Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."
Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.
Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.
sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Rahasia di Ruang Arsip
Sinar pagi yang hangat menembus celah-celah ventilasi kamar, membangunkan Arkan dengan perasaan yang jauh lebih segar. Hal pertama yang pria itu lakukan adalah membuka kepalan tangan kanannya. Luar biasa. Ramuan daun binahong yang diantarkan Bagas secara sembunyi-sembunyi tadi malam terbukti memiliki khasiat yang ajaib. Rasa nyeri, kaku, dan kulit yang meradang akibat mengangkat batu kali kemarin siang kini telah menyusut drastis, menyisakan lapisan kulit baru yang mulai mengering dan membaik.
Arkan menyunggingkan senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan. Mengingat kembali bagaimana Nayla diam-diam memetik dan menumbuk sendiri tanaman obat itu di tengah malam membuat getaran aneh di balik dada sang Tuan Muda kian berdesir manis. Dinding keangkuhan kotanya yang kaku kini benar-benar telah runtuh, digantikan oleh dorongan kuat untuk melakukan satu hal yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya kepada orang asing: meminta maaf secara jantan.
Setelah membersihkan diri, Arkan berjalan ke dapur dan melihat Bude Lastri sedang membungkus beberapa potong kue pasar dan termos kecil berisi teh hangat ke dalam keranjang kecil. "Bude, mau mengantarkan barang ke mana?" tanya Arkan dengan nada suara baritonnya yang berat namun terdengar lebih lembut.
Bude Lastri menoleh sambil tersenyum hangat. "Ini loh, Le. Bude mau mengantarkan titipan kue dan teh untuk Nayla di balai desa. Ibunya Nayla—Mbak Aminah—itu kan sahabat karib Bude sejak kecil. Tadi pagi Mbak Aminah menitipkan pesan lewat Reno kalau dia belum sempat membuatkan sarapan untuk Nayla karena harus buru-buru pergi ke kota kabupaten mengurus kerajinan kelompok wanita. Karena kasihan Nayla sering lupa makan kalau sudah sibuk dengan dokumen desa, jadi Bude buatkan bekal ini."
Manik mata cokelat Arkan seketika berbinar cerah menangkap kesempatan emas yang ada di depan matanya. Hubungan dekat antar-keluarga ini menjadi alasan yang sangat logis baginya untuk bergerak. "Kalau begitu... biar saya saja yang mengantarkannya ke balai desa, Bude. Sekalian saya mau mengembalikan berkas kelompok tani yang kemarin diminta Pak Barkah," tawar Arkan cepat, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya dengan menyambar map berkas di atas meja dapur.
Bude Lastri sempat tertegun heran melihat inisiatif tidak terduga dari sang Tuan Muda kota yang biasanya serba malas, namun sedetik kemudian senyuman penuh arti terukir di wajah keibuannya. "Oalah, ya sudah kalau begitu. Baguslah kalau kamu mau sekalian melatih jalan kaki pagi. Ini bawa keranjangnya, Le. Bilang pada Nayla harus dihabiskan, ya."
Dengan langkah kaki jangkungnya yang lebar dan dibalut kaus polo hitam kasual yang rapi, Arkan berjalan kaki menyusuri jalan setapak Desa menuju balai desa. Perawakan tubuhnya yang atletis, tinggi tegap, dan wajah tampannya yang bersih dengan rahang tegas tetap membuatnya menjadi pusat perhatian beberapa warga desa yang berpapasan di jalan, namun fokus Arkan pagi ini hanya tertuju pada satu nama: Nayla Rahmadania.
Begitu melangkah masuk ke dalam area Balai Desa yang masih terbilang sepi karena jam kerja warga belum sepenuhnya dimulai, Arkan langsung mengarahkan langkah kakinya menuju ruang arsip belakang aula. Pintu kayu ruangan itu tampak sedikit terbuka. Dari celah sempit tersebut, Arkan bisa melihat sosok gadis berkulit putih alami itu sedang sibuk berdiri di depan rak kayu tinggi, menyusun beberapa map dokumen kelayakan tani dengan gerakan yang sangat telaten. Pagi ini, Nayla terlihat begitu anggun dengan balutan blus katun polos berwarna putih bersih yang longgar dan celana panjang kain hitam.
Arkan menarik napas panjang untuk menata detak jantungnya yang mendadak berpacu lebih cepat, lalu mengetuk pintu kayu itu perlahan menggunakan tangan kirinya.
Tok! Tok!
Nayla tersentak kaget, menolehkan kepalanya dengan cepat. Sepasang mata bulat manis milik gadis itu seketika melebar sempurna begitu menangkap sosok Tuan Muda Jakarta sedang berdiri tegas di ambang pintu sambil memegang sebuah keranjang bekal kecil dan tumpukan berkas dokumen. Raut wajah manis Nayla yang semula tampak lelah mendadak berubah menjadi kaku, sisa dari rasa sakit hati akibat adu mulut di sawah kemarin siang kembali membentengi pertahanan dirinya.
