Apa jadinya jika pengetahuan kultivasi tingkat dewa dimiliki oleh jiwa pemuda modern
Qin Feng terbangun di dalam goa isolasi sebagai Master Legendaris Gu Tian. Namun, alih-alih bisa terbang membelah langit, musuh utamanya saat ini adalah encok, pinggang kram, dan jalur meridian yang kaku.
sang "Master Tua" berjiwa pemuda ini harus memutar otak agar tidak mati konyol untuk kedua kalinya di tengah kepungan musuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Di dalam ruangan batu yang hening, aura dingin yang terpancar dari tubuh Gu Tian makin pekat. Setiap embusan napasnya seolah membekukan udara di sekitarnya.
Lu Chen memegangi dada tunggalnya yang kempis, mencoba menata napasnya yang tidak teratur sebelum melanjutkan kisah kelam dua puluh tahun lalu itu.
"Setelah pelindung luar sekte hancur oleh ribuan musuh..." suara Lu Chen bergetar parau, "para tetua yang tersisa tidak tinggal diam. Mereka segera mengaktifkan Formasi Pertahanan Puncak Dao Langit—formasi pertahanan tingkat tinggi yang dulu Anda ciptakan sendiri, Leluhur."
Lu Chen menundukkan kepalanya, tatapannya menerawang pada lantai batu yang dingin.
"Formasi buatan Anda benar-benar luar biasa. Meskipun dikepung dan digempur oleh ribuan kultivator serta puluhan ahli tingkat atas selama dua bulan penuh, formasi itu tetap berdiri kokoh. Namun... energi alam di sekitar puncak mulai habis. Pada bulan kedua, retakan-retakan halus mulai bermunculan di kubah energi pelindung kami."
Mata tua Lu Chen tampak berkilat oleh keputusasaan masa lalu.
"Wajah para murid dan tetua di dalam sekte makin hari makin pucat bagaikan mayat. Di tengah ketakutan yang menggerogoti jiwa, kami semua bertahan hanya demi satu harapan... kami berharap Anda, Leluhur Gu Tian, akan tiba-tiba muncul membelah awan dan membantai seluruh serigala musuh itu. Harapan itulah satu-satunya hal yang membuat kami tidak gila..."
Lu Chen mengusap air matanya yang kembali mengalir.
"Tapi keajaiban itu tidak pernah datang."
Lu Chen mengepalkan tangan tunggalnya hingga buku-buku jarinya berbunyi nyaring.
"Di hari puncak bencana itu... sesuatu yang sangat mengerikan terjadi dari balik awan. Langit mendadak terbelah, dan sebuah telapak tangan raksasa berwarna hitam legam sebesar gunung turun menghantam tepat di atas kubah formasi pertahanan kita!"
BOOOOOM!
Lu Chen memejamkan mata erat-erat, seolah suara ledakan dua puluh tahun lalu itu kembali bergema di telinganya.
"Formasi pertahanan Anda pecah seketika menjadi serpihan cahaya! Gelombang getaran dari hantaman telapak tangan raksasa itu begitu dahsyat... hingga seluruh murid dan anggota sekte yang berada di bawah Ranah Inti Emas (Golden Core) meledak seketika menjadi kabut darah! Tubuh mereka hancur tanpa sempat menjerit! Mereka yang bertahan hidup dari ranah lebih tinggi pun semuanya muntah darah dan sekarat di atas tanah!"
Gu Tian mengepalkan tangannya di balik jubah. Binar matanya kini bercampur dengan kilatan niat membunuh yang sangat pekat.
"Setelah formasi hancur total," lanjut Lu Chen dengan napas memburu, "ribuan musuh yang menanti di udara langsung menyerbu masuk bagaikan serangga kelaparan. Tiga Tetua Tertinggi yang tersisa memimpin kami para murid yang masih bisa berdiri untuk bertarung habis-habisan. Kami bertempur di atas lautan darah teman-teman kami sendiri..."
Lu Chen menggelengkan kepala dengan ekspresi pahit yang mendalam.
"Tapi perbedaan kekuatan kami terlalu jauh. Pertempuran itu berakhir dengan kekalahan total. Dua Tetua Tertinggi gugur dieksekusi di tempat, sementara Tetua Tertinggi ketiga—Tetua Xi Yuan—dihajar habis-habisan dan ditendang hingga berlutut di pelataran. Kami, para murid yang tersisa dan terluka parah, dikumpulkan di depan pelataran utama bagaikan hewan ternak yang siap disembelih."
Mendengar nama Xi Yuan, ingatan Gu Tian terpicu. Xi Yuan adalah salah satu Tetua paling setia yang ia percayai, sosok yang memegang salah satu kunci untuk mengakses Gudang Harta Rahasia Sekte.
"Para pemimpin sekte musuh kemudian mengelilingi Tetua Xi Yuan," ujar Lu Chen, suaranya kini dipenuhi kebencian mendalam. "Mereka memaksa Tetua Xi Yuan untuk membuka Gudang Harta Rahasia Sekte Dao Langit. Namun, Tetua Xi Yuan adalah pria yang sangat teguh. Beliau meludah ke arah mereka dan menolak keras untuk menyerahkan harta pusaka peninggalan Anda!"
Mata Lu Chen melotot lebar saat menceritakan bagian berikutnya.
"Melihat penolakan itu, salah seorang tetua dari Sekte Xian Guo yang bernama Feng Shui maju ke depan. Pria jahat itu berteriak dengan wajah bengis, 'Xi Yuan! Jika kau tidak membuka gudang harta itu sekarang, aku akan menyiksa seluruh muridmu satu per satu di depan matamu!'"
Lu Chen meraba paha kaki kirinya yang buntung.
