NovelToon NovelToon
Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.

Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.

Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Kring!

Bel tanda masuk berbunyi sangat nyaring memecah keheningan pagi yang menegangkan di SMA Garuda Kelam.

Hari ini adalah hari Senin, hari penentuan nasib kelas XI-7 yang selama ini dianggap sebagai tempat pembuangan.

Suasana di dalam kelas XI-7 terasa sangat kaku dan dingin seakan mereka sedang berada di dalam ruang interogasi polisi.

Tidak ada satu pun murid yang bermain kartu, tidak ada yang tidur, dan tidak ada yang mengobrol sama sekali.

Rico terus menggigit ujung pulpennya sampai plastik bening itu terlihat hancur berantakan.

"Gila, perut gue mules banget rasanya dari tadi pagi."

"Gue semalaman ngafalin rumus sampai ketiduran di lantai bengkel gara-gara takut digebukin Bos Bara."

Bara yang duduk di barisan depan langsung menoleh ke belakang dan menatap Rico dengan tajam.

"Lu berani dapet nilai jelek, kaki lu beneran gue patahkan habis ujian ini selesai, Rico."

"Kita udah belajar mati-matian seminggu ini sampai kurang tidur, masa kita mau nyerah gitu aja sekarang."

Nisa hanya diam menyimak sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut karena kelelahan.

Kantung matanya terlihat sangat hitam, bukti nyata bahwa dia juga berjuang keras mengajari mereka semua setiap hari.

Tap tap tap.

Suara langkah kaki Husen terdengar memasuki ruangan dan seketika memecah ketegangan mereka.

Husen berdiri di depan meja guru dengan kemeja rapi dan senyum simpul yang sangat menenangkan.

"Selamat pagi, para petarung."

"Apakah kalian sudah siap menunjukkan kepada sekolah ini siapa kalian yang sebenarnya?"

Brak!

Sebelum ada murid yang sempat menjawab, pintu kelas tiba-tiba didorong dengan sangat kasar dari arah luar.

Pak Anton melangkah masuk dengan senyum licik yang membuat siapa pun langsung muak melihatnya.

Di belakang pria itu, seorang guru wanita paruh baya dengan wajah galak ikut masuk membawa setumpuk kertas tebal.

"Selamat pagi juga, Pak Husen."

"Sesuai peraturan baru sekolah kita, wali kelas tidak boleh mengawasi jalannya ujian di kelasnya sendiri hari ini."

"Jadi mulai pagi ini, saya dan Bu Ratna yang akan menjadi pengawas di kelas kesayangan Anda ini."

Husen menatap tumpukan soal yang dibawa Bu Ratna dengan perasaan curiga yang mendadak muncul di dadanya.

"Silakan saja, Pak Anton, kelas ini sudah sangat siap untuk mengikuti ujian dengan jujur dan tenang."

"Saya harap Bapak juga mengawasi mereka dengan jujur tanpa ada niat busuk tersembunyi apa pun."

Pak Anton tertawa sinis mendengar sindiran itu dan mulai membagikan lembar soal ujian matematika ke setiap meja murid.

Srek srek srek.

Suara lembaran kertas yang dibagikan itu terdengar sangat mencekam di telinga para murid kelas XI-7.

"Waktu kalian hanya sembilan puluh menit dari sekarang."

"Kerjakan sendiri dan jangan mencoba menyontek jika kalian tidak ingin kertas ini saya robek jadi dua."

Bu Ratna berseru dengan nada tinggi yang memekakkan telinga sambil memukul meja guru menggunakan penggaris kayu panjang.

Tak!

Husen terpaksa melangkah keluar dari ruangan kelas dan hanya bisa mengawasi murid-muridnya dari balik jendela kaca lorong.

Begitu soal ujian itu dibalik secara bersamaan, Nisa langsung membelalakkan matanya dengan sangat terkejut.

"Tunggu dulu, ini sama sekali bukan soal matematika untuk kelas sebelas!"

Teriakan tertahan Nisa itu langsung membuat seluruh murid ikut panik dan buru-buru melihat kertas mereka masing-masing.

Rico memegang kepalanya dengan kedua tangan seolah dia ingin mencabut rambutnya sendiri saat itu juga.

"Ini apaan woi, huruf X sama Y-nya panjang-panjang banget kayak kode rahasia rudal nuklir!"

"Gue nggak pernah diajarin rumus gila kayak gini sama Nisa selama bimbingan seminggu ini!"

Bara menggebrak mejanya pelan dan menatap tajam penuh kebencian ke arah Pak Anton yang sedang duduk santai di depan.

"Pak, ini jelas-jelas soal buat anak kelas dua belas unggulan, bukan buat kita!"

