NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 — Gauntlet untuk Sang Zero

Pagi berikutnya, fasilitas seleksi W.H.O Regional Indonesia kembali dipenuhi aktivitas para calon Hunter.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿 berdiri di depan arena pengujian bersama peserta kelompok tujuh. Meski sudah beristirahat semalaman, beberapa ototnya masih pegal akibat rangkaian tes kemarin.

Namun, bukan rasa pegal yang mengganggu pikirannya.

Melainkan pengumuman tentang Survival Field.

“𝘒𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menoleh.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 berdiri di sampingnya sambil menguap lebar, lalu meregangkan kedua bahu sampai sendinya berbunyi pelan.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳,” jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘫𝘢𝘮 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳.” 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mengusap sudut matanya. “𝘚𝘦𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘭𝘢𝘴𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮. 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘵𝘶, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘬𝘶𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘢𝘳𝘪.”

“𝘚𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳𝘮𝘶.”

“𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶.” 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 berhenti meregangkan bahu. “𝘊𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘉𝘌𝘛𝘈?”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak langsung menjawab.

Bayangan kawasan industri yang hancur kembali melintas di kepalanya.

Darah.

Rasa sakit.

Dan makhluk buas yang hampir merenggut nyawanya.

“𝘗𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩.” 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memandangi pintu arena yang masih tertutup. “𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘳𝘦𝘯-𝘬𝘦𝘳𝘦𝘯. 𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯. 𝘋𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menatapnya. Ia sudah membuka mulut untuk bertanya lagi ketika suara pengawas menggema dari pengeras suara.

“𝘚𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱! 𝘙𝘦𝘢𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯 & 𝘈𝘸𝘢𝘳𝘦𝘯𝘦𝘴𝘴 𝘛𝘦𝘴𝘵 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪!”

Pertanyaan itu tidak jadi keluar.

Arena pengujian kali ini berbeda dari sebelumnya.

Ruangannya berbentuk persegi. Beberapa perangkat mekanis terpasang di dinding dan langit-langit, sementara bagian tengahnya dibatasi garis putih sebagai area pengujian.

Seorang pengawas berdiri di depan panel kendali.

“𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘶𝘬𝘶𝘳 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘪𝘨𝘢,” katanya. “𝘚𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭𝘪 𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮𝘢𝘯, 𝘳𝘦𝘴𝘱𝘰𝘯𝘴 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯.”

Ia menunjuk perangkat-perangkat di sekeliling arena.

“𝘚𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘗𝘳𝘰𝘺𝘦𝘬𝘵𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘺𝘢 𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩, 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘢𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘬𝘢𝘯𝘪𝘴. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵. 𝘗𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘤𝘶𝘢𝘭𝘪.”

Pengawas itu berhenti sejenak, memastikan semua mata tertuju padanya.

“𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘓𝘰𝘭𝘰𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘮𝘢𝘯. 𝘗𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢. 𝘗𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘯𝘨𝘬𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 teringat ucapan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 di ruang latihan keluarga Greyad.

𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘫𝘶𝘯𝘺𝘢. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘶𝘯𝘺𝘢, 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪.

Peserta pertama maju.

Begitu aba-aba diberikan, tiga perangkat bergerak hampir bersamaan.

Pemuda itu berhasil menghindari dua serangan, tetapi proyektil ketiga mengenai pelindung pahanya.

Peserta-peserta berikutnya memperoleh hasil yang beragam.

Ketika giliran 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 tiba, suasana di pinggir arena menjadi sedikit lebih ramai.

“𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪!”

𝘉𝘪𝘱!

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 langsung bergerak.

Ia menghindari proyektil pertama dengan memiringkan tubuh, lalu bergeser sebelum bantalan kedua mencapai posisinya.

Gerakannya ringkas.

Tidak terburu-buru.

Ketika dua perangkat menyerang bersamaan, 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 memilih mundur ke sisi yang masih terbuka.

