NovelToon NovelToon
Broken Home

Broken Home

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: kiara lily

Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji di Bawah Pohon Mangga

Musim kemarau telah tiba, menggantikan hujan deras yang sempat mengguyur kota kecil itu. Udara terasa kering namun segar, dan angin sore berhembus pelan membawa aroma daun kering. Di halaman belakang rumah Nenek Surti, pohon mangga tua yang rindang menjadi saksi bisu dari sebuah momen yang akan mengubah hidup Ratna selamanya.

Sore itu, Lily sengaja "dipaksa" oleh Nenek untuk pergi ke warung tetangga membeli gula merah. Padahal, tidak ada kebutuhan mendesak akan gula. Itu adalah kode rahasia antara Nenek dan Budi agar mereka memiliki waktu berdua tanpa kehadiran anak-anak yang mungkin membuat suasana menjadi kaku.

Ratna duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga, memegang secangkir teh hangat. Ia merasa sedikit gelisah karena ketidakhadiran Lily yang biasanya selalu menemaninya di sore hari. Namun, ia memilih untuk menikmati keheningan sambil memandangi bunga-bunga kamboja yang mulai bermekaran.

Tiba-tiba, terdengar langkah kaki yang familiar mendekat. Ratna menoleh dan melihat Budi berjalan keluar dari dalam rumah. Pria itu mengenakan kemeja batik lengan panjang yang rapi, rambutnya disisir rapi, dan wajahnya tampak lebih serius dari biasanya. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kecil berbalut kain beludru merah marun.

Jantung Ratna berdegup kencang. Insting wanita tuanya mengatakan bahwa sesuatu yang penting akan terjadi.

"Budi? Ada apa?" tanya Ratna, suaranya sedikit bergetar. "Kenapa kamu kelihatan serius begitu? Apakah ada masalah dengan toko?"

Budi tersenyum tipis, namun matanya tidak lepas menatap Ratna. Ia duduk di kursi sebelah Ratna, meletakkan kotak itu di atas meja kecil di antara mereka.

"Tidak ada masalah, Rat. Justru sebaliknya," jawab Budi lembut. "Saya ingin membicarakan sesuatu yang sudah lama saya pendam di hati. Sesuatu yang saya rasa sudah tepat waktunya untuk diungkapkan."

Ratna menelan ludah, tangannya gemetar saat memegang cangkir teh. "Apa itu, Bud?"

Budi menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberanian. Ia mengambil tangan Ratna yang dingin dan menggenggamnya erat. Sentuhan itu hangat, menenangkan, dan penuh keyakinan.

"Ratna," ucap Budi, suaranya parau namun tegas. "Selama beberapa bulan ini, saya telah mengenal kamu lebih dalam. Saya melihat perjuanganmu, kesabaranmu, dan cinta tanpa batas yang kamu berikan pada Lily dan Ibu Surti. Saya juga merasakan kedamaian yang belum pernah saya rasakan sebelumnya setiap kali bersamamu."

Air mata Ratna mulai menggenang. Ia tahu arah pembicaraan ini, namun mendengar kata-kata itu langsung dari mulut Budi membuatnya lumpuh.

"Saya bukan pria kaya, Rat. Saya tidak punya mobil mewah atau rumah gedongan seperti mantan suamimu dulu," lanjut Budi, matanya berkaca-kaca. "Tapi saya punya waktu. Saya punya telinga yang siap mendengarkan keluh kesahmu. Dan saya punya hati yang hanya ingin membahagiakan kamu dan keluarga kecil ini. Saya tidak ingin hanya menjadi 'teman' atau 'pacar' kamu. Saya ingin menjadi partner hidupmu. Saya ingin menjadi ayah bagi Lily, dan menantu bagi Ibu Surti."

Budi membuka kotak beludru itu. Di dalamnya terdapat sebuah cincin emas sederhana dengan ukiran bunga melati yang halus. Tidak berlian besar, tidak permata mahal. Hanya emas murni yang bersinar tulus.

"Ratna, maukah kamu menikah denganku? Maukah kamu membiarkan aku mendampingimu di sisa hidup kita, dalam suka dan duka, hingga maut memisahkan?"

