Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Pria Itu?
Di ruang rapat, Laras duduk berhadapan dengan Aryan dengan sebuah map hitam berisi proposal kerja sama dari perusahaan Megantara.
Keduanya sempat bertukar pandang. Namun, begitu tatapan mereka bertemu, Laras segera memalingkan wajah.
Aryan pun melakukan hal serupa, meski senyum tipis sempat menghiasi bibirnya.
Laras mengepalkan kedua tangan di atas pangkuannya. Ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan. Sudah lama mereka tidak bertemu, tetapi entah mengapa jantungnya justru berdebar kencang.
Ia memejamkan mata sejenak, kemudian menghembuskan napas perlahan untuk menenangkan diri.
"Anda baik-baik saja?" tanya Aryan, menyadari perubahan sikap wanita itu.
Laras tersentak kecil. Ia segera mengangkat wajah dan berusaha menampilkan senyum profesional.
"O-oh, ya. Aku baik-baik saja." Ia membenahi posisi duduknya. "Aku hanya tidak menyangka, Anda sendiri, yang datang, Pak Aryan."
Aryan tersenyum tipis. "Aku ingin memastikan kerja sama ini berjalan lancar. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk pertemuan ini, Bu Laras."
"Sama-sama, Pak Aryan. Aku sudah membaca proposal yang perusahaan Anda kirimkan. Proyeknya cukup menarik."
Mendengar tanggapan tersebut, Aryan mengangguk. Ia kemudian membuka map hitam di depannya dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen presentasi.
"Kami berencana membangun kawasan komersial di atas lahan seluas beberapa hektare. Proyek ini akan mencakup gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, serta sejumlah fasilitas pendukung lainnya."
Laras mengangguk kecil, sambil menyimak penjelasan pria itu dengan saksama.
"Berarti, proyek ini membutuhkan investasi yang cukup besar," ujarnya setelah memahami gambaran umum pembangunan tersebut.
"Benar. Karena itu, kami ingin mengajak perusahaan Anda menjadi mitra investasi. Megantara akan menangani pengembangan dan pelaksanaan proyek, sedangkan perusahaan Anda berkontribusi dalam pendanaan sesuai kesepakatan."
Laras membalik halaman dokumen, lalu berhenti pada bagian yang membahas pembagian keuntungan dan tanggung jawab masing-masing pihak.
"Bagaimana dengan pembagian keuntungan dan tanggung jawab jika terjadi keterlambatan pembangunan?" tanyanya.
"Kami sudah menyiapkan beberapa skema, tetapi masih terbuka untuk penyesuaian. Kami ingin memastikan kedua perusahaan mendapatkan kesepakatan yang seimbang."
Laras mengangguk pelan. Ia kembali memeriksa dokumen tersebut sebelum mengangkat wajahnya.
"Kalau begitu, aku ingin melihat perincian anggaran, terutama biaya pembangunan dan perkiraan keuntungannya. Aku juga perlu memastikan bahwa risiko investasi sudah diperhitungkan dengan baik."
"Tentu. Kami akan mengirimkan laporan keuangan proyek beserta rancangan perjanjian kerja sama. Anda bisa mempelajarinya sebelum kita melanjutkan pembahasan," ucap Aryan.
"Baiklah. Aku akan mempelajarinya terlebih dahulu. Setelah itu, kita jadwalkan pertemuan berikutnya untuk membahas ketentuan yang belum disepakati."
"Baik. Aku tunggu kabar dari Anda."
Pertemuan itu berlangsung lancar. Keduanya membahas sejumlah hal penting terkait rencana pembangunan, mulai dari kebutuhan pendanaan hingga pembagian tanggung jawab selama proyek berlangsung.
Hingga, tanpa terasa, waktu terus berlalu hingga jarum jam menunjukkan waktu makan siang.
Aryan menutup map hitamnya, kemudian melirik jam tangannya.
"Sebentar lagi waktunya makan siang. Bagaimana kalau kita makan bersama?" tawarnya.