“𝘒𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘯𝘥𝘶𝘳,” kata pengawas.

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 menyelesaikan tes dengan nilai tinggi. Saat keluar arena, ia melepas pelindung lengannya dengan santai, seolah yang barusan hanya pemanasan.

Tak lama kemudian, nama 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dipanggil.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memasuki area pengujian. Pelindung tubuhnya terasa agak kaku ketika ia mengangkat kedua tangan ke posisi guard.

“𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝙉𝙤𝙞𝙧. 𝘚𝘪𝘢𝘱?”

“𝘚𝘪𝘢𝘱, 𝘗𝘢𝘬.”

“𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪!”

𝘉𝘪𝘱!

Sebuah proyektil melesat dari sisi kanan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 langsung memiringkan tubuh.

𝘞𝘶𝘴!

Proyektil itu lewat.

Namun, sebelum ia sempat memperbaiki posisi, sebuah bantalan mekanis meluncur dari sebelah kiri.

𝘋𝘶𝘬!

Benturannya menghantam pelindung bahu 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

Ia terhuyung.

“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘢𝘳𝘢𝘩!” seru pengawas.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggertakkan gigi.

𝘗𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘥𝘪. 𝘋𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.

Simulasi berlanjut.

Kali ini dua perangkat bergerak hampir bersamaan. Salah satunya mengarah ke dada.

Tubuh 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergerak lebih cepat daripada perkiraannya sendiri. Ia berhasil menghindar.

Namun, langkah itu justru membawanya masuk ke jalur serangan berikutnya.

𝘋𝘶𝘬!

Bantalan mengenai lengannya.

“𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱! 𝘚𝘦𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪!”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menurunkan guard. Bahunya masih berdenyut di tempat bantalan tadi menghantam.

Pengawas memeriksa hasilnya di layar panel.

“𝘙𝘦𝘧𝘭𝘦𝘬𝘴𝘮𝘶 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵. 𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢.” Ia menggeser sesuatu di layar. “𝘉𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩. 𝘋𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘰𝘭𝘰𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘦 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melirik perangkat-perangkat di dinding, mencoba mengingat urutan gerakannya barusan.

“𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯, 𝘗𝘢𝘬,” katanya. “𝘗𝘰𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘤𝘢𝘬, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘶𝘳𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶?”

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣, 𝘵𝘦𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢.” Pengawas itu tidak mengangkat wajah dari panel. “𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳. 𝘗𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘪 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali ke posisi awal.

Simulasi kedua dimulai.

Kali ini ia tidak langsung bergerak setiap kali melihat perangkat aktif.

Ia memperhatikan ruang kosong di sekelilingnya lebih dulu.

Serangan pertama datang.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergeser.

Ketika bantalan kedua bergerak, ia sudah punya ruang untuk mundur.

Proyektil ketiga meluncur. Ia terlambat untuk menghindar sepenuhnya, tetapi berhasil memperkecil bagian tubuh yang terkena.

𝘉𝘪𝘱!

Tes berakhir.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyeka keringat di pelipisnya.

Hasilnya memang membaik.

Namun, ketika nilai sementara ditampilkan, posisinya masih jauh di bawah 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮.

Lulus batas minimum.

Hanya itu.

Tidak lebih.

“𝘓𝘰𝘭𝘰𝘴 𝘵𝘪𝘱𝘪𝘴 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘭𝘰𝘭𝘰𝘴,” gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

Menjelang siang, para peserta yang memenuhi syarat dikumpulkan di ruang persiapan perlengkapan.

Ruangan itu dipenuhi rak penyimpanan berisi berbagai jenis senjata.

Pedang.

Tombak.

Perisai.

Senjata jarak jauh.

Hingga berbagai perangkat tempur yang bentuknya sama sekali tidak menyerupai senjata konvensional.

Semuanya merupakan Regalia yang telah disiapkan W.H.O untuk kebutuhan seleksi.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memandangi deretan senjata itu dengan saksama.

