NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Teh Bulan Putih

"Habis manis sepah dibuang. Itu kamu, Sekretaris Nala."

Suara Arka di telepon terdengar malas, setengah tertawa. Nala menjepit ponselnya di antara bahu dan telinga sambil terus mengetik notulen rapat direksi.

"Saya sedang kerja, Pak Arka."

"Aku tahu. Aku cuma mau bilang, Fajar sudah resmi dilaporkan. Pembocoran rahasia dagang. Pengacara Gema yang urus. Anak itu sekarang lagi sibuk nyari pengacara sendiri." Jeda. "Sesuai janji."

"Terima kasih."

"Terima kasih? Itu aja?" Arka tertawa. "Kamu yang kasih tahu aku siapa yang jual informasi Gema ke Gilang. Aku yang kasih kamu rekaman pemilik lahan itu. Kita impas. Tapi habis itu kamu langsung lupa sama aku. Nggak ada makan malam, nggak ada kopi, nggak ada apa-apa."

"Kita tidak sepakat soal makan malam."

"Itulah masalahnya."

Nala berhenti mengetik. "Pak Arka. Kenapa kamu ada di Batam malam itu?"

Hening sebentar di seberang.

"Kapan-kapan aku cerita," kata Arka. Suaranya tidak lagi bercanda. "Kalau kamu sudah mau makan malam sama aku."

Dia menutup telepon lebih dulu.

***

Seminggu itu, Damar hanya menelepon dua kali.

Sekali pada hari Rabu, untuk meminta jadwal rapat dengan Bea Cukai digeser. Sekali pada hari Sabtu pagi, untuk menanyakan apakah laporan kuartal sudah dikirim ke dewan komisaris. Dua kali, keduanya kurang dari dua menit. Suaranya datar dan jauh, dan di belakangnya ada bunyi angin dan mesin kapal.

Dia tidak bertanya kabar. Nala juga tidak.

Setiap malam dia tidur di paviliun. Kunci kuningan itu dia simpan di dalam laci, di bawah mukena ibunya. Dia tidak naik ke kamar utama. Belum.

Pada hari Selasa, ketika Pak Ujang mengantarnya pulang, dia melihat sebuah sepeda motor yang sama tiga kali di spion. Pada hari Kamis, sebuah mobil hitam parkir di seberang gerbang kompleks dari pagi sampai sore.

Orang-orang Damar. Dia tidak heran. Dia hanya mencatatnya.

***

Hari Selasa berikutnya, pukul enam pagi, sebuah mobil SUV abu-abu berhenti di depan sebuah minimarket di Jalan Fatmawati.

Nala sudah menunggu di dalam minimarket itu selama dua puluh menit, berpura-pura memilih roti. Ketika mobil itu datang, dia keluar lewat pintu samping minimarket, menyeberangi gang di belakangnya, dan masuk ke kursi penumpang.

Laki-laki di balik kemudi tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung menjalankan mobil, berbelok dua kali di gang-gang sempit, lalu masuk ke jalan tol.

Di spion, tidak ada sepeda motor. Tidak ada mobil hitam.

***

Kebun teh di Ciwidey berkabut pagi itu. Daun-daun hijau tua memenuhi lereng sampai ke batas pandangan, rapi berbaris, seolah ada yang menyisir bukit-bukit itu dengan sisir raksasa. Di tengah kebun, sebuah rumah kayu bercat putih berdiri di atas tiang, dengan teras yang menghadap ke lembah.

Laki-laki itu menuang teh ke dalam dua cangkir keramik. Air teh itu pucat sekali, hampir bening, dengan warna kuning muda seperti cahaya bulan di atas air.

"Teh Bulan Putih," katanya. "Panen kemarin."

Nala memegang cangkir itu dengan kedua tangan. Uapnya hangat di wajahnya.

"Kamu kurusan," kata laki-laki itu.

"Kamu juga."

Dia tidak tersenyum. Dia hanya mendorong sepiring pisang goreng ke arahnya. "Makan dulu. Habis itu ngomong."

Nala makan satu potong, karena dia tahu laki-laki ini tidak akan bicara sebelum dia makan. Pisang goreng itu masih hangat, manis, dengan pinggiran yang renyah. Dia tidak sadar seberapa lapar dia sampai potongan itu habis.

"Malam itu," kata laki-laki itu pelan, "kamu baik-baik saja?"

Nala tahu malam apa yang dia maksud. Dia menatap teh di cangkirnya.

"Malam itu dia dipanggil pergi sebelum apa-apa terjadi," katanya. "Besoknya, tidak."

