Arena. Saya ingin bertanya kepada Kapten Raka.”

Raka mengarahkan mikrofon ke arahnya.

“Silakan.”

“Dalam beberapa minggu terakhir, Anda mendapat perhatian besar karena posisi keluarga Anda di Adhitama Global. Apakah sorotan tersebut mengganggu persiapan tim menjelang turnamen internasional?”

Beberapa kamera langsung beralih ke Raka.

Ia tidak terlihat terkejut.

“Perhatian publik memang meningkat, tetapi saya berusaha memastikan bahwa hal itu tidak mengganggu pekerjaan tim. Rekan-rekan saya tidak seharusnya menanggung konsekuensi dari urusan pribadi saya.”

“Bagaimana Anda memastikan hal tersebut?”

“Saya tetap mengikuti jadwal latihan, evaluasi, dan tanggung jawab sebagai kapten. Jika ada keputusan keluarga yang berpotensi memengaruhi tim, saya akan membicarakannya dengan manajemen secara terbuka.”

Nadira menuliskan jawabannya.

“Apakah Anda bersedia mengundurkan diri dari salah satu tanggung jawab jika suatu saat keduanya tidak bisa dijalankan secara bersamaan?”

Raka berpikir sebentar.

“Saya tidak ingin membuat janji berdasarkan situasi yang belum terjadi. Tapi saya tidak akan membiarkan rekan-rekan saya menanggung akibat dari keputusan yang saya buat sendiri.”

Jawaban itu cukup jelas.

Nadira menurunkan tangannya.

Untuk beberapa detik, Raka terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi sesi tanya jawab segera berlanjut.

Ketika konferensi berakhir, Nadira membereskan catatannya dan bersiap meninggalkan ruangan.

“Nadira.”

Ia berhenti.

Raka menghampirinya, tetapi tetap menjaga jarak yang wajar.

“Ada waktu sebentar?”

“Kalau tentang konferensi pers, aku sudah mendapatkan jawaban yang kubutuhkan.”

“Bukan itu.”

Nadira mengembuskan napas pelan.

“Aku punya pekerjaan lain yang harus diselesaikan.”

“Aku tidak akan menahanmu lama-lama.”

Ia menatap Raka, berusaha memutuskan apakah percakapan singkat ini akan membantu atau justru membuat semuanya semakin rumit.

Akhirnya, ia mengangguk.

“Lima menit.”

Mereka berbicara di ruang tunggu kecil di samping ruang konferensi.

Raka tidak langsung duduk. Ia berdiri di dekat meja, sementara Nadira memilih kursi yang paling dekat dengan pintu.

“Aku ingin meminta maaf lagi,” katanya.

Nadira menatapnya datar. “Kamu sudah meminta maaf.”

“Aku tahu. Aku juga tahu bahwa mengulanginya tidak akan mengubah apa yang terjadi.”

“Lalu kenapa kamu mengulanginya?”

“Karena aku belum menemukan cara yang lebih baik untuk menjelaskan bahwa aku menyesal.”

Jawaban itu membuat Nadira terdiam sesaat.

Ia mengira Raka akan datang dengan pembelaan panjang, mungkin menjelaskan bahwa ia memiliki alasan untuk menyembunyikan identitasnya atau bahwa ia tidak pernah berniat menyakiti siapa pun.

Namun, laki-laki itu tidak melakukan keduanya.

“Aku tidak meminta kamu menjelaskan semuanya sekarang,” lanjut Raka. “Aku hanya tidak ingin kamu berpikir bahwa aku menganggap masalah ini sepele.”

Nadira meremas ujung buku catatannya.

“Aku tidak pernah berpikir kamu menganggapnya sepele. Aku hanya belum tahu apa yang harus kulakukan dengan semua informasi yang baru kuterima.”

“Aku mengerti.”

“Kamu tidak benar-benar tahu apa yang sedang kupikirkan, Raka.”

“Benar.” Ia mengangguk. “Aku tidak tahu. Dan aku tidak akan berpura-pura tahu.”

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Nadira tidak merasa perlu segera mengakhiri percakapan.

Raka menarik napas.