"Mau apa lagi kamu ke mari? Kalau cuma mau melontarkan kalimat sindiran kasar atau menuduh saya yang tidak-tidak lagi, lebih baik kamu pergi sekarang juga," cetus Nayla dengan nada suara jernihnya yang ketus, sengaja membalikkan badan kembali membelakangi Arkan demi menyembunyikan getaran halus di dalam dadanya.
Arkan tidak marah mendengar sambutan ketus tersebut. Pria berusia dua puluh lima tahun itu melangkah masuk ke dalam ruang arsip yang sepi dan sunyi, lalu menutup pintu kayu di belakangnya dengan rapat. Ia berjalan mendekati meja kerja kayu tempat Nayla biasa mencatat berkas, meletakkan dokumen kelompok tani serta keranjang bekal titipan dari Bude Lastri di atasnya secara perlahan.
"Saya ke mari bukan untuk berdebat atau mencari musuh." ucap Arkan dengan nada suara beratnya yang kini terdengar sangat tenang, dalam, dan tanpa ada lagi sedikit pun sisa keangkuhan kaku metropolitan yang menyebalkan.
Nayla tertegun mendengar perubahan intonasi suara Arkan yang begitu drastis. Ia perlahan membalikkan kembali tubuh mungilnya, menatap Arkan dengan dahi berkerut dalam penuh keheranan. "lalu untuk apa kamu ke mari pagi-pagi begini?"
Arkan mengepalkan tangan kirinya yang sehat, lalu menatap lurus tepat ke dalam sepasang manik mata bulat milik Nayla dengan pandangan mata yang sangat serius, jujur, dan sarat akan tanggung jawab seorang pria sejati. Ia mengangkat tangan kanannya yang terbalut kain kasa tipis, memperlihatkannya pada Nayla.
"Pertama, saya mau berterima kasih untuk ramuan daun binahong tambahan yang kamu suruh Bagas antarkan secara sembunyi-sembunyi tadi malam. Tangan saya sudah jauh lebih baik berkat bantuanmu." ucap Arkan pelan namun penuh penekanan meneduhkan.
Wajah manis Nayla seketika merona merah mendengar rahasia malamnya dibongkar secara gamblang. Ia buru-buru membuang pandangannya ke sudut ruangan dengan salah tingkah yang menggemaskan. "I-itu... itu karena saya tidak mau disalahkan Bude Lastri dan Pak Barkah kalau tanganmu sampai infeksi parah, bukan karena hal lain."
Arkan menyunggingkan senyuman tipis yang sangat manis, melangkah satu langkah lebih dekat hingga jarak di antara mereka kini terkikis dekat di dalam ruangan arsip yang sempit. Udara di sekitar mereka mendadak terasa begitu hangat, di mana Arkan bisa mencium kembali aroma wangi bedak dingin bayi yang segar dari tubuh Nayla.
"Dan yang kedua... saya mau meminta maaf atas ucapan saya waktu itu," ucap Arkan dengan nada suara yang agak ragu, mengunci kembali pandangan mata Nayla yang langsung tersentak kaget mendengar kata keramat itu keluar dari mulut sang pewaris Dewangga Group yang angkuh. "Ucapanku di depan pagar bambu kemarin, dan tuduhan saya di sawah siang tadi... itu semuanya salah. Saya tahu kamu gadis yang mandiri, jujur, dan menjaga kehormatan keluargamu dengan sangat baik. Mulut saya kemarin digerakkan oleh rasa... rasa dongkol yang salah tempat karena melihat kedekatanmu dengan ketua karang taruna itu. Saya minta maaf karena sudah melukai perasaanmu, Nayla."
Mendengar pengakuan jujur, dan rendah hati dari mulut Arkan yang melafalkan nama lengkapnya dengan begitu lembut, dinding pertahanan rasa sakit hati di dalam diri Nayla Rahmadania seketika runtuh total tak berbekas. Sepasang mata bulatnya menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap Arkan yang memancarkan ketulusan nyata tanpa ada kepalsuan. Debaran jantung di balik baju blus putih milik Nayla mendadak berpacu dengan ritme yang sangat kencang, memicu rasa baper halus yang luar biasa besar yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya pada pria mana pun, termasuk Dimas.
Suasana di dalam ruang arsip balai desa itu mendadak berubah menjadi penuh kecanggungan yang sangat manis dan menggemaskan di antara kedua anak muda dari dunia yang bertolak belakang tersebut. Nayla menundukkan kepalanya yang terasa memanas, sementara Arkan terus menatapnya dengan senyuman tipis penuh arti, menanti respons dari sang gadis yang kini tampil anggun di hadapannya.