“𝘗𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯!”

Seorang instruktur melangkah ke depan.

“𝘋𝘪 𝘚𝘶𝘳𝘷𝘪𝘷𝘢𝘭 𝘍𝘪𝘦𝘭𝘥, 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢 𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢. 𝘗𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘤𝘶𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯.”

Ia mengangkat sebilah pedang dari rak.

“𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘧𝘶𝘯𝘨𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘊𝘖𝘙𝘌 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘪𝘧𝘦𝘴𝘵𝘢𝘴𝘪𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨.” Ia memutar pedang itu sekali di tangannya. “𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘵𝘰𝘮𝘣𝘢𝘬, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘶.”

Instruktur itu mengembalikan pedangnya ke rak.

“𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘶𝘯𝘪𝘵 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘴𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮. 𝘔𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘊𝘖𝘙𝘌 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘓𝘪𝘮𝘪𝘵𝘦𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯.”

Beberapa peserta saling melirik.

“𝘒𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘩𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘯𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘰𝘣𝘢-𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢𝘪. 𝘜𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯.”

Bagian terakhir itu terasa seperti ditujukan langsung kepada 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

Sebagian besar latihannya bersama 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 berfokus pada pertarungan tangan kosong. Ia memang memahami fungsi dasar Regalia, tetapi pengalaman praktisnya masih sangat terbatas.

Ketika peserta lain mulai memilih senjata, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berjalan menyusuri rak.

Tangannya sempat berhenti di dekat sebilah pedang. Ia mengamati bilahnya.

𝘗𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬. 𝘑𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘢𝘮𝘢𝘯.

Namun, begitu ia membayangkan harus menangkis dan membalas serangan dengan senjata yang belum pernah ia latih, tangannya turun lagi.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melanjutkan langkah.

Hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah rak.

Di sana tersimpan sepasang sarung tangan tempur dengan pelindung logam yang menutupi punggung tangan, buku jari, hingga sebagian lengan bawah.

Gauntlet.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengambilnya.

Bobotnya terasa lebih berat daripada pelindung tangan yang biasa ia pakai saat latihan.

Namun, bentuknya cukup akrab.

𝙎𝙚𝙗𝙖𝙨𝙩𝙞𝙖𝙣 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘨𝘶𝘢𝘳𝘥, 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭, 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪.

“𝘚𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴?”

Suara itu datang dari belakang.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menoleh.

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 berdiri di sana. Matanya berpindah dari Gauntlet di tangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 ke wajahnya.

“𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘴𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘥𝘪. 𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢-𝘮𝘢𝘯𝘢, 𝘬𝘦𝘤𝘶𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘮𝘢𝘯.” Ia mengangkat alis. “𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘫𝘶 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘫𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘭?”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memandang Gauntlet di tangannya.

“𝘗𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢,” katanya. “𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬.”

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 tertawa pendek.

“𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘪𝘵𝘶? 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭, 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶𝘢𝘯 𝘉𝘌𝘛𝘈. 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘶, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢.”

“𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶.” 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memasukkan sebelah tangannya ke Gauntlet dan menekuk jari-jarinya satu per satu. “𝘔𝘢𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯.”

“𝘗𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢 𝘎𝘢𝘶𝘯𝘵𝘭𝘦𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘦𝘬𝘴𝘵𝘳𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘵𝘪𝘱𝘦 𝘉𝘦𝘢𝘴𝘵.” 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 menyilangkan tangan. “𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘢?”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak langsung menjawab.

Jawaban jujurnya hanya akan membuat 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 tertawa lebih keras.

Lagi pula, 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 tidak sepenuhnya salah. Gauntlet memang memaksanya bertarung di jarak paling berbahaya.

Namun, memilih senjata asing hanya karena jangkauannya lebih panjang juga bukan keputusan yang bijak.

“𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨,” jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 akhirnya.

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 mendengus.

“𝘛𝘦𝘳𝘴𝘦𝘳𝘢𝘩. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘵𝘪𝘮 𝘮𝘦𝘥𝘪𝘴 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘦𝘵𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯.”