"Feng Shui dan anak buahnya langsung melangkah ke arah kami yang terkumpul. Tanpa belas kasihan sedikit pun, mereka memotong kaki kiri kami masing-masing satu! Jeritan kesakitan para murid bergema di seluruh puncak gunung! Namun, Tetua Xi Yuan tetap mengatupkan giginya dan bertahan..."
Gu Tian mendengarkan dengan raut wajah yang kian mendingin. Terjawab sudah alasan mengapa Lu Chen kini hanya memiliki satu kaki.
"Hingga akhirnya..." Lu Chen menggertakkan giginya rapat-rapat, "beberapa kultivator musuh yang menggeledah area kediaman belakang berhasil menemukan istri Tetua Xi Yuan yang bersembunyi. Mereka menyeret wanita itu dan menghadapkannya tepat di depan Tetua Xi Yuan."
Lu Chen menatap Gu Tian dengan mata merah berdarah.
"Seketika itu juga, wajah Tetua Xi Yuan berubah pucat pasi bagaikan kertas. Istrinya... sedang mengandung anak pertama mereka yang baru berusia tiga bulan! Orang-orang dari sekte musuh tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan itu. Mereka merasa sangat puas melihat sekte paling ditakuti di benua ini kini berlutut dan hancur merana."
Lu Chen melanjutkan dengan suara bergetar hebat.
"Feng Shui menatap Tetua Xi Yuan dengan senyum iblis. Dia mengacungkan ujung pedangnya yang berdarah tepat ke arah perut istri Tetua Xi Yuan, lalu melotot dan mengancam, 'Xi Yuan... aku beri kau kesempatan terakhir. Buka gudang harta itu, atau aku akan menusuk perut istrimu dan memastikan anak di dalam kandungannya mati sebelum melihat dunia!'"
Jantung Gu Tian berdegup kencang mendengar kekejaman tersebut.
"Jantung Tetua Xi Yuan berdetak kencang bagaikan dihantam palu," bisik Lu Chen. "Dengan mata memerah dan air mata darah, Tetua Xi Yuan berteriak, 'Baiklah! Aku akan membukanya! Tapi kau harus berjanji demi Langit untuk tidak menyentuh istri dan anakku!' Feng Shui tertawa dan menjawab licik, 'Tentu saja, aku tidak akan membunuhnya!' Dia melirik rekan-rekannya sesama tetua tingkat atas, lalu membentak, 'Cepat buka!'"
Lu Chen mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menembus kulit telapak tangannya sendiri.
"Terpaksa dan tanpa pilihan lain, Tetua Xi Yuan merangkak menuju pintu lorong bawah tanah dan menggunakan darah serta segel rahasianya untuk membuka Gudang Harta Rahasia... Selang beberapa saat, getaran gerbang harta yang terbuka terdengar..."
"Dan saat pintu itu terbuka penuh..." suara Lu Chen berubah menjadi jeritan tertahan, "Feng Shui yang berdiri di sampingnya langsung mengayunkan pedangnya dan menebas leher Tetua Xi Yuan hingga putus!"
SPLAT!
"Tidak berhenti di situ!" jerit Lu Chen histeris. "Tetua lainnya dari sekte musuh langsung menusuk perut istri Tetua Xi Yuan secara tragis dengan pedang mereka! Mereka membunuh wanita hamil itu tanpa belas kasihan sedikit pun, lalu bergerak membantai seluruh murid Dao Langit yang tersisa!"
Atmosfer di dalam ruangan batu itu mendadak menjadi sangat berat. Aura niat membunuh milik Gu Tian meledak pelan, membuat dinding-dinding batu di sekitar mereka retak halus.
"Lalu... bagaimana kau bisa selamat, Lu Chen?" tanya Gu Tian dengan suara yang sangat dingin dan dalam.
Lu Chen mengusap dadanya yang naik turun.
"Saat pembantaian gila itu berlangsung, giliran eksekusiku tiba. Tepat ketika salah satu pedang kultivator musuh hendak menembus leherku... istriku, Huang Lin, melompat berlutut dan berteriak histeris, 'Jangan bunuh suamiku! Aku sedang mengandung anaknya yang berusia dua bulan!'"
Lu Chen menatap Gu Tian dengan pandangan penuh rasa bersalah.
"Seketika itu juga, pedang di leherku berhenti. Pria yang memegang pedang itu adalah Tetua dari Lembah Racun. Alasan mengapa pedang itu berhenti bukan karena belas kasihan pada kandungannya... melainkan karena istriku, Huang Lin, ternyata adalah cucu kesayangan dari Master Huang Jin!"
Gu Tian membelalakkan matanya pelan. Master Huang Jin... adalah salah satu dari ahli kuat yang ikut mengepung dirinya di Puncak Gunung Darah tiga puluh tahun lalu, salah satu dari sedikit orang yang berhasil bertahan hidup meskipun terluka parah!
"Master Huang Jin yang terluka parah akibat tebasan Anda di masa lalu masih hidup dan memegang posisi tinggi," terang Lu Chen. "Tetua Lembah Racun takut memicu kemarahan Master Huang Jin jika membunuh cucu kesayangannya. Karena itulah, istriku memohon sambil berlutut agar nyawaku diampuni dengan imbalan kami berdua dibuang keluar dari sekte dan jalur meridianku dihancurkan total agar aku tidak bisa berkultivasi lagi selamanya..."
Lu Chen menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Gu Tian.
"Begitulah... bagaimana Sekte Dao Langit kita hancur, Gudang Harta Anda dijarah, dan bagaimana hamba yang hina ini bertahan hidup bagaikan cacing di tanah..."
Terima kasih sudah membaca cerita ini /Smile//Smile/