NovelToon NovelToon
EMBER

EMBER

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.

Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.

Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.

Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.

Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#17

Pagi berikutnya di koridor asrama lantai satu, suasana yang harusnya tenang dan damai kembali mendadak berantakan.

Suara derit roda troper besar bergema nyaring di atas lantai ubin.

Tiga orang pria berbadan tegap yang mengenakan jas pelayan serba hitam tampak bersusah payah mendorong sebuah troli perak berukuran raksasa.

Di belakang troli mewah yang biasanya hanya ada di hotel bintang lima itu, melangkah Draxler Lutolf Ashford dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung rapi hingga siku, kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, dan gaya berjalan yang amat percaya diri.

Di sisi kiri dan kanannya, Brave dan Kal El mengekor dengan derita yang makin dalam.

Brave memegang nampan perak berisi teko teh yang berasap tipis, sementara Kal El membawa sebuah papan lipat berukuran sedang yang biasa dipakai di depan kafe-kafe estetik.

Brak!

Kal El mendirikan papan lipat itu tepat di sebelah pintu kamar nomor 104.

Di atas papan tulis hitam itu, terukir tulisan kapur berwarna-warni dengan garis tepi bunga-bunga yang sangat norak:

MENU SARAPAN GRATIS KHUSUS MARCELLA EMBER VITIELLO

Chef Pribadi: Draxler L. Ashford—Pria yang Dulu Gengsi, Sekarang Pasrah.

Spesial Hari Ini: Omelet Keju Kerajaan & Kopi Pengakuan Dosa.

"Drax, demi Tuhan... tulisan kapur ini benar-benar merusak seluruh estetika dinasti Ashford," bisik Kal El seraya mengusap dahi, merasa tingkat keputusasaannya sudah mencapai batas maksimal.

"Bahkan adikku yang paling kecil pun tidak akan mau menulis kalimat konyol seperti ini."

"Proses meluluhkan hati wanita membutuhkan pengorbanan reputasi, Kal," sahut Draxler dingin dan serius, sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan papan konyol itu. Ia merapikan tata rambutnya melalui pantulan kaca troli.

"Pria sejati tidak takut terlihat bodoh di depan wanita yang sedang dikejarnya."

"Tapi kau bukan cuma terlihat bodoh, Drax. Kau terlihat seperti sedang kena kuis hukuman!" timpal Brave sengit sambil menahan beratnya nampan perak di tangannya.

Draxler tidak memedulikan racauan dua sahabatnya. Ia maju dua langkah, lalu mengetuk pintu kamar nomor 104 dengan ketukan yang sangat ritmis dan berirama konyol.

Tok, tok-tok!

"Marcella Ember Vitiello!" panggil Draxler dengan nada suara yang sengaja dibuat-buat seperti pelayan istana dalam dongeng.

"Layanan kamar bintang lima Ashford Resort telah tiba! Mohon buka pintunya sebelum omelet ini kehilangan kehangatan cinta pembuatnya!"

Klek.

Pintu kayu itu terdorong terbuka cukup keras.

Cinderella berdiri di ambang pintu.

Pagi ini ia sudah rapi mengenakan kemeja garis-garis longgar dan celana kain hitam, siap untuk berangkat ke perpustakaan.

Namun, pemandangan di depan matanya seketika membuat keningnya berkerut rapat. Matanya menyapu papan tulis berukir tulisan kapur norak, tiga pelayan berjas yang menunduk hormat, hingga wajah Draxler yang menyunggingkan senyum tebar pesona yang teramat gatal untuk ditampar.

Di belakang Cinderella, Prilly yang baru saja memegang cangkir minumannya seketika tersedak untuk kesekian kalinya.

"Uhuk! Demi... demi apa ada papan menu di depan kamar kita?!"

Cinderella memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa lelah yang amat sangat. Rasa risih dan jengkel yang membakar dadanya sudah mencapai ubun-ubun.

"Draxler," panggil Cinderella dengan intonasi yang sangat datar dan dingin.

"Ya, Calon Masa Depanku?" sahut Draxler cepat dengan kerlingan mata yang dipaksakan manis.

"Kau punya masalah mental?" tanya Cinderella tanpa ragu, menatap pemuda Ashford itu dengan pandangan menilai seolah Draxler adalah pasien rumah sakit jiwa yang lepas.

Brave di belakang Draxler langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan, menahan ledakan tawa histeris, sementara Kal El mengangguk-angguk setuju dari balik papan menu.

Draxler berdehem keras, menyembunyikan rasa canggung yang sempat menyengat egonya. Ia tetap pasang aksi percaya diri seraya menunjuk troli mewah di sebelahnya.