“Aku tidak akan meminta kamu kembali seperti dulu. Aku hanya berharap suatu hari nanti kita bisa berbicara tanpa kamu merasa harus menjaga jarak setiap saat.”

Nadira menatapnya lama.

“Aku tidak bisa menjanjikan itu.”

“Aku tahu.”

“Dan aku masih marah.”

“Aku juga tahu.”

“Bagus. Setidaknya ada satu hal yang kamu ketahui dengan benar.”

Sudut bibir Raka bergerak sedikit.

“Kalau begitu, aku anggap ini kemajuan.”

“Jangan terlalu percaya diri.”

“Aku sedang berusaha.”

Nadira hampir tersenyum.

Hampir.

Namun, ia segera mengalihkan pandangan dan berdiri.

“Waktu lima menitmu habis.”

Raka mundur selangkah untuk memberinya jalan.

“Terima kasih sudah meluangkan waktu.”

Nadira mengangguk sebelum keluar.

Ia belum memaafkan Raka. Belum pula memutuskan apakah kepercayaan di antara mereka masih bisa dibangun kembali.

Namun, setidaknya percakapan itu tidak berakhir dengan pertengkaran.

Untuk saat ini, itu sudah cukup.

Sore harinya, Nadira duduk di sebuah kafe dekat kantor sambil membuka laptop.

Ia memanfaatkan waktu sebelum kembali ke redaksi untuk menelusuri arsip publik mengenai Yayasan Adhitama Peduli.

Nama yayasan tersebut muncul dalam berbagai laporan kegiatan sosial, termasuk bantuan pendidikan dan layanan kesehatan. Beberapa dokumen lama tersedia dalam bentuk PDF, tetapi tidak semuanya bisa diakses.

Nadira menemukan laporan tahunan dari tahun ketika ibunya menjalani operasi.

Ia membuka dokumen tersebut dan menggunakan fitur pencarian untuk mencari kata operasi, rumah sakit, serta nama rumah sakit tempat Ratih dirawat.

Hasilnya hanya menampilkan beberapa bagian mengenai pengeluaran program kesehatan secara umum.

Tidak ada nama pasien.

Tidak ada daftar transaksi individual.

Tidak ada kode AP-17.

Nadira menyandarkan punggung ke kursi.

Ia tidak mengharapkan seseorang menyimpan semua jawaban di internet. Namun, ia berharap setidaknya menemukan sesuatu yang bisa mempersempit pencariannya.

Ponselnya bergetar.

Sebuah surel masuk dari bagian komunikasi yayasan.

Subjek: Tindak Lanjut Permintaan Informasi Program Bantuan Medis

Nadira segera membukanya.

Pihak yayasan mengonfirmasi bahwa mereka sedang memeriksa arsip kerja sama dengan rumah sakit yang disebutkannya. Mereka belum bisa memberikan informasi lebih jauh sebelum proses pemeriksaan selesai.

Di bagian akhir, terdapat satu kalimat tambahan.

Untuk menjaga keakuratan informasi, kami menyarankan agar pertanyaan mengenai penerima bantuan tertentu disampaikan melalui prosedur verifikasi yang sesuai.

Nadira membaca kalimat itu dua kali.

Ia tahu prosedur tersebut wajar. Yayasan tidak bisa begitu saja membuka data penerima bantuan kepada wartawan.

Namun, ia juga menyadari bahwa pencariannya mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama daripada yang ia harapkan.

Ia menutup surel dan menatap layar laptop.

Kode AP-17 masih menjadi satu-satunya petunjuk spesifik yang dimilikinya.

Jika kode itu benar-benar berasal dari arsip yayasan, mungkin seseorang memiliki akses ke dokumen yang tidak tersedia untuk umum.

Pertanyaannya adalah mengapa orang tersebut memilih mengirimkannya secara anonim.

Dan apa yang sebenarnya mereka inginkan darinya?

Malam itu, Raka baru saja selesai mandi ketika ponselnya bergetar.

Pesan dari ayahnya muncul di layar.

Adrian: Saya ingin kamu datang ke kantor besok pagi. Ada beberapa dokumen yayasan yang perlu kamu pelajari sebelum rapat pengurus bulan depan.