Laki-laki itu diam lama. Rahangnya bergerak, seperti orang yang menelan sesuatu yang pahit. Dia tidak mengatakan apa pun soal itu. Dia hanya mengangguk sekali.

"Orang Gema itu," katanya kemudian. "Arka Ardana. Kamu bikin kesepakatan sama dia?"

"Kesepakatan kecil. Sudah selesai."

"Hati-hati. Aku belum bisa tahu dia siapa sebenarnya. Orang yang masa lalunya terlalu bersih biasanya punya masa lalu yang sangat kotor."

"Kamu juga bilang begitu soal aku, dulu."

Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibirnya naik sedikit.

"Radit," kata Nala. "Bagaimana Batam?"

Raditya Wardhana duduk di seberangnya. Dia sedikit lebih tua dari Damar, bahunya lebar, rambutnya mulai beruban di pelipis meskipun umurnya belum empat puluh. Wajahnya tenang, tapi matanya lelah. Mata orang yang sudah terlalu lama tidak tidur nyenyak.

Suara itu. Suara yang menjawab teleponnya pukul tiga pagi, delapan hari lalu. Kamu tidak harus sejauh ini.

"Gilang menyewa orang," kata Radit. "Bukan preman biasa. Orang-orang yang dibayar mahal, dari jaringan di Batam dan Bintan. Orangku di sana dengar mereka sedang menunggu. Menunggu seseorang keluar dari Batam ke Bintan, lewat jalan lintas timur."

"Menunggu siapa?"

Radit menatapnya lama.

"Targetnya laki-lakimu, Nala."

Laki-lakimu. Nala menurunkan cangkirnya pelan-pelan ke atas meja. Teh di dalamnya bergoyang sedikit.

Di bawah sana, kabut mulai naik dari lembah. Seorang pemetik teh berjalan di antara barisan daun dengan keranjang di punggungnya, kecil sekali dari jarak sejauh ini.

Nala tidak mengatakan apa-apa untuk waktu yang lama. Radit tidak mendesaknya. Dia tidak pernah mendesaknya, tidak selama hampir tiga tahun ini.

"Dia tidak boleh mati," kata Nala akhirnya.

Radit tidak bergerak.

"Belum." Suaranya datar. "Belum sekarang. Kalau dia mati di jalan di Bintan, semuanya selesai. Tidak ada pengadilan. Tidak ada pengakuan. Tidak ada yang akan tahu apa yang sudah dia lakukan. Dia akan dikubur sebagai pewaris Hadiwijaya yang malang, korban persaingan keluarga, dan orang-orang akan menangis di pemakamannya."

Dia mengambil cangkirnya lagi dan meminum tehnya. Sudah dingin.

"Aku tidak mau dia mati seperti itu. Aku mau dia hidup cukup lama untuk tahu kenapa."

Radit menatapnya di seberang meja. Tatapan itu bukan tatapan seseorang yang sedang mendengarkan rencana. Tatapan itu tatapan seorang kakak yang sedang melihat adiknya berdiri di pinggir tebing.

"Kamu yakin," tanyanya pelan, "itu alasanmu?"

Nala tidak menjawab.

Dia menatap cincin di jari tengahnya. Tetesan merah muda itu terlihat lebih pucat di bawah cahaya pagi pegunungan. Dia memutarnya sekali dengan ibu jari. Lalu dia menyembunyikan tangannya di bawah meja.

***

Dia menginap di rumah kebun itu dua malam. Di Jakarta, orang-orang yang membuntutinya pasti sedang panik. Biar saja.

Kamis malam, dia sudah kembali di paviliun Pondok Indah. Bi Iyah membuka pintu untuknya tanpa bertanya ke mana dia pergi. Dia hanya berkata, "Bapak tadi telepon ke rumah, Bu. Nanya Ibu sudah pulang belum," dan kembali ke dapur.

Jumat dia masuk kantor seperti biasa. Notulen, jadwal, surel. Tidak ada telepon dari Batam.

Jumat malam, dia duduk di ranjangnya dan membuka laptop.

Situs maskapai. Jakarta ke Batam. Penerbangan paling pagi besok, pukul enam.

Halaman pemesanan memunculkan dua pilihan di bagian atas.

Pulang-pergi. Sekali jalan.

Jarinya berhenti di atas tetikus.

Kalau dia membeli tiket pulang, dia sedang merencanakan untuk kembali. Dengan atau tanpa laki-laki itu. Kalau dia hanya membeli tiket pergi...

Dia menatap layar itu. Di luar, angin malam menggerakkan bunga-bunga di halaman. Dari celah jendela, samar-samar, tercium bau sedap malam.

Dia mengeklik Sekali jalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!