Setelah 8 tahun, Dara bertemu lagi dengan Luth, mantan pacarnya saat SMA yang dulu koma karenanya. Bukan hanya fisik sang mantan yang berubah jadi tampan, tapi ternyata, Luth juga tak mengenalinya.
"Kamu benar-benar tidak mengenaliku?" Dara menatap tak percaya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Luth terlihat bingung.
Dara semakin merasa bersalah, karena kemungkinan Luth hilang ingatan karena benturan keras yang sampai membuat dia koma 8 tahun lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Dara baru saja selesai mengirim surat resignnya via email pada HRD. Ia sudah tak tahan, ingin segera angkat kaki dari sini. Ia menarik kalender di atas meja, melingkari hari terakhirnya kerja nanti. Rasanya ingin waktu berjalan sangat cepat, biar dia bisa segera bebas dari sini.
"Hem."
Suara deheman, membuat Dara mengangkat wajah, ia melihat Luth berdiri di depan meja kerjanya. Ia langsung berdiri dan membungkuk sekilas.
"Pagi, Pak."
Luth salfok dengan mata Dara yang terlihat merah.
"Kamu kenapa?"
"Enggak." Dara menggeleng. Percuma juga ia mengadu pada Luth, laki-laki itu tak akan membelanya. Sudahlah.
Setelah Luth masuk ke ruangannya, Dara kembali duduk dan mulai bekerja.
Hari ini ia cukup sibuk, sampai tak ada waktu untuk sekedar meregangkan badan. Tak ada jadwal meeting di luar, tapi justru karena itu, ia malah jenuh dengan pekerjaannya.
"Kirain lo udah gak kerja lagi."
Mendengar suara Valerie, Dara langsung mengangkat wajah. Kedua telapak tangannya mengepal kuat, ia menatap tajam gadis itu. Rasa marahnya karena peristiwa kemarin, belum sedikitpun hilang.
Valerie menatap luka cakarannya kemarin di pipi Dara. "Harusnya kemarin lebih dalem lagi." Sambil tersenyum, ia memperhatikan kuku-kukunya yang baru di nail art.
"Bisa-bisanya, Luth punya pacar kayak lo. Gak berkelas banget!" cibir Dara sambil tersenyum miring.
Valerie hanya tersenyum di cibir seperti itu. Ia meletakkan kedua telapak tangan di atas meja, bertumpu disana sambil mencondongkan kepala ke arah Dara.
"Gimana gelang lo kemarin, ketemu?"
Emosi Dara langsung memuncak mendengar itu. Ia bangkit, lalu menarik rambut Valerie.
"Awww!" jerit Valerie.
Bersamaan dengan itu, Luth keluar dari ruangannya.
"DARA!" teriak laki-laki itu.
Dara segera melepaskan jambakannya.
"Luth..." Dengan ekspresi menahan tangis, Valerie menghampiri Luth, memeluk lengannya. "Kamu lihat sendirikan, dia itu bar-bar banget. Padahal aku kesini mau minta maaf sama dia, tapi dia malah marah dan ngejambak aku."
Dara sampai melongo melihat akting Valerie. Wanita itu sungguh licik, pandai bermain kata.
"Keterlaluan kamu, Dara!" Luth menatap Dara dengan rahang mengeras. "Apa seperti ini, etika seorang sekretaris? Etika seorang perempuan yang katanya sejak lahir kaya raya? Cepat, minta maaf pada Valerie."
"Minta maaf?" Dara tersenyum kecut. "Jangan harap. Saya gak sudi minta maaf sama dia."
"DARA!" bentak Luth. Suaranya sampai menggema memenuhi koridor.
Kedua telapak tangan Dara mengepal kuat, rahangnya mengeras dan nafasnya naik turun menahan emosi yang hampir meledak.
Dengan mata berkaca-kaca, Valerie menatap Luth. "Kamu lihat sendirikan, dia itu bad attitude. Dia selalu merasa benar, gak mau disalahin apalagi minta maaf. Kemarin dia nampar aku, dan sekarang ngejambak, tapi dia gak mau minta maaf."
"Dasar licik!" Dara menatap Valerie nyalang. "Aku ngelakuin itu karena kamu yang nyari masalah duluan. Kamu fitnah aku! Kamu_"
"Cukup Dara!" potong Luth. "Apapun yang dilakukan Valerie, gak seharusnya kamu pakai kekerasan," balas Luth. "Cepat, minta maaf pada Valerie!"
Dara menggigit bibir bawah, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menarik nafas panjang, sebelum akhirnya berkata. "Aku minta maaf." Kalimat yang keluar bukan dari hati, tapi karena sudah lelah untuk terus berdebat dan terus dipojokkan.
Valerie menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Ia melepaskan lengan Luth, melangkah mendekati meja Dara.
"Tapi... rasanya gak adil jika aku langsung memaafkan. Akan jadi adil, kalau aku balas dulu, baru maafin. Gimana, setuju?' Ia menatap Dara. " Setujukan, kalau aku tampar dan jambak kamu dulu."
Dara tertawa saking tak tahunya harus mengekspresikan seperti apa kekesalan dan sakit hatinya. Ia menatap Luth, laki-laki itu hanya diam saja.
"Baiklah, lakukan." Ia sudah sangat lelah.
Valerie mengangkat tangan, bersiap melayangkan sebuah tamparan, namun Luth menahan tangannya.
"Luth, lepasin!" Valerie menarik tanganya, menatap Luth kesal.
"Gak usah dibalas. Wanita berkelas seperti kamu, gak harus melakukan perbuatan gak beretika seperti ini." Luth menurunkan tangan Valerie.
Valerie menatap Dara kesal. "Kamu beruntung hari ini."
"Ayo masuk!' Luth merangkul bahu Valerie, membawanya masuk ke dalam ruangannya.
tapi ya gitu memastikan apa Dara cinta sama Luth saat ini ketika penampilan nya berbeda di banding ketika SMA ternya Anya gayung bersambut,,,maka. dari itu
Luth mengejar Mu. dan ya sedikit bikin ulah 🤣peran pembantu nya Valeri Bia,,makanya Luth percaya kalau ada Diego karena Luth sudah melihat sebelumnya,,,kayanya satpam dan pegawai hotel yang. membantu. Diego keluar sedangkan Luth sibuk meredakan ketakutan Dara,,,,ya sudah Luth ngaku saja
kalau Luth sudah ingat. sudah. keceplosan
🤭🤭 up lupa Luth bilang Diego 🤣🤣🤣🤣