"Aku tidak punya masalah mental. Aku hanya punya masalah rasa rindu yang belum terbalaskan. Ini sarapanmu. Bahan-bahannya diimpor langsung pagi ini dari perkebunan organik."

"Aku tidak butuh sarapan organiknya," potong Cinderella cepat dan tegas. Ia menggeser tubuhnya hendak melangkah keluar kamar.

"Dan singkirkan troli beserta papan sampah ini dari depan kamarku. Kau membuat koridor asrama kelihatan seperti pasar kaget."

"Kalau kau tidak mau makan di sini, aku akan mendorong troli ini mengikutimu sampai ke dalam kelas," ancam Draxler santai seraya melambaikan tangan pada tiga pelayannya untuk bersiap mendorong.

Cinderella menghentikan langkahnya di samping troli. Ia menoleh, menatap Draxler dengan mata bundarnya yang berkilat penuh ancaman pembunuhan.

"Kau benar-benar membuatku risih, Draxler Lutolf Ashford," desis Cinderella pelan, menekan setiap suku katanya.

"Bisakah kau bertindak seperti manusia normal berusia sembilan belas tahun dan berhenti bertingkah konyol?"

"Tidak bisa," jawab Draxler polos tanpa beban. "Sebab saat aku bertindak 'normal' dan 'dingin' selama enam bulan pertama, kau malah berhenti mengejarku dan melupakanku. Jadi sekarang aku memutuskan untuk menjadi tidak normal agar kau selalu mengingatku setiap detik."

"Logika gila," umpat Cinderella lirih seraya menggelengkan kepala.

Tanpa mau membuang-buang waktu meladeni keplangeran pewaris tunggal keluarga Ashford itu lebih lama, Cinderella berjalan cepat menyusuri koridor, meninggalkan rombongan sirkus tersebut begitu saja.

"Ember! Tunggu!" teriak Draxler. Ia memutar tubuhnya cepat.

"Brave, Kal, dorong trolinya ke gedung fakultas ekonomi sekarang!"

"Draxler, kau gila! Masa kita mendorong troli hotel ke dalam gedung perkuliahan?!" pekik Brave frustrasi, namun kakinya mau tidak mau tetap berlari mengejar Draxler yang sudah melesat maju mengejar langkah Cinderella.

***

Suasana pelataran Fakultas Ekonomi Universitas California pagi itu benar-benar riuh.

Cinderella melangkah dengan cepat di sepanjang koridor luar, mencoba mengabaikan pasang mata mahasiswa yang menatapnya dengan berbagai ekspresi.

Namun, usahanya untuk menyatu dengan keramaian gagal total karena di belakangnya—berjarak hanya tiga langkah—Draxler berjalan mengintil bagaikan bayangan raksasa yang tak bisa diusir.

Setiap kali Cinderella mempercepat langkahnya, Draxler ikut mempercepat langkahnya.

Setiap kali Cinderella berhenti sejenak untuk merapikan tali tasnya, Draxler ikut berhenti dan berdiri tegap dengan tangan dimasukkan ke saku celana, bertingkah seolah ia adalah pengawal pribadi yang sangat tampan namun kurang berpendidikan.

"Kenapa kau masih mengikutiku?" tegur Cinderella seraya memutar tubuhnya mendadak di dekat deretan loker mahasiswa.

Draxler ikut berhenti mendadak, hampir saja menabrak wajah Cinderella jika ia tidak dengan sigap menahan tubuhnya.

"Aku tidak mengikutimu," alibi Draxler santai seraya mendongak menatap langit-langit koridor.

"Aku hanya kebetulan berjalan di jalan yang sama, menuju arah yang sama, pada detik yang sama."

"Jalur kelasmu di gedung fakultas hukum, Draxler! Ini gedung ekonomi!" seru Cinderella gemas, matanya membelalak menatap kepalsuan alasan pemuda itu.

Draxler berdehem pelan. "Aku baru saja mengambil keputusan besar untuk pindah peminatan ke jurusan ekonomi pagi ini. Demi memahami prospek masa depan... dan prospek hatimu."

Gubrak!

Kal El yang baru tiba di ujung koridor sambil membawa papan menu kayu tadi hampir saja menjatuhkan barang bawaannya mendengar rayuan murahan tingkat tinggi dari sahabatnya itu.

Cinderella menatap Draxler dengan tatapan yang begitu datar dan dingin hingga membuat bulu kuduk Draxler sempat meremang tipis.

Pria di hadapannya ini adalah salah satu keturunan keluarga paling terpandang di Amerika Serikat, namun tingkah lakunya saat ini benar-benar meruntuhkan seluruh wibawa yang pernah diajarkan oleh Ibunya.

"Kau tahu, Draxler?" ucap Cinderella pelan dengan nada suara yang sangat tenang namun tajam.

"Tingkah konyolmu ini tidak membuatku terkesan sama sekali. Ini justru membuatku makin yakin bahwa menjauh darimu adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat."

Kata-kata itu menghantam tepat di dada Draxler.

Sudut bibirnya yang tadinya terangkat santai perlahan turun sedikit. Namun, alih-alih mundur atau merasa tersinggung, rasa tak terima dan jiwa pantang menyerah khas keluarga Ashford justru makin membara di dalam dirinya.

Draxler mengambil satu langkah mendekati Cinderella, mengikis jarak di antara mereka di depan puluhan pasang mata mahasiswa yang menonton drama tersebut dari balik jendela kelas.

"Kau boleh risih, Ember," bisik Draxler dengan suara rendah yang tiba-tiba berubah hangat dan dalam, kehilangan nada konyolnya sejenak.

"Kau boleh membenciku, kau boleh mengutukku setiap hari. Tapi aku tidak akan pernah melangkah mundur lagi. Dulu kau yang berjuang sendirian di belakangku... sekarang giliran aku yang menanggung seluruh rasa lelahmu."

Cinderella terdiam sejenak.

Manik matanya bertaut dengan mata tajam Draxler.

Ada ketulusan yang amat pekat di sana—sebuah ketulusan yang jujur tanpa dibalut prasangka atau gengsi. Untuk sepersekian detik, jiwa Cinderella Huntington yang biasanya beku merasakan denyutan aneh di dalam dadanya.

Namun dengan cepat, Cinderella menguasai kembali emosinya. Ia memalingkan wajahnya ke samping, menepis getaran asing tersebut dengan benteng ketenangan yang kokoh.

"Terserah kau saja," jawab Cinderella dingin seraya memutar tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam ruang kuliahnya, membanting pintu kelas dengan rapat tepat di depan wajah Draxler.

Draxler berdiri di depan pintu kayu kelas yang tertutup.

Pria itu menarik napas dalam-dalam, lalu menyunggingkan senyum tipis—senyum penuh kemenangan kecil karena setidaknya ia berhasil membuat mata bundar itu menatapnya lebih lama dari biasanya.

Kal El dan Brave berjalan mendekat dengan napas terengah-engah, meletakkan papan menu dan nampan perak di atas bangku koridor.

"Bagaimana, Mr. Ashford?" tanya Brave lelah seraya mengusap keringat di pelipisnya. "Apakah misi konyolmu hari ini berhasil?"

Draxler memutar tubuhnya, merapikan kerah kemeja putihnya dengan penuh kebanggaan seraya menatap dua sahabatnya.

"Sangat berhasil," jawab Draxler percaya diri. "Dia menyebut namaku tiga kali, menatap mataku selama empat belas detik, dan marah-marah padaku. Itu adalah rekor komunikasi terbanyak kita dalam dua bulan terakhir."

Brave dan Kal El saling berpandangan, lalu kompak menepuk jidat mereka masing-masing dengan keputusasaan yang sempurna.

"Terserah kau sajalah, Drax..." gumam Kal El pasrah.

"Terserah kau saja."

***

Siang harinya, suasana area kafetaria utama kembali menjadi saksi bisu dari aksi pewaris Ashford.

Cinderella duduk di meja sudut yang biasa, mencoba menikmati makan siangnya bersama Prilly. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Dari pintu masuk, Draxler melangkah masuk bersama Brave dan Kal El. Kali ini, Draxler tidak membawa troli, melainkan membawa sebuah nampan kayu pribadi yang di atasnya terdapat dua piring makanan dan satu gelas jus alpukat segar.

Dengan santai tanpa memedulikan bisikan mahasiswa sekeliling, Draxler menduduki kursi kosong tepat di samping Cinderella.

"Makan siang yang bergizi untuk mahasiswi berprestasi," ucap Draxler seraya menggeser gelas jus alpukat ke dekat tangan Cinderella.

Cinderella bahkan tidak menoleh. Ia tetap mengunyah makanannya dengan tenang, memperlakukan Draxler bagaikan udara hampa di sekitarnya.

"Ember," panggil Draxler pelan seraya menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap profil samping wajah Cinderella dari jarak dekat.

"Kau tahu tidak? Jus alpukat ini punya banyak manfaat."

Prilly di seberang meja langsung menahan napasnya, memegang cangkir tehnya erat-erat, bersiap mendengarkan gombalan konyol apalagi yang akan meluncur dari mulut pangeran Ashford ini.

Cinderella tetap diam, tidak merespons.

"Manfaat pertamanya adalah menyehatkan jantung," lanjut Draxler tanpa menyerah, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tampan. "Dan manfaat keduanya adalah menenangkan hatimu yang sedang keras kepala menolak keadaaan bahwa kau sebenarnya mulai merindukanku."

Pffhhttt!

Prilly tidak sanggup menahannya lagi. Ia menyemburkan sedikit tehnya ke samping, terbatuk-batuk hebat seraya mengacungkan jempol pada Draxler.

"Luar... luar biasa, Mr. Ashford. Rayuanmu benar-benar membuat makan siang ini terasa sangat ajaib."

Cinderella meletakkan garpunya dengan bunyi denting halus di atas piring. Ia menoleh perlahan, menatap Draxler dengan mata bundarnya yang memancarkan kejengkelan tingkat tinggi.

"Draxler Lutolf Ashford," panggil Cinderella dengan suara rendah yang berbahaya.

"Ya, Sayang?" sahut Draxler tanpa rasa takut sedikit pun.

"Jika kau tidak menyingkirkan jus alpukat ini dan tubuhmu dari mejaku dalam hitungan tiga..."

Cinderella mendekatkan wajahnya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Draxler, "...aku akan memastikan seluruh isi jus ini berpindah ke atas kemeja putih mahalmu itu."

Draxler menatap bibir tipis Cinderella yang mengancamnya, lalu beralih menatap gelas jus di atas meja.

Bukannya takut, sudut bibir pemuda itu justru makin terangkat lebar, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.

"Kau mau menyiramku?" tanya Draxler dengan nada suara yang sengaja dibuat-buat manja.

"Silakan. Siram saja. Kemeja ini bisa dicuci, tapi momen di mana kau menyentuhku dan memperhatikanku akan tercatat dalam sejarah hidupku."

"Kau—!" Cinderella mengepalkan tangannya, benar-benar dibuat kehabisan kata-kata oleh tingkat ketebalan muka pewaris keluarga Ashford ini.

Draxler tertawa pelan—sebuah suara tawa yang begitu renyah dan hangat yang menggema di sudut kafetaria. Ia meraih gelas jus itu, lalu mendekatkannya ke jemari Cinderella secara perlahan, memastikan gadis itu memegangnya.

"Diminum ya, Ember," ucap Draxler dengan nada suara yang mendadak berubah sangat lembut, menyapu seluruh nada sebelumnya.

"Kau sudah bekerja keras seharian di perpustakaan. Jangan sampai sakit."

Setelah mengucapkan kalimat ketulusan yang singkat itu, Draxler berdiri dari kursinya, merapikan kemejanya, lalu menepuk bahu Brave yang berdiri terpaku di belakangnya.

"Ayo pergi, Guys," kata Draxler santai pada dua sahabatnya. "Tugas menggangguku untuk jam makan siang sudah selesai. Kita beri dia waktu untuk menikmati jus cinta buatanku."

Draxler berjalan pergi melintasi kafetaria dengan langkah tegap dan gaya percaya diri yang tak tertandingi, meninggalkan riuh bisik-bisik mahasiswa di sekeliling mereka.

Di sudut meja, Cinderella memandangi gelas jus alpukat di tangannya. Ia menatap punggung Draxler yang makin menjauh menuju pintu keluar.

1
Asriani Rini
Bagus banget ceritan aku suka sekali
Yusry Ajay
lanjut Thor kurang up nya...
Asriani Rini
Lanjut Thor
Heni Utami
sangat best
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Anonim
kereen abis
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Si penny end,, ember nya crazy up please,, 🤭
Rosdianah 🌷: besok mulai double bab kak🙏🏻
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
cerita keluarga ashford emang gak pernahh gagal,di tunggu cerita nya Dominic thor🤭
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
masih nyimak Thor 🤔🤔🤔
Yusry Ajay
pkoknya semangat selalu Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: sehat selalu ya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
lanjut Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Yusry Ajay
kyknya ada yg mulai jatuh cinta nih🤗🤗
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat menata hidup kembali ember💪💪
Debu Nakal
typo kah thor
Debu Nakal
typo kah thor
Rosdianah 🌷: tidak kak.. First time Author buat novel Transmigrasi 🙏🏻
Cinderella Dan Ember itu satu🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
Nita Nita
lanjut kak 💪
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
Yusry Ajay
kyknya bnyk teka teki nih Thor 😁😁
Yusry Ajay
masih menyimak Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
koq ga up2 Thor..
Rosdianah 🌷: ini Novel Author yang sedikit berbeda. author sedang Baca² dan searching terkait Transmigrasi 🙏🏻🙏🏻 huhu🥲
total 1 replies
nayla tsaqif
Knp gk cerita penny dulu,, kan dia primadonanya,,?? 😌
Rosdianah 🌷: huhuh Penny ditolak Mulu 😭 sudah 10.bab tapi ditolak. capek revisi 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!