Ia berbalik dan pergi.

Setelah pilihan senjatanya dicatat, seorang petugas meminta 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menjalani pemeriksaan kecocokan dan orientasi singkat.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengenakan kedua Gauntlet itu. Petugas mengencangkan pengaitnya satu per satu sampai perlengkapan itu terpasang stabil di kedua tangan.

“𝘒𝘦𝘱𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯. 𝘗𝘶𝘵𝘢𝘳 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢,” kata petugas sambil memeriksa sisi lengan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. “𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘱𝘪𝘵?”

“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘗𝘢𝘬.” 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memutar pergelangan tangannya sekali lagi. “𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘱𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘙𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘬𝘦 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩.”

Petugas itu menatapnya sedikit lebih lama.

“𝘗𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘴𝘦𝘵.” Ia melepaskan pegangannya dari lengan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. “𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳. 𝘚𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memejamkan mata sebentar dan berkonsentrasi.

Ia mengarahkan energi dari CORE menuju Gauntlet.

Beberapa saat kemudian, garis-garis tipis di permukaan logam mulai memancarkan cahaya redup.

Namun, cahaya itu tidak stabil.

Ketika 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mencoba menambah aliran, energinya justru tersendat dan putus-putus.

“𝘗𝘦𝘭𝘢𝘯.” Petugas mengetuk pelindung punggung tangannya dengan buku jari. “𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘵𝘰𝘬. 𝘒𝘦𝘤𝘪𝘭𝘬𝘢𝘯. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘭𝘪𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘥𝘶𝘭𝘶.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengurangi tekanannya.

Perlahan, cahaya pada Gauntlet menjadi lebih tenang.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘪𝘯𝘪,” kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tanpa mengalihkan mata dari cahaya itu, “𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯?”

“𝘈𝘭𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘵𝘢𝘣𝘪𝘭 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘶𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘦𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯.” Petugas itu mencatat sesuatu di papan klipnya. “𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘦𝘤𝘰𝘤𝘰𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘪𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢-𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢.”

𝘛𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘤𝘰𝘳.

Istilah 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 itu kembali muncul di kepala 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

Ia mencoba beberapa gerakan dasar.

Jab.

Cross.

Guard.

Bobot tambahan membuat pukulannya sedikit lebih lambat. Benar saja, tangannya cenderung turun di akhir pukulan. Ia harus menyesuaikan gerak bahu dan pergelangan agar tidak kehilangan keseimbangan.

𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙨𝙩𝙞𝙖𝙣 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪.

Membayangkannya saja sudah membuat bahu 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pegal.

Sore harinya, peserta berkumpul untuk menerima pengarahan terakhir sebelum Survival Field dimulai.

Sebuah layar besar di depan mereka menampilkan denah area pengujian.

Lingkungannya menyerupai kawasan perkotaan yang rusak.

Bangunan beton.

Kendaraan terbengkalai.

Jalur sempit.

Dan beberapa area terbuka.

“𝘔𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘱𝘦𝘴𝘪𝘮𝘦𝘯 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘛𝘩𝘳𝘦𝘢𝘵 𝘓𝘦𝘷𝘦𝘭 𝘌. 𝘚𝘱𝘦𝘴𝘪𝘮𝘦𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯,” kata pengawas. Layar di belakangnya berganti ke peta yang lebih rinci. “𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨. 𝘊𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘦𝘮𝘰𝘴𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯.”

Ia menunjuk beberapa titik pada layar.

“𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘮 𝘮𝘦𝘥𝘪𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬-𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘮𝘢𝘯, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘪𝘵𝘶𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬.”

Ia menatap seluruh peserta.

“𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘤𝘦𝘳𝘰𝘣𝘰𝘩. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢. 𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘵𝘢𝘩.”

Tidak ada yang bersuara setelah itu. Di dalam Gauntlet, jari-jari 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tanpa sadar mengepal.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menyelinap ke sebelahnya.