Laras sempat terdiam sesaat sebelum mengangguk. "Tidak masalah."
Ia merapikan dokumen di depannya, lalu bangkit dari kursi. Aryan menyusul dan membukakan pintu ruang rapat untuknya.
Mereka kemudian berjalan berdampingan menuju lift khusus direksi.
Sepanjang perjalanan, keduanya sesekali berbincang mengenai proyek yang baru saja dibahas. Dari luar, mereka tampak seperti dua rekan bisnis yang sudah lama mengenal satu sama lain.
Tidak ada yang istimewa dari percakapan mereka, tetapi kedekatan itu cukup menarik perhatian beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka.
Sementara itu, Robby baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia merapikan berkas di atas meja, lalu melirik jam dinding yang menunjukkan waktu makan siang.
Pria itu teringat pada Laras. Ia berniat menemuinya untuk mengajaknya makan bersama, sekaligus menegur wanita itu karena mengabaikan kewajibannya di rumah.
Ia keluar dari ruangannya dan berjalan menuju lift. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar pembicaraan beberapa karyawan yang sedang berkumpul tidak jauh darinya.
"Hei, kamu lihat pria tampan yang datang tadi?"
"Iya! Dia benar-benar tampan. Tapi, siapa dia?"
"Kamu tidak tahu? Itu Tuan Aryan dari perusahaan Megantara. Pasti dia datang untuk membahas kerja sama dengan perusahaan kita."
Robby mengernyit. "Kerja sama? Apa ini alasan Laras berangkat pagi-pagi?" pikirnya.
Ia sempat mengabaikan percakapan itu dan kembali melanjutkan niatnya, tapi suara salah seorang karyawan kembali menarik perhatiannya.
"Eh, barusan aku melihat Bu Laras pergi bersama pria itu. Mereka berjalan berdampingan. Serasi sekali!”
"Benarkah? Ah, aku iri!"
"Kalau mereka benar-benar pasangan, pasti cocok sekali!"
Seketika, wajah Robby berubah muram. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, sementara rahangnya mengeras menahan amarah.
Ia tidak menyukai apa yang baru saja ia dengar, terlebih saat membayangkan Laras berjalan bersama pria lain.
Robby mendengus kesal. Ia ingin menghampiri karyawan tersebut dan meminta penjelasan lebih lanjut, tetapi, ia mengurungkan niatnya.
Baginya, mencari tahu siapa pria itu jauh lebih penting daripada meladeni mereka.
Tanpa membuang waktu, ia bergegas menuju lift dan menekan tombol lantai dasar.
Dia terdiam, dengan pikiran yang dipenuhi berbagai dugaan. Ia bahkan mulai bertanya-tanya sejak kapan Laras mengenal Aryan dan mengapa istrinya itu tidak pernah menceritakan pertemuan tersebut padanya.
Begitu pintu lift terbuka, Robby segera melangkah keluar.
Matanya menyapu lobi, mencari sosok Laras di antara orang-orang yang berlalu-lalang. Sampai akhirnya, pandangannya menangkap wanita itu sedang berjalan keluar dari gedung bersama seorang pria.
Robby langsung mengenali Laras. Sementara pria yang berjalan di samping istrinya itu terlihat mengatakan sesuatu pada sopirnya, sambil menerima kunci mobil.
Setelahnya, Aryan membukakan pintu penumpang untuk Laras. Lalu, ia berjalan memutari mobil, dan duduk di balik kemudi.
Pemandangan itu membuat Robby semakin geram. Ia berlari mengejar mereka. Namun, saat ia hampir mencapai pintu utama, mobil itu mulai bergerak meninggalkan area perusahaan.
"Laras!" serunya spontan.
Sayangnya, Laras tidak mendengar. Mobil itu terus melaju hingga akhirnya menghilang di balik gerbang perusahaan.
Robby berhenti di tempatnya. Napasnya memburu, sementara kedua tangannya mengepal erat.
"Sial!" umpatnya dengan rahang mengeras.
"Siapa sebenarnya pria itu?"
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti