NovelToon NovelToon
Memburu Langit Abadi

Memburu Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: RENDY Marcelius

Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.

Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.

Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.

Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEBERANG SUNGAI HITAM

Sungai Hitam mengalir tenang di bawah cahaya bulan yang samar. Airnya gelap pekat, memantulkan langit tanpa bintang seakan sungai itu sendiri adalah celah yang menelan cahaya. Di tepiannya, dua sosok berjalan gontai satu menopang yang lain, langkah kakinya berat seperti terikat timah.

Xuanyuan berhenti di tepi air, napasnya terengah-engah. Luka di rusuknya kembali berdarah, merembes melalui balutan kain yang kini berwarna merah tua. Ia menatap permukaan air yang tenang, dan di sana ia melihat bayangannya pucat, kotor, rambut berantakan, dan kain hitam yang menutupi mata kirinya sudah longgar, hampir terlepas sepenuhnya.

"Ini Benua Tengah," kata Lian Yue pelan, berdiri di sampingnya. Matanya menatap seberang sungai, di mana siluet pegunungan tampak samar di kejauhan. "Orang menyebutnya Tanah Pertemuan. Di sini sekte-sekte besar, keluarga kuno, dan pedagang dari seluruh dunia bertemu. Tapi juga di sini... bahaya tidak pernah tidur."

Xuanyuan merasakan getaran halus di dalam dirinya bukan rasa sakit, tapi sesuatu yang lain. Sejak darahnya menyentuh tanah di hutan tadi, ia merasa seakan dunianya melebar. Dulu ia hanya melihat tembok batu Sekte Awan Langit. Sekarang... ia merasakan ada sesuatu yang jauh lebih besar, lebih tua, dan lebih menakutkan yang sedang menunggunya di seberang sana.

"Kita tidak punya uang," katanya tiba-tiba, suara seraknya memecah keheningan. "Tidak punya makanan. Tidak punya identitas. Di mata orang-orang di seberang sana, kita hanyalah dua pengemis pelarian."

Lian Yue tersenyum tipis, menyentuh lengan bajunya dengan lembut. "Kita punya satu hal yang tidak dimiliki kerajaan mana pun. Kita punya satu sama lain."

Xuanyuan menatapnya, lalu senyum tipis terukir di bibirnya — senyum yang lemah tapi tulus. "Kau selalu tahu apa yang harus dikatakan, bukan?"

"Itu sebabnya aku ikut denganmu. Seseorang harus menjaga agar kau tidak terlalu keras pada dirimu sendiri."

Mereka menemukan perahu kayu tua yang tertambat di semak belukar. Pemiliknya adalah seorang lelaki tua yang buta sebelah, duduk di bawah atap rumbia sambil mengasah pisau. Saat mereka meminta menyeberang, lelaki itu tidak meminta uang. Ia hanya menatap Xuanyuan dengan matanya yang keruh dan berkata, Darahmu berbau kuno, Nak. Bau yang tidak pernah baik bagi mereka yang memilikinya. Berhati-hatilah di Benua Tengah. Di sini, orang tidak peduli dari mana asalmu. Mereka hanya peduli apa yang bisa diambil darimu.

Perjalanan menyeberang memakan waktu sepanjang malam. Di tengah sungai, angin bertiup dingin, membawa bau tanah basah dan sesuatu yang samar bau kuno yang Xuanyuan kenal. Pupil Gandanya berdenyut pelan di balik kain, dan untuk sesaat ia melihat ke dasar sungai yang gelap bukan air, tapi bayangan-bayangan kota yang tenggelam, menara kuno yang tertidur di bawah arus.

"Sungai ini bukan sungai biasa. Ini adalah perbatasan dua dunia. Yang kau lihat di bawah sana adalah sisa-sisa peradaban yang hancur ribuan tahun lalu. Mereka tenggelam bukan karena bencana alam, tapi karena perang yang melampaui pemahaman manusia biasa." suara Lang Wuyan terdengar rendah dan serius.

"Perang apa?" tanya Xuanyuan dalam hati.

"Perang yang dimulai ketika seseorang berani memburu Langit Abadi. Dan sekarang... kau melangkah di jalan yang sama."

Perahu mendarat di tepi yang berbeda. Tanah di sini terasa lebih keras, udara lebih tipis, dan di kejauhan, di antara pegunungan, Xuanyuan bisa melihat menara-menara batu yang menjulang tinggi, beberapa di antaranya memancarkan cahaya redup yang tidak berasal dari api.

"Kota Pertama," bisik Lian Yue. "Kota Awan Merah. Pintu gerbang Benua Tengah."

Jalan menuju kota ramai. Pedagang dengan gerobak, petani dengan keranjang, pengembara dengan pedang di pinggang semua bergerak dalam aliran manusia yang tak terputus. Di sini tidak ada yang mengenal mereka. Tidak ada yang tahu bahwa dua orang lusuh ini baru saja kabur dari kematian. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam diri anak yatim yang berjalan tertatih-tatih itu tersimpan rahasia yang bisa mengguncang langit.

Namun di tengah keramaian itu, Xuanyuan merasakannya tatapan. Bukan tatapan kasihan atau jijik seperti di Sekte Awan Langit. Ini tatapan pengukur. Mata-mata yang menilai kekuatan, nilai, dan kelemahan. Setiap orang yang lewat seakan tahu sesuatu yang tidak diketahuinya.

Mereka berjalan melewati pasar. Bau rempah, daging panggang, dan wewangian mahal bercampur menjadi satu. Xuanyuan menelan ludah perutnya terasa kosong sejak kemarin. Ia berhenti di depan kedai bubur kacang yang uapnya mengepul hangat. Pemilik kedai, seorang wanita gemuk dengan wajah ramah, menatapnya.

"Mau semangkuk, Nak?"

Xuanyuan menyentuh saku jubahnya kosong. Ia menunduk, malu. "Saya... saya tidak punya uang."

Wanita itu tersenyum, menyendok bubur panas ke dalam mangkuk kayu. "Makan dulu. Bayar nanti kalau kau sudah punya. Di kota ini, tidak ada yang gratis, tapi kadang... orang baik bertemu di waktu yang tepat."

Xuanyuan menerima mangkuk itu dengan tangan gemetar. Setiap suapan terasa seperti kehangatan yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Ia berbagi dengan Lian Yue, meskipun gadis itu bilang ia tidak lapar. Saat mereka selesai, ia berjanji dalam hati: suatu hari nanti, ia akan kembali ke sini dan memberi wanita itu lebih dari sekadar bayaran.

Malam itu mereka menyewa lantai di penginapan termurah sebuah ruangan kecil di loteng, berlantai kayu yang berderit, dengan satu jendela kecil yang menghadap ke pegunungan. Harganya satu koin perak, yang Lian Yue ambil dari saku tersembunyi di jubahnya sisa uang yang ia simpan sejak kecil.

Xuanyuan duduk di tepi tempat tidur jerami, menatap tangannya yang kotor dan berbekas luka.

"Kita ada di sini," katanya pelan. "Tapi apa sekarang? Kita tidak punya rencana. Tidak punya guru. Tidak punya sekte. Kita hanya dua orang yang lari dari satu masalah menuju masalah yang lebih besar."

Lian Yue duduk di sampingnya, menyentuh tangan kirinya yang tertutup kain mantra hitam. "Kita cari tahu siapa kau dulu. Siapa orang tuamu. Mengapa kau ditinggalkan di gerbang sekte. Mengapa matamu berbeda. Semua jawaban itu tidak akan datang dengan sendirinya, Xuanyuan. Tapi di sini... di Benua Tengah... jejak-jejak itu ada. Kita tinggal menemukannya."

Xuanyuan menatapnya, lalu perlahan ia menarik ujung kain hitam yang menutupi mata kirinya. Kain itu longgar, hampir terlepas sepenuhnya sejak pertarungan di hutan. Ia menariknya perlahan, membiarkan udara malam menyentuh kulit yang lama tertutup.

Dan di bawah cahaya lilin yang remang, Lian Yue melihatnya dengan jelas untuk pertama kalinya dua pupil hitam yang berlapis konsentris, berputar pelan seakan memiliki kehidupan sendiri, memancarkan kedalaman yang tidak bisa diukur oleh mata biasa.

Lian Yue menahan napas, bukan karena takut, tapi karena kagum. "Indah... seperti pusaran bintang yang tertangkap di dalam mata."

"Itu bukan anugerah," bisik Xuanyuan. "Ini kutukan. Dan suatu hari nanti... ini akan menghancurkan aku."

"Kalau begitu aku akan berada di sisimu sampai hari itu tiba."

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Xuanyuan tidak tidur di lantai batu yang dingin. Ia tidur di samping seseorang yang tidak takut padanya. Di luar, angin malam bertiup kencang melewati celah jendela, membawa suara kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Dan jauh di atas pegunungan, di sebuah istana yang melayang di awan, sepasang mata yang tak terlihat menatap ke bawah tepat ke arah kota Awan Merah.

"Mereka telah menyeberangi sungai. Benih itu telah kembali ke tanah asalnya. Segel pertama mulai retak. Permainan dimulai."

1
Eka P
h
Predi Siswanto
kapan kuat nya kalau kayak gini ini bukan pemburu langit tapi pemburu sampah bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!