"Bapak sengaja ya tukar kertas ujian kita biar kita semua dapet nilai nol besar dan kalah taruhan?!"

Pak Anton mengangkat bahunya dengan ekspresi pura-pura tidak tahu yang sangat amat menjengkelkan.

"Tuduhan liar macam apa itu tadi, Bara?"

"Itu memang soal standar ujian tahun ini untuk menguji kemampuan logika analisis dasar kalian semua."

"Kalau kalian tidak bisa mengerjakannya sama sekali, berarti kalian memang murni bodoh dan tidak pantas berada di sini."

Bu Ratna ikut menatap sinis ke arah murid laki-laki bertubuh besar itu sambil melipat tangannya di dada.

"Kerjakan saja apa yang ada di mejamu itu, Bara."

"Jangan banyak protes atau saya anggap kamu gagal ujian hari ini dan nilaimu saya kosongkan!"

Bara menggertakkan giginya sekuat tenaga menahan amarah yang rasanya ingin meledak menghancurkan meja guru di depannya.

"Brengsek, mereka benar-benar niat menghancurkan mental kita dan ngusir Pak Husen hari ini juga."

Dari balik jendela kaca, Husen yang memiliki pendengaran tajam bisa mendengar keributan kecil di dalam ruangan itu.

Dia menggunakan pandangannya untuk melihat sekilas lembar soal di atas meja Nisa dari kejauhan.

"Mereka menggunakan soal olimpiade tingkat provinsi yang sengaja dimodifikasi, bukan soal ujian kelas dua belas biasa."

"Anton benar-benar berniat membunuh semangat anak-anak ini sejak menit pertama ujian dimulai."

Husen mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat melihat murid-muridnya yang mulai menunduk putus asa satu per satu.

Rico bahkan sudah meletakkan pulpennya di atas meja dan menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.

Ting!

Suara sistem mendadak berbunyi nyaring di dalam kepala Husen tepat pada saat yang sangat kritis ini.

[Peringatan Sistem: Mental target kolektif sedang mengalami penurunan drastis secara bersamaan]

[Misi Kebangkitan Kelas Buangan terancam gagal total dalam waktu kurang dari 10 menit]

[Skill Komunikasi Empatik bereaksi kuat dengan tekad putus asa dari Host]

[Sistem membuka fungsi modifikasi sementara: Jaringan Pikiran Terarah]

[Apakah Host ingin menghabiskan 100 Poin Pengalaman untuk mengaktifkan fungsi ini selama durasi ujian berlangsung?]

[Ya / Tidak]

"Tentu saja ya, cepat aktifkan sekarang juga sebelum mental mereka benar-benar hancur lebur!"

Husen menjawab dengan nada tegas dan penuh kepanikan di dalam pikirannya tanpa ragu sedikit pun.

1
Dewiendahsetiowati
selamat untuk kemenangan sekolah Garuda Kelam Husein dan tiga serangkai Bara, Rico dan Nisa
Nissa Safira: Terima kasih banyak kak🥰🙏
Kemenangan ini bukan cuma buat Husen, tapi buat kita semua yang udah nahan kesel lihat kelakuan Pak Surya. Akhirnya tiga serangkai Bara, Rico, Nisa bisa senyum lega juga😁
Makasih ya kak udah jadi saksi kemenangan Garuda Kelam. Ditunggu dukungan kakak di tingkat nasional ya💪🥰🥰
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mampus kau
Nissa Safira: Mampus bener kak💪😂
akhirnya diborgol sendiri di depan wartawan. Puas banget nulisnya aku juga pas Husen colok flashdisk itu.
Makasih ya kak udah ikut puas bareng🤣🤗💪
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
Nissa Safira: gasss terus kak.. ikuti keseruan cerita ini sampai akhir yaa🥰🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
lawan mereka Bara dan bikin malu mereka
Nissa Safira: gaaaas kak aku juga teriak bara lawan! lawan! 😤🔥
Tapi inget latihan Husen kak "Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam"🔥🔥💪
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin seru ceritanya
Nissa Safira: waaaa makasih banyak kak 😭🙏
Serunya baru mulai kak.. Di Olimpiade nanti kita lawan Akademi Cakrawala lagi, Reno udah bilang "aku akan menghancurkannya sampai tak berbekas"! Bara juga udah ngamuk "aku ingin meremukkan kesombongan anak-anak kaya itu!"🔥🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nissa Safira: Hadirrr kak dewi😁🙏🔥
Absennya aku catet paling atas nih kak😂
Makasih udah hadir pagi-pagi kak💪
total 1 replies
xebeck D ron
akhirnya GK gabut gw😄😄
Nissa Safira: up tiap hari kok kak rudi💪
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!