Raka mengernyit.

Ia jarang dilibatkan dalam urusan administratif yayasan, apalagi diminta mempelajari dokumen sebelum rapat.

Ia membalas singkat.

Raka: Dokumen apa?

Balasan datang beberapa menit kemudian.

Adrian: Laporan program bantuan medis. Saya ingin kamu mulai memahami tanggung jawab keluarga kita di luar bisnis utama.

Raka meletakkan ponselnya di atas meja.

Ada sesuatu yang terasa janggal, meskipun ia belum bisa menjelaskan apa.

Selama ini, ayahnya selalu mendorongnya agar lebih terlibat dalam Adhitama Global. Namun, keterlibatan dalam yayasan biasanya hanya dibicarakan ketika ada acara besar atau pengumuman program baru.

Mengapa sekarang?

Raka membuka kalendernya. Besok pagi ia memang memiliki waktu luang sebelum latihan.

Ia memutuskan untuk datang.

Bukan karena ingin menyenangkan ayahnya, melainkan karena ia ingin mengetahui lebih banyak tentang tanggung jawab yang selama ini hanya ia kenal dari luar.

Ia tidak tahu bahwa di sisi lain kota, Nadira sedang mencoba mencari dokumen yang sama.

Menjelang tengah malam, Nadira kembali menerima pesan dari nomor tidak dikenal.

Nomor Tidak Dikenal: Kamu sudah mencoba mencari AP-17 di arsip publik?

Nadira langsung mengambil tangkapan layar.

Ia mengetik balasan.

Nadira: Siapa kamu?

Pesannya terkirim, tetapi tidak ada jawaban.

Beberapa menit kemudian, sebuah pesan baru masuk.

Nomor Tidak Dikenal: Kode itu tidak akan muncul di laporan tahunan. Kamu harus mencari dokumen internal.

Nadira merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.

Ia mengetik lagi.

Nadira: Apa hubungan kode itu dengan operasi ibuku?

Kali ini, balasan datang hampir seketika.

Nomor Tidak Dikenal: Itu yang harus kamu cari tahu sendiri.

Nadira menatap layar dengan frustrasi.

“Kalau memang ingin membantu, kenapa tidak sekalian memberikan penjelasan?” gumamnya.

Ia mengambil foto lama ibunya dari laci dan meletakkannya di samping laptop.

Kemudian, ia membuka halaman catatan dan menambahkan informasi baru:

AP-17 tidak tercantum dalam laporan publik. Kemungkinan merupakan kode dokumen internal.

Di bawahnya, ia menulis:

Periksa jalur arsip resmi. Jangan mengakses dokumen tanpa izin.

Nadira menutup laptop.

Ia belum tahu siapa pengirim pesan itu, apa tujuan mereka, atau apakah informasi yang diberikan bisa dipercaya.

Tetapi satu hal sudah jelas: ada seseorang yang ingin ia terus mencari.

Dan jika orang itu memang mengetahui apa yang terjadi lima tahun lalu, maka mereka mungkin juga mengetahui alasan ibunya begitu enggan membicarakannya.

Nadira berdiri untuk mengambil segelas air ketika ponselnya kembali menyala.

Kali ini bukan pesan anonim.

Sebuah notifikasi dari Media Arena muncul di layar, memberitahukan bahwa artikelnya mengenai ASTRAL telah dijadwalkan untuk diterbitkan keesokan pagi.

Nadira tersenyum tipis.

Setidaknya, satu hal dalam hidupnya masih berjalan sesuai rencana.

Ia mematikan lampu ruang kerja dan berjalan menuju kamar.

Besok, ia akan kembali mengurus pekerjaannya sebagai wartawan. Ia juga akan menunggu jawaban resmi dari yayasan, bukan bergantung pada pesan-pesan misterius dari seseorang yang bahkan tidak berani menyebutkan namanya.

Namun, di balik semua itu, ia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa dirinya sedang mendekati sesuatu yang sengaja disembunyikan.

Dan tanpa ia ketahui, Raka akan mulai membuka pintu yang sama dari sisi yang berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!