Hening. Suara jangkrik terdengar sangat nyaring di telinga Ratna. Dunia seakan berhenti berputar. Ia menatap cincin itu, lalu menatap wajah Budi yang penuh harap dan kecemasan. Ingatan tentang masa lalunya yang pahit, tentang Bambang yang egois dan dingin, berlalu cepat di benaknya. Lalu, gambaran tentang Budi yang rela basah kuyup mengantarnya belanja, yang sabar mendengarkan ceritanya, yang menghormati Lily, muncul menggantikan kenangan buruk itu.

Ratna menangis terbuka. Bukan tangisan sedih, melainkan tangisan haru yang melepaskan beban bertahun-tahun. Ia merasa dihargai, dicintai, dan dipilih bukan karena statusnya, tapi karena siapa dirinya.

"Aku mau, Bud," bisik Ratna, suaranya pecah oleh isakan. "Aku mau. Dengan segala kekurangan dan kelebihan kami, aku mau menjalani hidup bersamamu."

Budi tersenyum lebar, air mata juga mengalir di pipinya. Ia mengambil cincin itu dan dengan tangan yang gemetar, memasangkannya ke jari manis Ratna. Cincin itu pas, simbolis, dan sempurna.

"Terima kasih, Rat. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan kedua untuk mencintai dan dicintai," ucap Budi sambil mencium tangan Ratna yang kini mengenakan cincin pertunangan.

Tepat saat itu, pintu belakang terbuka. Lily dan Nenek Surti berdiri di ambang pintu, menyaksikan adegan tersebut. Lily tersenyum lebar, matanya berbinar-binar bahagia. Nenek Surti mengusap air matanya dengan ujung kerudungnya, bibirnya berkomat-kamit berdoa.

"Mama!" seru Lily, berlari menghampiri mereka dan memeluk Ratna erat-erat. "Selamat, Ma! Akhirnya!"

Ratna membalas pelukan putrinya, lalu menarik Budi untuk ikut dalam pelukan keluarga itu. Untuk pertama kalinya, mereka bertiga—ditambah Nenek yang segera bergabung—terikat dalam satu lingkaran cinta yang utuh. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi rasa takut.

Malam harinya, setelah makan malam syukuran sederhana, Ratna duduk di teras bersama Lily. Bulan purnama bersinar terang di langit, menerangi wajah-wajah bahagia mereka.

"Lil," panggil Ratna lembut. "Kamu benar-benar senang dengan keputusan Mama?"

Lily mengangguk kuat, kepalanya bersandar di bahu ibunya. "Sangat senang, Ma. Pak Budi... eh, calon Ayah Budi, dia membuat Mama tersenyum lagi. Dan dia membuat aku merasa punya ayah yang sebenarnya. Aku nggak butuh Ayah Bambang lagi. Aku punya Pak Budi sekarang."

Ratna mencium kening putrinya. "Mama juga bahagia, Sayang. Kita akhirnya menemukan tempat pulang yang sebenarnya. Bukan sekadar bangunan, tapi orang-orang yang menyayangi kita tulus."

Di dalam rumah, Nenek Surti sedang menelepon saudara-saudaranya untuk memberitahu kabar gembira ini. Suaranya terdengar riang dan penuh semangat muda.

Ratna menatap cincin di jarinya, lalu menatap langit malam. Ia bersyukur atas setiap ujian yang telah dilaluinya. Perceraian, kerja keras di tanah asing, kemiskinan, dan kesepian, semuanya membawanya pada titik ini. Pada kebahagiaan yang sederhana, namun kokoh dan abadi.

Esok hari, rencana pernikahan sederhana akan mulai disusun. Tidak perlu pesta mewah. Cukup akad nikah di masjid kampung, resepsi kecil di halaman rumah, dan doa restu dari orang-orang terdekat. Bagi Ratna, itu sudah lebih dari cukup. Karena kebahagiaannya tidak diukur dari meriahnya pesta, tapi dari hangatnya pelukan keluarga yang akhirnya utuh kembali.

Dan di sudut hatinya, Ratna berbisik pada alam semesta: *Terima kasih. Terima kasih telah mempertemukan kami di waktu yang tepat. Kami siap memulai babak baru.*

1
Unaa
maafkan yaa kalo banyak typo nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!