“𝘒𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵.” Ia mengetuk pelindung buku jari Gauntlet 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dengan telunjuk. “𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪?”

“𝘒𝘢𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪.”

“𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶.” 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 merendahkan suaranya. “𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴, 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣. 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪—” Ia mengangkat tangan sampai hampir menyentuh dada 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. “—𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘰𝘣𝘦𝘬𝘮𝘶.”

“𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘩𝘢𝘸𝘢𝘵𝘪𝘳.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Sepertinya ia tidak menyangka akan mendapat jawaban itu.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menunduk, mengencangkan pengait Gauntlet yang sebenarnya sudah kencang.

“𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘱𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘶𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮𝘪. 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘉𝘦𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘶𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘴𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢.” Ia mengangkat bahu. “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘵𝘰𝘮𝘣𝘢𝘬 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘢𝘮𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menggaruk tengkuknya. Matanya melirik layar denah yang masih menyala, lalu kembali ke 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

“𝘖𝘬𝘦. 𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯 𝙍𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖. 𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘨𝘪, 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘨𝘦𝘯𝘨𝘴𝘪.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatapnya sebentar. Ternyata 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menyimak ceritanya pagi tadi lebih serius daripada yang ia kira.

“𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘪𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘦𝘮𝘪 𝘨𝘦𝘯𝘨𝘴𝘪,” kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. “𝘛𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘭.”

“𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴.” Sudut bibir 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 akhirnya terangkat. “𝘚𝘰𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘩𝘢𝘧𝘢𝘭 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘪𝘯𝘪.”

Pemanggilan peserta dimulai.

Melalui monitor ruang tunggu, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyaksikan seorang peserta mengalahkan BETA dengan tombak setelah berhasil menjaga jarak dan memancing targetnya masuk ke jalur sempit.

Pertarungan berikutnya berakhir lebih cepat.

Lalu giliran 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮.

Pemuda itu memasuki arena dengan Regalia pedang.

Gerakannya tenang dan terukur.

Ia tidak langsung menyerang.

Beberapa kali ia menghindari terjangan BETA, sampai makhluk itu sendiri membuka celah. 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 masuk tepat di celah itu dan menyerang bagian tubuh yang terbuka.

Pertarungan berakhir dengan kemenangannya.

“𝘔𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯,” gumam 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀. “𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘮𝘣𝘰𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘨𝘰 𝘪𝘵𝘶.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak membantah. Matanya masih tertuju ke monitor, mengulang di kepalanya cara 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 menunggu.

Bukan cuma kekuatan yang membedakan mereka. 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 sabar. Ia tahu kapan harus tidak melakukan apa-apa.

Dan kesabaran seperti itu tidak lahir dari latihan singkat.

Tidak lama kemudian, pengeras suara kembali berbunyi.

“𝘗𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢, 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝙉𝙤𝙞𝙧. 𝘚𝘪𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘫𝘶 𝘨𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘚𝘶𝘳𝘷𝘪𝘷𝘢𝘭 𝘍𝘪𝘦𝘭𝘥.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berdiri.

“𝘎𝘦𝘯𝘨𝘴𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘭,” kata 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 pelan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat sebelah tangannya yang terbungkus Gauntlet tanpa menoleh.

Ia mengencangkan pengait sekali lagi, lalu berjalan menuju pintu baja besar di ujung koridor.

𝘉𝘪𝘱!

Lampu indikator berubah hijau.

Pintu perlahan terbuka.

Dari baliknya terdengar geraman rendah.

Langkah 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terhenti sepersekian detik.

Ia mengenali jenis suara itu.

Terlalu mirip dengan makhluk yang pernah hampir membunuhnya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menarik napas.

Lalu melangkah maju.

“𝘗𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝙉𝙤𝙞𝙧. 𝘚𝘶𝘳𝘷𝘪𝘷𝘢𝘭 𝘍𝘪𝘦𝘭𝘥 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪.”

---

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!